درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 10)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
وفي مقام الاستدلال على نفي التعدد في الألوهية نجد ابن تيمية يستدل بالآية الكريمة «مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ».1
Dalam konteks membuktikan tidak adanya banyak ilah dalam uluhiyah, Ibn Taimiyyah berdalil dengan firman Allah, “Allah tidak mempunyai anak dan tidak ada ilah lain bersama-Nya. Jika demikian, niscaya setiap ilah akan membawa apa yang diciptakannya dan sebagian mereka akan mengalahkan sebagian yang lain.”
الأول: أنه إن يكون كل إله قادراً فيتحقق الغرض الأول وهو قوله «إذا لذهب كل إله بما خلق»، وانتفاء اللازم يدل على انتفاء الملزوم.
Pertama: jika setiap ilah benar-benar memiliki kekuasaan, niscaya konsekuensi pertama akan terjadi, sebagaimana firman-Nya, “setiap ilah akan membawa apa yang diciptakannya.” Tidak terjadinya konsekuensi tersebut menunjukkan tidak adanya sebab yang mengharuskannya.
الثاني: أن يكون أحدهم قادراً دون الآخرين، وهنا يصدق الغرض الثاني وهو قوله «ولعلا بعضهم على بعض»، ومعلوم أن ذلك لم يقع، فدل ذلك على امتناع أن يكون هناك إله قادر، وآخر عاجز، ولو فرض وقوع ذلك لكان القادر هو الإله دون بقية الآلهة، وعند ذلك يستحق العبادة وحده دون غيره.
Kedua: salah satu dari mereka berkuasa sedangkan yang lainnya tidak. Dalam keadaan ini, konsekuensi kedua berlaku, yaitu firman-Nya, “dan sebagian mereka akan mengalahkan sebagian yang lain.” Telah diketahui bahwa hal itu tidak terjadi. Ini menunjukkan mustahil adanya satu ilah yang berkuasa dan ilah lainnya yang lemah. Seandainya hal itu terjadi, pihak yang berkuasa itulah yang menjadi ilah, bukan yang lainnya, dan hanya dialah yang berhak disembah.
فالآية تضمنت لازمين كلاهما منتف بالمشاهدة، وانتفاء كل واحد منهما يدل على أنه ليس هناك إله واحد بعد دون سواه.
Ayat tersebut mengandung dua konsekuensi, dan keduanya terbukti tidak terjadi dalam kenyataan. Tidak adanya masing-masing konsekuensi itu menunjukkan bahwa tidak ada ilah selain Allah semata.
وهذا هو مطلوب الآية، وهو المقصود من التوحيد الذي بعثت لأجله الرسل.
Inilah tujuan ayat tersebut, dan inilah pula tauhid yang menjadi tujuan diutusnya para rasul.
والقرآن قد استعمل في نفي الشركة في العبادة الأمثال المشاهدة أمام الإنسان وعليه أن يستعمل في ذلك قياس الأولى بالنسبة لله؛ كما في قوله تعالى: «ضَرَبَ لَكُمْ مَثَلًا مِنْ أَنْفُسِكُمْ هَلْ لَكُمْ مِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ شُرَكَاءَ فِيمَا رَزَقْنَاكُمْ».2
Al-Qur’an juga menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang dapat disaksikan manusia untuk meniadakan adanya sekutu dalam ibadah. Dari sana manusia dituntut menggunakan qiyas al-awla terhadap Allah, sebagaimana firman-Nya, “Dia membuat bagi kalian perumpamaan dari diri kalian sendiri: apakah di antara budak-budak yang kalian miliki ada sekutu bagi kalian dalam rezeki yang Kami berikan kepada kalian?”
ومعلوم أن مملوك الرجل لا يكون شريكه بحال ما، فإذا كان هذا شأن الإنسان مع عبده ـ ولله المثل الأعلى ـ فلماذا يجعلون عبيد الله ومملوكيه شركاء معه في عبادته.
Sudah diketahui bahwa seorang budak milik seseorang tidak mungkin menjadi sekutu pemiliknya. Jika demikian keadaan manusia terhadap hambanya—dan bagi Allah perumpamaan yang paling tinggi—mengapa mereka menjadikan hamba-hamba Allah dan makhluk milik-Nya sebagai sekutu bersama-Nya dalam ibadah?
ثم يمنح القرآن أمامنا دليلاً آخر في نفي التعدد في الألوهية: «قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ».3
Kemudian Al-Qur’an memberikan kepada kita dalil lain untuk meniadakan banyaknya ilah dalam uluhiyah: “Katakanlah: serulah mereka yang kalian anggap sebagai ilah selain Allah. Mereka tidak memiliki seberat zarrah pun di langit maupun di bumi, mereka tidak mempunyai bagian apa pun dalam keduanya, dan tidak seorang pun dari mereka menjadi penolong bagi-Nya.”
