الفصل بين النفس والعقل
Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — Pemisahan antara Jiwa dan Akal (Bagian 4)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — Pemisahan antara Jiwa dan Akal — Bagian 4 ini masuk dalam Kategori Syaikh Abdul Aziz Marzuq ath-Tharify
حقيقة النفس والعقل
Hakikat Jiwa dan Akal
يتفق أهل المعرفة أن الإنسان كما أنه مركب من أعضاء مشاهدة، فإنه مركب من معان غير مشاهدة،
Para ahli pengetahuan sepakat bahwa sebagaimana manusia tersusun dari anggota-anggota tubuh yang dapat dilihat, ia juga tersusun dari berbagai makna yang tidak dapat dilihat.
وأنه ليس مكوناً من معنى واحد، يأتمر بأمره وينتهي بنهيه؛
Dan bahwa manusia tidak tersusun dari satu makna saja yang perintahnya selalu ia ikuti dan larangannya selalu ia hentikan.
وإنما دوافعه إلى الإرادة ناتجة عن أشياء مختلفة فيه، قد تتفق على شيء، وقد تختلف على شيء آخر، وقد تختلف وتتفق على شيء، ويختلف مقدار الميل إليه،
Dorongan-dorongannya menuju kehendak muncul dari berbagai hal yang berbeda di dalam dirinya. Berbagai hal itu dapat bersepakat terhadap sesuatu, dapat berbeda terhadap sesuatu yang lain, dan dapat pula berbeda sekaligus bersepakat terhadap sesuatu, sementara kadar kecenderungan kepadanya pun berbeda-beda.
فيمتزج في الإنسان حب وكره، ورضا وغضب، وخوف وأمن، وضيق وانشراح،
Maka di dalam diri manusia bercampurlah cinta dan benci, ridha dan marah, rasa takut dan rasa aman, kesempitan dan kelapangan.
بحسب ما يوجد في تلك الدوافع من ميول وحقائق، وربما يسميه بعض الفلاسفة بـ(الذات المنقسمة).
Hal itu sesuai dengan berbagai kecenderungan dan hakikat yang terdapat pada dorongan-dorongan tersebut. Sebagian filsuf terkadang menyebutnya sebagai “diri yang terbelah” (adz-dzat al-munqasimah).
وإرادة الإنسان مركبة من نفس وعقل، وكل واحد منهما وعاء لمعان معينة،
Kehendak manusia tersusun dari jiwa dan akal. Masing-masing dari keduanya merupakan wadah bagi makna-makna tertentu.
وانفصالهما في الاحتواء لا يعني أنهما يختلفان في محتواهما من كل وجه؛
Terpisahnya keduanya dalam hal kandungan tidak berarti bahwa isi keduanya berbeda dari setiap sisi.
فقد يكون المحتوى في النفس والعقل واحداً، ولكن الدوافع إليه مختلفة؛ لأن المكاسب مختلفة فاختلفت الدوافع.
Boleh jadi kandungan yang terdapat pada jiwa dan akal adalah sama, tetapi dorongan menuju kepadanya berbeda; karena apa yang diperoleh masing-masing berbeda, maka dorongannya pun berbeda.
والنفس وعاء للرغبات والشهوات، والميول وتقبل الأعراض،
Jiwa merupakan wadah bagi keinginan-keinginan, syahwat, kecenderungan, dan penerimaan terhadap berbagai keadaan yang muncul.
والعقل وعاء للعلم والمعارف والتجارب، وكل واحد منهما له دوافعه، ومن ثم غاياته،
Sedangkan akal merupakan wadah bagi ilmu, berbagai pengetahuan, dan pengalaman. Masing-masing dari keduanya memiliki dorongannya sendiri dan, sebagai akibatnya, memiliki tujuannya sendiri.
ويسمي بعض الفلاسفة ذلك بـ(تناقض الاختيار)،
Sebagian filsuf menyebut hal tersebut sebagai “kontradiksi pilihan” (tanaqudh al-ikhtiyar).
وإذا حسم الإنسان الاختيار بترجيح رأي على رأي، وجد في نفسه بقية من مخالفة وتردد؛
Apabila seseorang telah memutuskan pilihannya dengan mengunggulkan satu pendapat atas pendapat lainnya, ia masih mendapati di dalam dirinya sisa penolakan dan keraguan.
وذلك من بقايا القناعة الضعيفة، وتؤثر في تردده وتشكله بحسب قوتها،
Hal itu berasal dari sisa-sisa keyakinan yang lemah, dan sisa tersebut memengaruhi keraguan serta pembentukan sikapnya sesuai dengan kadar kekuatannya.
ومنهم من يسمي تلك الاعتراضات في النفس بالأشباح في العقل،
Di antara mereka ada yang menyebut berbagai keberatan yang terdapat dalam jiwa itu sebagai “bayang-bayang dalam akal”.
