درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 9)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
مذهبه في التوحيد
Pandangannya tentang Tauhid
يرى عامة المتكلمين أن التوحيد ينقسم إلى ثلاثة أنواع فيقولون عنه سبحانه:
Mayoritas mutakallim memandang bahwa tauhid terbagi menjadi tiga macam. Mereka mengatakan tentang Allah سبحانه وتعالى:
١ ـ هو واحد في ذاته لا قسيم له.
1. Dia Esa dalam Zat-Nya, tidak ada yang membagi atau menyamai-Nya dalam Zat tersebut.
٢ ـ واحد في صفاته لا شبيه له.
2. Dia Esa dalam sifat-sifat-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya.
٣ ـ واحد في أفعاله لا شريك له.
3. Dia Esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya.
وأشهر هذه الأنواع الثلاثة هو النوع الأخير المسمى عندهم «توحيد الأفعال» بمعنى أن خالق العالم واحد، ويحتجون على ذلك بما يذكرونه من دليل التمانع وغيره. وأدلة المتكلمين على التوحيد مطلبها إثبات هذا النوع.1
Yang paling terkenal dari ketiga macam tersebut adalah jenis terakhir, yang mereka sebut Tauhid al-Af‘al atau tauhid dalam perbuatan-perbuatan Allah, yaitu bahwa Pencipta alam ini hanya satu. Untuk membuktikannya mereka menggunakan apa yang mereka sebut sebagai dalil at-tamānu‘ dan dalil-dalil lainnya. Argumentasi para mutakallim mengenai tauhid pada dasarnya diarahkan untuk menetapkan jenis tauhid ini.
أما ابن تيمية فيذهب في إثبات التوحيد إلى منهج آخر حيث يقسم التوحيد إلى نوعين:
Adapun Ibn Taimiyyah, dalam menetapkan tauhid ia menempuh metode yang berbeda. Ia membagi tauhid menjadi dua macam:
الأول: توحيد الربوبية بمعنى أن رب العالم وخالقه واحد، وليس اثنين. وهو الرب سبحانه الذي جبلت الفطر على الاعتراف به والخضوع له.
Pertama: Tauhid Rububiyah, yaitu bahwa Rabb dan Pencipta alam hanyalah satu, bukan dua. Dia-lah Rabb سبحانه وتعالى yang fitrah manusia telah diciptakan untuk mengakui-Nya dan tunduk kepada-Nya.
الثاني: توحيد الألوهية بمعنى أن يعبد الله وحده لا يشرك بعبادته أحد من خلقه، وفي هذا النوع يتحقق معنى قولنا لا إله إلا الله.
Kedua: Tauhid Uluhiyah, yaitu bahwa hanya Allah yang disembah dan tidak ada satu pun makhluk yang dipersekutukan dengan-Nya dalam ibadah. Pada jenis tauhid inilah terwujud makna perkataan kita, Lā ilāha illallāh.
أما النوع الأول (توحيد الربوبية) فقد اعترف به المشركون، وجبلت على الإقرار به جميع الفطر كما سجل القرآن اعتراف مشركي العرب بذلك، وإقرارهم به:
Adapun jenis pertama, yaitu Tauhid Rububiyah, telah diakui oleh kaum musyrik. Seluruh fitrah manusia pun diciptakan untuk mengakuinya. Al-Qur’an merekam pengakuan kaum musyrik Arab terhadap hal tersebut:
«وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ»2، «وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ».3
“Jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka menjawab, ‘Allah’,” dan, “Jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ niscaya mereka menjawab, ‘Allah’.”
فجميع المشركين كانوا يقرون بأن الله خالق كل شيء وربه ومليكه. ومع إقرارهم بربوبيته لم يخرجوا عن مسمى الشرك لأنهم لم يحققوا معنى قول المسلم: «لا إله إلا الله» الذي يتضمنه النوع الثاني (توحيد الألوهية) الذي هو قطب رحى القرآن، والذي لأجله جاءت الرسل، وأنزلت الكتب، وعليه يكون الثواب والعقاب، وبه يتحقق إخلاص الدين لله.4
Seluruh kaum musyrik mengakui bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, Rabb-nya, dan Pemiliknya. Namun pengakuan mereka terhadap rububiyah Allah tidak mengeluarkan mereka dari sebutan syirik, sebab mereka belum merealisasikan makna ucapan seorang Muslim, “Lā ilāha illallāh,” yang terkandung dalam jenis kedua, yaitu Tauhid Uluhiyah. Tauhid inilah yang menjadi poros utama Al-Qur’an, yang untuknya para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan, yang berkaitan dengannya pahala dan hukuman, serta dengannya terwujud pemurnian agama hanya untuk Allah.
