تفسير فتح القدير للشوكاني لسورة البقرة الآيات 119-121 — الجزء الثاني
Tafsir Fathul Qadir Asy-Syaukani untuk Surah Al-Baqarah Ayat 119–121 (Bagian 2)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tafsir Fathul Qadir Asy-Syaukani untuk Surah Al-Baqarah Ayat 119–121 — Bagian 2 ini masuk dalam Kategori Tafsir Al Quran
ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِمْ سُبْحَانَهُ، فَأَمَرَهُ بِأَنْ يَقُولَ لَهُمْ: إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدى الْحَقِيقِيُّ، لَا مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ مِنَ الشَّرِيعَةِ الْمَنْسُوخَةِ، وَالْكُتُبِ الْمُحَرَّفَةِ،
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta‘ala membantah mereka dan memerintahkan beliau agar mengatakan kepada mereka bahwa petunjuk Allah adalah petunjuk yang sebenarnya, bukan apa yang mereka anut berupa syariat yang telah dihapus dan kitab-kitab yang telah diubah.
ثُمَّ أَتْبَعَ ذَلِكَ بِوَعِيدٍ شَدِيدٍ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِ اتَّبَعَ أَهْوَاءَهُمْ، وَحَاوَلَ رِضَاهُمْ، وَأَتْعَبَ نَفْسَهُ فِي طَلَبِ مَا يُوَافِقُهُمْ،
Kemudian setelah itu Allah memberikan ancaman yang keras kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau mengikuti hawa nafsu mereka, berusaha memperoleh keridhaan mereka, dan melelahkan dirinya dalam mencari sesuatu yang sesuai dengan mereka.
وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ تَعْرِيضًا لِأُمَّتِهِ، وَتَحْذِيرًا لَهُمْ أَنْ يُوَاقِعُوا شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، أَوْ يَدْخُلُوا فِي أَهْوِيَةِ أَهْلِ الْمِلَلِ، وَيَطْلُبُوا رِضَا أَهْلِ الْبِدَعِ.
Dimungkinkan pula bahwa hal tersebut merupakan sindiran yang ditujukan kepada umat beliau dan peringatan kepada mereka agar tidak terjatuh sedikit pun ke dalam perkara tersebut, tidak masuk ke dalam hawa nafsu para penganut berbagai agama, dan tidak mencari keridhaan para pelaku bid‘ah.
وَفِي هَذِهِ الْآيَةِ مِنَ الْوَعِيدِ الشَّدِيدِ الَّذِي تَرْجُفُ لَهُ الْقُلُوبُ وَتَتَصَدَّعُ مِنْهُ الْأَفْئِدَةُ،
Dalam ayat ini terdapat ancaman yang sangat keras, yang membuat hati bergetar dan kalbu seakan-akan terbelah karenanya.
مَا يُوجِبُ عَلَى أَهْلِ الْعِلْمِ الْحَامِلِينَ لِحُجَجِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، وَالْقَائِمِينَ بِبَيَانِ شَرَائِعِهِ، تَرْكَ الدِّهَانَ لِأَهْلِ الْبِدَعِ الْمُتَمَذْهِبِينَ بِمَذَاهِبِ السُّوءِ،
Hal tersebut mewajibkan para ahli ilmu yang membawa hujah-hujah Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan bertugas menjelaskan syariat-Nya untuk meninggalkan sikap berbasa-basi terhadap para pelaku bid‘ah yang menganut mazhab-mazhab buruk.
التَّارِكِينَ لِلْعَمَلِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، الْمُؤْثِرِينَ لِمَحْضِ الرَّأْيِ عَلَيْهِمَا،
Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan pengamalan Al-Kitab dan Sunnah serta lebih mengutamakan pendapat semata daripada keduanya.
فَإِنَّ غَالِبَ هَؤُلَاءِ وَإِنْ أَظْهَرَ قَبُولًا وَأَبَانَ مِنْ أَخْلَاقِهِ لِينًا لَا يُرْضِيهِ إِلَّا اتِّبَاعُ بِدْعَتِهِ، وَالدُّخُولُ فِي مَدَاخِلِهِ، وَالْوُقُوعُ فِي حَبَائِلِهِ،
Sesungguhnya kebanyakan mereka, meskipun menampakkan penerimaan dan memperlihatkan kelembutan dalam akhlaknya, tidak akan merasa puas kecuali apabila bid‘ahnya diikuti, masuk ke jalan-jalannya, dan terjatuh ke dalam perangkap-perangkapnya.
