درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 7)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
منهج ابن تيمية في إثبات وجود الله
Metode Ibn Taimiyyah dalam Menetapkan Keberadaan Allah
لقد وجد ابن تيمية في القرآن الكريم ومنهجه في الإلهيات ما أغناه عن أدلة المتكلمين ومناهجهم، ووجد في أدلته من البراهين العقلية الصريحة ما يناسب جميع الناس.
Ibn Taimiyyah menemukan di dalam Al-Qur’an dan metodologinya dalam persoalan-persoalan ketuhanan sesuatu yang membuatnya tidak lagi membutuhkan dalil-dalil dan metode para mutakallim. Ia menemukan di dalam dalil-dalil Al-Qur’an berbagai argumentasi rasional yang jelas dan sesuai bagi seluruh manusia.
وفي نفس الوقت وجدها أكثر دلالة على مطلوب الشرع من أدلة المتكلمين والفلاسفة التي لا تدل على مطلوب الشرع بقدر ما تدل على مطلوبهم.
Pada saat yang sama, ia mendapati bahwa dalil-dalil tersebut lebih kuat menunjukkan apa yang menjadi tujuan syariat dibandingkan dalil-dalil para mutakallim dan filsuf, yang menurutnya tidak menunjukkan tujuan syariat sebesar bagaimana dalil-dalil tersebut menunjukkan tujuan yang mereka kehendaki sendiri.
وأول ما نعرض له من ذلك أدلته على وجود الله.
Hal pertama yang akan kita kemukakan dalam persoalan ini adalah dalil-dalilnya mengenai keberadaan Allah.
وفي استدلال ابن تيمية على وجود الله نجده يسلك اتجاهين كلاهما يمكن الاستدلال به على وجود الصانع.
Dalam argumentasi Ibn Taimiyyah mengenai keberadaan Allah, kita mendapati bahwa ia menempuh dua arah pendekatan, yang keduanya dapat digunakan sebagai dalil atas keberadaan Sang Pencipta.
١ ـ الموقف الذاتي
1. Pendekatan dari Dalam Diri Manusia
الاتجاه الأول: يمكن تسميته بالموقف الذاتي للمرء، وهو لجوؤه إلى الفطرة السليمة التي هي مضطرة بطبعها إلى الإقرار بوجود الرب الخالق.
Pendekatan pertama dapat disebut sebagai pendekatan dari dalam diri manusia, yaitu kembalinya seseorang kepada fitrah yang lurus, yang secara tabiat terdorong untuk mengakui keberadaan Rabb Sang Pencipta.
وذلك لما تحتاج إليه النفوس من لجوئها إلى قوة عليا تستنجد بها عند حلول المصائب. أياً كانت هذه النفوس، مؤمنة أو كافرة.
Hal itu disebabkan jiwa manusia membutuhkan tempat berlindung kepada suatu kekuatan yang tinggi, yang kepadanya ia meminta pertolongan ketika musibah menimpa, baik jiwa tersebut merupakan jiwa seorang Mukmin maupun seorang kafir.
فإن النفس البشرية مضطرة عند حلول المصائب بها إلى الركون إلى تلك القوة العليا التي تتوجه إليها بالدعاء والاستغاثة بكشف الضر.
Jiwa manusia ketika ditimpa musibah secara naluriah merasa perlu bersandar kepada kekuatan yang tinggi tersebut, kepadanya ia berdoa dan meminta pertolongan agar kesulitan yang menimpanya disingkirkan.
ولقد لفت القرآن أنظارنا إلى هذا الاعتراف الفطري حيث قال في صيغة الاستفهام التقريري: «أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ».1
Al-Qur’an telah mengarahkan perhatian kita kepada pengakuan fitri ini melalui bentuk pertanyaan penegasan: “Bukankah Dia yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan?”
والنفوس بطبعها أسبق إلى الاعتراف بالرب الخالق منها إلى الاعتراف بالإله المعبود، وذلك لعلم النفوس بحاجتها وفقرها إلى من يحميها وتلوذ إليه عند نزول المصائب قبل علمهم بحاجتهم إلى الإله المعبود الذي تتوجه إليه بالعبادة دون غيره.
Secara tabiat, jiwa manusia lebih dahulu sampai kepada pengakuan terhadap Rabb Sang Pencipta daripada kepada pengakuan terhadap Ilah yang disembah. Sebab jiwa telah mengetahui kebutuhannya dan kefakirannya kepada Zat yang melindunginya dan menjadi tempat berlindung ketika musibah turun, bahkan sebelum ia mengetahui kebutuhannya kepada Ilah yang harus dituju dengan ibadah tanpa selain-Nya.
