Muqaddimah Syarh Aqidah Thahawiyyah – Seri 9



الشرح – الجزء التاسع

Syarh Aqidah Thahawiyyah – Seri 9

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Syarh Aqidah Thahawiyyah – Seri 9 ini masuk dalam Syarh Aqidah Thahawiyyah.

وعلى ذلك قد يقال: إن الإسلام له عقيدة معلومة، ولكن طريقة أخذ هذه العقيدة وتقرير أحكامها تتعدد وتختلف من واحد لآخر، فقد يطلق على اختلاف طرق التقرير والبيان اسم «المذهب»، والأخرى أن يسمى «طريقة»، ولكن اللغة – كما لا يخفى – مبنية في كثير من الأمور على التسامح خصوصاً مع أمن اللبس.

Berdasarkan hal itu dapat dikatakan bahwa Islam memiliki ‘aqidah yang telah diketahui, tetapi cara mengambil ‘aqidah tersebut dan menetapkan hukum-hukumnya dapat beragam dan berbeda dari satu orang dengan yang lainnya. Perbedaan cara dalam menetapkan dan menjelaskan itu terkadang disebut dengan nama madzhab, dan terkadang disebut thariqah. Akan tetapi, bahasa —sebagaimana tidak tersembunyi— dalam banyak perkara dibangun di atas kelonggaran dalam penggunaan istilah, khususnya apabila tidak terdapat kekhawatiran akan terjadinya kerancuan.

وإنما دفعنا إلى هذا البيان خوفاً من أن يفهم أحد الناس أنه ما دام الإمام الطحاوي قد نسب هذه العقيدة إلى ما سماه «مذهب الإمام أبي حنيفة وصاحبيه»، فإن هذا يوهم أن غيره من الأئمة – الذين لا ينتسبون إليه، فلا يقال عليهم: إنهم أحناف – أنهم يذهبون مذهباً آخر في العقيدة غير مذهبه، فيتوهم – بناء على ذلك – أن العقيدة تتعدد وتتكاثر بين أهل السنة!

Yang mendorong kami memberikan penjelasan ini adalah kekhawatiran bahwa seseorang memahami: selama Imam ath-Thahawi menisbatkan ‘aqidah ini kepada apa yang beliau sebut sebagai “madzhab Imam Abu Hanifah dan dua sahabatnya”, maka hal itu dapat menimbulkan anggapan bahwa para imam lainnya —yang tidak menisbatkan diri kepadanya sehingga tidak disebut sebagai Hanafiyyah— mengikuti madzhab lain dalam ‘aqidah yang berbeda dari madzhab-nya. Berdasarkan hal itu kemudian muncul anggapan bahwa ‘aqidah di kalangan Ahlus Sunnah berbilang dan bermacam-macam!

وهذا غير صحيح، وإن وقع فيه بعض، فإن التحقيق: أن المذهب واحد عند أهل السنة، ولكن اختلاف الطريقة والاختيارات الفرعية في بعض المسائل، أوهمت الناس أن هناك فريقين متباعدين في أهل السنة: الأحناف والأشاعرة، فصاروا يقولون: إن هؤلاء لهم مذهب الأشعرية، وأولئك مذهب الأحناف أو الماتريدية نسبة إلى الإمام أبي منصور الماتريدي، والحقيقة: أنهما كليهما ينتسبان إلى عين المذهب، والاختلاف في الطريقة وفي بعض المسائل التي لا تستلزم اختلاف الأصول والأحكام الكلية.

Hal itu tidaklah benar, meskipun sebagian orang terjatuh ke dalam anggapan tersebut. Penelitian yang tepat menunjukkan bahwa madzhab di kalangan Ahlus Sunnah adalah satu. Akan tetapi, perbedaan metode dan pilihan-pilihan cabang dalam beberapa persoalan membuat manusia menyangka bahwa di kalangan Ahlus Sunnah terdapat dua kelompok yang saling berjauhan: Hanafiyyah dan Asya‘irah. Karena itu mereka mengatakan: kelompok ini memiliki madzhab Asy‘ariyyah, sedangkan kelompok itu memiliki madzhab Hanafiyyah atau Maturidiyyah, yang dinisbatkan kepada Imam Abu Manshur al-Maturidi. Padahal hakikatnya, keduanya sama-sama menisbatkan diri kepada madzhab yang sama. Perbedaannya terdapat pada metode dan pada beberapa persoalan yang tidak mengharuskan adanya perbedaan dalam pokok-pokok dan hukum-hukum yang bersifat menyeluruh.

ولذلك فإن هذا الوهم وإن ظهر عند بعض المتقدمين، وحاول بعض مخالفي أهل السنة من المتأخرين أن ينشروه بين الناس، حتى يقنعوهم أنه لا اتفاق حاصل بين الأشاعرة والماتريدية، إلا أن التحقيق أنهم مذهب واحد، كما قلنا، وأن المتأخرين استقروا على اعتبار كل من الماتريدية والأشاعرة كليهما منتسبين إلى مذهب أهل السنة، وأن «أهل السنة» يجمعهما معاً، وأنه لا يقال على أي منهما: «إنه مذهب» إلا على الوجه الذي ذكرناه.

Karena itu, meskipun anggapan tersebut pernah muncul pada sebagian ulama terdahulu, dan sebagian orang belakangan yang menyelisihi Ahlus Sunnah berusaha menyebarkannya di tengah masyarakat hingga membuat mereka percaya bahwa tidak terdapat kesepakatan antara Asya‘irah dan Maturidiyyah, penelitian yang tepat menunjukkan bahwa keduanya merupakan satu madzhab, sebagaimana telah kami katakan. Para ulama belakangan telah menetapkan bahwa Maturidiyyah dan Asya‘irah keduanya dinisbatkan kepada madzhab Ahlus Sunnah, dan bahwa istilah Ahlus Sunnah mencakup keduanya sekaligus. Tidaklah dikatakan terhadap salah satunya bahwa ia merupakan madzhab tersendiri kecuali dalam pengertian yang telah kami jelaskan.

فاعلم إذن: أن كون الإمام أبي حنيفة ذا طريقة خاصة، لا يستلزم أن له عقائد مختلفة كلياً عن غيره من أئمة أهل السنة، بل يعني أنه ربما يخالفهم في بعض الأساليب، وربما بعض الأحكام، كما سوف نوضحه في موضعه أثناء تعليقنا على هذا المتن الجليل.1

Ketahuilah, dengan demikian, bahwa keberadaan Imam Abu Hanifah yang memiliki metode khusus tidak mengharuskan bahwa beliau memiliki berbagai ‘aqidah yang sama sekali berbeda dari imam-imam Ahlus Sunnah lainnya. Akan tetapi, hal itu berarti bahwa beliau mungkin berbeda dengan mereka dalam sebagian metode, dan mungkin pula dalam sebagian hukum, sebagaimana akan kami jelaskan pada tempatnya ketika memberikan komentar atas matan yang mulia ini.1

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Catatan Kaki

  1. Seperti perbedaan pendapat beliau mengenai konsep iman, dan seperti pendapat Maturidiyyah mengenai at-takwin. Dalam keadaan apa pun, semua itu merupakan persoalan cabang yang tidak merusak pokok-pokok ‘aqidah.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.