Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — Pemisahan antara Jiwa dan Akal (3)



الفصل بين النفس والعقل

Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — Pemisahan antara Jiwa dan Akal (Bagian 3)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — Pemisahan antara Jiwa dan Akal — Bagian 3 ini masuk dalam Kategori Syaikh Abdul Aziz Marzuq ath-Tharify

الثاني: حماية للنفس من مواجهة نفوس الناس وعقولهم لها،

Kedua: melindungi jiwa dari menghadapi jiwa dan akal manusia yang menentangnya.

والنفس تريد أن تمضي في هواها وتحقيق شهواتها بلا مكدرات؛

Jiwa ingin terus berjalan mengikuti hawa nafsunya dan memenuhi syahwatnya tanpa adanya sesuatu yang mengusik.

لأن المكدرات تمنعها من الاستمتاع بغايتها؛ كالخوف والحزن، والهم والقلق، وغيرها من الأعراض النفسية؛ فإنها تحرم النفس من المتعة،

Sebab berbagai gangguan tersebut menghalanginya untuk menikmati apa yang menjadi tujuannya; seperti rasa takut, kesedihan, kegelisahan, kecemasan, dan berbagai keadaan psikologis lainnya. Semua itu menghalangi jiwa dari kenikmatan.

وإذا كانت النفس شديدة الميل إلى شيء، كانت أدلتها وبراهينها التي تستخدمها هي مجرد تروس ودروع لحمايتها من مكدرات المخالفين لها،

Apabila jiwa memiliki kecenderungan yang sangat kuat kepada sesuatu, maka dalil-dalil dan argumentasi yang digunakannya hanyalah perisai dan tameng untuk melindunginya dari berbagai gangguan orang-orang yang menentangnya.

ولو أظهرتها في صورة أدلة كاشفة للحقيقة، فأقنعت العقل ثم انقادت النفس، والحقيقة عكس ذلك،

Meskipun jiwa menampakkannya dalam bentuk dalil-dalil yang seolah-olah menyingkap kebenaran, sehingga akal menjadi yakin lalu jiwa tampak seakan-akan mengikuti akal, padahal kenyataannya justru sebaliknya.

فقد اشتهت النفس فاستبدت فكلفت العقل بحمايتها بدروع وتروس في صورة أدلة وبراهين، وحجج وبينات!

Sesungguhnya jiwa terlebih dahulu menginginkan sesuatu, lalu bertindak sewenang-wenang, kemudian membebani akal untuk melindunginya dengan berbagai tameng dan perisai dalam bentuk dalil, argumentasi, hujah, dan bukti!

وربما لا تحتاج بعض النفوس إلى تكليف العقل بحمايتها من مكدرات المخالفين،

Boleh jadi sebagian jiwa tidak membutuhkan pembebanan kepada akal untuk melindunginya dari berbagai gangguan orang-orang yang menentangnya.

وهذا في النفوس التي لا تبالي ولا تكترث، وأكثر همها هو تحقيق غاية النفس، ولا يعنيها غير ذلك،

Hal ini terdapat pada jiwa-jiwa yang tidak peduli dan tidak menghiraukan apa pun. Perhatian terbesarnya hanyalah mewujudkan tujuan jiwa, dan selain itu tidak menjadi perhatiannya.

وهذا يكون في النفوس البليدة والنفوس الصلبة الغليظة،

Keadaan seperti ini terdapat pada jiwa-jiwa yang tumpul serta jiwa-jiwa yang keras dan kasar.

وهنا يكون العقل معطلاً عن الاستعمال لا في خير ولا في شر، والقائد هي النفس وحدها،

Dalam keadaan ini, akal tidak digunakan, baik untuk kebaikan maupun keburukan; dan yang menjadi pemimpin hanyalah jiwa semata.

وإن استخدمت النفس هنا العقل، فهو في طريق الوصول إلى الاستمتاع التام بالهوى والشهوة فقط،

Jika dalam keadaan ini jiwa menggunakan akal, maka penggunaannya hanya untuk mencari jalan menuju kenikmatan sempurna dari hawa dan syahwat semata.

فيختار الطريقة والأسلوب، والزمان والمكان، فيظهر بصفة وصورة تميّزه عن الحيوان البهيم؛

Akal memilih cara dan metode, waktu dan tempat, sehingga manusia tampil dengan sifat dan bentuk yang membedakannya dari hewan yang tidak berakal.

لأن البهائم والإنسان هنا يصلان إلى متعتهما بنفس بلا عقل،

Sebab dalam keadaan ini, hewan dan manusia sama-sama mencapai kenikmatan mereka melalui jiwa tanpa akal.

والإنسان إنما استعمل عقله بعد الوصول إلى المتعة والشهوة،

Manusia baru menggunakan akalnya setelah tujuan berupa kenikmatan dan syahwat itu telah ditetapkan.

فالوصول أمر قررته النفس وانتهى، والعقل يتفنن في أسلوب الاستمتاع وطريقته،

Mencapai kenikmatan tersebut merupakan perkara yang telah diputuskan oleh jiwa dan selesai; sedangkan akal hanya berkreasi dalam menentukan cara dan metode menikmatinya.

وبهذا اختص الإنسان هنا فقط.

Hanya dalam hal inilah manusia memiliki kekhususan pada keadaan tersebut.

وهذه الرسالة بيان لحدود اختيار العقل، والمؤثرات النفسية فيه، وأنواعها،

Risalah ini merupakan penjelasan mengenai batas-batas pilihan akal, berbagai pengaruh jiwa terhadapnya, serta jenis-jenis pengaruh tersebut.

وبيان لأشدها وأخطرها عليه، وطرق حماية العقل من تلك المؤثرات،

Juga penjelasan mengenai pengaruh yang paling kuat dan paling berbahaya bagi akal, serta cara-cara melindungi akal dari berbagai pengaruh tersebut.

وأسباب تقوية العقل، وبيان لمداخل النفس عليه، وسياسته في مقابلة ذلك.

Demikian pula sebab-sebab yang menguatkan akal, penjelasan mengenai jalan-jalan masuk jiwa kepadanya, serta bagaimana akal mengaturnya dalam menghadapi semua itu.

وليس المراد هنا الكلام على النفس من حيث هي نفس، ولا على العقل من حيث هو عقل،

Yang dimaksud di sini bukanlah membicarakan jiwa dari sisi keberadaannya sebagai jiwa, dan bukan pula membicarakan akal dari sisi keberadaannya sebagai akal.

وإنما الكلام على ما بينهما من توافق أو تجاذب، وتدافع ونزاع وصراع،

Pembahasan ini adalah mengenai apa yang terjadi di antara keduanya berupa keselarasan atau tarik-menarik, saling mendorong, perselisihan, dan pertarungan.

وبيان حدود كل واحد منهما، وما له وما عليه.

Serta menjelaskan batas masing-masing dari keduanya, apa yang menjadi haknya dan apa yang menjadi kewajibannya.

عبد العزيز الطريفي

‘Abdul ‘Aziz Ath-Tharifi

Bersambung ke bagian berikutnya

Sumber : Kitab Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — الفصل بين النفس والعقل, karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi.



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.