درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 12)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
ولقد أردت بهذه المقدمة توضيح منهج ابن تيمية من مسائل الخلاف بينه وبين خصومه، وهي التي كانت مثار الاتهامات الموجهة إليه على كثرتها واختلافها.
Melalui pendahuluan ini, saya bermaksud menjelaskan metode Ibn Taimiyyah dalam berbagai persoalan perselisihan antara dirinya dan para penentangnya, yakni persoalan-persoalan yang menjadi sumber berbagai tuduhan yang diarahkan kepadanya, dengan segala banyak dan beragamnya tuduhan tersebut.
وقد أفردنا عما يستحيل عن موقف ابن تيمية من هذه الأصول بالتفصيل لأنها في بعض الأحيان قد تلتبس عند المخالفين فلم نرد معرفة حقيقة الموقف منها، والله أسأل أن يجعل هذا العمل مقبولاً لديه، وأن ينفعنا به ويلهمنا ما في كتب القوم، إنه نعم المولى ونعم النصير.
Kami telah berusaha memisahkan dan menjelaskan secara terperinci sikap Ibn Taimiyyah terhadap prinsip-prinsip tersebut, karena dalam sebagian keadaan persoalan-persoalan itu menjadi samar di hadapan para penentangnya, sehingga hakikat sikapnya tidak dipahami dengan benar. Kepada Allah saya memohon agar menjadikan pekerjaan ini diterima di sisi-Nya, memberi manfaat kepada kita dengannya, dan membimbing kita untuk memahami apa yang terdapat dalam karya-karya para ulama. Sesungguhnya Dia sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
ولا يسعني في هذا الموقف إلا أن أتقدم بخالص الشكر والعرفان لأسرة مركز الأهرام للترجمة والنشر على اهتمامها بقضية التراث ونشره وتقريبه للقارئ الكريم.
Dalam kesempatan ini, saya tidak dapat berbuat selain menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada keluarga Pusat al-Ahram untuk Penerjemahan dan Penerbitan atas perhatian mereka terhadap persoalan warisan keilmuan, penerbitannya, dan upaya mendekatkannya kepada pembaca yang mulia.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.
Dan akhir doa kami adalah: segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.
تقريب كتاب
درء تعارض العقل والنقل
Ringkasan Kitab
Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql
الفصل الأول
هل تتعارض الأدلة القطعية
Bab Pertama
Apakah Dalil-Dalil yang Pasti Dapat Saling Bertentangan?
تمهيد
Pengantar
هذا الكتاب «درء تعارض العقل والنقل» من أكبر فصول الكتاب كلها إذ يستغرق الصفحات من ص ٩ إلى ص ١٥٠، ويشرح فيه المؤلف قانون الرازي الذي وضعه في كتابه «نهاية العقول» وفي غيره من الكتب الأخرى.
Pembahasan Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql ini merupakan salah satu bagian terbesar dalam kitab. Ia mencakup halaman 9 hingga 150. Di dalamnya, penulis menjelaskan kaidah ar-Razi yang diletakkan dalam kitabnya Nihāyat al-‘Uqul dan juga dalam karya-karyanya yang lain.
ويذهب فيه إلى القول بأن العقل هل يتعارض مع الشرع؟ وعندئذ يذكر هذه الدعوى ويردها ابن تيمية من وجوه كثيرة وأوصلها إلى عشرة أوجه.
Pembahasan tersebut berkisar pada pertanyaan: apakah akal dapat bertentangan dengan syariat? Setelah mengemukakan klaim tersebut, Ibn Taimiyyah membantahnya dari banyak sisi hingga mencapai sepuluh bentuk bantahan.
ويذهب أولاً إلى كلام القائلين بتعارض العقل مع الشرع بحسب إثبات التعارض فعلاً، ثم يطلب بعد ذلك أن مذاهب المتكلمين والفلاسفة من أدلة من نوع أدلة العقل لا يمكن أن تعارض الشرع في حال صحته.
Pertama-tama ia mengkaji perkataan pihak-pihak yang menyatakan adanya pertentangan antara akal dan syariat, seakan-akan pertentangan itu benar-benar terjadi. Setelah itu ia menjelaskan bahwa argumentasi para mutakallim dan filsuf yang mereka kategorikan sebagai dalil akal tidak dapat bertentangan dengan syariat apabila syariat tersebut sahih.
فهل هو شرعي صحيح أم أنه ليس شرعياً في ذاته وهم يسمونه كذلك؟ وكثيراً ما يطلقون اسم الشرع فيما يقولونه استناداً إلى أخبار سمعية قد لا يثبت الدليل عليها، بل هو وهم أو احتمال.
Pertanyaannya kemudian: apakah yang mereka sebut sebagai dalil syar‘i itu memang benar-benar dalil syar‘i yang sahih, atau sebenarnya bukan syar‘i pada dirinya meskipun mereka menamakannya demikian? Sering kali mereka menamai sesuatu sebagai syariat berdasarkan berita-berita sam‘i yang dalilnya belum tentu terbukti, bahkan terkadang hanya berupa dugaan atau kemungkinan.
