درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 1)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
تصدير
Kata Pengantar
هذا الكتاب تقريب لكتاب ابن تيمية «درء تعارض العقل والنقل»، وهو أحد الكتب التي تقوم على الجدل لتحقيق الوفاق بين أطراف مختلفين في فهم النصوص الدينية.
Buku ini merupakan penyederhanaan dari kitab Ibn Taimiyyah, Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql (Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli). Ia termasuk salah satu kitab yang menggunakan perdebatan untuk mewujudkan titik temu di antara berbagai pihak yang berbeda dalam memahami nash-nash agama.
وقد كان هذا الاختلاف في فهم النصوص أثراً في تفريق أمتنا إلى نحل وطوائف، فوق أنه يقدم صورة مأساوية لاختلاف الرأي بين المسلمين، حيث صار الانقسام بعدد وجهات النظر، دون محاولة لفض الاشتباك وتحقيق التقاء ما بين رؤوس هذا الانقسام.
Perbedaan dalam memahami nash-nash ini telah berpengaruh dalam memecah umat kita menjadi berbagai aliran dan kelompok. Lebih dari itu, ia menampilkan gambaran tragis tentang perselisihan pendapat di antara kaum Muslimin, hingga perpecahan menjadi sebanyak sudut pandang yang ada, tanpa adanya upaya untuk mengurai pertentangan dan mewujudkan titik pertemuan di antara kutub-kutub perpecahan tersebut.
وكثيراً ما كان التفرق الفكري يحمل أسماء ورموزه وصانعيه، فالأشعرية، والماتريدية، والجهمية، والكرامية، إشارات إلى أولئك العلماء الذين عكفوا على تعاطي الخلافات، وتحقيق الآراء، وتأصيل الفرق في هذه الأمة التي دعاها ربها سبحانه أن تتوحد في ظل الوحدانية:
Perpecahan pemikiran itu sering kali membawa nama, simbol, dan tokoh-tokoh yang membentuknya. Maka Asy‘ariyyah, Maturidiyyah, Jahmiyyah, dan Karramiyyah merupakan sebutan yang menunjuk kepada para ulama yang berkecimpung dalam berbagai perselisihan, meneliti pendapat-pendapat, dan meletakkan dasar bagi berbagai kelompok di tengah umat ini; padahal Rabb mereka, Mahasuci Dia, telah menyeru mereka agar bersatu di bawah naungan tauhid:
«إن هذه أمتكم أمة واحدة، وأنا ربكم فاعبدون»، «واعتصموا بحبل الله جميعاً ولا تفرقوا».
“Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Rabbmu, maka sembahlah Aku,” dan, “Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
لقد ضرب هؤلاء المختلفون صفحاً عن مفهوم هذه الأوامر الإلهية الصريحة بالوحدة والتماسك، حين أغرموا بالجدل والمناظرات، وأولعوا بالحجاج والخصومات،
Orang-orang yang berselisih itu telah mengabaikan makna perintah-perintah Ilahi yang secara tegas menyerukan persatuan dan kekompakan, ketika mereka begitu terpikat oleh perdebatan dan adu argumentasi, serta tenggelam dalam bantah-membantah dan pertikaian.
وكأنهم كانوا ينفذون مخططاً لتخريب الوجود الإسلامي، تحت ستار حرية الرأي، والبحث عن الحق.
Seakan-akan mereka sedang melaksanakan sebuah rencana untuk merusak keberadaan umat Islam dengan berlindung di balik kebebasan berpendapat dan pencarian kebenaran.
وحرية الرأي كانت ولا تزال قاعدة الفكر الإسلامي، وأمل المسلمين إلى تحقيق مزيد من التقدم والحضارة، ولكن إساءة استخدام هذه الحرية أدت إلى نتائج عكسية تماماً، فقد أضعفت تماسك عناصر الأمة، وفككت وحدتها، وبات المسلمون بشر حال، فرقاً متناحرة، وجماعات يكفر بعضها بعضاً.
Kebebasan berpendapat dahulu dan hingga kini merupakan salah satu landasan pemikiran Islam, sekaligus harapan kaum Muslimin untuk mencapai kemajuan dan peradaban yang lebih tinggi. Namun penyalahgunaan kebebasan ini justru menghasilkan akibat yang sepenuhnya berlawanan. Ia melemahkan keterikatan unsur-unsur umat, memecah persatuannya, dan menjadikan kaum Muslimin berada dalam keadaan yang buruk: kelompok-kelompok yang saling bermusuhan dan golongan-golongan yang sebagian mengkafirkan sebagian lainnya.
