الاختلاف بين القراءات أصولًا وفرشًا، وأثره في المعنى
Perbedaan Qira’at dalam Ushul dan Farsy serta Pengaruhnya terhadap Makna
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Perbedaan Qira’at dalam Ushul dan Farsy serta Pengaruhnya terhadap Makna ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Al-Qur’an
السؤال:
Pertanyaan:
هل الاختلاف بين القراءات العشر في المعنى وفي إضافة وحذف بعض الحروف كثير أم إنه في مواضع قليلة ومعدودة؟
Apakah perbedaan antara sepuluh qira’at dalam makna serta dalam penambahan dan penghilangan sebagian huruf itu banyak, ataukah hanya terdapat pada sedikit tempat yang dapat dihitung?
الجواب:
Jawaban :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du:
أولًا:
Pertama:
اختلاف القراءات القرآنية، يقع على وجوه:
Perbedaan dalam qira’at Al-Qur’an terjadi dalam beberapa bentuk:
«أحدها: اختلاف اللفظ، والمعنى واحد.
“Pertama: perbedaan lafaz, sedangkan maknanya satu.
والثاني: اختلاف اللفظ والمعنى جميعًا مع جواز أن يجتمعا في شيء واحد، لعدم تضادِّ اجتماعهما فيه.
Kedua: perbedaan lafaz dan makna sekaligus, namun keduanya mungkin berkumpul pada satu perkara karena tidak terdapat pertentangan apabila keduanya berkumpul padanya.
والثالث: اختلاف اللفظ والمعنى مع امتناع جواز أن يجتمعا في شيء واحد، لاستحالة اجتماعهما فيه.
Ketiga: perbedaan lafaz dan makna, sementara keduanya tidak mungkin berkumpul pada satu perkara karena mustahil keduanya berkumpul padanya.
فأما اختلاف اللفظ والمعنى واحد، فنحو قوله: (السراط) [الفاتحة: 6] بالسين، والصراط بالصاد، والزراط بالزاي.
Adapun perbedaan lafaz sementara maknanya satu, contohnya adalah bacaan السراط [Al-Fatihah: 6] dengan huruf sin, الصراط dengan huruf shad, dan الزراط dengan huruf zai.
و(أكلها) [البقرة: 265] و(فى الأكل) [الرعد: 4] بإسكان الكاف وبضمِّها، ..
Demikian pula أكلها [Al-Baqarah: 265] dan في الأكل [Ar-Ra‘d: 4], dengan huruf kaf dibaca sukun atau dibaca dhammah.
وكذلك ما أشبهه، ونحو ذلك البيان والإدغام، والمدِّ والقصر، والفتح والإمالة، وتحقيق الهمز وتخفيفه، وشبهه مما يطلق عليه أنه لغات فقط.
Demikian pula yang semisal dengannya, seperti izhar dan idgham, mad dan qashr, fath dan imalah, membaca hamzah secara jelas dan meringankannya, serta hal-hal semisal yang dikategorikan hanya sebagai perbedaan bahasa.
وأما اختلاف اللفظ والمعنى جميعًا، مع جواز اجتماع القراءتين في شيء واحد من أجل عدم تضادِّ اجتماعهما فيه، فنحو قوله تعالى: (ملك يوم الدين) [الفاتحة: 4] بألف، و(ملك) بغير ألف؛
Adapun perbedaan lafaz dan makna sekaligus, sementara kedua qira’at tersebut dapat berkumpul pada satu perkara karena tidak saling bertentangan, contohnya adalah firman Allah Ta‘ala: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ [Al-Fatihah: 4] dengan alif, dan مَلِكِ tanpa alif.
لأن المراد بهاتين القراءتين جميعًا: هو الله سبحانه وتعالى، وذلك أنه تعالى مالك يوم الدين، وملكه، فقد اجتمع له الوصفان جميعًا، فأخبر الله تعالى بذلك في القراءتين.
