درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 11)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
أو يقول، والمقصود هنا بيان أن من خرج عن الكتاب والسنة ضل سعيه وخاب أمله.
Atau dengan ungkapan lain, yang dimaksud di sini adalah menjelaskan bahwa siapa yang keluar dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka usahanya akan tersesat dan harapannya akan sia-sia.
والسؤال الذي يطرح نفسه الآن هو: إذا أراد الباحث أن يقف على رأي ابن تيمية وعقيدته التي يدين بها، فهل من الصواب في ذلك أن يبحث عنها خلال مناقشاته للخصوم وبيان ثغرات حججهم ومناقضتهم بعضهم لبعض؟ أم أن الصواب في ذلك أن نأخذها منه هو مصرحاً بما يعتقده ويدين به صراحة بلا لبس ولا التواء؟
Pertanyaan yang sekarang muncul adalah: apabila seorang peneliti ingin mengetahui pandangan Ibn Taimiyyah dan akidah yang ia yakini, apakah tepat mencarinya melalui perdebatan-perdebatannya dengan para penentang, ketika ia sedang menunjukkan kelemahan hujah mereka dan pertentangan mereka satu sama lain? Ataukah yang benar adalah mengambilnya langsung dari pernyataan Ibn Taimiyyah sendiri, ketika ia secara terang menjelaskan apa yang ia yakini dan anut tanpa kesamaran dan tanpa berbelit-belit?
إن النظرة العلمية والمنهج السليم يقتضي علينا أن نتلقى رأي ابن تيمية في جميع المسائل التي تعرض لها منه كما صرح به بدون لبس أو غموض، وليس من الصواب أن نذهب في متابعته قولاً وقولاً، وندعي أن معارضته لهذا الرأي أو ذاك تدل على أنه يمثل نقيضه كل النقيض بدون تخصيص، وهو لم يقل صراحة إنه لا يرى إلا ذلك.
Pandangan ilmiah dan metode yang benar menuntut kita untuk menerima pendapat Ibn Taimiyyah dalam seluruh persoalan yang dibahasnya berdasarkan apa yang ia nyatakan sendiri secara jelas, tanpa kesamaran atau ketidakjelasan. Tidak tepat mengikuti setiap bantahannya lalu menganggap bahwa penolakannya terhadap suatu pendapat otomatis berarti ia menganut kebalikan mutlak dari pendapat tersebut, padahal ia sendiri tidak pernah menyatakan demikian secara tegas.
وإذا كان هذا رأياً فلا بد أن نرجع في عقيدته إلى كتبه الصحيحة التي أجمع عليها سلف الأمة، كالعقيدة الواسطية، والعقيدة الحموية، ونعرض ما كتبناه في مواطن عدة من كتبه الأخرى، كالفرقان بين الحق والباطل، ومذهب أهل السنة وعرش الرحمن وما ورد فيه من الآيات وغير ذلك من كتبه.
Jika demikian, maka dalam mengetahui akidah Ibn Taimiyyah kita harus kembali kepada karya-karyanya yang secara langsung menjelaskan persoalan tersebut, seperti al-‘Aqidah al-Wasithiyyah dan al-‘Aqidah al-Hamawiyyah, serta membandingkannya dengan berbagai pembahasan lain dalam karya-karyanya, seperti pembicaraan mengenai pemisahan antara kebenaran dan kebatilan, mazhab Ahlus Sunnah, ‘Arsy ar-Rahman, ayat-ayat yang berbicara tentangnya, dan kitab-kitabnya yang lain.
ففي كتاب العقيدة الواسطية يقول ابن تيمية: «ومن الإيمان بالله: الإيمان بما وصف به نفسه ووصفه به رسوله من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل…».
Dalam kitab al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, Ibn Taimiyyah berkata, “Termasuk iman kepada Allah adalah beriman kepada apa yang dengannya Allah menyifati diri-Nya dan apa yang dengannya Rasul-Nya menyifati-Nya, tanpa tahrif, tanpa ta‘thil, tanpa takyif, dan tanpa tamtsil.”
