Muqaddimah Syarh Aqidah Thahawiyyah – Seri 7



المقدمة – الشرح – الجزء السابع

Muqaddimah Syarh Aqidah Thahawiyyah – Seri 7

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Muqaddimah Syarh Aqidah Thahawiyyah – Seri 7 ini masuk dalam Syarh Aqidah Thahawiyyah.

وقد قامت الأدلة على أن الذين ثبت عندهم الأدلة على العقيدة الحق والدين الحق بظهور أكثر من غيرهم، كالأنبياء، فإن عذابهم سيكون أضعافاً مضاعفة لو فرضنا انحرافهم عنه من بعده، ولأجل ذلك جاء السخط الشديد على اليهود؛ لأن الله تعالى قد أقام لهم من البينات الظاهرة ما كان ينبغي لأجله أن لا يحيدوا عن الصواب، ولكنهم تعنتوا وأبوا إلا التحريف والانحراف، فتعلق بهم الذم أكثر مما تعلق بغيرهم، وتأمل قوله تعالى في سورة الإسراء:

Dalil-dalil telah menunjukkan bahwa orang-orang yang telah mendapatkan dalil mengenai ‘aqidah yang benar dan agama yang benar dengan tingkat kejelasan yang lebih besar daripada selain mereka, seperti para nabi, maka andaikan mereka menyimpang darinya setelah itu, niscaya azab mereka akan menjadi berlipat ganda. Oleh karena itu, kemurkaan yang keras ditimpakan kepada kaum Yahudi, karena Allah Ta‘ala telah menegakkan bagi mereka berbagai bukti yang nyata yang semestinya membuat mereka tidak menyimpang dari kebenaran. Akan tetapi, mereka bersikap keras kepala dan tidak menghendaki selain penyimpangan serta penyelewengan. Karena itu, celaan terhadap mereka menjadi lebih besar daripada terhadap selain mereka. Perhatikan firman Allah Ta‘ala dalam Surah Al-Isra:

وَإِن كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا ۝ وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا ۝ إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا [الإسراء: ٧٣-٧٥]

“Dan sungguh, mereka hampir memalingkanmu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu agar engkau mengada-adakan yang lain terhadap Kami; dan jika demikian, tentu mereka akan menjadikanmu sahabat yang setia. Dan sekiranya Kami tidak meneguhkanmu, sungguh engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, niscaya Kami rasakan kepadamu azab dua kali lipat dalam kehidupan dan dua kali lipat setelah kematian, kemudian engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong pun terhadap Kami.” [Al-Isra: 73-75]

والمرجع الأساس للعلم: هو العقل والنقل، أعني: العقل، والكتاب، وما صح من السنة ووصل إلى درجة يصح الاحتجاج به على مسائل التوحيد.

Rujukan dasar bagi ilmu adalah akal dan naql, yakni akal, Al-Qur’an, serta apa yang sahih dari Sunnah dan telah mencapai derajat yang dapat dijadikan hujjah dalam masalah-masalah tauhid.

وقد اشترط بعض العلماء أن يكون الحديث الذي يحتج به في الاعتقاد متواتراً، وقالوا لا حجية للآحاد في الاعتقاد، ولا خلاف أن المتواتر يعتبر في الاحتجاج به إذا كان واضح المعنى متوافقاً مع القرآن والعقل.

Sebagian ulama mensyaratkan bahwa hadits yang dijadikan hujjah dalam masalah ‘aqidah harus berstatus mutawatir. Mereka mengatakan bahwa khabar ahad tidak memiliki kehujjahan dalam masalah ‘aqidah. Tidak ada perselisihan bahwa riwayat mutawatir dapat dijadikan hujjah apabila maknanya jelas serta selaras dengan Al-Qur’an dan akal.

ولكن أقول: وما المانع من أن يحتج بخبر الآحاد أيضاً، إذا كان محققاً الشروط نفسها، فأصل الحجية ثابت للآحاد، وإنما احتاط بعض العلماء في التوحيد فشرطوا التواتر؛ لحساسية الموضوع ولأنه علم أصول الدين، فخافوا أن يبنوا أصول الدين على أخبار آحاد.