Sebab yang dimaksud dalam kedua qira’at tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Allah Ta‘ala adalah Pemilik Hari Pembalasan sekaligus Raja pada Hari Pembalasan. Kedua sifat itu berkumpul pada-Nya, maka Allah Ta‘ala memberitahukan hal tersebut melalui kedua qira’at itu.
وكذا: (بما كانوا يكذبون) [البقرة: 10] بتخفيف الذال وبتشديدها؛
Demikian pula bacaan بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ [Al-Baqarah: 10], dengan huruf dzal dibaca ringan dan dibaca dengan tasydid.
لأن المراد بهاتين القراءتين جميعًا هم المنافقون، وذلك أنهم كانوا يَكذبون في أخبارهم، ويُكذِّبون النبيَّ صلى الله عليه وسلم فيما جاء به من عند الله تعالى؛
Sebab yang dimaksud dalam kedua qira’at tersebut adalah orang-orang munafik. Mereka berdusta dalam berita yang mereka sampaikan dan juga mendustakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apa yang beliau bawa dari Allah Ta‘ala.
فالأمران جميعًا مجتمعان لهم، فأخبر الله تعالى بذلك عنهم، وأعلمنا أنه معذِّبهم بهما.
Kedua perkara tersebut sama-sama terdapat pada mereka. Allah Ta‘ala pun memberitahukan keduanya tentang mereka dan memberitahukan kepada kita bahwa Dia akan mengazab mereka karena kedua perkara tersebut.
وكذا قوله: (وما هو على الغيب بضنين) [التكوير: 24] بالظاء وبضنين وبالضاد؛
Demikian pula firman-Nya: وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِظَنِينٍ [At-Takwir: 24] dengan huruf zha’, dan بِضَنِينٍ dengan huruf dhad.
لأن المراد بهاتين القراءتين جميعًا هو النبي صلى الله عليه وسلم، وذلك أنه كان غير ظنين على الغيب، أي: غير متَّهم فيما أخبر به عن الله تعالى،
Sebab yang dimaksud dalam kedua qira’at tersebut adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidaklah ظَنِين dalam menyampaikan perkara gaib, yakni tidak tertuduh dalam apa yang beliau beritakan dari Allah Ta‘ala.
وغير ضنين به، أي: غير بخيل بتعليم ما علمه الله وأنزله إليه، فقد انتفى عنه الأمران جميعا، فأخبر الله تعالى عنه بهما في القراءتين، وكذا ما أشبهه.
Dan beliau juga tidak ضَنِين, yakni tidak kikir dalam mengajarkan apa yang telah Allah ajarkan dan turunkan kepadanya. Dengan demikian, kedua sifat buruk tersebut sama-sama tidak terdapat pada beliau, dan Allah Ta‘ala memberitahukan hal itu tentang beliau melalui kedua qira’at tersebut. Demikian pula hal-hal yang semisal dengannya.
وأما اختلاف اللفظ والمعنى جميعا، مع امتناع اجتماعهما في شيء واحد؛ فكقراءة من قرأ: (لقد علمت ما أنزل هؤلاء إلَّا ربُّ السَّموات والأرض بصائر) [الإسراء: 102] بضم التاء،
Adapun perbedaan lafaz dan makna sekaligus yang tidak mungkin berkumpul pada satu perkara, contohnya adalah bacaan orang yang membaca لَقَدْ عَلِمْتُ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ [Al-Isra’: 102] dengan huruf ta’ dibaca dhammah.
وذلك أنه أسند هذا العلم إلى موسى عليه السلام حديثًا منه لفرعون حيث قال: (إنَّ رسولكم الذى أرسل إليكم لمجنون) [الشعراء: 27]،
Hal itu karena pengetahuan tersebut disandarkan kepada Musa ‘alaihissalam dalam ucapannya kepada Fir‘aun, ketika Fir‘aun berkata:
إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ [الشعراء: 27]
“Sesungguhnya rasul kalian yang diutus kepada kalian benar-benar orang gila.” [Asy-Syu‘ara’: 27]
فقال له موسى عليه السلام عند ذلك: (لقد علمتُ ما أنزل هؤلاء إلا رب السموات والأرض بصائر) [الإسراء: 102] فأخبر عليه السلام عن نفسه بالعلم بذلك؛ أي ليس بمجنون.