فنحن لسنا أمام من يقول بنفي الصفات أو تأويلها على وجه يخرجها عن مدلولها، وإنما أمام من يقول بإثبات ما أثبته الله لنفسه وما أثبته له رسوله.
Dengan demikian, kita tidak sedang berhadapan dengan seseorang yang meniadakan sifat-sifat Allah atau menakwilkannya dengan cara yang mengeluarkannya dari makna yang ditunjukkannya. Kita berhadapan dengan seseorang yang menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dan apa yang Rasul-Nya tetapkan bagi-Nya.
بما وصف به نفسه أو وصفه به رسوله، وبما وصفه به السابقون الأولون، لا يتجاوز القرآن والحديث، وهو سبحانه ليس كمثله شيء في نفسه المقدسة المذكورة بأسمائه وصفاته، ولا أفعاله، فكما تيقن أن الله سبحانه له ذات حقيقة، كذلك له صفات حقيقة، وهو ليس كمثله شيء لا ذاته ولا صفاته ولا أفعاله.
Ia menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, apa yang Rasul-Nya tetapkan bagi-Nya, serta apa yang diterima generasi terdahulu, tanpa melampaui Al-Qur’an dan hadis. Allah سبحانه وتعالى tidak serupa dengan sesuatu pun, baik dalam Zat-Nya yang suci, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Sebagaimana diyakini bahwa Allah memiliki Zat yang hakiki, demikian pula Dia memiliki sifat-sifat yang hakiki, tetapi tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dalam Zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.
وفي مقام حديثه عن الاستواء يقول: «القول الفاصل هو ما عليه الأمة الوسط من أن مسمى علمه وقدرته وسمعه وبصره ورحمته… مختصة به كما أن ذاته مختصة به».
Dalam pembahasannya mengenai istiwa’, ia menjelaskan bahwa sikap yang memisahkan persoalan dengan benar adalah jalan umat pertengahan: apa yang disebut sebagai ilmu Allah, kekuasaan-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, rahmat-Nya, dan sifat-sifat lainnya adalah khusus bagi-Nya, sebagaimana Zat-Nya juga khusus bagi-Nya.
ولا أريد أن أسرد ما ذكره من النصوص التي تذهب مذهب ابن تيمية في نفي المماثلة بين الله وبين مخلوقاته، فهذا أمر واضح لمن كتبه عن ذكر ذلك صراحة.
Saya tidak bermaksud di sini memaparkan seluruh nash yang dikemukakannya untuk meniadakan keserupaan antara Allah dan makhluk-Nya. Hal tersebut telah cukup jelas bagi siapa yang membaca karya-karyanya, karena ia menyatakannya secara terang.
ولكن من أين لأعداء ابن تيمية أن يتهموه بالتجسيم والتشبيه إذا كان هذا مذهبه؟
Namun jika demikian mazhabnya, dari manakah para penentang Ibn Taimiyyah memperoleh dasar untuk menuduhnya menganut tajsim dan tasybih?
ولقد حيك حول ابن تيمية كثير من المؤامرات، ورمي بالكفر والإلحاد، ووضعت الأكاذيب عليه، وما كان ليقبل ابن تيمية أن يسلك منهجاً سياسياً يرضي خصومه، فكما نيل منه في حياته فقد تعرض تراثه كذلك لأيدي العابثين من ورثته، وحتى ألفاظه التي كتبها في كتبه تعرض بعضها للتحريف مما هو بريء منه.
Banyak tuduhan dan intrik diarahkan kepada Ibn Taimiyyah. Ia dituduh kafir dan menyimpang, serta berbagai kebohongan dinisbatkan kepadanya. Ibn Taimiyyah bukanlah tipe orang yang bersedia menempuh jalan kompromistis hanya untuk menyenangkan lawan-lawannya. Sebagaimana dirinya mengalami serangan semasa hidup, warisan tulisannya pun kemudian mengalami perlakuan dari orang-orang yang tidak amanah, bahkan sebagian ungkapan dalam karya-karyanya mengalami perubahan yang sebenarnya tidak berasal darinya.