فَإِنْ فَعَلَ الْعَالِمُ ذَلِكَ بَعْدَ أَنْ عَلَّمَهُ اللَّهُ مِنَ الْعِلْمِ مَا يَسْتَفِيدُ بِهِ أَنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ مَا فِي كِتَابِهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ،
Jika seorang alim melakukan hal tersebut setelah Allah mengajarkannya ilmu yang dengannya ia mengetahui bahwa petunjuk Allah adalah apa yang terdapat dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya,
لَا مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ تِلْكَ الْبِدَعِ الَّتِي هِيَ ضَلَالَةٌ مَحْضَةٌ، وَجَهَالَةٌ بَيِّنَةٌ وَرَأْيٌ منها، وَتَقْلِيدٌ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ،
bukan apa yang mereka anut berupa berbagai bid‘ah yang merupakan kesesatan murni, kebodohan yang nyata, pendapat semata, dan taklid yang berada di tepi jurang yang runtuh,
فَهُوَ إِذْ ذاك ماله مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ، وَمَنْ كَانَ كَذَلِكَ فَهُوَ مَخْذُولٌ لَا مَحَالَةَ، وَهَالِكٌ بِلَا شَكٍّ وَلَا شُبْهَةٍ.
maka ketika itu tidak ada baginya pelindung maupun penolong dari Allah. Barang siapa berada dalam keadaan demikian, maka ia pasti ditelantarkan dan binasa tanpa keraguan maupun kesamaran.
وَقَوْلُهُ: الَّذِينَ آتَيْناهُمُ الْكِتابَ قِيلَ: هُمُ الْمُسْلِمُونَ، وَالْكِتَابُ: هُوَ الْقُرْآنُ، وَقِيلَ: مَنْ أَسْلَمَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ،
Firman-Nya, الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ, dikatakan bahwa mereka adalah kaum Muslimin dan yang dimaksud dengan Kitab adalah Al-Qur’an. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang dari kalangan Ahlul Kitab yang masuk Islam.
وَالْمُرَادُ بقوله: يَتْلُونَهُ أنهم يعملون بِمَا فِيهِ، فَيُحَلِّلُونَ حَلَالَهُ، وَيَحْرِمُونَ حَرَامَهُ،
Yang dimaksud dengan firman-Nya يَتْلُونَهُ adalah mereka mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.
فَيَكُونُ: مِنْ تَلَاهُ، يَتْلُوهُ: إِذَا اتَّبَعَهُ، وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَالْقَمَرِ إِذا تَلاها «١» أَيِ: اتَّبَعَهَا، كَذَا قِيلَ،
Dengan demikian, kata tersebut berasal dari تَلَاهُ يَتْلُوهُ, apabila ia mengikutinya. Dari makna ini pula firman Allah Ta‘ala, وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا, yakni ketika bulan mengikutinya. Demikianlah dikatakan.
وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ مِنَ التِّلَاوَةِ، أَيْ: يَقْرَءُونَهُ حَقَّ قِرَاءَتِهِ، لَا يُحَرِّفُونَهُ وَلَا يُبَدِّلُونَهُ.
Dimungkinkan pula berasal dari makna tilawah, yaitu mereka membacanya dengan sebenar-benar bacaan, tidak mengubah dan tidak menggantinya.
وَقَوْلُهُ: الَّذِينَ آتَيْناهُمُ الْكِتابَ مُبْتَدَأٌ، وَخَبَرُهُ: يَتْلُونَهُ أو الخبر قوله: فَأُولئِكَ مَعَ مَا بَعْدَهُ.
Firman-Nya الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ merupakan mubtada’, sedangkan khabar-nya adalah يَتْلُونَهُ; atau khabar-nya adalah firman-Nya فَأُولَئِكَ beserta kalimat setelahnya.
Bersambung ke bagian berikutnya
Sumber : Kitab Fath Al-Qadir karya Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani.
Leave a Reply