ومنهم من قسم النفس إلى أجزاء، والذين قسموها اختلفوا في حقيقة تقسيمها: هل هو إلى أجزاء أو إلى قوى فحسب؛
Di antara mereka ada pula yang membagi jiwa menjadi beberapa bagian. Orang-orang yang membaginya berbeda pendapat mengenai hakikat pembagian tersebut: apakah jiwa benar-benar terbagi menjadi beberapa bagian ataukah hanya menjadi beberapa kekuatan saja.
بحيث إنها جزء واحد، ولكن فيه قوى متعددة؟
Yakni bahwa jiwa merupakan satu bagian, tetapi di dalamnya terdapat berbagai kekuatan?
ومنهم من جعل النفس والعقل جزءاً واحداً، ولكن لكل واحد منهما في ذلك الجزء قوى مختلفة ومتعددة، كما أورد ذلك ابن رشد في النفس1.
Di antara mereka ada yang menjadikan jiwa dan akal sebagai satu bagian, tetapi masing-masing memiliki berbagai kekuatan yang berbeda dan beragam di dalam bagian tersebut, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rusyd dalam pembahasannya tentang jiwa.2
ومنهم من عجز عن تعريف العقل في نفسه وجعل تعريفه يكون بأفعاله وبما يصدر عنه فحسب كالحارث المحاسبي في (ماهية العقل)3
Di antara mereka ada pula yang tidak mampu mendefinisikan akal pada dirinya sendiri, lalu menjadikan definisinya berdasarkan perbuatan-perbuatannya dan apa yang muncul darinya semata, seperti Al-Harits Al-Muhasibi dalam Mahiyyat Al-‘Aql.4
وكلام الفلاسفة القدماء – كهرقليطس وميليسوس وأنكساغوراس وأنبادوقليس وديموقريطوس وأفلاطون وديوجانيس وأرسطو،
Perkataan para filsuf terdahulu — seperti Heraclitus, Melissus, Anaxagoras, Empedocles, Democritus, Plato, Diogenes, dan Aristoteles;
ومن الإسلاميين الفارابي ومسكويه وابن سينا والغزالي وابن باجة وابن رشد،
dan dari kalangan pemikir Islam: Al-Farabi, Miskawaih, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Bajjah, dan Ibnu Rusyd;
ومن النصارى إسحاق بن حنين، ومن المتأخرين رينيه ديكارت وفرويد وغاستون بشلار، وغيرهم ممن تكلم في النفس والعقل –
dan dari kalangan Nasrani: Ishaq bin Hunain; serta dari kalangan mutakhir: René Descartes, Freud, Gaston Bachelard, dan selain mereka yang berbicara mengenai jiwa dan akal —
كلام كثير مختلف ومتشابه، وكثير منه مختلف في اللفظ متفق في المعنى؛
merupakan pembahasan yang sangat banyak, berbeda-beda sekaligus memiliki kemiripan. Banyak di antaranya berbeda dalam lafaz tetapi sejalan dalam makna.
لأن كل واحد منهم يتكلم بما انتهى إليه من تجربة، ويفسر النفس والعقل من وجه يواجهه ويراه،
Sebab masing-masing dari mereka berbicara berdasarkan pengalaman yang telah dicapainya, serta menafsirkan jiwa dan akal dari sisi yang ia hadapi dan ia lihat.
وربما فسر بعضهم العقل بالنفس، وفسر بعضهم النفس بالعقل،
Sebagian dari mereka terkadang menafsirkan akal dengan jiwa, dan sebagian lainnya menafsirkan jiwa dengan akal.
واختلفوا في المحرك لإرادة الإنسان والأمر له.
Mereka juga berbeda pendapat mengenai apa yang menggerakkan kehendak manusia dan apa yang memerintahkannya.
Bersambung ke bagian berikutnya
Sumber : Kitab Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — الفصل بين النفس والعقل, karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi.
Catatan Kaki
- ينظر: «تلخيص كتاب النفس» لأبي الوليد بن رشد، تحقيق: الفرد. ل. عبري، مراجعة: د. محسن مهدي، تصدير: أ. د. إبراهيم مدكور، المجلس الأعلى للثقافة، القاهرة، 1994م، (ص4).
- Lihat: Talkhish Kitab An-Nafs karya Abu Al-Walid Ibnu Rusyd, tahqiq: الفرد. ل. عبري, ditinjau oleh Dr. Muhsin Mahdi, pengantar oleh Prof. Dr. Ibrahim Madkur, Al-Majlis Al-A‘la li Ats-Tsaqafah, Kairo, 1994 M, hlm. 4.
- (ص9).
- Hlm. 9.
Leave a Reply