وجميع الاتهامات التي وجهت إلى الإمام ابن تيمية سواء في حياته أو بعد مماته لا تكاد تخرج عن غلطتين من الحديث:
Berbagai tuduhan yang diarahkan kepada Imam Ibn Taimiyyah, baik semasa hidupnya maupun setelah wafatnya, menurut penulis hampir seluruhnya kembali kepada dua kekeliruan pokok:
الخطأ الأول
Kekeliruan Pertama
غلط من الحديث مكذوب وبعض افتراه عليه بقصد التشنيع والتشويه، مثل ما ينسبونه أنه يحكي الحديث المشهور الذي كان يروى عن الإمام أحمد، وكان ابن تيمية كان يجلس في صحن الجامع الأموي فذكر ووعظ ثم قال: «إن الله تعالى ينزل عشية عرفة كنزولي هذا» ونزل درجة من درج المنبر.
Kekeliruan pertama berasal dari sebuah riwayat yang dibuat-buat dan dinisbatkan kepadanya dengan tujuan mencela dan merusak citranya. Di antaranya kisah bahwa Ibn Taimiyyah pernah duduk di halaman Masjid Jami‘ Umawi, memberikan nasihat, lalu berkata, “Sesungguhnya Allah Ta‘ala turun pada malam ‘Arafah sebagaimana aku turun seperti ini,” kemudian ia turun satu anak tangga dari mimbar.
ومثل دعواه أيضاً: أن ابن تيمية يقول بأن الله ينزل إلى سماء الدنيا إلى مرجة خضراء وفي رجليه نعلان من ذهب.
Demikian pula tuduhan bahwa Ibn Taimiyyah mengatakan Allah turun ke langit dunia menuju suatu padang hijau dan pada kedua kaki-Nya terdapat dua sandal dari emas.
الخطأ الثاني
Kekeliruan Kedua
وهو اتهامه بالتشبيه والتجسيم نتيجة الخطأ في فهم مذهبه، وهذه الدعوى قديمة أيضاً فقد توارثها ابن تيمية نقلاً على كتب المعاصرين إلى اليوم.
Kekeliruan kedua adalah tuduhan bahwa ia menganut tasybih dan tajsim akibat kesalahan dalam memahami mazhabnya. Tuduhan ini juga telah muncul sejak lama dan kemudian diwariskan dari satu karya kepada karya lain hingga tulisan-tulisan masa berikutnya.
وسبب الخطأ عند هؤلاء أن ابن تيمية في نقاشه لخصومه كان ذا نفس طويل في إيراد حجج الخصوم وحكايتها، فظن بعض الباحثين ـ خطأ ـ بأن آراء ابن تيمية هي التي يعارض بها خصومه.
Penyebab kekeliruan sebagian orang adalah bahwa Ibn Taimiyyah, ketika berdiskusi dengan para penentangnya, sangat panjang dalam mengemukakan dan menukil argumentasi mereka. Sebagian peneliti kemudian secara keliru menganggap bahwa pendapat yang sedang ia kutip dalam rangka membantah lawan adalah pendapat Ibn Taimiyyah sendiri.
ويمكن تقديم موقف ابن تيمية مما نسب إليه أنه لا يستعمل الألفاظ المجملة إلا في النفي ولا في الإثبات كالجسم والحيز والجهة وغيرها من استعمال هذه الألفاظ.
Sikap Ibn Taimiyyah terhadap istilah-istilah yang dinisbatkan kepadanya dapat dijelaskan dari prinsip bahwa ia tidak menggunakan lafaz-lafaz global dan ambigu secara mutlak dalam penetapan maupun penafian, seperti istilah jism, hayyiz, jihah, dan istilah sejenis.