وهذه المعرفة الفطرية طبيعة مركوزة في كل نفس مؤمنة أو كافرة، والنفوس تحسها بطبعها وتشعر بها، وإن غابت عنها في بعض الأحيان لسبب طارئ، فسرعان ما تجد نفسها مضطرة إلى اللجوء إليها عند الشدائد.
Pengetahuan fitri ini merupakan tabiat yang tertanam dalam setiap jiwa, baik Mukmin maupun kafir. Jiwa merasakannya secara alami dan menyadarinya. Jika pada keadaan tertentu kesadaran tersebut menghilang karena suatu sebab yang datang kemudian, jiwa akan segera mendapati dirinya kembali membutuhkan tempat berlindung tersebut ketika menghadapi kesulitan.
ولو لم تكن النفوس مفطورة على هذه المعرفة لما تطلعت إليها، بل لم تكن مطلوبة لها.
Seandainya jiwa tidak difitrahkan dengan pengetahuan tersebut, niscaya ia tidak akan mengarah kepadanya, bahkan pengetahuan itu tidak akan menjadi sesuatu yang dicarinya.
وهذه الفطرة هي التي أخبر عنها الرسول بقوله: «كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه».
Fitrah inilah yang diberitakan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
ويقدم ابن تيمية أدلته الكثيرة على صدق دلالة الفطرة على خالقها كما أخبر بذلك الرسول، ويبين ذلك من وجوه كثيرة.
Ibn Taimiyyah mengemukakan banyak dalil untuk menunjukkan kebenaran petunjuk fitrah kepada Penciptanya, sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ. Ia menjelaskannya melalui sejumlah sisi.
الأول: أن الإنسان قد يجد نفسه في بعض الأحيان يحصل لديه كثير من المعتقدات والإرادات التي منها الحق والباطل والضار والنافع.
Pertama: seseorang terkadang mendapati dalam dirinya berbagai keyakinan dan kehendak, sebagian benar dan sebagian batil, sebagian membahayakan dan sebagian memberikan manfaat.
وفي مجال ترجيح رأي أو معتقد على آخر تجده مدفوعاً بفطرته إلى ترجيح ما فيه منفعته ودفع ما فيه مضرته، فيرجح الصدق على الكذب والحق على الباطل كما يميل بطبعه إلى طلب الأكل عند الجوع، والماء عند العطش.
Ketika harus memilih satu pendapat atau keyakinan dibandingkan yang lain, ia mendapati dirinya terdorong oleh fitrahnya untuk memilih sesuatu yang membawa manfaat dan menolak sesuatu yang membahayakannya. Ia mengutamakan kejujuran daripada kebohongan dan kebenaran daripada kebatilan, sebagaimana secara alami ia mencari makanan ketika lapar dan air ketika haus.
وفي هذا دليل كاف على أن في فطرة كل إنسان قوة تقتضي اعتقاد الحق وإرادة النافع.
Dalam hal ini terdapat dalil yang cukup bahwa di dalam fitrah setiap manusia terdapat kekuatan yang menuntunnya kepada keyakinan terhadap kebenaran dan kehendak terhadap sesuatu yang bermanfaat.
ومن هنا كانت كل نفس مفطورة على الاعتراف بالصانع والإقرار به استجابة لما هي مركوزة عليه من طلب كل ما هو حق والاعتراف به.2
Dari sinilah setiap jiwa dipandang memiliki fitrah untuk mengakui Sang Pencipta dan membenarkan keberadaan-Nya, sebagai respons terhadap kecenderungan yang telah tertanam dalam dirinya untuk mencari segala sesuatu yang benar dan mengakuinya.
الثاني: قد يطرأ على بعض الناس ما يفسد فطرتهم فيحتاجون في ذلك إلى ما ينير لهم السبيل، ويوضح لهم الطريق كالتعليم مثلاً.
Kedua: pada sebagian manusia dapat muncul sesuatu yang merusak fitrah mereka. Karena itu mereka membutuhkan sesuatu yang menerangi jalan dan menjelaskan arah kepada mereka, seperti melalui pendidikan.
ولذلك بعث الله الرسل، وأنزل الكتب ليكمل بها الفطرة ويذكرها إذا فسدت بما هي مركوزة عليه من طلب الحق.
Karena itulah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk menyempurnakan fitrah dan mengingatkannya kembali, apabila fitrah mengalami kerusakan, kepada kecenderungan mencari kebenaran yang telah tertanam di dalamnya.