واختفت في غمار هذه الحال معالم الطريق، فإذا كل الأفكار، سواء في الظلام، وإذا الكبار من أهل الفكر، وقادة الفلسفة وصناع التاريخ على قدم المساواة مع الصغار والأقزام، بل وجدنا في هذه المعمعة صغاراً يتجرأون على الكبار، ومتعصبين يجرحون أعلام التقدم.
Di tengah keadaan seperti ini, petunjuk jalan pun menjadi kabur. Semua pemikiran seolah sama-sama berada dalam kegelapan. Para tokoh besar pemikiran, pemimpin filsafat, dan pembentuk sejarah ditempatkan sejajar dengan orang-orang kecil dan mereka yang tidak memiliki bobot keilmuan. Bahkan dalam kekacauan ini kita menyaksikan orang-orang kecil berani menyerang tokoh-tokoh besar, sementara orang-orang fanatik mencela para pelopor kemajuan.
وهنا يأتي ابن تيمية الإمام المجاهد، بمنهجه الذي يحاول به رد الأمة إلى جادة الصواب، وجمعها على كلمة سواء، والعودة بها إلى المنابع الأولى للعقيدة، وهي النصوص الصحيحة، في القرآن، وفي السنة، التماساً لسبيل الله الواحدة التي تتميز عن السبل المتفرقة، وذلكم هو ما ينهض به هذا الكتاب: «درء تعارض العقل والنقل»…
Di sinilah tampil Ibn Taimiyyah, sang imam pejuang, dengan sebuah metode yang digunakannya untuk berusaha mengembalikan umat kepada jalan yang benar, menghimpun mereka di atas suatu kalimat yang sama, serta mengembalikan mereka kepada sumber-sumber pertama akidah, yaitu nash-nash yang sahih dalam Al-Qur’an dan Sunnah, demi mencari satu jalan Allah yang berbeda dari berbagai jalan yang tercerai-berai. Inilah tugas yang diemban oleh kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql.
لقد ظن أدعياء الفكر أن بين الشريعة المنزلة وعطاء العقل تناقضاً وتعادياً، يدعوان الإنسان إلى مرافقة العقل، ومفارقة الشريعة، وكانت هذه المقولة أساس الصراع الذي احتدم بين الاتجاهات والفرق المتناحرة على أرضية الحضارة الإسلامية.
Orang-orang yang mengaku sebagai pemikir telah menyangka bahwa antara syariat yang diturunkan dan hasil kerja akal terdapat pertentangan dan permusuhan. Anggapan itu seakan menuntut manusia untuk menyertai akal dan meninggalkan syariat. Pandangan inilah yang menjadi salah satu dasar pertarungan yang berkobar antara berbagai kecenderungan dan kelompok yang saling bermusuhan di dalam lingkungan peradaban Islam.
فجاء ابن تيمية ليفند هذا الادعاء، ويؤكد بما لا يدع مجالاً للشك أن العقل والشريعة متعاونان على رسالة واحدة، ساعيان إلى غاية واحدة هي الحق المطلق، هي الله، غاية الغايات. وكان هذا الجدل الحاسم، الذي حمل إلى طلاب المعرفة في الإسلام نبرة حديث متميز، ومتعة عقل جديد.
Kemudian datanglah Ibn Taimiyyah untuk membantah anggapan tersebut dan menegaskan, dengan cara yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan, bahwa akal dan syariat bekerja bersama dalam mengemban satu risalah dan bergerak menuju satu tujuan, yaitu kebenaran mutlak: Allah, tujuan dari segala tujuan. Perdebatan yang tegas dan menentukan ini membawa kepada para penuntut ilmu dalam Islam sebuah corak pembicaraan yang khas serta kenikmatan intelektual yang baru.
نعم، لقد واجه ابن تيمية في هذا الكتاب بعض أعلام الفلسفة الإسلامية مواجهة عنيفة، كابن سينا، والرازي، ولكنه كان حريصاً على أن يقرر لطلابه أن مناقشة المخالفين لا تعني إخراجهم من حظيرة الإيمان، أو العدوان على معتقداتهم القلبية.
