درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 3)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
أهمية الكتاب وموضوعه
Pentingnya Kitab dan Pokok Bahasannya
لقد سيطر على عقول بعض المفكرين قديماً أن كل ما جاءهم عن غيرهم من الأمم الأخرى حق لا باطل فيه، وأن ما جاءهم عن نبيهم متشابه يحتمل التأويل.
Pada masa lalu, pikiran sebagian pemikir dikuasai oleh anggapan bahwa segala sesuatu yang datang kepada mereka dari bangsa-bangsa lain adalah kebenaran yang tidak mengandung kebatilan, sedangkan apa yang datang kepada mereka dari Nabi mereka dianggap sebagai sesuatu yang mutasyabih dan dapat ditakwilkan.
ظهر ذلك واضحاً في مؤلفات الفارابي وابن سينا وابن رشد من الفلاسفة، وتبعهم على هذا النحو بعض المعتزلة والأشاعرة، وتجسد هذا الزعم الخاطئ في مؤلفات كثيرة مثل إلهيات ابن سينا المتناثرة في كتبه كلها، وقانون التأويل للغزالي، وأساس التقديس للرازي، وغيرها … إلخ. وسار على نفس الدرب كثيرون غيرهم.
Hal itu tampak dengan jelas dalam karya-karya al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd dari kalangan filsuf. Sebagian Mu‘tazilah dan Asy‘ariyyah kemudian mengikuti jalan yang serupa. Anggapan yang keliru ini terwujud dalam banyak karya, seperti pembahasan-pembahasan ketuhanan Ibn Sina yang tersebar di berbagai bukunya, Qanun at-Ta’wil karya al-Ghazali, Asas at-Taqdis karya ar-Razi, dan lain sebagainya. Banyak orang selain mereka pun menempuh jalan yang sama.
قرأ ابن تيمية هذا كله ووقف إزاءه متسائلاً عن الأسباب الكامنة وراء هذا الزعم القائل بإمكان تعارض العقل والشرع، وحددها في أمور معينة لعل من أهمها ما يأتي:
Ibn Taimiyyah membaca semua itu, lalu berdiri menghadapinya dengan mempertanyakan sebab-sebab yang tersembunyi di balik anggapan bahwa akal dan syariat dapat saling bertentangan. Ia kemudian menentukan sejumlah faktor tertentu yang dianggap sebagai penyebabnya. Di antara yang terpenting adalah sebagai berikut:
١ ـ ظن بعض المفكرين أن ما عند أرسطو من تصورات عقلية عن الله، وعلاقته بالعالم ـ صحيح لا خطأ فيه، قياساً على ما عند اليونان من العلم الرياضي والطبيعي، ولما قاسوا إلهيات أرسطو على ما في القرآن عن الله وصفاته وجدوا التعارض قائماً.
Pertama, sebagian pemikir menyangka bahwa konsepsi-konsepsi rasional yang terdapat pada Aristoteles mengenai Allah dan hubungan-Nya dengan alam adalah benar dan tidak mengandung kesalahan. Mereka mengukurnya berdasarkan kemajuan ilmu matematika dan ilmu alam yang dimiliki bangsa Yunani. Ketika mereka membandingkan teologi Aristoteles dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an mengenai Allah dan sifat-sifat-Nya, mereka pun melihat adanya pertentangan.
٢ ـ جهل هؤلاء المفكرين بالميراث النبوي المتمثل في الكتاب والسنة الصحيحة.
Kedua, ketidaktahuan para pemikir tersebut terhadap warisan kenabian yang terwujud dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih.
٣ ـ عدم التفرقة في كثير من الأحيان بين العقل القطعي الصريح الدلالة وبين ما يسميه الناس معقولات أو دلالة عقلية، فليس كل ما يراه الناس معقولاً يكون قطعي الدلالة، وليس كل ما يراه الناس شرعاً وشريعة يكون صحيحاً متناً أو سنداً أو استنباطاً.
Ketiga, dalam banyak keadaan mereka tidak membedakan antara akal yang pasti dan memiliki petunjuk yang jelas dengan sesuatu yang oleh manusia disebut sebagai perkara rasional atau dalil akal. Tidak semua yang dianggap manusia sebagai sesuatu yang rasional memiliki petunjuk yang pasti. Demikian pula, tidak setiap sesuatu yang dianggap manusia sebagai syariat benar dari sisi matan, sanad, ataupun istinbatnya.
