درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 8)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
ولهذا كان أسلوب القرآن في آيات المعرفة الفطرية على سبيل التذكير والتذكر «فذكر إنما أنت مذكر»، «فذكر إن نفعت الذكرى»، «فهل من مدكر».
Karena itu, gaya Al-Qur’an dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan pengetahuan fitri datang dalam bentuk mengingatkan dan membangkitkan kembali ingatan: “Maka berilah peringatan, sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi peringatan,” “Maka berilah peringatan jika peringatan itu bermanfaat,” dan “Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
فالقرآن في جميع هذه الآيات وغيرها كثير، يذكر الإنسان بأمور ضرورية فطرية قد ينساها المرء لعارض يطرأ عليه، أو لشبهة فاسدة، أو لطرآن مفسدة أخرى التي تتعلق عليها.
Dalam seluruh ayat ini dan banyak ayat lainnya, Al-Qur’an mengingatkan manusia kepada perkara-perkara fitri yang bersifat mendasar, yang mungkin terlupakan karena suatu keadaan yang menimpanya, karena syubhat yang rusak, atau karena munculnya faktor lain yang merusak fitrahnya.
كما قال عليه السلام فيما يرويه عن ربه: «خلقت عبادي حنفاء فاجتالتهم الشياطين» بالإغواء والتزيين.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya: “Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif, kemudian setan-setan menyelewengkan mereka,” yakni melalui penyesatan dan penghiasan kebatilan.
وكل سياق القرآن عن ذلك إنما هو تذكير للإنسان بفطرته الأولى ومحاولة للعودة به إلى الحالة التي فطر الله الناس عليها، ومواجهة ما طرأ على هذه الفطرة من فساد بسبب التربية أو البيئة.
Seluruh pembicaraan Al-Qur’an mengenai perkara ini pada hakikatnya merupakan upaya mengingatkan manusia kepada fitrah pertamanya dan mengembalikannya kepada keadaan yang di atasnya Allah menciptakan manusia, sekaligus menghadapi kerusakan yang kemudian menimpa fitrah tersebut akibat pendidikan atau lingkungan.
الحجة الأولى: احتجاجهم بالفطرة عن الميثاق حين يقولون: «إنا كنا عن هذا غافلين»، والآية الثانية: «أو تقولوا إنما أشرك آباؤنا من قبل وكنا ذرية من بعدهم أفتهلكنا بما فعل المبطلون».
Hujah pertama: mereka dapat berdalih mengenai perjanjian fitri dengan berkata, “Sesungguhnya kami dahulu lengah terhadap perkara ini.” Kemudian pada ayat berikutnya: “Atau agar kalian tidak berkata: sesungguhnya orang tua kami dahulu telah mempersekutukan Allah, sedangkan kami hanyalah keturunan setelah mereka; apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat batil?”
الحجة الثانية: احتجاجهم بشرك آبائهم ومتابعتهم في ذلك بقولهم: «إنما أشرك آباؤنا من قبل وكنا ذرية من بعدهم أفتهلكنا بما فعل المبطلون».
Hujah kedua: mereka berdalih dengan kesyirikan nenek moyang mereka dan dengan alasan bahwa mereka hanya mengikuti para pendahulunya, sebagaimana dalam firman Allah: “Sesungguhnya orang tua kami dahulu telah mempersekutukan Allah, sedangkan kami hanyalah keturunan setelah mereka; apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat batil?”
وذلك أن العادة جرت على أن الرجل ينشأ حذو أبيه في الصناعات والحرف، فلم يمكنهم هنا الاحتجاج بما فعله الآباء، لأن الله قد جعل في فطرة الإنسان ما يمنعه من متابعة الآباء في باطلهم إذا تنبهت فطرته.
Memang, kebiasaan manusia adalah seseorang tumbuh mengikuti ayahnya dalam berbagai pekerjaan dan keterampilan. Namun dalam persoalan ini mereka tidak dapat menjadikan perbuatan para leluhur sebagai hujah, sebab Allah telah menanamkan di dalam fitrah manusia sesuatu yang menghalanginya untuk mengikuti kebatilan para pendahulunya apabila fitrahnya telah tersadarkan.