Benar, dalam kitab ini Ibn Taimiyyah menghadapi beberapa tokoh besar filsafat Islam dengan sikap yang keras, seperti Ibn Sina dan ar-Razi. Akan tetapi, ia sangat berhati-hati untuk menegaskan kepada murid-muridnya bahwa mendiskusikan dan membantah pihak yang berbeda pendapat tidak berarti mengeluarkan mereka dari lingkungan keimanan atau menyerang keyakinan yang ada di dalam hati mereka.
وهو يقول صراحة: «والذي نختاره ألا نكفر أحداً من أهل القبلة»، وهذا الاختيار هو ما كان عليه أعلام الأئمة، فأبو الحسن الأشعري يقول: «اختلف المسلمون ـ بعد نبيهم ـ في أشياء، ضلل فيها بعضهم بعضاً، وتبرأ بعضهم من بعض، فصاروا فرقاً متباينين، إلا أن الإسلام يجمعهم».
Ia mengatakan secara tegas, “Pendapat yang kami pilih adalah bahwa kami tidak mengkafirkan seorang pun dari kalangan ahli kiblat.” Pilihan ini pula yang dipegang oleh para imam besar. Abu al-Hasan al-Asy‘ari berkata, “Kaum Muslimin, setelah Nabi mereka, berselisih dalam berbagai perkara. Sebagian menyesatkan sebagian lainnya, dan sebagian berlepas diri dari sebagian yang lain, sehingga mereka menjadi kelompok-kelompok yang berbeda-beda. Namun Islam tetap mempersatukan mereka.”
والشافعي يقول: «لا أرد شهادة أهل الأهواء، إلا الخطابية، فإنهم يعتقدون حل الكذب».
Asy-Syafi‘i berkata, “Aku tidak menolak kesaksian ahli hawa nafsu, kecuali al-Khaththabiyyah, karena mereka meyakini bolehnya berdusta.”
وأبو حنيفة مأثور عنه أنه «لم يكفر أحداً من أهل القبلة»، ومعنى ذلك أن أئمة السلف كانوا يحاولون تجميع المسلمين، وتنزيههم عن الكفر،
Diriwayatkan pula dari Abu Hanifah bahwa ia “tidak mengkafirkan seorang pun dari kalangan ahli kiblat.” Maknanya, para imam salaf berusaha menghimpun kaum Muslimin dan menjauhkan vonis kekafiran dari mereka.
في حين كانت الفرق الضالة تنزع إلى تكفير مخالفيهم في الرأي، فالمعتزلة كفروا ـ أحياناً ـ مخالفيهم في إثبات الصفات وخلق الأعمال.
Sementara itu, kelompok-kelompok yang menyimpang justru cenderung mengkafirkan orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka. Kaum Mu‘tazilah, misalnya, pada beberapa keadaan mengkafirkan pihak yang berbeda dengan mereka dalam persoalan penetapan sifat-sifat Allah dan penciptaan perbuatan.
وكان هذا التكفير سيفاً مسلطاً على رقاب المخالفين دائماً، حتى أصبح التكفير للتكفير، وهو ما روي عن أبي إسحاق في قوله: «أكفر من يكفرني، وكل مخالف يكفرنا فنحن نكفره، وإلا فلا».
Vonis kafir ini kemudian menjadi pedang yang senantiasa terhunus di atas leher orang-orang yang berbeda pendapat, hingga akhirnya takfir dibalas dengan takfir. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Ishaq dalam perkataannya, “Aku mengkafirkan orang yang mengkafirkanku. Setiap pihak yang berbeda dengan kami dan mengkafirkan kami, maka kami mengkafirkannya. Jika tidak, maka tidak.”
ويأتي ابن تيمية في خاتمة المطاف ليرد الناس إلى الاتجاه الصحيح للسلف: «إنه لا يحل تكفير أحد من أهل القبلة» ـ وكان ذلك في أوائل القرن الثامن الهجري ـ.
Pada akhirnya Ibn Taimiyyah datang untuk mengembalikan manusia kepada arah yang benar sebagaimana jalan para salaf: “Tidak halal mengkafirkan seorang pun dari kalangan ahli kiblat.” Pernyataan itu dikemukakan pada awal abad kedelapan Hijriah.