والطفل حين ولادته لا يكون لديه تعقل لمثل هذه الأمور، لأن الله يقول: «وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا»، ولكنه يولد وفي فطرته قوة تقتضي ذلك الحق وتطلبه.
Seorang anak ketika lahir belum memiliki kemampuan untuk memahami perkara-perkara seperti ini, karena Allah berfirman, “Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun.” Akan tetapi, ia dilahirkan dengan suatu kekuatan dalam fitrahnya yang mendorong dan mencari kebenaran tersebut.
وتزداد هذه القوة الفطرية لدى الطفل بحسب ما يستطيع تحصيله من العلوم النافعة. وكلما ازداد الطفل علماً وإرادة، ازداد معرفة بخالقه ومحبة له، وهذا دليل على أن النفوس مفطورة على الاعتراف به.3
Kekuatan fitri tersebut semakin bertambah pada diri seorang anak sesuai dengan kadar ilmu bermanfaat yang dapat diperolehnya. Semakin bertambah ilmu dan kehendaknya, semakin bertambah pula pengetahuannya terhadap Penciptanya dan kecintaannya kepada-Nya. Hal ini menjadi dalil bahwa jiwa manusia memiliki fitrah untuk mengakui-Nya.
الثالث: لا شك أن النفوس يحصل لها من العلوم بحسب ما تكتسبه من الخارج الحسي، وإذا لم يكن في كل نفس قوة تقتضي معرفة هذه العلوم لما استطاعت أن تعلم شيئاً منها.
Ketiga: tidak diragukan bahwa jiwa memperoleh berbagai pengetahuan sesuai dengan apa yang diperolehnya dari dunia indrawi di luar dirinya. Namun seandainya dalam setiap jiwa tidak terdapat kekuatan yang memungkinkan untuk mengenali ilmu-ilmu tersebut, niscaya ia tidak akan mampu mengetahui sesuatu pun darinya.
ولعل أكبر دليل على ذلك أننا لو قمنا بمحاولة لتعليم الحيوانات لما حصل لها من العلوم ما يحصل لبني آدم مع أن السبب في الموضعين واحد.
Barangkali dalil yang paling jelas mengenai hal ini adalah bahwa seandainya kita berusaha mengajari hewan, hewan tidak akan memperoleh ilmu sebagaimana yang diperoleh manusia, meskipun sebab eksternal yang diberikan pada keduanya dapat sama.
وفي هذا دليل واضح على أن في النفوس قوة لطلب الحق وترجيحه على غيره.
Dalam hal ini terdapat petunjuk yang jelas bahwa di dalam jiwa terdapat suatu kekuatan untuk mencari kebenaran dan mengutamakannya dibandingkan yang lain.
ومن هنا نستطيع أن نفهم السر في أن أسلوب القرآن في الاستدلال على وجود الله جاء في صورة التذكير والتنبيه، وفي كل هذا دليل على أن الفطرة السليمة كافية في وجوب الإقرار بالصانع.4
Dari sini kita dapat memahami rahasia mengapa metode Al-Qur’an dalam menunjukkan keberadaan Allah datang dalam bentuk mengingatkan dan menyadarkan. Semua ini menunjukkan bahwa fitrah yang sehat sudah memadai untuk mengharuskan pengakuan terhadap Sang Pencipta.
الرابع: إذا لم تكن الفطرة كافية في ذلك وكان لابد من معلم ومرشد من خارج ذاتها فإننا نجد في كل نفس ما يدفعها إلى قبول الحق ورفض الباطل مما يعرض لها من خارج ذاتها.
Keempat: seandainya fitrah belum cukup dalam hal tersebut dan manusia tetap membutuhkan pengajar serta pembimbing dari luar dirinya, kita tetap mendapati dalam setiap jiwa sesuatu yang mendorongnya untuk menerima kebenaran dan menolak kebatilan yang datang kepadanya dari luar dirinya.
وفي هذا دليل على أن فطرة كل إنسان مركوزة على الاعتراف بالحق.5
Dalam hal ini terdapat dalil bahwa fitrah setiap manusia telah ditanamkan untuk mengakui kebenaran.
الخامس: أن كل نفس إذا لم يعرض لها مصلح ولا مفسد من خارج ذاتها فإننا نجدها تطلب ما ينفعها وتحاول أن تدفع عنها ما يضرها.