ومن هنا جاء يقين ابن تيمية بضرورة «درء دعوى تعارض العقل والنقل».
Dari sinilah muncul keyakinan Ibn Taimiyyah mengenai perlunya menolak klaim adanya pertentangan antara akal dan dalil naqli.
وفي سبيل إبطال هذه الدعوى وبيان فسادها، وضع كتابه العظيم بعنوان «درء تعارض العقل والنقل» ليعلم القارئ منذ البداية موضوع الكتاب، ويدرك أهميته.
Dalam rangka membatalkan klaim tersebut dan menjelaskan kerusakannya, Ibn Taimiyyah menyusun kitab besarnya dengan judul Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql, agar sejak awal pembaca mengetahui pokok bahasan kitab dan memahami pentingnya.
ولقد كان القائلون بالتعارض بين العقل والشرع ينتمون إلى مدارس فكرية متعددة ما بين فيلسوف ومتكلم، وكان ابن تيمية يسلكهم جميعاً في خيط واحد جامع بينهم ليتأمل ما معهم من معقولات عارضوا بها المنقولات فلاحظها إلا خيالات وأوهاماً عقلية.
Orang-orang yang menyatakan adanya pertentangan antara akal dan syariat berasal dari berbagai mazhab pemikiran, mulai dari kalangan filsuf hingga mutakallim. Ibn Taimiyyah memandang mereka dalam satu benang yang menghubungkan semuanya, kemudian meneliti berbagai argumentasi rasional yang mereka gunakan untuk mempertentangkan dalil-dalil naqli. Ia mendapati bahwa banyak di antaranya tidak lain hanyalah khayalan dan anggapan-anggapan rasional.
وأحياناً يجد ما معهم من المنقول ليس صحيحاً لا في متنه، ولا في إسناده، ولا في فهمهم له.
Terkadang ia juga mendapati bahwa dalil naqli yang mereka gunakan tidak sahih, baik dari sisi matannya, sanadnya, maupun cara mereka memahaminya.
ويصرح في النهاية بأن: «ذلك قد تأملته في جميع مواقفهم من العقل والشرع فلم أجد معهم دليلاً عقلياً صريحاً قد ناقضه دليل نقل صحيح».
Pada akhirnya ia menegaskan, “Aku telah meneliti hal itu dalam seluruh sikap mereka mengenai akal dan syariat, dan aku tidak mendapati bersama mereka satu pun dalil akal yang jelas yang bertentangan dengan dalil naqli yang sahih.”
فعل ذلك مع الرازي في أساس التقديس، ونهاية العقول، والمحصل، وفعله مع ابن سينا في: الإشارات والنجاة، والرسالة الأضحوية، ومع الغزالي في قانون التأويل والتهافت وغيرها، وأيضاً مع الآمدي في أبكار الأفكار، وغاية المرام، ومع ابن رشد في فصل المقال، ومناهج الأدلة.
Ia melakukan hal tersebut terhadap ar-Razi dalam Asas at-Taqdis, Nihayat al-‘Uqul, dan al-Muhashshal; terhadap Ibn Sina dalam al-Isyarat, an-Najah, dan ar-Risalah al-Adhawiyyah; terhadap al-Ghazali dalam Qanun at-Ta’wil, at-Tahafut, dan karya-karya lainnya; juga terhadap al-Amidi dalam Abkar al-Afkar dan Ghayat al-Maram; serta terhadap Ibn Rusyd dalam Fashl al-Maqal dan Manahij al-Adillah.
ولقد أخذ المؤلف في مواقفه مع معارضيه بمنهج تحليلي رائع، تمثل في خطوات محددة:
Dalam menghadapi pihak-pihak yang berbeda dengannya, Ibn Taimiyyah menempuh metode analitis yang sangat sistematis, yang tercermin dalam beberapa langkah tertentu:
١ ـ كان يبدأ أولاً بتحديد معنى المصطلح ليعرف ما فيه من معان يمكن أن يقبلها أو يرفضها؛ لأنه وجد الفلاسفة والمتكلمين ينقلون المصطلح الفلسفي اليوناني إلى الحقل الديني في الإلهيات، فيجد أن هذه المصطلحات فيها ما هو حق وما هو باطل، وفي قبولها قبول لما فيها من باطل، وفي رفضها رفض لما فيها من حق.