فتوحيد الألوهية هو دعوة كل رسول إلى قومه من لدن آدم إلى محمد عليه السلام. فقد كان كل رسول يقول لقومه: اعبدوا الله ما لكم من إله غيره.
Tauhid Uluhiyah merupakan seruan setiap rasul kepada kaumnya, sejak Adam hingga Muhammad عليهم السلام. Setiap rasul berkata kepada kaumnya, “Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian ilah selain Dia.”
وبه أمر الرسول أن يقول: «قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ».
Dengan tauhid ini pula Rasul diperintahkan untuk mengatakan, “Katakanlah: sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.”
وبه خوطب الرسول بقوله تعالى: «فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ»، وبقوله: «وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ».
Dengan tauhid ini pula Rasul diperintah melalui firman Allah, “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan agama hanya kepada-Nya,” dan melalui firman-Nya bahwa tidaklah seorang rasul diutus sebelumnya kecuali diwahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah selain Allah, maka hanya Dia yang harus disembah.
وبقوله: «وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ».
Dan melalui firman-Nya, “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul: sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”
والذي يتدبر آيات التوحيد في القرآن الكريم يجدها كلها تدور حول تقرير هذا النوع من التوحيد لأنه مناط الإيمان، ولا يتحقق إيمان المرء إلا بالإقرار به قولاً وعملاً.
Orang yang merenungkan ayat-ayat tauhid di dalam Al-Qur’an akan mendapati bahwa semuanya berputar pada penetapan jenis tauhid ini, karena inilah yang menjadi poros keimanan. Keimanan seseorang tidak terwujud kecuali dengan mengakuinya dalam perkataan dan perbuatan.
ولهذا كان ﷺ يقول: «أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَإِذَا قَالُوهَا فَقَدْ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ».
Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan Lā ilāha illallāh. Apabila mereka telah mengatakannya, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku.”
ولما كان توحيد الألوهية هو مناط الإيمان بالله ورسوله كان لابد أن يعني القرآن بتقريره والبرهنة عليه بالأدلة العقلية والبراهين الصحيحة.
Karena Tauhid Uluhiyah merupakan poros keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, Al-Qur’an memberikan perhatian besar untuk menetapkannya dan membuktikannya dengan dalil-dalil rasional serta argumentasi yang benar.
لأن الشرك الذي وقع في جميع الأمم كان في هذا النوع. فإن عامة مشركي الأمم كانوا مقرين بالصانع ويعترفون بتوحيد الربوبية، ولكنهم مع إقرارهم بربوبيته قد أشركوا بعبادته غيره.
Sebab syirik yang terjadi pada berbagai umat berada pada jenis tauhid ini. Mayoritas kaum musyrik dari umat-umat terdahulu mengakui adanya Sang Pencipta dan mengakui Tauhid Rububiyah. Namun bersamaan dengan pengakuan terhadap rububiyah-Nya, mereka mempersekutukan selain Allah dalam ibadah kepada-Nya.
وكان ما عابه مشركو العرب على محمد ﷺ «أَنْ جَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا»، وقالوا له: «إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ».5
Yang dipersoalkan kaum musyrik Arab terhadap Muhammad ﷺ adalah bahwa beliau “menjadikan ilah-ilah itu menjadi satu Ilah.” Mereka berkata, “Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”
ولا شك في وجوب الإيمان بتوحيد الربوبية إلا أنه ليس كل الواجب وليس هو مناط الإيمان والكفر ولا مناط التوحيد والشرك. وليس بمجرد الإقرار به يكون المرء موحداً.
Tidak diragukan bahwa beriman kepada Tauhid Rububiyah adalah wajib. Akan tetapi, ia bukanlah seluruh kewajiban, dan bukan pula satu-satunya tolok ukur iman dan kufur ataupun tauhid dan syirik. Seseorang tidak otomatis menjadi seorang muwahhid hanya dengan mengakui Tauhid Rububiyah.
وتوحيد الربوبية هو ما سماه المتكلمون بتوحيد الأفعال، بمعنى أن لا شريك له فيها، وهو الذي أنهى المتكلمون عقولهم في تقريره والاستدلال عليه، وظنوا ـ خطأ ـ أنه التوحيد الذي بعثت به الرسل وأنزلت الكتب وأنه الذي يتعلق به حد التوحيد والشرك.
Tauhid Rububiyah inilah yang oleh para mutakallim disebut sebagai Tauhid al-Af‘al, yakni bahwa Allah tidak memiliki sekutu dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Pada persoalan inilah para mutakallim mengerahkan pemikiran mereka dalam menetapkan dan membuktikannya. Mereka mengira—menurut kritik Ibn Taimiyyah, secara keliru—bahwa inilah tauhid yang untuknya para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan, serta bahwa pada tauhid inilah batas antara tauhid dan syirik ditentukan.
