المقدمة – الشرح – الجزء السادس
Muqaddimah Syarh Aqidah Thahawiyyah – Seri 6
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Muqaddimah Syarh Aqidah Thahawiyyah – Seri 6 ini masuk dalam Syarh Aqidah Thahawiyyah.
والذي عليه العلماء: أن أهل السنة ليسوا مجسمة ولا مشبهة، ولا يدخل مجسم ولا مشبه في أهل السنة. ولذلك فإن بعضاً من أتباع المذاهب الفقهية لا يدخلون في أهل السنة، لأنهم اتبعوا مذاهب اعتقادية أخرى كالتجسيم والاعتزال ونحو ذلك، وكذلك الكرامية فهم قطعاً ليسوا من أهل السنة، مع أنهم منتسبون في الفقه إلى الإمام أبي حنيفة، بل إن بعض فرق الحنابلة أولى بالخروج من أهل السنة من فرق الكرامية.
Pendapat yang dipegang oleh para ulama adalah bahwa Ahlus Sunnah bukanlah Mujassimah dan bukan pula Musyabbihah. Seorang Mujassim maupun Musyabbih tidak termasuk dalam Ahlus Sunnah. Oleh karena itu, sebagian pengikut mazhab-mazhab fiqh tidak termasuk dalam Ahlus Sunnah, karena mereka mengikuti mazhab-mazhab ‘aqidah yang lain seperti tajsim, i‘tizal, dan yang semisalnya. Demikian pula Karramiyyah, mereka secara pasti bukan termasuk Ahlus Sunnah, meskipun dalam fiqh mereka menisbatkan diri kepada Imam Abu Hanifah. Bahkan, sebagian kelompok Hanabilah lebih layak untuk dianggap keluar dari Ahlus Sunnah daripada kelompok-kelompok Karramiyyah.
واعلم أن الحنابلة أيضاً افترقوا إلى فرق عديدة في ذات الله تعالى، فمنهم المنزهون وعلى رأسهم الإمام المبجل أحمد بن حنبل والإمام ابن عقيل والإمام ابن الجوزي1 وكثير من المتأخرين، ومنهم مجسمة كأمثال القاضي أبي يعلى، وابن قدامة المقدسي، وابن الزاغوني، وابن تيمية، وابن قيم الجوزية، ويمكن أن يدرج معهم غيرهم ممن لم ينتسب إلى الحنابلة فقهاً لموافقتهم إياهم في الاعتقاد، كشارح العقيدة الطحاوية المنتسب إلى الأحناف.
Ketahuilah bahwa Hanabilah juga terpecah menjadi banyak kelompok dalam persoalan Dzat Allah Ta‘ala. Di antara mereka terdapat kelompok yang melakukan tanzih, dan di barisan terdepannya adalah Imam yang mulia Ahmad bin Hanbal, Imam Ibn ‘Aqil, dan Imam Ibn al-Jauzi2, serta banyak ulama dari kalangan belakangan. Di antara mereka juga terdapat kelompok Mujassimah, seperti al-Qadhi Abu Ya‘la, Ibn Qudamah al-Maqdisi, Ibn az-Zaghuni, Ibn Taimiyyah, dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Dapat pula dimasukkan bersama mereka orang-orang lain yang secara fiqh tidak menisbatkan diri kepada Hanabilah tetapi sejalan dengan mereka dalam ‘aqidah, seperti pensyarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah yang menisbatkan diri kepada mazhab Hanafi.
وأما الإمام الذهبي فكثير من كلامه سليم، وخصوصاً ما جاء منه بعد وفاة ابن تيمية، واختلاطه بالأعلام كالإمام التقي السبكي، وجاء في بعض أقواله ما يستلزم الحذر منه وعدم التسليم له، وإن لم يكن الذهبي حنبلياً فقد كان شافعي المذهب ولكنه تأثر بابن تيمية كما هو معلوم، والخبر يعرف مرادهم كما تدل عليه كلماتهم بحسب الدلالات اللغوية المتعارفة، ويحتاط منه، وإنما لم يصرحوا بذلك لعدم تحكمهم في هذا الباب، وأيضاً لاختلاطهم بكبار علماء السادة الأشاعرة أهل السنة.