Pertama, ia memulai dengan menentukan makna suatu istilah agar dapat diketahui makna-makna apa saja yang terkandung di dalamnya yang dapat diterima atau ditolak. Hal itu karena ia mendapati para filsuf dan mutakallim memindahkan istilah filsafat Yunani ke dalam ranah keagamaan, khususnya dalam pembahasan ketuhanan. Ia mendapati bahwa istilah-istilah tersebut mengandung sesuatu yang benar sekaligus sesuatu yang batil. Menerimanya secara keseluruhan berarti menerima kebatilan yang terdapat di dalamnya, sedangkan menolaknya secara keseluruhan berarti menolak kebenaran yang terdapat di dalamnya.
وعندما يلتبس الحق بالباطل يجد أن أقوم السبل هو سبيل الكتاب والسنة، وأكثر الألفاظ دلالة على مراد الله هو كلامه المنزل على رسله.
Ketika kebenaran bercampur dengan kebatilan, ia memandang bahwa jalan yang paling lurus adalah jalan Al-Qur’an dan Sunnah. Lafaz-lafaz yang paling jelas menunjukkan maksud Allah adalah kalam-Nya yang diturunkan kepada para rasul-Nya.
فيرفض ألفاظ الفلاسفة ليعتصم بما جاء في الكتاب والسنة منها، تمثل ذلك في رفض ألفاظ مثل: الجهة، الجسم، الحيز، التركيب، الجوهر، العرض … إلخ ما هو موجود في الكتاب.
Karena itu, ia menolak penggunaan istilah-istilah para filsuf dan berpegang kepada apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Hal tersebut tampak dalam penolakannya terhadap istilah-istilah seperti al-jihah (arah), al-jism (jisim), al-hayyiz (ruang), at-tarkib (susunan), al-jauhar (substansi), al-‘aradh (aksiden), dan istilah-istilah lain semisalnya.
٢ ـ ثم يضع أمامه الأدلة التي طرحها الفلاسفة والمتكلمون عقليات للمناقشة والتمحيص، فيجدها كلها ألفاظاً مجملة تضمنت معاني مهمة ألبس فيها الحق بالباطل، وأن ما يستدلون به من النقل ليس صحيحاً في دلالته على مطلوبهم، وما ذهبوا إليه لم يثبت عن الرسول ولا عن أحد من سلف الأمة.
Kedua, ia meletakkan di hadapannya dalil-dalil rasional yang dikemukakan oleh para filsuf dan mutakallim untuk dibahas dan diteliti secara mendalam. Ia mendapati bahwa semuanya banyak menggunakan lafaz-lafaz yang bersifat global dan mengandung berbagai makna, sehingga kebenaran bercampur dengan kebatilan di dalamnya. Ia juga mendapati bahwa dalil naqli yang mereka gunakan tidak benar dalam menunjukkan kesimpulan yang mereka kehendaki, sementara pendapat yang mereka kemukakan tidak terbukti berasal dari Rasulullah maupun seorang pun dari salaf umat ini.
٣ ـ بعد ذلك يوضح لمعارضيه بكثير من الأمثلة العقلية أن العقل الصريح لا يتعارض أبداً مع المنقول الصحيح، لأن غاية العقل والنقل واحدة وهي الوصول إلى الحق والكشف عنه بأيسر سبيل، والوسائل التي تؤدي إلى غاية واحدة لا تتعارض، وإنما تتعاضد.
Ketiga, setelah itu ia menjelaskan kepada para penentangnya melalui banyak contoh rasional bahwa akal yang jernih tidak pernah bertentangan dengan dalil naqli yang sahih. Hal itu karena tujuan akal dan dalil naqli adalah sama, yaitu mencapai kebenaran dan mengungkapkannya melalui jalan yang paling mudah. Sarana-sarana yang mengantarkan kepada satu tujuan yang sama tidaklah saling bertentangan, tetapi justru saling mendukung.
٤ ـ وفي النهاية يقول لأصحاب هذه الدعاوى: إنه يمكن للخصوم أن يعارضوا قولكم بمثل حجتكم ولا تملكون دليلاً صحيحاً تردون به صولتهم عليكم، لأن كل ما معكم من أدلة وبراهين هي فاسدة باعتبار ذاتها، فكيف بها لو عورضت بدليل عقلي صحيح فضلاً عن معارضتها بما في القرآن من ذلك.