وأحياناً قد لا نجد النص شرعياً في الأساس، وإنما جاء عن فلان وقال فلان، ومع ذلك يقال لنا: العقل يعارض هذا النقل، والصواب عند ابن تيمية أنه لابد من أن نعرف أولاً صحة كل من الدليلين قبل البحث في تعارضهما.
Kadang-kadang teks yang digunakan bahkan tidak memiliki dasar syar‘i sejak awal; ia hanya berupa perkataan fulan atau riwayat dari fulan. Namun kemudian dikatakan bahwa akal bertentangan dengan naql tersebut. Menurut Ibn Taimiyyah, yang benar adalah terlebih dahulu memastikan keabsahan masing-masing dari kedua dalil sebelum membicarakan apakah keduanya benar-benar bertentangan.
ثم يشرح ابن تيمية القضية من زاوية أخرى، فيكون الدليل عنده قطعياً أو ظنياً، وبذلك يتبين أن الدليل يقبل إحدى حالات أربع.
Ibn Taimiyyah kemudian menjelaskan persoalan tersebut dari sudut lain. Menurutnya, suatu dalil dapat bersifat pasti (qath‘i) atau bersifat dugaan kuat (zhanni). Dari sini dapat diketahui bahwa hubungan antara dalil-dalil tersebut dapat berada dalam salah satu dari empat keadaan.
وفي أثناء عرض ابن تيمية لهذه القضية كان يتناول الآراء المخالفة بالنقض والتصحيح ليبين جانباً إذا فرضنا في كل ذلك، مثل ذلك بين ابن سينا الفيلسوف والفارابي، ومع المتكلمين كالرازي والغزالي والآمدي وغيرهم.
Dalam memaparkan persoalan ini, Ibn Taimiyyah membahas pendapat-pendapat yang berbeda dengan cara mengkritik dan meluruskannya. Ia menguji persoalan tersebut melalui pendapat tokoh-tokoh seperti Ibn Sina dan al-Farabi dari kalangan filsuf, serta ar-Razi, al-Ghazali, al-Amidi, dan lainnya dari kalangan mutakallim.
وكان يعرض أدلتهم التي يدعون أنها دليل عقلي معارض بما يدعونه من دليل الشرع، ويتناول بالشرح والتفصيل، ويبين تهافت من وجوه كثيرة، ليصل في النهاية إلى القول بأن مذاهب هؤلاء متهافتة وليس في حقيقتها إلا طلب تحرير حقيقة ما يعارضون به النص المنزل من عند الله.
Ia memaparkan dalil-dalil yang mereka klaim sebagai dalil akal, lalu membandingkannya dengan apa yang mereka anggap sebagai dalil syariat. Ia menjelaskannya secara terperinci dan menunjukkan kelemahannya dari berbagai sisi, hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa banyak dari argumentasi tersebut rapuh dan membutuhkan penjelasan lebih dahulu mengenai hakikat sesuatu yang mereka gunakan untuk mempertentangkan nash yang diturunkan dari sisi Allah.
ثم يتعرض بعد ذلك للعلم فيقسمه إلى علم نظري وعملي، ثم إلى كسبي وضروري، ويبين أن العلم بالله لا يتوقف على المقدمات الطويلة التي يقول بها الفلاسفة والمتكلمون بضرورة الاعتصام بألفاظ الكتاب والسنة.
Setelah itu ia membahas ilmu dan membaginya menjadi ilmu teoritis dan praktis, kemudian menjadi ilmu yang diperoleh melalui usaha dan ilmu yang bersifat niscaya. Ia menjelaskan bahwa pengetahuan tentang Allah tidak bergantung pada rangkaian premis panjang sebagaimana yang dikemukakan para filsuf dan mutakallim, melainkan harus tetap berpegang kepada lafaz-lafaz Al-Qur’an dan Sunnah.
وبين أن سبب الخطأ عندهم هو استعمالهم لتلك الألفاظ المجملة في حق الله، وأنها أوقعتهم وأوقعت المسلم معهم في حيرة، لأنهم حاولوا أن يتأولوا آيات القرآن تأويلاً مليئاً بمعانٍ فلسفية من أجل أنهم بها.
Ia juga menjelaskan bahwa salah satu penyebab kekeliruan mereka adalah penggunaan istilah-istilah global dan ambigu dalam pembicaraan tentang Allah. Istilah-istilah tersebut menjerumuskan mereka, dan orang-orang yang mengikuti mereka, ke dalam kebingungan, sebab mereka berusaha menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan muatan makna-makna filosofis.
فاستعمال هذه الألفاظ كانت السبيل إلى الاستعاضة والإشارة إليها، ولما لم يستعملها الرسول صلى الله عليه وسلم ولا أصحابه ولا التابعون ولم نعلم طريقاً آخر إلى الحق غير طريق الأقوام بهداية البشر.
Penggunaan istilah-istilah tersebut kemudian menjadi jalan yang mereka jadikan sandaran dan rujukan. Padahal Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan para tabi‘in tidak menggunakannya dengan cara tersebut. Menurut Ibn Taimiyyah, jalan menuju kebenaran harus dicari melalui jalan yang telah diberikan untuk membimbing manusia, bukan melalui istilah-istilah yang justru menimbulkan kekacauan.
Leave a Reply