درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 5)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
منهجه الإصلاحي
Metode Reformasinya
أ ـ جهاده
A. Jihadnya
لقد حرص ابن تيمية على سلامة المجتمع الذي عاش فيه والذي فتح عليه عينيه، فوجده صريعاً بين أعدائه من الخارج والداخل، فهناك على حدود البلاد الإسلامية كانت تقف جيوش التتار الذين أخذوا يهددون الدولة الإسلامية وحضارتها بزحفهم المتكرر على البلاد.
Ibn Taimiyyah sangat memperhatikan keselamatan masyarakat tempat ia hidup dan pertama kali membuka matanya. Ia mendapati masyarakat itu terjepit di antara musuh dari luar dan dari dalam. Di perbatasan negeri-negeri Islam berdiri pasukan Tatar yang terus mengancam negara Islam dan peradabannya melalui serangan berulang-ulang ke berbagai wilayah.
ولا شك أن ابن تيمية ما زال يتردد في ذهنه بين الحين والآخر ما حل به وبأسرته من أثر غارات التتار على البلاد، وملاقاته من مشقة وعناء حينما هاجرت أسرته إلى دمشق من جور التتار، وهو لم يكمل السابعة من عمره.
Tidak diragukan bahwa dari waktu ke waktu masih terbayang dalam benak Ibn Taimiyyah apa yang menimpa dirinya dan keluarganya akibat serangan bangsa Tatar, serta kesulitan dan penderitaan yang mereka alami ketika keluarganya berhijrah ke Damaskus untuk menghindari kezaliman Tatar, sementara ketika itu usianya belum genap tujuh tahun.
ومن هنا لم يدخر الشيخ جهداً في محاربة هذا العدو الذي جثم على صدور البلاد، فأخذ يحرض المسلمين على ضرورة محاربته وتطهير البلاد منه،1
Karena itu, sang Syaikh tidak menyisakan sedikit pun usaha dalam memerangi musuh yang telah menindih negeri-negeri Islam tersebut. Ia terus mendorong kaum Muslimin mengenai kewajiban memerangi mereka dan membersihkan negeri dari kekuasaan mereka.
وكان إذا حضر عسكر المسلمين في جهاد يكون بينهم ويثبتهم ويطيب ثباتهم، إن رأى من بعضهم هلعاً أو جبانة شجعه وثبته وبشره ووعده بالنصر والغنيمة، وبين له فضل الجهاد والمجاهدين.2
Apabila ia hadir bersama pasukan kaum Muslimin dalam jihad, ia berada di tengah-tengah mereka, menguatkan mereka dan meneguhkan hati mereka. Jika ia melihat sebagian dari mereka dilanda rasa takut atau kehilangan keberanian, ia menyemangati dan meneguhkan mereka, memberi kabar gembira serta menjanjikan kemenangan dan ghanimah, dan menjelaskan kepada mereka keutamaan jihad dan para mujahid.
وتحدثنا التاريخ عن كثير من مواقف ابن تيمية ضد غارات التتار وتحريضه المسلمين على القتال، فلقد تقدم الصفوف في واقعة شقحب سنة ٧٠٢ هـ التي كانت بين التتار والمسلمين.
Sejarah menceritakan banyak sikap Ibn Taimiyyah dalam menghadapi serangan Tatar dan usahanya mendorong kaum Muslimin untuk berperang. Dalam peristiwa Syaqhab tahun 702 H, yang mempertemukan pasukan Tatar dengan kaum Muslimin, ia maju ke barisan depan.
وأفتى الجنود بضرورة الفطر في رمضان حتى يقووا على ملاقاة الأعداء، وأفطر هو أمامهم، وكان يبيت بلياليه على الأسوار حارساً أميناً على أمن البلاد.
Ia memfatwakan kepada para tentara perlunya berbuka pada bulan Ramadan agar mereka memiliki kekuatan untuk menghadapi musuh. Ia sendiri berbuka di hadapan mereka. Pada malam hari ia pun bermalam di atas benteng-benteng sebagai penjaga yang setia bagi keamanan negeri.
ولما عرف عنه من الشجاعة والجرأة، كان يقصده الناس عند المهمات ويلجأون إليه عند الشدائد.
Karena keberanian dan ketegasannya telah dikenal luas, masyarakat mendatanginya ketika menghadapi urusan-urusan besar dan berlindung kepadanya ketika mengalami kesulitan.