فالفطرة السليمة هي التي تبين لمن فتح له باب المتابعة للآباء خطأ هذا الاعتقاد وبطلان الاحتجاج به.
Fitrah yang sehatlah yang menjelaskan kepada seseorang yang terbuka baginya jalan untuk mengikuti para leluhur bahwa keyakinan seperti itu salah dan bahwa menjadikannya sebagai alasan adalah batil.
وهذه الفطرة سابقة على جميع ألوان التربية التي يتلقاها المرء عن بيئته في شيء اجتماعي.
Fitrah ini mendahului seluruh bentuk pendidikan yang kemudian diterima manusia dari lingkungan sosialnya.
ولو لم يكن في الفطرة أساس يعتمد عليه في الأدلة العقلية التي يعلم بها إثبات الصانع لما تمكن في غير الرسالة حجة عليهم، لأن الرسالة جاءت لتذكرهم بالربوبية والدعوة إلى توحيد الألوهية.
Seandainya di dalam fitrah tidak terdapat dasar yang dapat menjadi landasan bagi dalil-dalil akal untuk mengetahui dan menetapkan keberadaan Sang Pencipta, maka risalah pun tidak akan memiliki hujah yang dapat ditegakkan terhadap mereka. Sebab risalah datang untuk mengingatkan manusia kepada rububiyah Allah dan menyeru mereka kepada tauhid uluhiyah.
وهذا من أقوى حجج الله على عباده يوم القيامة.
Hal ini termasuk salah satu hujah Allah yang paling kuat terhadap para hamba-Nya pada hari Kiamat.
ولقد أمد الله الإنسان بأدلة أخرى غير ما سبق من الأدلة الفطرية، لتدبر آيات الكون والآفاق التي تحدثت عن المشركين: «ولئن سألتهم من خلق السماوات والأرض ليقولن الله».
Allah juga membekali manusia dengan dalil-dalil lain selain dalil fitrah yang telah disebutkan, yaitu dengan mengajak mereka merenungkan ayat-ayat alam dan berbagai tanda di ufuk. Mengenai kaum musyrik, Allah berfirman: “Jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab: Allah.”
وسلك القرآن أسلوب الاستفهام التقريري الذي يقتضي وقوع الاعتراف منهم بمضمون هذه الأسئلة: «أم خلقوا من غير شيء أم هم الخالقون؟ أم خلقوا السماوات والأرض بل لا يوقنون».
Al-Qur’an menggunakan bentuk pertanyaan penegasan yang menuntut pengakuan terhadap kandungannya: “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka yang menciptakan langit dan bumi? Bahkan mereka tidak meyakini.”
وهذه كلها مسائل يضعها القرآن أمام الإنسان مباشرة ولا مناص له إزاءها من الإقرار والتسليم بمضمونها وهو الاعتراف بالخالق.
Semua itu merupakan persoalan-persoalan yang diletakkan Al-Qur’an secara langsung di hadapan manusia, sehingga ia tidak memiliki jalan lain kecuali mengakui dan menerima kandungannya, yaitu pengakuan terhadap Sang Pencipta.
وهي أدلة عقلية في نفس الوقت عقلية وضرورية وفطرية، لا يسع العقل السليم إلا أن يسلم بها، ولا الإحساس والشعور بمضمونها، ولا النفس إلا الرضى والتسليم بها.
Dalil-dalil tersebut sekaligus merupakan dalil rasional, niscaya, dan fitri. Akal yang sehat tidak memiliki jalan selain menerimanya, kesadaran manusia merasakan kandungannya, dan jiwa pun pada akhirnya tunduk serta menerimanya.
ثم إن القضايا التي تتولد عنها هذه الأدلة ضرورية، فالإنسان من قِبَل نفسه لابد أن يضطر إلى الاعتراف بوجود الله، ومن ما يلاحظه من تعقيد هذه الموجودات لا بد له من الإجابة على هذه الأسئلة.