ولسنا ندري كيف عاد الاتجاه إلى التكفير إلى مجتمعنا بعد أن مضت على اختفائه قرون، من ابن تيمية حتى الآن (أوائل القرن الخامس عشر).
Kita tidak mengetahui bagaimana kecenderungan untuk melakukan takfir kembali muncul di tengah masyarakat kita setelah berabad-abad menghilang, sejak masa Ibn Taimiyyah hingga masa sekarang—yakni awal abad kelima belas Hijriah.
وبعد أن كان التكفير وصمة يوصم بها المخالف في الرأي وحده، دون سائر الناس، أصبح التكفير إدانة لأهل القبلة جميعاً على ألسنة بعض الأفراد من أهل القبلة في زماننا.
Setelah sebelumnya takfir merupakan cap yang hanya dilekatkan kepada orang yang berbeda pendapat, bukan kepada manusia secara keseluruhan, kini takfir justru berubah menjadi penghukuman terhadap seluruh ahli kiblat melalui lisan sebagian orang yang juga berasal dari kalangan ahli kiblat pada zaman kita.
إن الرسالة التي نهض بها ابن تيمية في هذا الجانب هي أعظم مواجهة به تيارات التعصب والانحراف بين الشباب، ترشيداً لمسيرتهم، وتنويراً لعقولهم.
Risalah yang diemban Ibn Taimiyyah dalam sisi ini merupakan salah satu bentuk menghadapi arus fanatisme dan penyimpangan di kalangan generasi muda, dengan membimbing perjalanan mereka dan menerangi akal mereka.
وإذا كان الرجل قد بدا قاسياً عالي النبرة ضد ابن سينا، لما وجد منه من ميل إلى الرفض أو غيره ـ فإن ذلك لا يمنعنا من أن نخالفه فيما ذهب إليه، ونحن نعيش في عصر انتهت فيه هذه الخصومات الفكرية، وتلاشت التيارات المغرضة التي سيطرت على الحياة قديماً.
Jika Ibn Taimiyyah tampak keras dan bernada tinggi terhadap Ibn Sina karena apa yang ia lihat pada dirinya berupa kecenderungan kepada penolakan atau perkara lainnya, maka hal itu tidak menghalangi kita untuk berbeda dengannya dalam sebagian kesimpulan yang ia ambil. Kita hidup pada suatu masa ketika pertikaian-pertikaian pemikiran tersebut telah berakhir dan berbagai arus bermuatan kepentingan yang dahulu menguasai kehidupan telah memudar.
وتجليت لأعيننا روائع الأعمال الفلسفية، والعلمية التي أنجزها ابن سينا، ما لازلنا نفاخر به الدنيا،
Di hadapan kita kini telah tampak keagungan berbagai karya filsafat dan ilmiah yang dihasilkan oleh Ibn Sina, yang hingga sekarang masih kita banggakan di hadapan dunia.
وحسبنا أن نقول: «إن الأقدمين قدموا خلاصة حياتهم إلينا ثم انقضوا إلى ما قدموا بين يدي ربهم، وهو وحده الذي يحاسب العباد، دون أن نحشر أنوفنا في أضابير التاريخ تفتيشاً عن الهفوات القديمة».
Cukuplah bagi kita untuk mengatakan, “Orang-orang terdahulu telah menyerahkan kepada kita sari perjalanan hidup mereka, kemudian mereka pergi menghadap dengan segala yang telah mereka lakukan kepada Rabb mereka. Dialah satu-satunya yang menghisab para hamba, tanpa perlu kita menyusupkan hidung kita ke dalam lembaran-lembaran sejarah untuk mencari-cari kesalahan lama.”
ودعاؤنا أن يحفظ الله أمتنا، وأن يردها إلى الإسلام رداً جميلاً، فيعيد إليها وحدتها، ويهديها طريقها، طريق الحضارة والتقدم والبناء.
Doa kami adalah semoga Allah menjaga umat kita dan mengembalikannya kepada Islam dengan pengembalian yang indah; mengembalikan persatuannya serta membimbingnya kepada jalannya, yaitu jalan peradaban, kemajuan, dan pembangunan.
عبد الصبور شاهين
‘Abd ash-Shabur Shahin
Leave a Reply