Muqaddimah Syarh Aqidah Thahawiyyah – Seri 15



بين العقل والنقل – الجزء الخامس عشر

Antara Akal dan Naql – Seri 15

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Antara Akal dan Naql – Seri 15 ini masuk dalam Syarh Aqidah Thahawiyyah.

[بين العقل والنقل]

Antara Akal dan Naql

وههنا مسألة قد يبحث فيها بعض النظار، وهي أن هذه الملكة الفكرية المودعة في الإنسان والمسماة بالعقل: هل يمكن أن تخالف الدين الحق أم لا؟

Di sini terdapat suatu persoalan yang mungkin dibahas oleh sebagian ahli nazhar, yaitu: apakah kemampuan berpikir yang ditanamkan dalam diri manusia dan dinamakan akal ini mungkin bertentangan dengan agama yang benar atau tidak?

والتحقيق في هذه المسألة: أن نعلم أن العقل – بما هو ملكة في الإنسان – لا يجبر الإنسان على أن يمشي في تفكيره بأسلوب صحيح أو غير صحيح، ولكن يمكن للإنسان أن يعلم أن فكره صحيح أم لا، إذا أجهد نفسه وتعمل بفكره، أما أن يكون لمجرد كونه ذا ملكة، أو صفة هي العقل، يستلزم ذلك أن يكون كل ما يصدر عنه ناشئاً عن العقل – بما هو ملكة تقود إلى الحق والصواب فيما من شأنه أن تكشف عنه – فلا.

Penelitian yang tepat dalam persoalan ini adalah bahwa kita mengetahui bahwa akal —sebagai suatu kemampuan yang ada pada manusia— tidak memaksa manusia untuk berjalan dalam pemikirannya dengan cara yang benar ataupun tidak benar. Akan tetapi, manusia dapat mengetahui apakah pemikirannya benar atau tidak apabila ia mengerahkan dirinya dan mengolah pikirannya. Adapun sekadar karena ia memiliki suatu kemampuan atau sifat yang disebut akal, tidaklah hal itu mengharuskan bahwa segala sesuatu yang muncul darinya pasti bersumber dari akal —sebagai kemampuan yang menuntun kepada kebenaran dan ketepatan dalam perkara-perkara yang menjadi wilayah penyingkapannya— tidak demikian.

فإن الإنسان يمكن أن يجري في خطوات فكرية خاطئة؛ لأنه، وإن كان الإنتاج غير موقوف على الإرادة، لكن الطريق التي يسير فيها الإنسان وترتيب المقدمات أمر إرادي إلى حد كبير، ولذلك الملحظ الإرادي الثابت في ذلك يتوهم الإنسان أن كل ما أنتجه بفكره فهو نتاج عقلي محض، وأنه ينبغي أن يكون صحيحاً، ويغفل عن أن الإنتاج قد يكون عقلياً ولكن ترتيب المقدمات وموادها قد لا يكون صحيحاً.

Sesungguhnya manusia dapat berjalan melalui langkah-langkah pemikiran yang keliru. Sebab, meskipun hasil pemikiran tidak bergantung kepada kehendak, jalan yang ditempuh manusia serta penyusunan premis-premis merupakan perkara yang sangat dipengaruhi oleh kehendak. Karena adanya sisi kehendak yang tetap dalam hal tersebut, manusia dapat menyangka bahwa segala sesuatu yang dihasilkannya melalui pemikirannya merupakan hasil akal murni dan semestinya benar. Ia lupa bahwa hasilnya mungkin bersifat rasional, tetapi susunan premis-premis dan materi premis tersebut bisa jadi tidak benar.

فضلاً عن أن الوهم قد يختلط على الإنسان بالعقل، من حيث إن الوهم فيه حركة أيضاً، فيتوهم الإنسان أن كل ما فيه حركة نظرية فهو عقل، فينقاد الإنسان لوهمه ظاناً أنه منقاد لعقله.

Selain itu, wahm dapat bercampur bagi manusia dengan akal, karena pada wahm juga terdapat suatu gerak. Maka manusia dapat menyangka bahwa setiap sesuatu yang di dalamnya terdapat gerak pemikiran adalah akal. Akibatnya, manusia mengikuti wahm-nya sementara ia menyangka bahwa dirinya sedang mengikuti akal-nya.

ولذلك يطلق الناس على كل ما ينتجونه بأفكارهم: إنه نتاج عقلي، وهذا النتاج الفكري – بهذا الاعتبار – قد يكون موافقاً للشريعة والدين، وقد لا يكون، ولذلك ينشأ عندهم القول بأن العقل قد يناقض الدين والشريعة، ويغفلون أن إطلاق وصف العقل على هذه النتاجات الفكرية ليس بحسب حقيقة الأمر، ولكن بحسب ما يظهر للناس بوهمهم، وفرق بين ما كان ناتجاً بحسب الفكر الصحيح، وبين ما كان ناتجاً بحسب أي فكر صحيح أو غير صحيح! فيحصل الخلط بين الناس من هذا الباب.

