تفسير فتح القدير للشوكاني لسورة البقرة الآيات 119-121 — الجزء الأول
Tafsir Fathul Qadir Asy-Syaukani untuk Surah Al-Baqarah Ayat 119–121 (Bagian 1)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tafsir Fathul Qadir Asy-Syaukani untuk Surah Al-Baqarah Ayat 119–121 — Bagian 1 ini masuk dalam Kategori Tafsir Al Quran
[سورة البقرة (٢) : الآيات ١١٩ الى ١٢١]
[Surah Al-Baqarah (2): Ayat 119 sampai 121]
إِنَّا أَرْسَلْناكَ بِالْحَقِّ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلا تُسْئَلُ عَنْ أَصْحابِ الْجَحِيمِ (١١٩)
“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan engkau tidak akan ditanya tentang penghuni neraka.” (Al-Baqarah: 119)
وَلَنْ تَرْضى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصارى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْواءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (١٢٠)
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepadamu hingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang sebenarnya.’ Dan jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu datang kepadamu, maka tidak ada bagimu pelindung maupun penolong dari Allah.” (Al-Baqarah: 120)
الَّذِينَ آتَيْناهُمُ الْكِتابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولئِكَ هُمُ الْخاسِرُونَ (١٢١)
“Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka, mereka membacanya dengan sebenar-benar bacaan; mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barang siapa mengingkarinya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Baqarah: 121)
قَوْلُهُ: بَشِيراً وَنَذِيراً يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ مَنْصُوبًا عَلَى الْحَالِ، وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ مَفْعُولًا لَهُ، أَيْ: أَرْسَلْنَاكَ لِأَجْلِ التَّبْشِيرِ وَالْإِنْذَارِ.
Firman-Nya, بَشِيراً وَنَذِيراً, dimungkinkan berkedudukan manshub sebagai hal, dan dimungkinkan pula sebagai maf‘ul lah, yakni: Kami mengutusmu untuk membawa kabar gembira dan memberikan peringatan.
وَقَوْلُهُ: وَلا تُسْئَلُ قَرَأَهُ الْجُمْهُورُ بِالرَّفْعِ مَبْنِيًّا لِلْمَجْهُولِ، أَيْ: حَالَ كونك غير مسؤول، وَقُرِئَ بِالرَّفْعِ مَبْنِيًّا لِلْمَعْلُومِ.
Adapun firman-Nya وَلَا تُسْأَلُ, jumhur membacanya dengan rafa‘ dalam bentuk pasif, yakni dalam keadaan engkau tidak dimintai pertanggungjawaban. Ada pula yang membacanya dengan rafa‘ dalam bentuk aktif.
قَالَ الْأَخْفَشُ: وَيَكُونُ فِي مَوْضِعِ الْحَالِ عَطْفًا عَلَى بَشِيراً وَنَذِيراً أَيْ: حَالَ كَوْنِكَ غَيْرَ سَائِلٍ عَنْهُمْ، لِأَنَّ عِلْمَ اللَّهِ بِكُفْرِهِمْ بَعْدَ إِنْذَارِهِمْ يُغْنِي عَنْ سؤاله عنهم،
Al-Akhfasy berkata: Ia dapat berkedudukan sebagai hal, di-‘athaf-kan kepada بَشِيراً وَنَذِيراً, yakni: dalam keadaan engkau tidak bertanya tentang mereka, karena pengetahuan Allah mengenai kekufuran mereka setelah mereka diberi peringatan telah mencukupi sehingga tidak perlu menanyakan mereka.
وقرأ نافع: وَلا تُسْئَلُ بِالْجَزْمِ: أَيْ لَا يَصْدُرُ مِنْكَ السُّؤَالُ عَنْ هَؤُلَاءِ، أَوْ لَا يَصْدُرُ مِنْكَ السُّؤَالُ عَمَّنْ مَاتَ مِنْهُمْ عَلَى كُفْرِهِ وَمَعْصِيَتِهِ تَعْظِيمًا لِحَالِهِ وَتَغْلِيظًا لِشَأْنِهِ،
Nafi‘ membaca وَلَا تَسْأَلْ dengan jazm, yakni janganlah muncul darimu pertanyaan tentang mereka, atau janganlah muncul darimu pertanyaan mengenai orang yang meninggal di antara mereka dalam kekufuran dan kemaksiatannya, sebagai bentuk penegasan terhadap dahsyatnya keadaan dan beratnya urusan mereka.
أَيْ: أَنَّ هَذَا أَمْرٌ فَظِيعٌ وَخَطْبٌ شَنِيعٌ، يَتَعَاظَمُ الْمُتَكَلِّمُ أَنْ يُجْرِيَهُ عَلَى لسانه، أو يتعاظم السامع أن يسمعه.
Maksudnya, perkara tersebut merupakan sesuatu yang sangat mengerikan dan urusan yang amat buruk, sampai-sampai orang yang berbicara merasa berat untuk mengucapkannya dengan lisannya, atau orang yang mendengarnya merasa berat untuk mendengarnya.
وقوله: وَلَنْ تَرْضى عَنْكَ الْيَهُودُ الْآيَةَ، أَيْ: لَيْسَ غَرَضُهُمْ وَمَبْلَغُ الرِّضَا مِنْهُمْ مَا يَقْتَرِحُونَهُ عَلَيْكَ مِنَ الْآيَاتِ، وَيُورِدُونَهُ مِنَ التَّعَنُّتَاتِ،
Firman-Nya, وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ, maksudnya: tujuan mereka dan batas keridhaan mereka bukanlah sekadar apa yang mereka usulkan kepadamu berupa berbagai ayat dan berbagai tuntutan yang mereka ajukan dengan sikap mempersulit.
فَإِنَّكَ لَوْ جِئْتَهُمْ بِكُلِّ مَا يَقْتَرِحُونَ وَأَجَبْتَهُمْ عَنْ كُلِّ تَعَنُّتٍ لَمْ يَرْضَوْا عَنْكَ، ثُمَّ أَخْبَرَهُ بِأَنَّهُمْ لَنْ يَرْضَوْا عَنْهُ حَتَّى يَدْخُلَ فِي دِينِهِمْ، وَيَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ.
Seandainya engkau mendatangkan kepada mereka semua yang mereka usulkan dan menjawab seluruh tuntutan mereka yang mempersulit, mereka tetap tidak akan ridha kepadamu. Kemudian Allah memberitahukan kepadanya bahwa mereka tidak akan ridha kepadanya sampai ia masuk ke dalam agama mereka dan mengikuti millah mereka.
وَالْمِلَّةُ: اسْمٌ لِمَا شَرَعَهُ اللَّهُ لِعِبَادِهِ فِي كُتُبِهِ عَلَى أَلْسُنِ أَنْبِيَائِهِ، وَهَكَذَا الشَّرِيعَةُ،
Millah adalah nama bagi sesuatu yang Allah syariatkan kepada hamba-hamba-Nya dalam kitab-kitab-Nya melalui lisan para nabi-Nya. Demikian pula makna syari‘ah.
Bersambung ke bagian berikutnya
Sumber : Kitab Fath Al-Qadir karya Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani.
Leave a Reply