Kesimpulan-kesimpulan yang lahir dari dalil-dalil tersebut juga bersifat niscaya. Dari dalam dirinya sendiri, manusia terdorong untuk mengakui keberadaan Allah. Demikian pula, dari apa yang ia saksikan berupa keteraturan dan kompleksitas makhluk-makhluk yang ada, ia harus memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
ومن هنا فحقيقة الله تعالى عليها لا يدليل على فطرة الإنسان ووجود الخالق تكون في ذلك «وفطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله».
Dari sini, pengakuan terhadap Allah dan keberadaan Sang Pencipta berkaitan erat dengan fitrah manusia, sebagaimana firman Allah: “Fitrah Allah yang telah Dia menciptakan manusia di atasnya; tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.”
٢ ـ الموقف الخارجي
2. Pendekatan Eksternal
الاتجاه الثاني: ويمكن تسميته بالموقف الخارجي، وهو التأمل في الآفاق، أعني بذلك الاستدلال على وجود الله من خارج نفس الإنسان، ويلجأ ابن تيمية في ذلك إلى هذا الكون الفسيح وما فيه من الآيات الظاهرة في دلالتها على وجود الله.
Pendekatan kedua dapat disebut sebagai pendekatan eksternal, yaitu merenungkan alam semesta dan berbagai tanda di ufuk. Maksudnya adalah menunjukkan keberadaan Allah melalui sesuatu yang berada di luar diri manusia. Dalam hal ini Ibn Taimiyyah mengarahkan perhatian kepada alam semesta yang luas beserta berbagai ayat yang jelas menunjukkan keberadaan Allah.
والاستدلال بالآيات أدل على المقصود من الاستدلال بالأقيسة والبراهين، ولهذا كانت أدلة القرآن تتجه كلها إلى الاستدلال بآياته الكونية على وجوده.
Menurut pendekatan ini, berargumentasi dengan ayat-ayat Allah lebih langsung menunjukkan tujuan yang dimaksud daripada berargumentasi dengan berbagai qiyas dan konstruksi pembuktian yang rumit. Karena itulah dalil-dalil Al-Qur’an banyak mengarahkan manusia kepada ayat-ayat kauniyah sebagai petunjuk atas keberadaan-Nya.
الأقيسة
Qiyas-Qiyas
بالأقيسة لا تدل إلا على معنى كلي غير معين، فإذا قيل مثلاً: كل محدث فله محدث، والعالم محدث، فالنتيجة التي تؤدي إليها مقدمات هذا القياس هي إثبات واجب الوجود على سبيل الإطلاق.
Qiyas pada dasarnya hanya menunjukkan suatu makna universal yang belum tertentu. Misalnya dikatakan: setiap sesuatu yang baru pasti memiliki yang mengadakannya; alam adalah sesuatu yang baru; maka kesimpulan yang dihasilkan dari premis-premis qiyas tersebut adalah penetapan adanya suatu wujud yang niscaya secara umum.
وهذا التصور العقلي لا يمنع من وقوع الشركة فيه، بل ما زال الأمر في معرفته يحتاج إلى دليل آخر لا يمكن معرفته عيناً عن طريقه.
Konsepsi rasional semacam itu belum dengan sendirinya menutup kemungkinan adanya lebih dari satu pihak yang masuk ke dalam pengertian tersebut. Karena itu, untuk mengetahui secara tertentu siapa yang dimaksud, masih dibutuhkan dalil lain.
ومن هنا يكثر ابن تيمية في نقده لدلالات البحث الإلهي في هذا الكون، وأشد تذكير الإنسان بما فيه من حين لآخر، فهي التي تدل على عينه.
Karena itu Ibn Taimiyyah banyak mengkritik metode pembuktian ketuhanan yang berhenti pada pengertian-pengertian abstrak semata, dan lebih menekankan pengingatan manusia kepada tanda-tanda yang terdapat di alam, sebab tanda-tanda tersebutlah yang menunjuk kepada Sang Pencipta secara lebih nyata.
الآيات
Ayat-Ayat
وفي معرض الاستدلال بالآيات على وجود الله نجد القرآن يضع أمام الإنسان أكثر هذه الآيات دلالة وتأثيراً، ويعرضها في الاستدلال بصورة أخاذة أمام عين المرء.