Oleh karena itu, manusia menyebut setiap sesuatu yang mereka hasilkan melalui pemikiran mereka sebagai hasil akal. Hasil pemikiran tersebut —dengan pertimbangan ini— mungkin sesuai dengan syariat dan agama, dan mungkin pula tidak. Dari sinilah muncul pada mereka perkataan bahwa akal mungkin bertentangan dengan agama dan syariat. Mereka melupakan bahwa penyematan sifat akal kepada hasil-hasil pemikiran tersebut bukanlah berdasarkan hakikat perkara, tetapi berdasarkan apa yang tampak kepada manusia melalui wahm mereka. Terdapat perbedaan antara sesuatu yang dihasilkan berdasarkan pemikiran yang benar dan sesuatu yang dihasilkan berdasarkan sembarang pemikiran, baik benar maupun tidak benar. Dari pintu inilah terjadi kerancuan di antara manusia.

ولكن العلماء قرروا أن العقل الصحيح يستحيل أن يخالف الشرع الصحيح، ولذلك أطلقوا القول بأن العقل لا يناقض الشرع، خصوصاً إذا كانا قطعيين؛ فالقطعيات لا تتعارض بالضرورة.

Akan tetapi, para ulama telah menetapkan bahwa akal yang benar mustahil bertentangan dengan syariat yang benar. Karena itu mereka menyatakan secara umum bahwa akal tidak bertentangan dengan syariat, khususnya apabila keduanya bersifat qath‘i; sebab perkara-perkara yang bersifat qath‘i secara niscaya tidak saling bertentangan.

والتحقيق: أن ما يطلق عليه: إنه عقلي إطلاقاً صحيحاً هو فقط ما كان قد تحقق لدينا بعد سبره وتنقيحه وفحصه أنه موافق وغير مخالف للعقل، بل بعد أن يثبت أنه صادر عن تلك الأدلة الصحيحة التي يحق لها – دون غيرها – أن تسمى عقلية، وما كان سوى ذلك فإطلاق وصف العقل عليه أو دعوى أنه ناشئ عن العقل يكون مبنياً على التسامح أو المغالطات.

Penelitian yang tepat adalah bahwa sesuatu yang secara benar disebut sebagai “rasional” hanyalah sesuatu yang, setelah kita teliti, bersihkan, dan periksa, telah terbukti sesuai dan tidak bertentangan dengan akal. Bahkan, setelah terbukti bahwa ia bersumber dari dalil-dalil yang benar yang memang berhak —dan bukan selainnya— disebut sebagai dalil rasional. Adapun selain itu, penyematan sifat akal kepadanya atau klaim bahwa ia berasal dari akal dibangun di atas kelonggaran dalam penggunaan istilah atau berbagai kekeliruan penalaran.

فإن لم ينتبه إلى ما قررناه هنا حصل الخلط ودعوى المضادة والمنافاة بين الشريعة والحقيقة أو بين الدين والعقل.

Apabila apa yang telah kami tetapkan di sini tidak diperhatikan, akan terjadi kerancuan serta muncul klaim adanya pertentangan dan ketidaksesuaian antara syariat dan hakikat, atau antara agama dan akal.

وقد يتساهل بعض الناس فيحسبون – بناءً على ذلك – أن العقول تتفاوت بناءً على تفاوت نتائج الأنظار التي تجري في نفوس البشر، ويحسبونها كلها عقلية محضة، والصواب – الذي لا ريب فيه – أن العقل واحد من حيث أسسه المكونة له، والنتائج التي ينتجها، ولولا ذلك لاستحال على البشر الوصول إلى الحق ودعوة الغير إلى الدين الصحيح.

Sebagian manusia terkadang bersikap longgar lalu menyangka —berdasarkan hal tersebut— bahwa akal manusia berbeda-beda berdasarkan perbedaan hasil-hasil pemikiran yang berlangsung dalam diri manusia, dan mereka menganggap semuanya sebagai sesuatu yang murni bersifat rasional. Padahal yang benar —tanpa keraguan— adalah bahwa akal itu satu dari sisi dasar-dasar yang membentuknya dan hasil-hasil yang dihasilkannya. Seandainya tidak demikian, niscaya mustahil bagi manusia untuk sampai kepada kebenaran dan menyeru orang lain kepada agama yang benar.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.