فعندما هاجم التتار بلاد الشام سنة ٦٩٩ هـ، وأصبحوا على مشارف دمشق اجتمع الناس بابن تيمية وطلبوا إليه أن يذهب على رأس وفد كسفير لهم لمخاطبة ملك التتار في الامتناع عن دخول دمشق.
Ketika bangsa Tatar menyerang negeri Syam pada tahun 699 H dan telah mencapai daerah sekitar Damaskus, masyarakat berkumpul menemui Ibn Taimiyyah dan memintanya pergi sebagai pemimpin sebuah delegasi untuk menjadi utusan mereka dalam berbicara kepada penguasa Tatar agar tidak memasuki Damaskus.
ولما دخل على (قازان) ملك التتار كلمه كلاماً أثار دهشة الحاضرين لجرأته وشجاعته، حتى إن قازان نفسه تعجب منه وتساءل: من يكون هذا الشيخ؟ إني لم أر مثله ولا أثبت قلباً منه، ولا أوقع من حديثه في قلبي، ولا رأيتني أعظم انقياداً لأحد منه.3
Ketika Ibn Taimiyyah menghadap Ghazan, penguasa Tatar, ia berbicara kepadanya dengan perkataan yang membuat orang-orang yang hadir tercengang karena keberanian dan keteguhannya. Bahkan Ghazan sendiri merasa kagum dan bertanya, “Siapakah syaikh ini? Aku belum pernah melihat orang sepertinya, tidak pula orang yang hatinya lebih teguh darinya. Belum pernah perkataan seseorang begitu kuat masuk ke dalam hatiku, dan aku belum pernah merasa begitu tunduk kepada seseorang sebagaimana kepadanya.”
ومما قاله لملك التتار في ذلك: «أنت تزعم أنك مسلم ومعك قاض وإمام وشيخ ومؤذنون على ما بلغنا، وأبوك وجدك كانا كافرين وما عملا الذي عملت، عاهدا فوفيا، وأنت عاهدت فغدرت وقلت فما وفيت».
Di antara perkataan yang disampaikannya kepada penguasa Tatar saat itu adalah, “Engkau mengaku sebagai seorang Muslim, dan bersamamu terdapat qadhi, imam, syaikh, serta para muazin sebagaimana yang sampai kepada kami. Sementara ayah dan kakekmu adalah orang-orang kafir, tetapi mereka tidak melakukan apa yang engkau lakukan. Mereka membuat perjanjian lalu menepatinya, sedangkan engkau membuat perjanjian lalu mengkhianatinya; engkau berkata tetapi tidak menepati perkataanmu.”
وكان في كلامه هذا خير عظيم حيث أخذ عهداً من قازان بعدم دخول البلاد.
Perkataannya tersebut menghasilkan kebaikan yang besar, sebab ia berhasil mengambil janji dari Ghazan untuk tidak memasuki negeri itu.
وفي يوم موقعة (مرج الصفر) في هذه السنة وقد أوشك اليأس أن يتسرب إلى قلوب الناس من أثر التتار، فلقد ارتفعت الأسعار وكثر العبث في البلاد وأراد التتار أن يستولوا على قلعة دمشق.
Pada hari terjadinya pertempuran Marj ash-Shaffar pada tahun tersebut, keputusasaan hampir menyusup ke dalam hati masyarakat akibat ancaman Tatar. Harga-harga telah meningkat, kekacauan meluas di negeri itu, dan bangsa Tatar hendak menguasai benteng Damaskus.
فكتب قبحق إلى النائب بالقلعة أن يسلمها لهم حتى تهدأ الأحوال وتستقر الأمور، ولكن ما إن تسرب الخبر إلى ابن تيمية حتى نهض إلى النائب وكتب إليه: «لو لم يبق فيها إلا حجر واحد فلا تسلمها لهم إن استطعت».
Qibjaq kemudian menulis kepada wakil penguasa di benteng agar menyerahkannya kepada mereka sampai keadaan menjadi tenang dan urusan kembali stabil. Namun begitu berita itu sampai kepada Ibn Taimiyyah, ia segera menemui wakil tersebut dan menulis kepadanya, “Seandainya di benteng itu hanya tersisa satu batu saja, janganlah engkau menyerahkannya kepada mereka jika engkau mampu.”
