Muqaddimah Syarh Aqidah Thahawiyyah – Seri 16



تعريف أصول الدين – الجزء السادس عشر

Definisi Ushuluddin – Seri 16

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Definisi Ushuluddin – Seri 16 ini masuk dalam Syarh Aqidah Thahawiyyah.

[تعريف أصول الدين]

Definisi Ushuluddin

لقد أصبحت كلمة «أصول الدين» علماً، متعارفاً ومصطلحاً عليها أن تطلق على المباني الكبيرة والمسائل الأركان في الاعتقاد، بقرينة قوله قبل ذلك: «يعتقدون».

Kata ushuluddin telah menjadi suatu istilah yang dikenal dan disepakati penggunaannya untuk menyebut dasar-dasar besar dan persoalan-persoalan pokok dalam i‘tiqad, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan beliau sebelumnya: “mereka meyakini”.

وتعريف أصول الدين من حيث كونه علماً هو كما قال الباجوري في «شرحه»: «علم يبحث فيه عن أسماء الله وصفاته وأفعاله، وأحوال المخلوقين من الملائكة والأنبياء والأولياء والأئمة، والمبدأ والمعاد على قانون الإسلام، لا على أصول الحكماء، تحصيلاً لليقين في العقائد الإيمانية، ودفعاً للشبهات».

Definisi ushuluddin ditinjau dari kedudukannya sebagai suatu ilmu adalah sebagaimana dikatakan oleh al-Bajuri dalam syarh-nya: “Ilmu yang membahas nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, keadaan para makhluk berupa para malaikat, para nabi, para wali dan para imam, serta permulaan dan tempat kembali menurut aturan Islam, bukan berdasarkan prinsip-prinsip para ahli hikmah, untuk memperoleh keyakinan dalam ‘aqa’id imaniyyah dan menolak berbagai syubhat.”

وقد يسمى أصول الدين بـ«علم الكلام»، إما: لأن أشهر مسألة تكلموا فيها وتقاتلوا عليها هي مسألة «الكلام»، فسمي النوع باسمها، وقيل: سمي كلاماً؛ لأن ظهور كمال الكلام إنما يكون ببيان الحقائق، وإبراز الدقائق، وذلك لا يحصل إلا بهذا العلم، فجعل نفس هذا العلم كلاماً تجوزاً للمبالغة. وقيل: إن المفكرين للمباحث العقلية، والأدلة البرهانية، إذا سئلوا عن مسألة تتعلق بصفات الله وأفعاله، قالوا: هبنا عن الكلام في هذا، فاشتهر هذا الاسم له فصار علماً له بالغلبة.1

Ushuluddin juga dapat disebut sebagai ‘ilm al-kalam. Pertama, karena persoalan paling terkenal yang mereka bicarakan dan mereka perdebatkan adalah persoalan “kalam”, maka jenis ilmu tersebut dinamai dengan nama persoalan itu. Ada pula yang mengatakan bahwa ia disebut kalam karena kesempurnaan pembicaraan hanya tampak dengan menjelaskan berbagai hakikat dan menampakkan berbagai rincian halus, dan hal tersebut tidak dapat diperoleh kecuali melalui ilmu ini. Karena itu, ilmu ini sendiri disebut kalam secara majazi sebagai bentuk penegasan. Ada pula yang mengatakan bahwa para pemikir dalam pembahasan-pembahasan rasional dan dalil-dalil demonstratif, apabila ditanya mengenai suatu persoalan yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya, mereka berkata: “Biarkan kami berbicara tentang hal ini.” Maka nama tersebut menjadi terkenal untuk ilmu ini hingga akhirnya menjadi nama khusus baginya berdasarkan dominasi penggunaan.1

فالطحاوي يقصد بالأصول الدينية: ما كان منها مطلوباً الاعتقاد به لذاته، كما سردناه لك، وهو مصطلح «العقائد»، ولم يفرق بين ما كان منه يحتمل الخلاف وما لم يحتمله، ولم يفرق كذلك بين ما كفر مخالفه وما لم يكفر، فلم يجعل التكفير قيداً لمسائل الأصول، وعدم التكفير قيداً لمسائل الفروع؛ بل اعتبر الفروع: هي المسائل العملية مطلقاً، والأصول: هي المسائل العقائدية.