وفي التنبيه على ذلك فلا يسلم من الاضطرابات لما يلزم من الجهالات، ولا نعرف لفظاً من هذه الألفاظ المجملة حتى يبين معناها المراد به وإبهامه، فهو إذا ناقش النفاة على نفي الصفات الإلهية لا يبيح عندهم حجة سوى القول بأن إثبات الصفات يؤدي إلى التجسيم والتحيز والجهة.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa penggunaan istilah-istilah global semacam ini dapat menimbulkan kekacauan jika makna yang dimaksud tidak terlebih dahulu dijelaskan. Ketika ia membahas kelompok yang menafikan sifat-sifat Ilahi, mereka sering menjadikan anggapan bahwa penetapan sifat akan membawa kepada tajsim, keberadaan dalam ruang, atau arah sebagai dasar argumentasinya.
ومن ثم فإن الألفاظ نوعان:
Karena itu, lafaz-lafaz semacam ini menurutnya terbagi menjadi dua macam:
لفظ ورد في الكتاب والسنة وأجمع عليه سلف الأمة، فهذا يجب القول به والأخذ بموجبه لأن الرسول لا يقول إلا حقاً.
Pertama: lafaz yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah serta diterima oleh generasi salaf umat. Lafaz seperti ini wajib diterima dan ditetapkan sesuai kandungannya, karena Rasul tidak mengatakan kecuali kebenaran.
والثاني: لفظ لم يرد به دليل شرعي كهذه الألفاظ المجملة، وتكون المعارضة بها معارضة غير صحيحة، وتجمد على أن معناها المسؤول أن يقال لقائله: ماذا تريدون بالجهة؟
Kedua: lafaz yang tidak terdapat dalil syar‘i mengenainya, seperti istilah-istilah global tersebut. Menolak atau menetapkannya begitu saja bukanlah cara yang benar. Yang harus dilakukan adalah menanyakan kepada orang yang menggunakannya: “Apa yang Anda maksud dengan ‘arah’?”
أتريدون بالجهة أنها شيء مخلوق؟ إذا أقررتم هذا المعنى واتفقتم عليه، فالله ليس في شيء من مخلوقاته ولكن نتكلمكم في استعمال اللفظ لأنه لم يرد به أثر إثباتاً ولا نفياً.
Apakah yang dimaksud dengan arah adalah sesuatu yang diciptakan? Jika itulah makna yang dimaksud dan disepakati, maka Allah tidak berada di dalam sesuatu pun dari makhluk-Nya. Namun pembicaraan tetap harus dibedakan dari penggunaan istilah tersebut, sebab istilah itu sendiri tidak datang dalam nash, baik untuk menetapkannya maupun menafikannya.
أم تريدون بها علوه تعالى؟ ولا ريب أن الله فوق خلقه عالٍ على عرشه. وهذا اللفظ لم يرد به الشرع إثباتاً ولا نفياً، وإنما المعنى الحق الوارد في القرآن مجرد هذه التسمية الباطلة.
Ataukah yang kalian maksud dengan “arah” adalah ketinggian Allah Ta‘ala? Tidak diragukan, menurut penjelasan Ibn Taimiyyah, bahwa Allah Mahatinggi di atas makhluk-Nya dan di atas ‘Arsy-Nya. Tetapi istilah “arah” itu sendiri tidak disebutkan oleh syariat, baik dalam bentuk penetapan maupun penafian. Yang diterima adalah makna benar yang datang dalam Al-Qur’an, bukan semata-mata istilah yang tidak berasal dari nash.
ومن اعتقد أن كون الله في السماء أنه تحويه أو تحيط به فهو كاذب إن نقله عن غيره، وضال إن اعتقده في ربه، وما سمعنا أحداً يفهمه من اللفظ، ولا رأينا أحداً نقله عن واحد، ولو سئل سائر المسلمين هل يفهمون من قول الله ورسوله إن الله في السماء أن السماء تحويه أو تحيط به لبادر كل أحد منهم أن يقول هذا شيء لم يخطر ببالنا.