فنزل أرجواش على أمر ابن تيمية وأرسل إلى قبحق يقول له: «لن أسلمها لكم وما عين تطرف»، فكانت القلعة بذلك حصناً حصيناً للمسلمين من أعدائهم.
Arjawasy pun mengikuti perintah Ibn Taimiyyah dan mengirim pesan kepada Qibjaq, “Aku tidak akan menyerahkannya kepada kalian selama mataku masih berkedip.” Dengan demikian, benteng tersebut tetap menjadi pertahanan yang kokoh bagi kaum Muslimin dari musuh-musuh mereka.
وفي سنة ٧٠٠ هـ شاع بين الناس أن التتار على مشارف دمشق لمهاجمتها، فأخذ الناس يتركون البلاد هرباً للأعداء وطلباً للنجاة من جيوش التتار.
Pada tahun 700 H tersebar kabar di tengah masyarakat bahwa pasukan Tatar telah berada di sekitar Damaskus dan hendak menyerangnya. Masyarakat pun mulai meninggalkan negeri tersebut untuk melarikan diri dari musuh dan mencari keselamatan dari pasukan Tatar.
فهرع ابن تيمية إلى سلاطين مصر وحكامها يطلب منهم النصرة ومساعدة البلاد، وأخذ يهدد سلطان مصر قائلاً: «إن كنتم أعرضتم عن البلاد وحمايتها أقمنا لها من يحميها ويستغلها في زمن الأمن… لو قدر أنكم لستم حكام البلاد ولا ملوكها ثم استنصر كم مسلم على عدوه لوجب عليكم النصر، فكيف وأنتم حكام البلاد وهم رعاياكم وأنتم مسؤولون عنها».4
Ibn Taimiyyah kemudian bergegas menemui para sultan dan penguasa Mesir untuk meminta pertolongan serta bantuan bagi negeri tersebut. Ia bahkan berbicara keras kepada Sultan Mesir dengan mengatakan, “Jika kalian berpaling dari negeri ini dan tidak melindunginya, kami akan mengangkat orang yang akan melindungi dan menguasainya pada masa aman… Seandainya kalian bukan penguasa dan raja negeri-negeri ini, lalu seorang Muslim meminta pertolongan kepada kalian dalam menghadapi musuhnya, tetap wajib atas kalian untuk menolongnya. Lalu bagaimana, sementara kalian adalah penguasa negeri ini, mereka adalah rakyat kalian, dan kalian bertanggung jawab atas mereka?”
ولم تكن شجاعة ابن تيمية قاصرة على الجانب الوطني من حياته، فإن حبه لدينه وتمسكه به قد أخذ عليه تفكيره، فأخذ يعمل على تنقيته مما علق به من الشوائب وما دخل فيه من البدع والمنكرات التي استفحل أمرها واستشرى خطرها على المجتمع.
Keberanian Ibn Taimiyyah tidak hanya terbatas pada sisi perjuangan mempertahankan negeri. Kecintaannya kepada agama dan keteguhannya dalam berpegang kepadanya juga memenuhi pikirannya. Karena itu, ia berusaha membersihkan agama dari berbagai kotoran yang melekat padanya serta dari berbagai bid‘ah dan kemungkaran yang telah semakin mengakar dan bahayanya meluas di tengah masyarakat.
ولقد أخذ هذا الجانب من حياته شطراً كبيراً من وقته وجهده، وتسبب في إلحاق كثير من المحن والاتهامات به، لأنه اعتبر البدع والمنكرات في البلاد الإسلامية مرضاً اجتماعياً حرص على سلامة المجتمع منه، وكان انتشار الخرافات والبدع في مجتمع ما نذير فنائه ومقدمة انهياره وكسر شوكته في أعين أعدائه.
Sisi perjuangan ini menyita bagian yang besar dari waktu dan usahanya, sekaligus menyebabkan dirinya menghadapi banyak ujian dan tuduhan. Hal itu karena ia memandang bid‘ah dan kemungkaran yang tersebar di negeri-negeri Islam sebagai penyakit sosial yang harus dibersihkan dari masyarakat. Menurutnya, merebaknya khurafat dan bid‘ah dalam suatu masyarakat merupakan pertanda menuju kehancurannya, awal dari keruntuhannya, dan sebab melemahnya kewibawaan masyarakat tersebut di hadapan musuh-musuhnya.