Keempat, pada akhirnya ia mengatakan kepada orang-orang yang mengemukakan klaim tersebut bahwa lawan mereka dapat membantah perkataan mereka dengan hujah yang sejenis dengan hujah mereka sendiri, sementara mereka tidak memiliki dalil sahih yang dapat digunakan untuk menangkis serangan tersebut. Sebab seluruh dalil dan argumentasi yang mereka miliki pada dasarnya telah rusak. Lantas bagaimana keadaannya apabila argumentasi tersebut dihadapkan kepada dalil akal yang sahih, terlebih lagi apabila dihadapkan kepada dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an?
ويسير ابن تيمية بنفس المنهج في التحليل لأدلة خصومه وبيان فسادها، ثم معارضتها بمثلها من الأدلة التي قد تكون هي الأخرى فاسدة، ليبين لهم أن أدلتهم لا تنهض أمام الأدلة الفاسدة، فكيف بها أمام الصحيح من البراهين؟
Ibn Taimiyyah berjalan dengan metode analitis yang sama dalam mengkaji dalil-dalil para penentangnya dan menjelaskan kerusakannya. Setelah itu ia mempertentangkannya dengan dalil-dalil sejenis yang mungkin juga rusak, untuk menunjukkan kepada mereka bahwa dalil-dalil mereka bahkan tidak mampu bertahan di hadapan dalil yang rusak; lalu bagaimana mungkin ia dapat bertahan di hadapan argumentasi yang benar?
ثم يأتي في نهاية الحوار الذي يمتد عشرات الصفحات، بل المئات أحياناً، ليقرر أن الصواب في ذلك ما عليه الكتاب والسنة، ومضى عليه سلف الأمة.
Kemudian, pada akhir dialog yang terkadang berlangsung selama puluhan bahkan ratusan halaman, ia menetapkan bahwa kebenaran dalam persoalan tersebut adalah apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah serta apa yang telah ditempuh oleh generasi salaf umat ini.
فعل ذلك مع الرازي الذي أبطل دعواه في التعارض بأربع وأربعين وجهاً شملت الكتاب كله تقريباً. وخلال حواره مع الرازي كان يسلك معه كل من أخذ بدعوى التعارض أو تأول القرآن لهذا السبب.
Ia melakukan hal tersebut terhadap ar-Razi, dengan membatalkan klaimnya mengenai pertentangan melalui empat puluh empat sisi bantahan yang hampir memenuhi keseluruhan kitab. Dalam dialognya dengan ar-Razi, Ibn Taimiyyah sekaligus memasukkan ke dalam pembahasannya setiap orang yang menerima klaim adanya pertentangan atau menakwilkan Al-Qur’an karena alasan tersebut.
ومهما قلت في تلخيص الكتاب فلن أستطيع أن أقوم بحقه كاملاً في ذلك.
Betapapun saya berusaha meringkas kitab ini, saya tidak akan mampu memenuhi seluruh haknya secara sempurna dalam ringkasan tersebut.
والذي أود أن أشير إليه هنا أن النصوص التي وقع اختياري لها، تقريباً لهذا الكتاب إلى ذهن القارئ، أردت بها أن أوضح معالم المنهج العقلي الذي أبطل به ابن تيمية دعاوى المعارضين.
Hal yang ingin saya tegaskan di sini adalah bahwa teks-teks yang saya pilih dalam upaya mendekatkan kitab ini kepada pemahaman pembaca dimaksudkan untuk memperjelas ciri-ciri metode rasional yang digunakan Ibn Taimiyyah dalam membatalkan klaim-klaim para penentangnya.
فهي كلها نصوص توضح معالم أساسية لمنهج تحليلي فريد في عصره، امتدت خيوطه لتنتظم الكتاب بأكمله الذي يقع في عشرة أجزاء مطبوعة.
Seluruh teks tersebut menjelaskan unsur-unsur pokok dari sebuah metode analitis yang unik pada zamannya. Benang-benang metode itu terbentang dan menyatukan keseluruhan kitab yang tercetak dalam sepuluh jilid.
ولهذا كانت النصوص منتقاة من الأجزاء التي أرسى فيها المؤلف قواعد منهجه في الحوار مع معارضيه، وتمثل ذلك في الجزء الأول والثالث والخامس والثامن.
Karena itu, teks-teks yang dipilih diambil dari jilid-jilid tempat penulis meletakkan kaidah-kaidah metodologinya dalam berdialog dengan para penentangnya, terutama jilid pertama, ketiga, kelima, dan kedelapan.