فالآية توجه إلى المشركين هذا السؤال: هل الذين تعبدونهم من دون الله يملكون مثقال ذرة في السماوات أو في الأرض على سبيل الاستقلال أو على سبيل الشركة؟
Ayat tersebut menghadapkan pertanyaan ini kepada kaum musyrik: apakah mereka yang kalian sembah selain Allah memiliki seberat zarrah pun di langit atau bumi, baik secara mandiri maupun sebagai sekutu?
وهل عاون أحد منهم في خلق السماوات والأرض؟
Dan apakah salah seorang dari mereka pernah membantu dalam penciptaan langit dan bumi?
بالطبع الجواب من نفوس المشركين على ذلك بالنفي، فقد كانت مسألة في نفوسهم من قبل ووقوع الشرك في هذا العالم، فيقول لهم: إن الشفاعة لا تحصل عنده إلا بإذنه، فلا يستحقون العبادة من دونه.
Jawaban yang secara alami muncul dari diri kaum musyrik adalah penolakan. Mereka sebelumnya telah mengakui rububiyah Allah sekalipun tetap terjatuh dalam syirik. Karena itu dikatakan kepada mereka bahwa syafaat di sisi Allah pun tidak terjadi kecuali dengan izin-Nya; maka tidak ada selain-Nya yang berhak disembah.
وعلى هذا النحو من البساطة والوضوح يقدم ابن تيمية أدلة القرآن على توحيد الألوهية، وهي أدلة عقلية وشرعية في نفس الوقت تدفع عنها شبهة جميع العقول.
Dengan kesederhanaan dan kejelasan seperti inilah Ibn Taimiyyah mengemukakan dalil-dalil Al-Qur’an mengenai Tauhid Uluhiyah. Dalil-dalil tersebut sekaligus bersifat rasional dan syar‘i, sehingga mampu menyingkirkan berbagai syubhat yang muncul dalam pemikiran manusia.
فليس إثبات التوحيد عنده استعمال هذه الألفاظ المجملة التي أوضحت المتكلمين في الاضطراب، واشتراك مدلولاتها في أنفسهم عن المعنى، إذ لم يجد محمد ﷺ ولم يقله، ولم يكن له ﷺ مثل هذا.
Bagi Ibn Taimiyyah, menetapkan tauhid bukanlah dengan menggunakan istilah-istilah global yang justru menjerumuskan para mutakallim ke dalam kerancuan dan tumpang tindih makna. Metode semacam itu tidak berasal dari apa yang dibawa dan disampaikan oleh Muhammad ﷺ.
موقفه بين التشبيه والتنزيه
Sikap Ibn Taimiyyah antara Tasybih dan Tanzih
لقد وضع القرآن أمامنا آيات عديدة يدور الحديث فيها حول تنزيه الله تعالى عن مشابهة الحوادث مثل قوله «ليس كمثله شيء»، «ولم يكن له كفواً أحد»، وأنه تعالى أحد صمد، لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفواً أحد.
Al-Qur’an telah meletakkan di hadapan kita banyak ayat yang berbicara tentang penyucian Allah Ta‘ala dari keserupaan dengan makhluk, seperti firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya,” dan “Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” Allah juga Maha Esa dan ash-Shamad, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.
ذكر القرآن جميع الصفات الإلهية التي وصف الله بها نفسه من العلم والقدرة والعلو والاستواء، والعين واليدين والسمع والبصر، والإتيان في ظلل الغمام وغير ذلك.
Al-Qur’an menyebut berbagai sifat Ilahi yang dengannya Allah menyifati diri-Nya, seperti ilmu, kekuasaan, ketinggian, istiwa’, mata, dua tangan, pendengaran, penglihatan, datang dalam naungan awan, dan sifat-sifat lainnya.
وطلب من المؤمنين أن يؤمنوا بجميع صفاته تعالى وآيات كتابه الكريم، ومنها آيات التنزيه. وعلم بذلك ظن البعض أن إثبات الصفات يقتضي مشابهة الله لخلقه أو تجسيمه، فإن الله تعالى قد أثبت لنفسه صفات لا تشبه صفات خلقه.
Al-Qur’an menuntut kaum beriman untuk mengimani seluruh sifat Allah Ta‘ala dan semua ayat dalam Kitab-Nya, termasuk ayat-ayat tanzih. Karena itu, anggapan sebagian orang bahwa menetapkan sifat-sifat Allah berarti menyerupakan Allah dengan makhluk atau menjisimkan-Nya tidaklah tepat dalam kerangka ini, sebab Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat-sifat yang tidak menyerupai sifat makhluk-Nya.