وطالما وقف ابن تيمية من مجتمعه موقف الطبيب الماهر يتأتى المرض وكيفية علاجه، ولكن العلة قد استفحلت والداء قد استشرى، فالبدع أصبحت عرفاً، والمنكر أصبح عادة، ومن العسير على المصلح تغيير العرف واستئصال العادة.
Ibn Taimiyyah berkali-kali berdiri menghadapi masyarakatnya seperti seorang dokter ahli yang mengenali penyakit dan mengetahui cara mengobatinya. Akan tetapi, penyakit itu telah semakin parah dan wabahnya telah menyebar: bid‘ah telah berubah menjadi kebiasaan yang diterima, sementara kemungkaran telah menjadi adat. Sangat sulit bagi seorang pembaru untuk mengubah kebiasaan yang telah mengakar dan mencabut adat yang telah menyatu dalam kehidupan masyarakat.
لهذا فقد بدا ابن تيمية في أعين مجتمعه وكأنه خارج عن العرف متمرد على العادة، فكانت حياته سلسلة متصلة الحلقات من المحن والابتلاءات، والمواقف الصعبة التي كان سلاحه فيها السنان حيناً واللسان أحياناً.
Karena itu, Ibn Taimiyyah tampak di mata masyarakatnya seakan-akan sebagai seseorang yang keluar dari kebiasaan umum dan memberontak terhadap adat yang berlaku. Kehidupannya pun menjadi rangkaian panjang ujian, cobaan, dan berbagai keadaan sulit, yang dalam menghadapinya terkadang ia menggunakan senjata, dan pada saat lainnya menggunakan lisannya.
وكانت طبيعة الرجل الشجاعة وراء كل مواقفه فلم يعبأ بأذى سلطان يتملقه، أو ذي جاه يواريه، لأنه كان يملك من الحجج أقواها ومن الأسلحة أحدها.
Wataknya yang berani berada di balik seluruh sikap tersebut. Ia tidak memedulikan ancaman seorang penguasa yang harus dijilat, ataupun orang berpengaruh yang harus ditakuti, karena ia memiliki hujah-hujah yang sangat kuat dan senjata argumentasi yang sangat tajam.
ومن هنا فقد ناصب العداء لكل ذي بدعة على اختلاف مشاربها، فتعرض بالنقد والتمحيص لمذاهب الفلاسفة والباطنية والشيعة والصوفية والقرامطة والإسماعيلية وكشف أستار هؤلاء وأولئك، وانتصر للحق ولدينه منهم جميعاً.
Dari sinilah ia berhadapan dengan setiap pihak yang menurutnya membawa bid‘ah, meskipun sumber dan coraknya berbeda-beda. Ia mengkritik dan menelaah mazhab-mazhab para filsuf, Bathiniyyah, Syiah, kelompok-kelompok sufi, Qaramithah, dan Isma‘iliyyah. Ia berusaha menyingkap apa yang tersembunyi di balik berbagai kelompok tersebut dan membela kebenaran serta agamanya dalam menghadapi mereka semuanya.
ب ـ محاربة البدع
B. Memerangi Bid‘ah
ولقد اشتدت عداوة ابن تيمية للمتصوفة والباطنية وحرص على تخليص مجتمعه من خرافاتهم التي ملكوا بها عقول السذج وأداروا بها أعناق العامة من الناس معلناً لهم أنه لا يوجد طريق إلى الله غير طريق محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك من هدى سوى هدى القرآن.
Penentangan Ibn Taimiyyah terhadap kelompok-kelompok sufi dan Bathiniyyah semakin kuat. Ia berusaha membebaskan masyarakatnya dari berbagai khurafat yang dengannya mereka menguasai pikiran orang-orang sederhana dan mengendalikan masyarakat awam. Ia menegaskan kepada mereka bahwa tidak ada jalan menuju Allah selain jalan Muhammad ﷺ, dan tidak ada petunjuk selain petunjuk Al-Qur’an.