Kelima: setiap jiwa, apabila tidak dipengaruhi oleh sesuatu dari luar yang memperbaiki ataupun merusaknya, akan kita dapati mencari sesuatu yang bermanfaat baginya dan berusaha menolak sesuatu yang membahayakannya.
والدليل على ذلك أننا نجد الطفل مدفوعاً إلى لبن أمه بفطرته ما لم يحصل له مرض يمنعه من ذلك.
Dalil mengenai hal tersebut adalah bahwa kita mendapati seorang bayi secara fitri terdorong mencari air susu ibunya selama tidak terdapat penyakit yang menghalanginya dari hal itu.
ومعنى هذا أن حب الإنسان لما ينفعه مركوز فيه، ولا شك أن حب العبد لربه مفطور فيه أعظم مما فطر فيه من حبه للبن أمه.
Maknanya, kecintaan manusia kepada sesuatu yang bermanfaat baginya telah tertanam di dalam dirinya. Dan menurut Ibn Taimiyyah, kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya lebih kuat tertanam dalam fitrah daripada kecintaan seorang bayi kepada susu ibunya.
وفي هذا دليل على أن النفس مركوزة على طلب الحق النافع.6
Dalam hal ini terdapat dalil bahwa jiwa telah ditanamkan dengan kecenderungan mencari kebenaran yang bermanfaat.
السادس: أنه لا يمكن للنفس أن تكون خالية عن الشعور بخالقها وعن الإحساس بوجوده، وذلك لأن كل نفس لابد أن تكون مريدة وشاعرة.
Keenam: jiwa tidak mungkin sepenuhnya kosong dari kesadaran terhadap Penciptanya dan dari rasa akan keberadaan-Nya, sebab setiap jiwa pasti memiliki kehendak dan kesadaran.
ومادامت النفوس لا تكون إلا مريدة فلابد لها من مراد تحسه وتطلبه وتحاول الوقوف عليه.
Selama jiwa selalu memiliki kehendak, pasti terdapat sesuatu yang dikehendakinya, yang dirasakan, dicari, dan berusaha dikenalnya.
وكل نفس لها مرادات كثيرة ومتنوعة، غير أنها على كثرتها وتنوعها لابد أن تنتهي إلى مراد واحد تكون إرادتها له لذاته لا لغيره، وهذا لا يكون إلا الله، فهو الذي تريده القلوب وتطلبه النفوس.
Setiap jiwa memiliki banyak dan beragam keinginan. Namun sebanyak dan seberagam apa pun keinginan tersebut, pada akhirnya ia harus bermuara kepada satu tujuan yang dikehendaki karena tujuan itu sendiri, bukan demi sesuatu yang lain. Menurut Ibn Taimiyyah, yang demikian itu tidak lain adalah Allah; Dia-lah yang dikehendaki hati dan dicari oleh jiwa.
يقول ابن تيمية: «وبذلك يعلم أنه لو كان فيها آلهة إلا الله لفسدتا» وأن كل مولود ولد على محبة الإله، ومحبته تستلزم معرفته. فيعلم أن كل مولود ولد على محبة الله ومعرفته وهو المطلوب.7
Ibn Taimiyyah mengatakan bahwa dengan demikian dapat diketahui makna bahwa seandainya terdapat pada langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan rusak; dan bahwa setiap anak dilahirkan dengan kecintaan kepada Ilah, sementara kecintaan kepada-Nya menuntut adanya pengetahuan tentang-Nya. Dengan demikian, setiap anak dilahirkan dengan kecintaan dan pengetahuan terhadap Allah. Inilah yang hendak ditetapkan.
ويربط ابن تيمية في تناسق عجيب بين هذه المعرفة الفطرية وبين الميثاق الذي أخذه الله على عباده أزلاً حين «أَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا، أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ، أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ».8
Ibn Taimiyyah menghubungkan secara harmonis antara pengetahuan fitri ini dengan perjanjian yang telah Allah ambil dari para hamba-Nya sejak dahulu, ketika Allah “mengambil kesaksian terhadap diri mereka sendiri: ‘Bukankah Aku ini Rabb kalian?’ Mereka menjawab: ‘Benar, kami bersaksi.’ Agar kalian tidak berkata pada hari Kiamat: ‘Sesungguhnya dahulu kami lengah terhadap perkara ini,’ atau agar kalian tidak berkata: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Allah sejak dahulu, sedangkan kami hanyalah keturunan setelah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat batil?’”
فالله قد أشهد المرء على نفسه أزلاً بهذه المعرفة الفطرية، ولا شك أن شهادة المرء على نفسه من أقوى أنواع الإقرار، لأن من شهد على نفسه بحق فقد أقر به.