وأنه استوى على عرشه، ويجيء يوم القيامة، ويأتي في ظلل من الغمام، وأنه تعالى موصوف بهذه الصفات حقيقة لا مجازاً، ما دام يعتقد أنه سبحانه لا كمثله شيء في صفاته، كما أنه لا يشبه شيء في ذاته، ولم يكن له كفواً أحد فيها.
Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, datang pada hari Kiamat, dan datang dalam naungan awan. Menurut kerangka yang dijelaskan penulis, Allah benar-benar disifati dengan sifat-sifat tersebut secara hakiki, bukan majazi, selama tetap diyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dalam sifat-sifat-Nya, sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Zat-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
لأن الله سبحانه أعلم منا بنفسه، وكل نبي من عنده أخبرنا عنه، وغاية ما يمكن أن ينزه عنه من صفات المحدثين، وما عامل العبد في ذلك إلا أن يثبت وجود الصفة لله كما أثبتها الله لنفسه أو أثبتها له رسوله، ولا يسأل عن كيفية تلك الصفة أو يشبه نفسه بذلك.
Allah سبحانه وتعالى lebih mengetahui diri-Nya daripada kita. Setiap nabi yang datang dari sisi-Nya menyampaikan kepada kita berita tentang-Nya. Yang harus dilakukan seorang hamba adalah menyucikan Allah dari sifat-sifat makhluk, sekaligus menetapkan bagi Allah sifat yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya atau yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya, tanpa menanyakan bagaimana hakikat sifat tersebut dan tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk.
وبهذا المعنى فقد أخذ ابن تيمية في أساس الألوهية في رسالته إلى أهل حماة وكتابه «الإبانة عن أصول الديانة» وكتاب «اللمع»، فهو يرى أن الله موصوف بما وصف به نفسه من مختلف الصفات، وأن هذه الصفات لا يمكن إدراك كيفيتها.
Dengan pengertian ini, Ibn Taimiyyah membahas persoalan sifat-sifat ketuhanan dalam risalahnya kepada penduduk Hama serta dalam pembahasannya terhadap karya-karya seperti al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah dan al-Luma‘. Ia memandang bahwa Allah disifati dengan apa yang Dia tetapkan bagi diri-Nya berupa berbagai sifat, sedangkan hakikat bagaimana sifat-sifat tersebut tidak dapat dijangkau.
وصرح بأن هذه الصفات عيان لا حقيقة، لأن غير موجود مع حقيقة كمصدر المجاز أو أنه لا يعلم معناها أحد من السلف.
Ia menegaskan bahwa sifat-sifat tersebut harus diterima sebagaimana datangnya, bukan dialihkan kepada pemaknaan yang membatalkan hakikatnya dengan alasan majaz atau dengan anggapan bahwa tidak seorang pun dari generasi salaf mengetahui maknanya.
ومع أن ابن تيمية يصرح بنفي التعطيل والتشبيه والتكييف لهذه الصفات، إلا أن خصومه ـ وما أكثرهم ـ نسبوا إليه أقوالاً ما كان أبعده عنها، وكثيراً ما نسبوا إليه القول بالتشبيه والتجسيم واتهموه بالتجسيم، والتشبيه، وأنه يقرأ القرآن وقراءته الظاهرية، وغير ذلك من الاتهامات التي برأ نفسه منها وهو ما زال على قيد الحياة.
Meskipun Ibn Taimiyyah secara tegas menolak ta‘thil, tasybih, dan takyif terhadap sifat-sifat tersebut, para penentangnya—yang jumlahnya sangat banyak—menisbatkan kepadanya berbagai pendapat yang menurut penulis sangat jauh darinya. Ia kerap dituduh menganut tasybih, tajsim, membaca Al-Qur’an secara zahiri, dan berbagai tuduhan lain yang telah ia bantah sejak masih hidup.
وأحب أن أوضح هنا حقيقة هامة في فهم منهج ابن تيمية، فالرجل قد خاض غمار الفلسفة وعلم الكلام والتصوف وكشف الغامض من ذلك ووضح المبهم.
Di sini penting dijelaskan satu hal mengenai pemahaman terhadap metode Ibn Taimiyyah. Ia telah mendalami filsafat, ilmu kalam, dan tasawuf, serta berusaha menyingkap hal-hal yang samar dan menjelaskan yang sulit dipahami.
