إشكال – الجزء السابع عشر
Isykal – Seri 17
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Isykal – Seri 17 ini masuk dalam Syarh Aqidah Thahawiyyah.
[إشكال]
Isykal
قد يُشكل على ما قلناه – من أن الأصول هي العقائد والفروع ما سواها في اصطلاح الإمام الطحاوي – إدراجه مسألة المسح على الخفين، وغيرها، في هذا المتن، ولا خلاف في أن هذه المسائل من مسائل الفروع.
Mungkin timbul isykal terhadap apa yang telah kami katakan —bahwa ushul adalah ‘aqa’id, sedangkan furu‘ adalah selainnya dalam istilah Imam ath-Thahawi— karena beliau memasukkan masalah mengusap dua khuf dan masalah-masalah lainnya ke dalam matan ini, padahal tidak ada perselisihan bahwa masalah-masalah tersebut termasuk persoalan furu‘.
فالجواب: إنه لا حظ في إدراج هذه المسائل في هذا المتن بجانب وجوب الاعتقاد بحكم المسح وهو الجواز، والحكم مقطوع به ثابت بالأحاديث التي حكم عليها غير واحد من الأعلام أنها متواترة، كما سيأتي، لا مجرد بيان جواز العمل بالمسح، ومعلوم أن الأول يكفر من يخالفه، باعتبار أن الدليل القطعي قائم عليه، وأما الجانب الثاني: فلا يكفر من لا يعمل به، لكونه من الفروع مطلقاً، ولذلك يجاب عن غيرها من المسائل العملية التي أوردها المصنف.
Jawabannya: tidak ada persoalan dalam memasukkan masalah-masalah tersebut ke dalam matan ini dari sisi kewajiban meyakini hukum mengusap khuf, yaitu kebolehannya. Hukum tersebut bersifat pasti dan ditetapkan oleh hadits-hadits yang dinilai oleh lebih dari seorang ulama besar sebagai mutawatir, sebagaimana akan dijelaskan nanti, bukan sekadar menjelaskan kebolehan mengamalkan mengusap khuf. Telah diketahui bahwa pada sisi pertama, orang yang menyelisihinya menjadi kafir, karena dalil yang qath‘i telah tegak atasnya. Adapun sisi kedua, orang yang tidak mengamalkannya tidak menjadi kafir, karena ia secara mutlak termasuk perkara furu‘. Dengan cara inilah dijawab pula persoalan-persoalan amaliah lainnya yang dicantumkan oleh penulis.
ويستفاد من إيرادها في كتب العقائد مع أنها تبحث في كتب الفروع، أن بعض المخالفين لأهل السنة قالوا بها، فإذا أوردت في كتب العقيدة، كان في ذلك استبشاع وتنفير للمخالفة فيها، على أن نقل الحكم القطعي كالمسح إلى الظني، والعكس، وجعل الفروع العملية أصلية اعتقادية، كما فعله الشيعة في الإمامة، قد يقدح في الاعتقاد؛ لأنه زيادة في الدين أو انتقاص منه بلا برهان بين.
Dapat dipahami dari dicantumkannya masalah-masalah tersebut dalam kitab-kitab ‘aqa’id, meskipun masalah itu dibahas dalam kitab-kitab furu‘, bahwa sebagian orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah telah berbicara mengenainya. Apabila persoalan-persoalan itu dicantumkan dalam kitab-kitab ‘aqidah, maka di dalamnya terdapat upaya menunjukkan buruknya penyelisihan dalam perkara tersebut dan membuat orang menjauh darinya. Selain itu, memindahkan hukum yang qath‘i, seperti mengusap khuf, menjadi zhanni, atau sebaliknya, serta menjadikan cabang-cabang amaliah sebagai perkara pokok dalam ‘aqidah, sebagaimana dilakukan oleh Syi‘ah dalam masalah imamah, dapat mencederai ‘aqidah; karena hal itu merupakan penambahan terhadap agama atau pengurangan darinya tanpa bukti yang jelas.
ويمكن أن يقال: إن مصطلح الأصول يدخل فيه كل ما كان مقطوعاً به، لا يحتمل الخلاف، أو أن الخلاف فيه لا يلتفت إليه لابتنائه على مجرد شبهة، وأما الفروع فيخالفه.
Dapat pula dikatakan bahwa istilah ushul mencakup setiap perkara yang bersifat pasti, tidak mengandung kemungkinan perselisihan, atau perselisihan di dalamnya tidak diperhitungkan karena hanya dibangun di atas suatu syubhat. Adapun furu‘ berbeda dari hal tersebut.
وعلى هذا فإدخال الطحاوي مسألة الخف جائز ومطرد مع هذا الاصطلاح. فتأمل.
Berdasarkan hal ini, pencantuman masalah khuf oleh ath-Thahawi adalah sesuatu yang dibenarkan dan konsisten dengan istilah ini. Maka renungkanlah.
ويمكن أن نقول: إن مصطلح «الأصول» – إذا أطلق – يدخل فيه أصول العقائد، وأصول الفقه، أي: المسائل الأصول من الفقه، وهي المسائل المقطوع بها، الثابتة على سبيل اليقين لا مجرد الظن.
Dapat pula kita katakan bahwa istilah al-ushul, apabila digunakan secara mutlak, mencakup pokok-pokok ‘aqa’id dan pokok-pokok fiqh, yakni persoalan-persoalan pokok dalam fiqh. Itulah persoalan-persoalan yang bersifat pasti, yang ketetapannya berada pada tingkat yakin, bukan sekadar zhann.
وعلى هذا فإذا قيل: «أصول الدين» فباعتبار أن الدين شامل للعقائد والفقه، فإنه يدخل فيه الأصليات من العلمين، وبالتالي فيجوز إدراجها في فن واحد من هذه الحيثية.
Berdasarkan hal ini, apabila dikatakan ushuluddin, maka karena agama mencakup ‘aqa’id dan fiqh, perkara-perkara pokok dari kedua ilmu tersebut masuk di dalamnya. Dengan demikian, keduanya boleh dihimpun dalam satu bidang ilmu ditinjau dari sisi ini.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Leave a Reply