Barang siapa memahami ungkapan bahwa Allah “di langit” dengan pengertian bahwa langit memuat atau meliputi-Nya, maka ia berdusta apabila menisbatkan pemahaman tersebut kepada orang lain dan tersesat apabila meyakininya tentang Rabb-nya. Ibn Taimiyyah menegaskan bahwa ia tidak mengetahui seorang pun yang memahami lafaz tersebut dengan makna demikian. Seandainya kaum Muslimin ditanya apakah firman Allah dan sabda Rasul mengenai Allah di atas langit berarti langit meliputi-Nya, niscaya mereka akan menjawab bahwa pemahaman semacam itu tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka.
وإذا أثبت ابن تيمية الصفات التي ورد بها السمع على حقيقتها لا على مجازها، وينفي عن ذلك كل معنى يوهم التشبيه والتجسيم، ولا يتردد في حمل الصفات على حقيقتها وفي أن تكون مجازاً.
Ketika Ibn Taimiyyah menetapkan sifat-sifat yang datang melalui wahyu menurut hakikatnya dan bukan sekadar majaz, ia sekaligus menafikan setiap makna yang mengandung kesan tasybih dan tajsim. Ia tidak menganggap penetapan hakikat sifat sebagai sesuatu yang dengan sendirinya berarti penyerupaan.
وليس معنى ذلك أن حقيقة هذه الصفات قد تشبه صفات المخلوقين، لأن حقيقة كل صفة تتبع حقيقة الذات الموصوفة بها، وإذا كنا لا نعلم كنه حقيقة الذات الإلهية إلا جهلنا بها وبكيفيتها فإن معرفتنا بصفاتها تكون تبعاً لمعرفتنا بذاتها.
Hal itu bukan berarti hakikat sifat-sifat Allah menyerupai sifat makhluk. Sebab hakikat setiap sifat mengikuti hakikat zat yang disifati dengannya. Apabila manusia tidak mengetahui hakikat Zat Ilahi dan bagaimana Zat tersebut, maka pengetahuan tentang bagaimana sifat-sifat-Nya pun mengikuti keterbatasan tersebut.
وقد قال بعضهم: العجز عن درك الإدراك إدراك، والبحث في ذات الله إشراك.
Sebagian ulama mengatakan, “Ketidakmampuan untuk menjangkau hakikat suatu pengetahuan adalah suatu bentuk pengetahuan, sedangkan menyelidiki hakikat Zat Allah adalah tindakan yang melampaui batas.”
ويقول أيضاً: من لم يعرف حقيقة ذاته كيف يعرف حقيقة صفاته؟
Ia juga mengatakan, “Siapa yang tidak mengetahui hakikat Zat-Nya, bagaimana mungkin ia mengetahui hakikat sifat-sifat-Nya?”
وكما أن الذات الإلهية موجودة حقيقة لا مجازاً، فكذلك الصفات الإلهية موجودة أيضاً حقيقة لا مجازاً.
Sebagaimana Zat Ilahi benar-benar ada secara hakiki dan bukan majazi, demikian pula sifat-sifat Ilahi benar-benar ada secara hakiki dan bukan majazi.
وإذا كان كنه الذات الإلهية مرفوعاً، فكذلك كيف صفاته تعالى مرفوع، ومع وضوح التنزيه عند ابن تيمية فإن جماعة من الدارسين قد شنعوا على مذهبه في الصفات وقالوا: إنه مشبه ومجسم، ودفعهم إلى ذلك كل مذهب، ولو أنصفوا لقرأوا تراث ابن تيمية وما اعتقدوه بكل الصراحة واكتفوا بما كتبه عنه خصومه وأعداؤه.
Sebagaimana hakikat Zat Ilahi tidak dapat dijangkau, demikian pula bagaimana sifat-sifat-Nya tidak dapat dijangkau. Meskipun prinsip tanzih ini dinyatakan dengan jelas dalam karya Ibn Taimiyyah, sejumlah peneliti tetap mencela mazhabnya dalam masalah sifat dan menuduhnya sebagai penganut tasybih dan tajsim. Menurut penulis, seandainya mereka bersikap adil, mereka semestinya membaca langsung warisan Ibn Taimiyyah dan pernyataan-pernyataannya yang jelas, bukan hanya mencukupkan diri dengan tulisan para penentang dan musuhnya.
Leave a Reply