Maka Musa ‘alaihissalam ketika itu berkata kepadanya: لَقَدْ عَلِمْتُ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ [Al-Isra’: 102]. Musa ‘alaihissalam memberitahukan bahwa dirinya mengetahui hal tersebut, yakni bahwa ia bukanlah orang gila.
وقراءة من قرأ : ( لقد علمتَ ) بفتح التاء، وذلك أنه أسند هذا العلم إلى فرعون، مخاطبة من موسى له بذلك على وجه التقريع والتوبيخ له على شدَّة معاندته للحق وجحوده له بعد علمه،
Adapun bacaan orang yang membaca لَقَدْ عَلِمْتَ dengan huruf ta’ dibaca fathah, maka pengetahuan tersebut disandarkan kepada Fir‘aun. Musa berbicara kepadanya dengan ungkapan itu sebagai celaan dan teguran atas kerasnya penentangannya terhadap kebenaran serta pengingkarannya setelah ia mengetahuinya.
ولذلك أخبر تبارك وتعالى عنه وعن قومه فقال:
Karena itu Allah Tabaraka wa Ta‘ala memberitahukan tentang dirinya dan kaumnya dengan berfirman:
فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ * وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا [النمل: 13، 14]
“Ketika ayat-ayat Kami yang memberi penerangan datang kepada mereka, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’ Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakininya.” [An-Naml: 13-14]
وكذلك ما ورد من هذا النوع من اختلاف القراءتين التي لا يصحُّ أن يجتمعا في شيء واحد: هذا سبيله؛
Demikian pula seluruh perbedaan dua qira’at dari jenis ini yang tidak mungkin berkumpul pada satu perkara; seperti inilah cara memahaminya.
لأن كل قراءة منهما بمنزلة آية قائمة بنفسها، لا يصحُّ أن يجتمع مع آية أخرى تخالفها في شيء واحد؛ لتضادهما وتنافيهما».
Sebab setiap qira’at dari keduanya berkedudukan seperti sebuah ayat yang berdiri sendiri. Ia tidak mungkin digabungkan dengan ayat lain yang berbeda dengannya pada satu perkara karena keduanya saling bertentangan dan tidak dapat berkumpul.”
انظر: “جامع البيان في القراءات السبع” (1/ 120 -123)، بتصرف.
Lihat: Jami‘ Al-Bayan fi Al-Qira’at As-Sab‘ (1/120-123), dengan sedikit penyesuaian.
وقال ابن تيمية: القراءات التي يتغاير فيها المعنى: كلها حق، وكل قراءة منها مع القراءة الأخرى بمنزلة الآية مع الآية،
Ibnu Taimiyah berkata: “Qira’at yang maknanya berbeda-beda, semuanya adalah benar. Setiap qira’at bersama qira’at lainnya berkedudukan seperti satu ayat dengan ayat lainnya.
يجب الإيمان بها كلها، واتباع ما تضمنته من المعنى، علمًا وعملًا، لا يجوز ترك موجِب إحداهما لأجل الأخرى، ظنًّا أن ذلك تعارض.
Wajib mengimani semuanya dan mengikuti makna yang dikandungnya, baik dalam ilmu maupun amal. Tidak diperbolehkan meninggalkan konsekuensi salah satunya karena qira’at yang lain dengan anggapan bahwa keduanya saling bertentangan.”
انظر: “مجموع الفتاوى” (13/ 391-392).
Lihat: Majmu‘ Al-Fatawa (13/391-392).