Akan tetapi saya mengatakan: apakah yang menghalangi khabar ahad juga dijadikan hujjah apabila ia memenuhi syarat-syarat yang sama? Pada dasarnya kehujjahan memang tetap berlaku bagi khabar ahad. Hanya saja sebagian ulama bersikap lebih berhati-hati dalam ilmu tauhid sehingga mensyaratkan tawatur, karena sensitifnya pembahasan tersebut dan karena ia merupakan ilmu ushuluddin. Mereka khawatir membangun pokok-pokok agama di atas riwayat-riwayat ahad.

ولكن إذا شرطنا في حديث الآحاد كونه صحيح المعنى، غير مخالف للعقل القطعي، ولا للقرآن، فما المانع من الاحتجاج به في علم التوحيد أيضاً؟ خصوصاً إذا احتفت به القرائن المؤيدة، مع عدم معارضته لليقيني القطعي، ويكون اشتراطنا لكل هذه الشروط داعماً لحديث الآحاد، فيكون من قبيل توارد القرائن العديدة على الآحاد فترفعه إلى درجة العلم، كما قرره بعض المحققين من الأصوليين كابن الحاجب في «مختصره».

Akan tetapi, apabila kita mensyaratkan pada hadits ahad bahwa maknanya benar, tidak bertentangan dengan akal yang bersifat pasti dan tidak pula dengan Al-Qur’an, maka apakah yang menghalangi penggunaannya sebagai hujjah dalam ilmu tauhid juga? Terlebih apabila ia disertai berbagai qarinah yang menguatkannya dan tidak bertentangan dengan sesuatu yang bersifat yakin dan pasti. Persyaratan kita terhadap seluruh syarat tersebut menjadi penguat bagi hadits ahad, sehingga termasuk dalam bentuk berkumpulnya banyak qarinah pada riwayat ahad yang mengangkatnya kepada derajat ilmu, sebagaimana telah ditetapkan oleh sebagian ulama ushul yang muhaqqiq, seperti Ibn al-Hajib dalam kitab Mukhtashar-nya.1

والعلم في النهاية هو موضع الاحتجاج، فكل ما أدى إلى العلم، سواء كان أمراً واحداً، أو أكثر من واحد، فهو حجة، والآحاد بانضمام القرائن العديدة له من حجج عقلية، وقرآن، وأخبار أخرى، وغير ذلك، ربما يفيد العلم لا باعتباره وحده، ولكن بملاحظة انضمامه إلى سائر هذه القرائن.

Pada akhirnya, ilmu itulah yang menjadi dasar kehujjahan. Maka segala sesuatu yang menghasilkan ilmu, baik berupa satu perkara maupun lebih dari satu perkara, adalah hujjah. Riwayat ahad, dengan bergabungnya berbagai qarinah kepadanya berupa hujjah-hujjah akal, Al-Qur’an, riwayat-riwayat lain, dan selainnya, terkadang dapat menghasilkan ilmu, bukan karena riwayat itu semata, melainkan dengan memperhatikan bergabungnya riwayat tersebut dengan seluruh qarinah tersebut.

ولكن إذا أخذنا خبر الآحاد وحده، فإنه لا يفيد العلم قطعاً، فلا يجوز الاحتجاج به في علم التوحيد؛ إذا قلنا: إن جميع ما في علم التوحيد مقطوع به، أو يجوز بناءً على إدخال بعض المسائل الظنية فيه، ولو على سبيل الإلحاق.

Akan tetapi, apabila kita mengambil khabar ahad secara sendirian, maka ia secara pasti tidak menghasilkan ilmu. Karena itu ia tidak boleh dijadikan hujjah dalam ilmu tauhid, apabila kita mengatakan bahwa seluruh perkara dalam ilmu tauhid bersifat pasti; atau hal itu dapat dibolehkan berdasarkan dimasukkannya sebagian persoalan yang bersifat zhanni ke dalamnya, meskipun hanya melalui jalan penyertaan.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Catatan Kaki

  1. Raf‘ al-Hajib ‘an Mukhtashar Ibn al-Hajib (1/400).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.