وخلطوا في ذلك بين معنى الربوبية، ومعنى الألوهية، فجعلوا معنى الإلهية القدرة على الاختراع، واعتقدوا أن الإله هو القادر على الاختراع، وجعلوا هذا أخص صفات الإله.6
Mereka mencampuradukkan antara makna rububiyah dan makna uluhiyah. Mereka menjadikan makna ketuhanan sebagai kemampuan untuk mencipta, menganggap bahwa ilah adalah pihak yang mampu mencipta, dan menjadikan kemampuan tersebut sebagai sifat paling khusus dari ilah.
ولقد أخطأ المتكلمون في معرفة حقيقة التوحيد وفي الطرق التي سلكوها في تقرير هذا التوحيد، ولم يقدروا أدلة القرآن حق قدرها، ولما ظنوا أن مجرد الاعتقاد في توحيد الربوبية كاف في حقيقة التوحيد أخذوا يستدلون على ذلك بأدلة لا ترقى إلى تقرير التوحيد كما جاءت به الرسل، وكما أراده الله من عباده.
Menurut Ibn Taimiyyah, para mutakallim keliru dalam memahami hakikat tauhid dan dalam jalan yang mereka tempuh untuk menetapkannya. Mereka tidak menempatkan dalil-dalil Al-Qur’an sebagaimana mestinya. Ketika mereka mengira bahwa sekadar keyakinan terhadap Tauhid Rububiyah telah mencukupi hakikat tauhid, mereka menggunakan dalil-dalil yang tidak mencapai penetapan tauhid sebagaimana yang dibawa para rasul dan sebagaimana yang Allah kehendaki dari para hamba-Nya.
وجعلوا الآية الكريمة «لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا» على أن هذا دليل التمانع الذي يستدلون به على إثبات التوحيد.
Mereka juga menjadikan firman Allah, “Seandainya pada langit dan bumi terdapat ilah-ilah selain Allah, niscaya keduanya telah rusak,” sebagai dalil at-tamānu‘ yang mereka gunakan untuk menetapkan tauhid.
ويرى ابن تيمية ـ موافقاً في ذلك ابن رشد ـ أن الآية ليست مشتملة على دليل التمانع، لأن دليل التمانع الذي يتحدثون عنه هو امتناع صدور العالم عن ربين خالقين له.
Ibn Taimiyyah—dan dalam hal ini sejalan dengan Ibn Rusyd—memandang bahwa ayat tersebut tidak memuat dalil at-tamānu‘ sebagaimana yang mereka maksudkan. Sebab dalil at-tamānu‘ yang mereka bicarakan berkaitan dengan kemustahilan alam ini berasal dari dua Rabb yang sama-sama menciptakannya.
فظنوا أن الآية مسوقة لنفي الشركة في الربوبية، وصار كل منهم يذكر في ذلك طريقاً غير طريق صاحبه.
Mereka mengira ayat tersebut dimaksudkan untuk meniadakan adanya sekutu dalam rububiyah. Karena itu masing-masing dari mereka menempuh cara argumentasi yang berbeda dari yang lain.
والآية ليست مسوقة لنفي التعدد في الربوبية لأن هذا لم يذهب إليه أهل الشرك، بل هي مسوقة لنفي التعدد في الألوهية، ونفي أن يكون هناك من يستحق العبادة من دون الله، لأن توحيد الربوبية كان معترفاً به من جميعهم، فليسوا في حاجة إلى تقريره، وإنما هم في حاجة إلى بيان أن من أقروا بربوبيته وحده يجب أن يعبد وحده.
Ayat tersebut bukanlah dimaksudkan untuk meniadakan banyaknya Rabb dalam rububiyah, sebab keyakinan seperti itu bukanlah pokok persoalan kaum musyrik. Ayat tersebut justru dimaksudkan untuk meniadakan banyaknya ilah dalam uluhiyah dan meniadakan adanya pihak selain Allah yang berhak disembah. Sebab Tauhid Rububiyah telah mereka akui. Mereka tidak membutuhkan penetapan kembali mengenai hal itu; yang mereka butuhkan adalah penjelasan bahwa Zat yang telah mereka akui sebagai satu-satunya Rabb, hanya Dia pula yang wajib mereka sembah.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Ar-Risālah at-Tadmuriyyah, hlm. 101.
- Surah az-Zumar ayat 38.
- Surah az-Zukhruf ayat 87.
- Lihat Minhāj as-Sunnah, 2/62, cetakan Bulaq; dan risalah al-Hasanah wa as-Sayyi’ah karya Ibn Taimiyyah, hlm. 260, dalam kumpulan terbitan Anshar as-Sunnah al-Muhammadiyyah.
- Surah Shad ayat 5.
- Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql, 4/321, manuskrip.
Leave a Reply