Maka yang dimaksud ath-Thahawi dengan ushul diniyyah adalah perkara-perkara yang dituntut untuk diyakini karena dirinya sendiri, sebagaimana telah kami uraikan kepada Anda, dan itulah istilah ‘aqa’id. Beliau tidak membedakan antara perkara yang memungkinkan adanya perselisihan dan yang tidak memungkinkan perselisihan. Beliau juga tidak membedakan antara perkara yang orang yang menyelisihinya menjadi kafir dan perkara yang orang yang menyelisihinya tidak menjadi kafir. Dengan demikian, beliau tidak menjadikan takfir sebagai batas bagi persoalan-persoalan ushul, dan tidak adanya takfir sebagai batas bagi persoalan-persoalan furu‘. Akan tetapi, beliau menganggap furu‘ sebagai persoalan-persoalan amaliah secara mutlak, sedangkan ushul adalah persoalan-persoalan ‘aqidah.

وليس لزوم التكفير هو الضابط عند العلماء بين أصول الدين وفروعه؛ فإن كثيراً من فروع الدين قد يكفر منكره لا لأجل أنه من أصول الدين بهذا التعريف، بل لأنه ثابت يقيني مقطوع أنه من الدين المنزل على سيدنا محمد عليه أفضل الصلاة والسلام، فيكون التكفير مترتباً على إنكاره؛ لأنه قطعي يقيني، لا لكونه من أصول الدين، وذلك كالصلاة والصوم، فمن أنكرهما كفر بلا ريب، مع كونهما من فروع الدين، أي: من الأمور العملية المبحوثة في الفقه، ولكن حكمهما قطعياً لا شك في ثبوتهما إلى الدين الحق، فإنه من هذا الباب يكفر من أنكرهما، وسوف يأتي مزيد توضيح للفرق بين ما يكفر به وما لا يكفر به في أواخر الكتاب بإذن الله تعالى.

Keharusan adanya takfir bukanlah ukuran yang digunakan para ulama untuk membedakan antara ushuluddin dan cabang-cabangnya. Sebab, banyak perkara cabang dalam agama yang orang yang mengingkarinya dapat menjadi kafir, bukan karena perkara itu termasuk ushuluddin berdasarkan definisi ini, tetapi karena perkara tersebut telah tetap secara yakin dan pasti sebagai bagian dari agama yang diturunkan kepada junjungan kita Muhammad ‘alaihi afdhalush shalati was salam. Maka takfir timbul sebagai akibat dari pengingkarannya karena perkara tersebut bersifat qath‘i dan yakin, bukan karena perkara itu termasuk ushuluddin. Contohnya adalah shalat dan puasa. Barangsiapa mengingkari keduanya, ia menjadi kafir tanpa keraguan, meskipun keduanya termasuk cabang agama, yakni perkara-perkara amaliah yang dibahas dalam fiqh. Akan tetapi, hukum keduanya bersifat qath‘i dan tidak terdapat keraguan mengenai ketetapan keduanya sebagai bagian dari agama yang benar. Dari sisi inilah orang yang mengingkari keduanya menjadi kafir. Penjelasan lebih lanjut mengenai perbedaan antara perkara yang menyebabkan kekufuran dan perkara yang tidak menyebabkan kekufuran akan datang pada bagian-bagian akhir kitab, dengan izin Allah Ta‘ala.

فأصول الدين إذن عند الإمام الطحاوي ترادف العقائد، والفروع ترادف العمليات.

Dengan demikian, ushuluddin menurut Imam ath-Thahawi sepadan dengan ‘aqa’id, sedangkan furu‘ sepadan dengan perkara-perkara amaliah.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Catatan Kaki

  1. Syarh al-Mawaqif, hlm. 66 dan seterusnya.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.