ثانيًا:
Kedua:
تنقسم القراءات إلى قسمين من جهة الأصول والفرش:
Qira’at terbagi menjadi dua bagian apabila ditinjau dari sisi ushul dan farsy:
القسم الأول: الأصول، أي: أصول القراءات، أو أصول القراءة، وهي تعني القواعد المطردة التي تنطبق على كل جزئيات القاعدة، والتي يكثر دورها، وتطرد، ويدخل في حكم الواحد منها الجميع،
Bagian pertama: ushul, yaitu ushul al-qira’at atau ushul al-qira’ah. Yang dimaksud adalah kaidah-kaidah umum yang berlaku secara konsisten pada seluruh bagian yang berada di bawah kaidah tersebut, sering berulang, dan hukumnya berlaku secara menyeluruh sehingga satu kaidah mencakup semua yang serupa dengannya.
بحيث إذا ذكر حرف من حروف القرآن الكريم، ولم يقيد يدخل تحته كل ما كان مثله، فالتفخيم للخاء المفتوحة مثلا، يكون مطردًا في كل كلمة ترد في القرآن فيها خاء مفتوحة.
Sehingga apabila disebutkan suatu huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an tanpa pembatasan tertentu, maka seluruh yang serupa dengannya masuk dalam kaidah tersebut. Misalnya, tafkhim pada huruf kha’ yang berharakat fathah berlaku secara konsisten pada setiap kata dalam Al-Qur’an yang terdapat huruf kha’ berharakat fathah.
وإنما سميت الأصول أصولًا: لأنها يكثر دورها، ويطرد حكمها على جزئياتها.
Ia dinamakan ushul karena pembahasannya sering berulang dan hukumnya berlaku secara konsisten pada seluruh bagian yang berada di bawahnya.
والأصول التي يذكرها علماء القراءات هي: الاستعاذة، والبسملة، وسورة أم القرآن، والإدغام الكبير، وهاء الكناية، والمد والقصر، والهمزتان من كلمة، ومن كلمتين، والهمز المفرد، ونقل حركة الهمزة إلى الساكن قبلها،
Pembahasan ushul yang disebutkan oleh para ulama qira’at meliputi: isti‘adzah, basmalah, Surat Ummul Qur’an, idgham kabir, ha’ al-kinayah, mad dan qashr, dua hamzah dalam satu kata, dua hamzah dalam dua kata, hamzah mufrad, serta pemindahan harakat hamzah kepada huruf sukun sebelumnya.
والسكت على الساكن قبل الهمز وغيره، ووقف حمزة وهشام على الهمز، والإدغام الصغير، والكلام في ذال: إذ ودال قد و تاء التأنيث ولام هل وبل وحروف قربت مخارجها،
Juga sakt pada huruf sukun sebelum hamzah dan selainnya, cara Hamzah dan Hisyam berhenti pada hamzah, idgham shaghir, pembahasan tentang huruf dzal pada إذ, huruf dal pada قد, ta’ at-ta’nits, huruf lam pada هل dan بل, serta huruf-huruf yang makhrajnya berdekatan.
وأحكام النون الساكنة والتنوين، والفتح والإمالة وبين اللفظين، وإمالة هاء التأنيث وما قبلها في الوقف، ومذاهب القراء في الراءات واللامات، والوقف على أواخر الكلم، والوقف على مرسوم الخط، وياءات الإضافة، والياءات الزوائد.
Termasuk pula hukum nun sakinah dan tanwin, fath, imalah, dan bacaan di antara keduanya, imalah pada ha’ at-ta’nits dan huruf sebelumnya ketika berhenti, metode para imam qira’at dalam membaca huruf ra’ dan lam, berhenti pada akhir kata, berhenti sesuai rasm tulisan, ya’ al-idhafah, dan ya’ az-zawa’id.
القسم الثاني: الفرش، وهو الكلمات التي يقل دورها وتكرارها، من حروف القراءات المختلف فيها في القرآن الكريم، ولم تطرد،
Bagian kedua: farsy, yaitu kata-kata yang sedikit pengulangan dan kemunculannya dari bentuk-bentuk bacaan yang diperselisihkan dalam Al-Qur’an, dan hukumnya tidak berlaku secara konsisten sebagai kaidah umum.