ولقد تخيرت أحد عشر فصلاً من أجزاء الكتاب السالفة ترتبط فيما بينها بما يشبه الوحدة العضوية، فلا يكاد القارئ يشعر بانقطاع في تسلسل أفكار الفصول المختارة، لأنها كلها تعالج موضوعاً واحداً، وهو قواعد المنهج الذي أخذ به المؤلف في حواره مع خصومه.
Saya memilih sebelas bab dari jilid-jilid kitab tersebut yang saling terhubung menyerupai suatu kesatuan organik. Karena itu, pembaca hampir tidak akan merasakan adanya keterputusan dalam urutan gagasan pada bab-bab yang dipilih, sebab semuanya membahas satu tema yang sama, yaitu kaidah-kaidah metode yang digunakan penulis dalam dialognya dengan para penentang.
ولم يلبث المؤلف أثناء انتقاله من قضية إلى قضية أخرى أن يذكر قارئه بأصول منهجه في الحوار حتى لا يضل به السبيل، تمثل ذلك في حواره مع معارضيه في إثبات وجود الله، وقضية الصفات الإلهية، وقضية التوحيد، وقضية البعث.
Ketika berpindah dari satu persoalan kepada persoalan lainnya, penulis senantiasa mengingatkan pembacanya kepada prinsip-prinsip metodologinya dalam berdialog agar pembaca tidak kehilangan arah. Hal itu tampak dalam dialognya dengan para penentang mengenai penetapan keberadaan Allah, persoalan sifat-sifat Ilahi, persoalan tauhid, dan persoalan kebangkitan.
وفي مناقشة كل هذه القضايا مع الفلاسفة والمتكلمين كان يلتزم بتطبيق قواعده المنهجية التي يتمثل جزء كبير منها في تحليل الألفاظ والمصطلحات ليعرف ما فيها من حق وباطل ثم يحدد مواضع الخلاف في المعنى المحدد للفظ.
Dalam membahas seluruh persoalan tersebut bersama para filsuf dan mutakallim, Ibn Taimiyyah tetap berpegang pada penerapan kaidah-kaidah metodologinya. Sebagian besar metode tersebut berupa analisis terhadap lafaz dan istilah untuk mengetahui unsur kebenaran dan kebatilan yang terkandung di dalamnya, kemudian menentukan letak perselisihan berdasarkan makna tertentu dari suatu lafaz.
وإذا كان ابن تيمية قد خصص الكتاب في الرد على الرازي وقانونه، فإن الكتاب من جهة أخرى يعتبر موسوعة في الرد على جميع القائلين بإمكان التعارض بين العقل والشرع.
Meskipun Ibn Taimiyyah secara khusus mengarahkan kitab ini untuk membantah ar-Razi dan kaidahnya, dari sisi lain kitab ini dapat dianggap sebagai sebuah ensiklopedia dalam membantah seluruh pihak yang mengatakan adanya kemungkinan pertentangan antara akal dan syariat.
وسوف أضع أمام القارئ الكريم موقف ابن تيمية من القضايا المثارة في هذا الكتاب بشيء من الإيجاز لكي تتضح أمامه الرؤية كاملة وهو يقرأ الكتاب.
Saya akan memaparkan kepada pembaca yang mulia secara ringkas sikap Ibn Taimiyyah terhadap persoalan-persoalan yang dikemukakan dalam kitab ini, agar gambaran keseluruhannya menjadi jelas ketika ia membaca kitab tersebut.
وسوف أركز في هذا التقديم على قضايا أساسية كانت محور الخلاف بينه وبين خصومه وهي:
Dalam pengantar ini saya akan memusatkan pembahasan pada sejumlah persoalan pokok yang menjadi titik perselisihan antara Ibn Taimiyyah dan para penentangnya, yaitu:
١ ـ منهجه في إثبات وجود الله.
1. Metodenya dalam menetapkan keberadaan Allah.
٢ ـ مذهبه في التوحيد.
2. Pandangannya mengenai tauhid.
٣ ـ موقفه من التشبيه والتنزيه.
3. Sikapnya mengenai tasybih dan tanzih.
وسوف أتبع ذلك بفكرة تاريخية عن حياته.
Setelah itu, saya akan melengkapinya dengan uraian historis mengenai kehidupannya.
محمد السيد الجليند
Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Leave a Reply