وقد اجتمع به الصوفية في حضرة السلطان وكلموه ليكف عنهم ويترك أحوالهم، ثم أرادوا أن يظهروا أمامه نوعاً من حيلهم ودجلهم، فقال لهم ابن تيمية:
Sejumlah orang sufi pernah berkumpul dengannya di hadapan sultan dan berbicara kepadanya agar ia berhenti mengkritik mereka serta membiarkan keadaan mereka. Kemudian mereka hendak memperlihatkan di hadapannya sebagian dari tipu daya dan praktik mereka. Ibn Taimiyyah berkata kepada mereka:
«إنه لا يسع أحداً الخروج على الشريعة بقول ولا بفعل، وأن من أراد أن يدخل النار منهم فليغسل جسده في الحمام ثم يدلكه بالخل ثم يدخل النار، ولو دخل النار لالتصقت إليه، لأن هذا نوع من الدجل».
“Tidak seorang pun dibenarkan keluar dari ketentuan syariat, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Siapa di antara mereka yang hendak masuk ke dalam api, hendaklah terlebih dahulu mencuci tubuhnya di tempat mandi, kemudian menggosoknya dengan cuka, lalu masuk ke dalam api. Jika ia benar-benar masuk ke dalam api, niscaya api akan mengenainya, karena apa yang mereka lakukan itu hanyalah salah satu bentuk tipu daya.”
ولما أعياهم الحديث معه انصرفوا قائلين للسلطان: «نحن لا تنفق أحوالنا إلا عند التتار ولا تنفق أمام الشريعة».5
Ketika mereka tidak lagi mampu melanjutkan perdebatan dengannya, mereka pun pergi sambil berkata kepada sultan, “Keadaan kami hanya dapat diterima di kalangan Tatar, tetapi tidak dapat diterima di hadapan syariat.”
ومع شجاعة ابن تيمية في الحق فقد كان حليماً حيث يكون الحلم عزاً يشرف صاحبه، عفواً حيث يكون العفو من شيم العلماء.
Di samping keberaniannya dalam membela apa yang diyakininya sebagai kebenaran, Ibn Taimiyyah juga bersikap santun ketika kesantunan merupakan kemuliaan yang mengangkat seseorang, serta pemaaf ketika memaafkan merupakan salah satu akhlak para ulama.
فقد استحثه السلطان قلاوون على أن يستصدر منه فتوى بقتل العلماء الذين تكرر منهم الإفتاء بحبسه، وكان الفقهاء والقراء قد ناصروا أعداء الشيخ عليه، فأراد السلطان أن يستغل الموقف ويستفتي ابن تيمية في قتلهم.
Sultan Qalawun pernah mendorongnya agar mengeluarkan fatwa untuk membunuh para ulama yang berulang kali mengeluarkan fatwa agar Ibn Taimiyyah dipenjara. Para fuqaha dan qari sebelumnya telah mendukung lawan-lawan sang Syaikh. Karena itu, sultan hendak memanfaatkan keadaan tersebut dengan meminta fatwa Ibn Taimiyyah mengenai pembunuhan mereka.
ولكن حلم الرجل وعفوه قد منعه من ذلك، وأبت عليه نفسه الشجاعة أن يغتنمها فرصة لقتل العلماء، فقد قال للسلطان: من آذاني فهو في حل مني، ومن آذى الله ورسوله فالله ينتقم منه، وأنت إذا قتلت هؤلاء لا تجد بعدهم مثلهم.6
Akan tetapi, kesantunan dan sifat pemaafnya menghalanginya melakukan hal itu. Keberanian jiwanya pun tidak membiarkannya menggunakan kesempatan tersebut untuk membunuh para ulama. Ia berkata kepada sultan, “Siapa yang menyakitiku, maka aku telah membebaskannya. Siapa yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka Allah yang akan membalasnya. Jika engkau membunuh mereka, engkau tidak akan menemukan orang-orang seperti mereka lagi setelah itu.”
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jilid 14, peristiwa tahun 705 H, hlm. 838.
- Al-Bazzār, hlm. 69.
- Lihat: Tārīkh Ibn al-Wardī, jilid 2, hlm. 287; dan al-Bazzār, hlm. 72–73.
- Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jilid 14, hlm. 15.
- Kata nafaqa–yanfaqu nifāqan di sini berarti “laku” atau “laris”. Maksudnya: barang dagangan dan tipu daya mereka dapat laku di hadapan bangsa Tatar, tetapi tidak laku di hadapan syariat. Lihat Muhammad as-Sayyid al-Julaynad, Ibn Taimiyyah wa Qadhiyyat at-Ta’wil, cetakan Majma‘ al-Buhuts al-Islamiyyah, 1973.
- Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jilid 14, peristiwa tahun 705 H, hlm. 54.
Leave a Reply