وقد أطلق عليها القراء فرشًا، لانتشارها؛ كأنها انفرشت وتفرقت في السور وانتشرت.
Para ahli qira’at menamakannya farsy karena bentuk-bentuk tersebut tersebar, seakan-akan terhampar dan terpencar di berbagai surat.
ولأنها لما كانت مذكورة في أماكنها من السور، فهي كالمفروشة، فإن الفرش إذا ذكر فيه حرف، فإنه لا يتعدى أول حرف من تلك السورة إلا بدليل أو إشارة أو نحو ذلك،
Dan karena bentuk-bentuk tersebut disebutkan pada tempatnya masing-masing dalam surat-surat, maka ia seolah-olah terhampar. Dalam pembahasan farsy, apabila suatu bentuk bacaan disebutkan, hukumnya tidak melampaui huruf pertama yang disebutkan dalam surat tersebut kecuali terdapat dalil, isyarat, atau hal semisalnya.
ويبتدئ القراء بذكر الفرش من أول سورة البقرة إلى آخر سورة الناس، وقد سمى بعضهم الفرش فروعًا مقابلة للأصول.
Para ahli qira’at memulai pembahasan farsy dari awal Surat Al-Baqarah hingga akhir Surat An-Nas. Sebagian dari mereka menyebut farsy sebagai furu‘, sebagai pasangan dari ushul.
انظر: “مقدمات في علم القراءات” (77).
Lihat: Muqaddimat fi ‘Ilm Al-Qira’at (hlm. 77).
ويمكن تلخيص الإحصاء للخلاف في الفرش، في النقاط التالية:
Statistik perbedaan dalam farsy dapat diringkas dalam poin-poin berikut:
1- عدد الكلمات التي قرئت على وجهين: (1315) كلمة.
1- Jumlah kata yang dibaca dengan dua bentuk bacaan: 1.315 kata.
2- عدد الكلمات التي قرئت على ثلاثة وجوه: (105) كلمات.
2- Jumlah kata yang dibaca dengan tiga bentuk bacaan: 105 kata.
3- عدد الكلمات التي قرئت على أربعة وجوه: (24) كلمة.
3- Jumlah kata yang dibaca dengan empat bentuk bacaan: 24 kata.
4- عدد الكلمات التي قرئت على خمسة وجوه: (3) كلمات تكررت إحداهن (11) مرة.
4- Jumlah kata yang dibaca dengan lima bentuk bacaan: 3 kata, salah satunya berulang sebanyak 11 kali.
وليس في القرآن الكريم أي كلمة اختلف القراء العشرة في فرشها على ستة وجوه، أو أكثر من ذلك.
Tidak terdapat satu kata pun dalam Al-Qur’an yang diperselisihkan oleh sepuluh imam qira’at dalam pembahasan farsy-nya hingga mencapai enam bentuk bacaan atau lebih.
وإنما ذكرنا هنا ما كان وجهًا في الفرش دون الأصول، إذ الخلاف في الأصول يمكن ضبطه من خلال قواعده الجامعة،
Yang kami sebutkan di sini hanyalah bentuk-bentuk perbedaan dalam farsy, bukan dalam ushul, karena perbedaan dalam ushul dapat dihimpun dan dikendalikan melalui kaidah-kaidah umumnya.
وهو مما يكاد يتكرر في كل كلمة من القرآن الكريم، ولا يترتب عليه أدنى تغير في المعنى الدلالي، ومن غير المجدي أن نتكلف إحصاء ذلك كله.
Perbedaan dalam ushul hampir berulang pada setiap kata dalam Al-Qur’an dan tidak menimbulkan sedikit pun perubahan pada makna semantis. Karena itu, tidak ada manfaatnya membebani diri untuk menghitung seluruhnya.
انظر: “الشامل في القراءات المتواترة”، محمد حبش (170).
Lihat: Asy-Syamil fi Al-Qira’at Al-Mutawatirah, Muhammad Habasy (hlm. 170).
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamQA.info
Leave a Reply