Dengan demikian, Allah telah menjadikan manusia bersaksi atas dirinya sendiri sejak awal melalui pengetahuan fitri tersebut. Kesaksian seseorang atas dirinya sendiri merupakan salah satu bentuk pengakuan yang paling kuat, sebab siapa yang memberikan kesaksian terhadap dirinya mengenai suatu kebenaran berarti ia telah mengakuinya.
وقول الخليقة: «بَلَى شَهِدْنَا» هو إقرارهم بربوبيته وأنه خالقهم، فهم حين خلقوا على الفطرة خلقوا مقرين بالخالق معترفين بوجوده شاهدين على أنفسهم بذلك.
Ucapan manusia, “Benar, kami bersaksi,” merupakan pengakuan mereka terhadap rububiyah Allah dan bahwa Dia adalah Pencipta mereka. Ketika mereka diciptakan di atas fitrah, mereka diciptakan dalam keadaan mengakui Sang Pencipta, mengakui keberadaan-Nya, dan memberikan kesaksian atas diri mereka sendiri mengenai hal tersebut.
وهذا الإقرار هو حجة الله على الخليقة يوم القيامة. فهو يذكرهم بأخذه الميثاق عليهم وإشهادهم على أنفسهم.
Pengakuan inilah yang menjadi hujah Allah atas manusia pada hari Kiamat. Allah mengingatkan mereka bahwa Dia telah mengambil perjanjian dari mereka dan menjadikan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri.
وإقرارهم على أنفسهم بهذه المعرفة لا يمكن جحده. ولهذا قال سبحانه مذكراً لهم بذلك الإقرار: «أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ» أي كراهة أن تحتجوا يوم القيامة بغفلتكم عن ذلك الإقرار.9
Pengakuan mereka terhadap diri sendiri mengenai pengetahuan tersebut tidak dapat diingkari. Karena itu Allah mengingatkan mereka terhadap pengakuan tersebut dengan firman-Nya, “Agar kalian tidak berkata pada hari Kiamat: sesungguhnya kami dahulu lengah terhadap perkara ini,” yakni agar pada hari Kiamat kalian tidak menjadikan kelalaian terhadap pengakuan tersebut sebagai alasan.
لأن هذا لم يغفل عنه بشر بل هو من الأمور الضرورية التي لم تخل منها نفس فطرها الله، بخلاف غيرها من العلوم الضرورية التي قد يغفل الإنسان عنها أحياناً كالحساب والرياضة، فإنها لو تصورت لوجدها الإنسان ضرورية ولكن قد يغفل عنها في كثير من الأحيان لشبهة قد تطرأ على عقله أو لبس في الدليل.
Sebab perkara ini, menurut Ibn Taimiyyah, pada dasarnya tidak terlepas dari manusia. Ia termasuk perkara-perkara mendasar yang tidak kosong dari jiwa yang telah Allah ciptakan di atas fitrah. Hal ini berbeda dengan sebagian pengetahuan niscaya lainnya, seperti perhitungan dan matematika, yang terkadang dapat luput dari perhatian manusia. Apabila dipahami dengan benar, manusia akan melihat keniscayaannya, tetapi pada keadaan tertentu ia dapat terhalang darinya karena syubhat yang muncul dalam pikirannya atau kekeliruan dalam memahami dalil.
بخلاف الاعتراف الفطري بربوبية الخالق، فإنه علم ضروري لازم لكل نفس.
Berbeda dengan pengakuan fitri terhadap rububiyah Sang Pencipta; menurut Ibn Taimiyyah, hal itu merupakan pengetahuan niscaya yang melekat pada setiap jiwa.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Surah an-Naml ayat 62. Lihat pula: Majmu‘ Fatawa Ibn Taimiyyah, 14/16 dan 16/165; serta Dar’u Ta‘arudh al-‘Aql wa an-Naql, 4/96–104 dan 111–134, manuskrip no. 182, ‘Aqa’id Taimur.
- Dar’u Ta‘arudh al-‘Aql wa an-Naql, 4/83, manuskrip no. 182, ‘Aqa’id Taimur.
- Sumber yang sama, hlm. 83–84.
- Sumber yang sama, hlm. 84.
- Sumber yang sama.
- Sumber yang sama, hlm. 85.
- Dar’u Ta‘arudh al-‘Aql wa an-Naql, 4/86.
- Surah al-A‘raf ayat 172–173.
- Surah al-A‘raf ayat 172.
Leave a Reply