وكان إذا ناقش الفلاسفة أو المتكلمين فإنه يختار مصدر الرأي ومغزاه، وإذا تحدث عن التصوف تجد ما لم يصر نقلاً إلى أسرار الصوفية وما يمكن أن أقوله هنا أن الرجال ومولاه وأقواله قد ذهبوا في تأويل القرآن إلى حد التحريف والتبديل لأن القرآن قد عارض الظاهر عندهم من القضايا التي أحيطوا بها من جنس المعقول.
Ketika membahas para filsuf atau mutakallim, ia berusaha menelusuri sumber dan maksud pendapat mereka. Ketika berbicara tentang tasawuf, ia pun memasuki pembahasan mengenai berbagai istilah dan rahasia yang digunakan kalangan sufi. Menurut uraian penulis, sebagian kelompok tersebut membawa takwil Al-Qur’an hingga mendekati perubahan makna, karena menurut mereka makna zahir Al-Qur’an bertentangan dengan sebagian prinsip rasional yang telah mereka pegang sebelumnya.
وهي ليست من المعقول في شيء، فأراد ابن تيمية أن يكشف لنا نقابه عن هؤلاء في نقطتين هامتين:
Menurut Ibn Taimiyyah, perkara-perkara tersebut sebenarnya tidak termasuk rasionalitas yang benar. Karena itu ia berusaha menyingkap persoalan tersebut melalui dua pokok penting:
الأولى: أن العقل الصريح في دلالاته على المراد لا يمكن أن يعارض النقل الصحيح الثابت، لأن العقل والنقل وسيلتان لغاية واحدة هي الوصول إلى الله، والوسائل التي تؤدي إلى غاية واحدة لا يمكن لها أن تتعارض، وإنما تتعاضد وتتآزر في سبيل الوصول إلى الحقيقة المرادة.
Pertama: akal yang jernih dan benar dalam menunjukkan maksudnya tidak mungkin bertentangan dengan dalil naqli yang sahih dan tetap. Sebab akal dan dalil naqli merupakan dua sarana menuju satu tujuan, yaitu sampai kepada kebenaran tentang Allah. Sarana-sarana yang menuju satu tujuan yang sama tidak mungkin saling bertentangan; sebaliknya, keduanya saling menopang dan saling menguatkan dalam mencapai kebenaran yang dimaksud.
الثانية: بيان أن مذاهب الفلاسفة والمتكلمين والصوفية بما يقولون إنه قد خالف ظاهر القرآن، وخاصة في الأسماء والصفات، ليس دليلاً عقلياً حتى يقال إن المنقول الصحيح قد عارضه، ولابد من التأويل بما تعارض بينهما.
Kedua: menjelaskan bahwa berbagai pendapat para filsuf, mutakallim, dan sebagian kalangan sufi yang mereka klaim bertentangan dengan makna zahir Al-Qur’an—terutama dalam persoalan nama dan sifat Allah—bukanlah dalil rasional yang pasti sehingga dapat dikatakan bahwa dalil naqli yang sahih bertentangan dengannya dan karena itu harus ditakwilkan.
وفي سبيل تقرير هاتين الحقيقتين يجد ابن تيمية يلجأ إلى طريقة بارعة في إبطال حجج المخالفين للكتاب والسنة، حيث يلجأ إلى مقارنة حجج الخصوم بعضها ببعض ليبين تناقضها كلها من أدلة بعضهم.
Untuk menetapkan kedua prinsip tersebut, Ibn Taimiyyah menggunakan metode yang menurut penulis sangat cermat dalam membatalkan hujah pihak-pihak yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah. Ia membandingkan argumentasi para penentang satu sama lain untuk menunjukkan bahwa dalil-dalil mereka saling bertentangan.
وقد يطول به المقام في ذلك إلى قدر كبير من الصفحات في كتبه التي يقرر فيها بطلان دعوى هؤلاء وهؤلاء، وهو في كل ذلك لا يجهر عن رأيه هو وإنما يحكي ما يعارض آراء معارضيه بحجج بعضهم ببعض، ثم يفتح الباب منها بعضها فضلاً عن مخالفتها لهما جميعاً.
Pembahasan seperti ini terkadang berlangsung sangat panjang dalam karya-karyanya ketika ia menjelaskan kelemahan klaim berbagai kelompok tersebut. Dalam banyak keadaan ia tidak sekadar mengemukakan pendapatnya sendiri, tetapi mempertemukan argumentasi satu kelompok dengan argumentasi kelompok lainnya, sehingga pertentangan di antara mereka sendiri menjadi tampak, sebelum kemudian menunjukkan bahwa pendapat-pendapat itu juga menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Leave a Reply