Dalam menunjukkan keberadaan Allah melalui ayat-ayat-Nya, Al-Qur’an menghadapkan kepada manusia tanda-tanda yang paling kuat petunjuk dan pengaruhnya, lalu menyajikannya dalam bentuk argumentasi yang sangat menggugah di hadapan pandangan manusia.
وأول سورة نزلت من القرآن ذكرت نعمة الخلق فقالت: «اقرأ باسم ربك الذي خلق، خلق الإنسان من علق».
Surah pertama yang diturunkan dari Al-Qur’an telah menyebut nikmat penciptaan dengan firman-Nya: “Bacalah dengan nama Rabb-mu yang menciptakan; Dia menciptakan manusia dari ‘alaq.”
ثم ذكرت خلق الإنسان على وجه التفصيل ببيان أطوار خلقه فقال تعالى: «أولم ير الإنسان أنا خلقناه من نطفة فإذا هو خصيم مبين».
Kemudian Al-Qur’an menjelaskan penciptaan manusia secara lebih terperinci melalui tahapan-tahapan penciptaannya. Allah berfirman: “Tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, lalu tiba-tiba ia menjadi seorang pembantah yang nyata?”
«أولا يذكر الإنسان أنا خلقناه من قبل ولم يك شيئاً».
“Tidakkah manusia mengingat bahwa Kami telah menciptakannya sebelumnya, ketika ia belum merupakan sesuatu apa pun?”
«هل أتى على الإنسان حين من الدهر لم يكن شيئاً مذكوراً».
“Bukankah telah datang kepada manusia suatu masa ketika ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
فآية الخلق فطرية وظاهرة للعقول يمكن أن يستدل بها على الخالق، وهي في نفسها من أوضح الأدلة التي لا تحتاج إلى دليل.
Ayat tentang penciptaan merupakan tanda yang fitri dan nyata bagi akal, yang dapat digunakan untuk menunjukkan Sang Pencipta. Bahkan pada dirinya sendiri, ia termasuk di antara dalil yang paling jelas dan tidak membutuhkan pembuktian lain.
ويرى ابن تيمية أن آية الخلق وحدها كافية في الاستدلال على وجود الله، وليست بحاجة إلى أن يقال أولاً: إن محدثات العالم لها محدث، أو أن الجواهر لا تخلو من الأعراض، والأعراض ملازمة للجواهر، أو نحو ذلك من مقدمات طويلة ومعقدة أوهمتهم أن الاضطراب فيها اضطراب في وجود الخالق.
Ibn Taimiyyah berpandangan bahwa ayat penciptaan saja sudah cukup sebagai dalil atas keberadaan Allah. Tidak perlu terlebih dahulu dikatakan: sesungguhnya segala yang baru di alam harus memiliki pengada; atau bahwa substansi tidak terlepas dari aksiden dan aksiden melekat pada substansi; atau berbagai premis panjang dan rumit lainnya yang membuat sebagian orang menyangka bahwa kegoncangan dalam premis-premis tersebut berarti kegoncangan pula dalam penetapan keberadaan Sang Pencipta.
فأصح الطرق للعقول الاستدلال بالخلق على الخالق، أو اللجوء إلى طريقة الممكنات.
Karena itu, jalan yang paling jelas bagi akal adalah menjadikan penciptaan sebagai dalil atas Sang Pencipta, atau menggunakan jalan yang bertolak dari keberadaan segala sesuatu yang bersifat mungkin.
إن أدلة ابن تيمية على وجود الله تمتاز بوضوحها ومباشرتها مع النفس، فهي أدلة عقلية برهانية لا يمكن معارضتها بدليل عقلي برهاني قاطع، وهي أكثر ملاءمة للعقول وأقرب إلى طبائع البشر.
Dalil-dalil Ibn Taimiyyah mengenai keberadaan Allah memiliki ciri berupa kejelasan dan kedekatannya secara langsung dengan jiwa manusia. Ia merupakan dalil rasional dan argumentatif yang menurut pendekatan ini tidak dapat dibatalkan oleh dalil rasional yang benar-benar pasti. Dalil-dalil tersebut juga lebih sesuai dengan akal dan lebih dekat kepada tabiat manusia.
Leave a Reply