Adapun Imam adz-Dzahabi, banyak perkataannya yang lurus, khususnya apa yang muncul darinya setelah wafatnya Ibn Taimiyyah dan setelah pergaulannya dengan para tokoh besar seperti Imam Taqiyuddin as-Subki. Dalam sebagian perkataannya terdapat hal-hal yang mengharuskan sikap berhati-hati terhadapnya dan tidak serta-merta menerima perkataannya. Meskipun adz-Dzahabi bukan seorang Hanbali, beliau bermazhab Syafi‘i, tetapi beliau terpengaruh oleh Ibn Taimiyyah sebagaimana diketahui. Maksud mereka dapat diketahui dari perkataan-perkataan mereka sesuai dengan petunjuk bahasa yang lazim, dan perlu disikapi dengan kehati-hatian. Mereka tidak menyatakan hal itu secara terang karena mereka tidak sepenuhnya menguasai bidang ini, juga karena pergaulan mereka dengan para ulama besar dari kalangan para sayyid Asya‘irah, yaitu Ahlus Sunnah.
وأما المالكية فقليل منهم مائل إلى خلاف أهل السنة، بل صرح بعضهم أنه لا يعرف أحداً منهم يخالف أهل السنة في العقيدة، وكذلك الأحناف أهل سنة ولكنهم ماتريديون، ولكن يوجد في هؤلاء معتزلة، وأما الشافعية فيوجد فيهم معتزلة ومجسمة، ولكن نسبتهم قليلة محصورة، وغالبهم من أهل السنة الأشاعرة، ولله الحمد.
Adapun Malikiyyah, hanya sedikit dari mereka yang cenderung menyelisihi Ahlus Sunnah. Bahkan sebagian ulama menegaskan bahwa tidak diketahui seorang pun dari mereka yang menyelisihi Ahlus Sunnah dalam ‘aqidah. Demikian pula Hanafiyyah adalah Ahlus Sunnah, tetapi mereka adalah Maturidiyyah, meskipun di antara mereka terdapat Mu‘tazilah. Adapun Syafi‘iyyah, di antara mereka terdapat Mu‘tazilah dan Mujassimah, tetapi jumlah mereka sedikit dan terbatas, sedangkan mayoritas mereka adalah dari kalangan Ahlus Sunnah Asya‘irah. Segala puji bagi Allah.
وقد يسأل بعض الناس فيقولون: ومتى بدأت أهل السنة في الظهور؟
Sebagian orang mungkin bertanya: kapan Ahlus Sunnah mulai muncul?
والتحقيق في الجواب: أن أهل السنة موجودون منذ كان الرسول عليه السلام موجوداً، بل إنهم موجودون منذ ظهور الإسلام؛ لأنهم هم القائلون بالعقائد الصحيحة، والفهم التام للدين.
Penelitian yang tepat dalam menjawabnya adalah bahwa Ahlus Sunnah telah ada sejak Rasul ‘alaihis salam masih ada. Bahkan mereka telah ada sejak kemunculan Islam, karena merekalah orang-orang yang berpegang kepada ‘aqa’id yang benar dan pemahaman yang sempurna terhadap agama.
هذا من حيث الحقيقة، وأما من حيث التسمية الخاصة، أي: إطلاق هذا الاسم الخاص لقباً عليهم، فكل التسميات ظهرت – بهذا الاعتبار – متأخرة عن المسمى، وأغلب الظن أنها ظهرت في زمان التابعين ومن بعدهم.
Demikianlah dari sisi hakikat. Adapun dari sisi penamaan khusus, yakni penggunaan nama khusus ini sebagai gelar bagi mereka, maka seluruh penamaan —ditinjau dari sisi ini— muncul setelah sesuatu yang dinamai. Dugaan yang lebih kuat adalah bahwa nama tersebut muncul pada masa Tabi‘in dan setelah mereka.
وإنما ذكر الإمام الطحاوي «العقيدة»؛ لأنه يجب على الناس الإيمان الصحيح، وهذا بناء على التكليف الشرعي، والناس مكلفون بذلك، والتكليف: هو طلب ما فيه مشقة وكلفة، فتندرج فيه الأحكام التكليفية كلها، ويلحقها المباح؛ لأنه مطلوب جملة.
