درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 13)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
تقريب الفصل الأول
Ringkasan Bab Pertama
قال حجة الإسلام:
Hujjatul Islam berkata:
المقصود هنا الكلام على قول القائل: «إذا تعارضت الأدلة السمعية والعقلية…» إلخ.
Yang dimaksud di sini adalah membahas perkataan seseorang: “Apabila dalil-dalil sam‘i dan dalil-dalil rasional saling bertentangan…” dan seterusnya.
والكلام على هذه الجملة ينبني على بيان ما قدمناه من التلبيس، فإنها مبنية على مقدمات:
Pembahasan terhadap ungkapan ini dibangun di atas penjelasan mengenai kerancuan yang telah disebutkan sebelumnya, sebab ungkapan tersebut berdiri di atas beberapa premis:
أولها: ثبوت تعارضها.
Pertama: terbuktinya bahwa kedua dalil itu benar-benar saling bertentangan.
والثانية: انحصار التقسيم فيما ذكره من الأقسام الأربعة.
Kedua: pembagian masalah memang hanya terbatas pada empat kemungkinan yang disebutkan.
والثالثة: بطلان الأقسام الثلاثة.
Ketiga: tiga dari empat kemungkinan tersebut dianggap batil.
والمقدمات الثلاثة باطلة.
Ketiga premis tersebut adalah batil.
وبيان ذلك يتقدم أصل، وهو أنه يقال: إذا قيل تعارض دليلان، سواء كانا سمعيين أو عقليين، أو أحدهما سمعي والآخر عقلي، فالواجب إما أن يكونا قطعيين، أو يكونا ظنيين، أو يكون أحدهما قطعياً والآخر ظنياً.
Untuk menjelaskan hal itu, terlebih dahulu harus ditetapkan satu prinsip. Apabila dikatakan bahwa dua dalil bertentangan, baik keduanya dalil sam‘i, keduanya dalil rasional, atau salah satunya sam‘i dan yang lain rasional, maka keadaan keduanya tidak keluar dari kemungkinan berikut: keduanya qath‘i, keduanya zhanni, atau salah satunya qath‘i sedangkan yang lain zhanni.
فأما القطعيان فلا يجوز تعارضهما، سواء كانا عقليين أو سمعيين، أو أحدهما عقلياً والآخر سمعياً، وهذا متفق عليه بين العقلاء؛ لأن الدليل القطعي هو الذي يجب ثبوت مدلوله، ولا يمكن أن يكون دالاً على نقيضه.
Adapun dua dalil yang sama-sama qath‘i, keduanya tidak mungkin benar-benar bertentangan, baik keduanya rasional, keduanya sam‘i, maupun salah satunya rasional dan yang lain sam‘i. Hal ini disepakati oleh orang-orang berakal, sebab dalil qath‘i adalah dalil yang konsekuensi maknanya harus benar dan tidak mungkin sekaligus menunjukkan kebalikannya.
وحينئذ فلو تعارض دليلان قطعيان، وأحدهما يناقض مدلول الآخر، لزم الجمع بين النقيضين، وهو محال.
Karena itu, seandainya dua dalil qath‘i benar-benar bertentangan dan salah satunya menafikan makna yang ditunjukkan oleh yang lain, maka hal itu akan mengharuskan berkumpulnya dua hal yang saling bertentangan, dan itu mustahil.
بل كل ما يعتقد تعارضه من الدلائل التي يعتقد أنها قطعية، لابد أن يكون أحد الدليلين أو كلاهما ليس بقطعي، أو أن لا يكون مدلولاهما متناقضين.
Setiap dua dalil yang disangka saling bertentangan dan sekaligus dianggap qath‘i, pasti pada kenyataannya salah satunya atau keduanya bukan qath‘i, atau makna yang ditunjukkan keduanya sebenarnya tidak saling menafikan.
فأما مع تناقض مدلولين معلومين فيمتنع تعارض الدليلين.
Adapun apabila dua makna benar-benar diketahui saling bertentangan, maka mustahil dua dalil qath‘i sama-sama menunjukkan keduanya.
وإن كان أحد الدليلين قطعياً دون الآخر، فإنه يجب تقديم القطعي باتفاق العقلاء، سواء كان هو السمعي أو العقلي، فإن الظن لا يدفع اليقين.