Imam ath-Thahawi menyebut “‘aqidah” karena manusia wajib memiliki iman yang benar. Hal ini didasarkan pada taklif syar‘i, dan manusia dibebani dengan hal tersebut. Taklif adalah tuntutan terhadap sesuatu yang di dalamnya terdapat kesulitan dan beban. Karena itu seluruh hukum taklifi masuk di dalamnya, dan perkara mubah pun mengikutinya karena secara keseluruhan ia termasuk sesuatu yang dituntut.
ويمكن أن يعرف التكليف: بأنه إلزام ما فيه كلفة، فيصدق على فعل الواجب وترك الحرام فقط.
Taklif juga dapat didefinisikan sebagai mewajibkan sesuatu yang di dalamnya terdapat beban. Dengan definisi ini, ia berlaku pada melaksanakan perkara wajib dan meninggalkan perkara haram saja.
ويتوجه التكليف على جميع الناس، ولكن يختلف القدر الذي كلف به واحد عن الآخر بحسب المواهب التي أودعها الله تعالى فيه، فلا يحاسب الله تعالى الذكي العبقري محاسبة للمجنون، أو للأقل ذكاء.
Taklif berlaku kepada seluruh manusia, tetapi kadar beban yang diberikan kepada seseorang berbeda dengan orang lainnya sesuai dengan kemampuan-kemampuan yang Allah Ta‘ala letakkan padanya. Maka Allah Ta‘ala tidak menghisab orang yang cerdas dan jenius dengan hisab yang sama seperti orang gila atau orang yang lebih rendah kecerdasannya.
ثم يتفاوت التكليف بحسب العلم، فالعالم تتعلق به تكاليف لا تتعلق بالعامي، وتختلف الدرجات بحسب تعمقه في العلم، وطبيعة العلم.
Kemudian taklif juga berbeda sesuai dengan ilmu. Seorang alim memiliki berbagai beban yang tidak dibebankan kepada orang awam, dan tingkatan-tingkatan itu berbeda sesuai dengan kedalamannya dalam ilmu dan karakter ilmu tersebut.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- لا يقال: ابن عقيل تلمذ على يد بعض المعتزلة فتأثر بهم، وتتلمذ عليه ابن الجوزي فتأثر به، وهذا ليس من شأن الإمام أحمد. لأن اعتقاد الإمام أحمد بن حنبل المنقولة عنه بدلالاتها الصحيحة تؤيد ما جاء به هؤلاء وما قرروه في كتبهم، ونظير ذلك أن ما جاء له بعضهم من جعل الإمام أحمد موافقاً للعقيدة المجسمة والمشبهة ليس كما ينبغي، وأن ذلك منه مجرد تأويل لمذهب الإمام، ولذلك اتفق أهل الحق على أن الإمام أحمد منزه غير مشبه. وبيان ذلك يحتاج لاستقصاء وبحث خاص، ولكن أكثر ما جاء من سوء فهم الإمام أحمد مما قام به ابن تيمية من محاولات مستمرة مطردة لجره إلى صفه، فاتبعه كثير من الناس المعاصرين عن ذلك، لتسليمهم له في العقيدة.
- Tidak dapat dikatakan bahwa Ibn ‘Aqil pernah belajar kepada sebagian Mu‘tazilah lalu terpengaruh oleh mereka, kemudian Ibn al-Jauzi belajar kepadanya lalu ikut terpengaruh, sedangkan hal tersebut bukanlah jalan Imam Ahmad. Sebab, keyakinan Imam Ahmad bin Hanbal yang dinukil darinya dengan petunjuk maknanya yang benar justru mendukung apa yang dibawa dan ditetapkan oleh mereka dalam kitab-kitabnya. Demikian pula upaya sebagian orang untuk menjadikan Imam Ahmad sejalan dengan ‘aqidah Mujassimah dan Musyabbihah bukanlah sesuatu yang semestinya, dan hal itu hanyalah penakwilan terhadap mazhab Imam. Karena itu, Ahlul Haqq sepakat bahwa Imam Ahmad melakukan tanzih dan bukan seorang Musyabbih. Penjelasan mengenai hal ini memerlukan pengkajian menyeluruh dan penelitian khusus. Akan tetapi, sebagian besar kesalahpahaman terhadap Imam Ahmad muncul dari apa yang dilakukan Ibn Taimiyyah berupa upaya terus-menerus untuk menarik beliau ke dalam barisannya, kemudian banyak orang kontemporer mengikutinya dalam hal tersebut karena menerima pandangannya dalam masalah ‘aqidah.
Leave a Reply