Jika salah satu dalil bersifat qath‘i sedangkan yang lain tidak, maka dalil qath‘i wajib didahulukan menurut kesepakatan orang-orang berakal, baik dalil qath‘i itu sam‘i maupun rasional, sebab sesuatu yang bersifat dugaan tidak dapat menggugurkan sesuatu yang bersifat yakin.
وأما إن كانا جميعاً ظنيين، فإنه يصار إلى طلب ترجيح أحدهما، فأيهما ترجح كان هو المقدم، سواء كان سمعياً أو عقلياً.
Adapun apabila keduanya sama-sama zhanni, maka yang dilakukan adalah mencari faktor yang menguatkan salah satunya. Dalil mana yang lebih kuat, itulah yang didahulukan, baik ia dalil sam‘i maupun dalil rasional.
ولا جواب عن هذا إلا أن يقال: الدليل السمعي لا يكون قطعياً، وحينئذ فيقال: من أين لك ذلك؟ بل من الأدلة السمعية ما يكون قطعياً، وكونه سمعياً لا يمنع كونه قطعياً.
Tidak ada jawaban terhadap hal ini kecuali dengan mengatakan bahwa dalil sam‘i tidak mungkin bersifat qath‘i. Namun akan ditanyakan: dari mana kesimpulan itu diperoleh? Faktanya, di antara dalil-dalil sam‘i ada yang bersifat qath‘i, dan sifatnya sebagai dalil sam‘i tidak menghalanginya untuk menjadi qath‘i.
بل العلم بكونه قطعياً متنوع بحسب طرق العلم به، فلا يلزم من كونه سمعياً أن يكون ظنياً.
Pengetahuan bahwa suatu dalil bersifat qath‘i dapat diperoleh melalui berbagai jalan. Karena itu, status suatu dalil sebagai dalil sam‘i sama sekali tidak mengharuskan bahwa ia bersifat zhanni.
وإذا قدر أن تعارض قطعي وظني، لم ينازع عاقل في تقديم القطعي، لكن كون السمعي لا يكون قطعياً هو محل النزاع.
Apabila memang terjadi pertentangan antara dalil qath‘i dan dalil zhanni, tidak seorang pun yang berakal akan memperselisihkan bahwa dalil qath‘i harus didahulukan. Akan tetapi, klaim bahwa dalil sam‘i tidak mungkin qath‘i justru merupakan bagian dari perkara yang diperselisihkan.
وأيضاً فإن الناس متفقون على أن كثيراً مما جاء به الرسول معلوم بالاضطرار من دينه، كإيجاب العبادات، وتحريم الفواحش والظلم، وتوحيد الصانع، وإثبات المعاد وغير ذلك.
Selain itu, manusia sepakat bahwa banyak perkara yang dibawa Rasul diketahui secara pasti dan niscaya sebagai bagian dari agama beliau, seperti kewajiban berbagai ibadah, pengharaman perbuatan keji dan kezaliman, tauhid kepada Sang Pencipta, penetapan kehidupan akhirat, dan perkara-perkara lainnya.
وحينئذ فلو قال قائل: إذا قام الدليل العقلي القطعي على مناقضة هذا فلابد من تقديم أحدهما؛ فإن قدم السمعي قدح في أصله، وإن قدم العقل لزم تكذيب الرسول فيما علم بالاضطرار أنه جاء به، وهذا هو الكفر الصريح، فلا بد لهم من جواب عن هذا.
Karena itu, seandainya seseorang berkata, “Jika terdapat dalil rasional qath‘i yang bertentangan dengan perkara-perkara tersebut, maka salah satunya harus didahulukan. Jika dalil sam‘i yang didahulukan, hal itu dianggap merusak dasar rasional; sedangkan jika akal yang didahulukan, hal itu mengharuskan mendustakan Rasul dalam perkara yang secara pasti diketahui beliau bawa,” maka konsekuensi terakhir ini merupakan kekufuran yang nyata. Karena itu, mereka harus memberikan jawaban terhadap persoalan tersebut.
والجواب عنه أنه يمتنع أن يكون عقلي قطعي يناقض النقل القطعي.
Jawabannya adalah bahwa mustahil terdapat dalil rasional qath‘i yang benar-benar bertentangan dengan dalil naqli qath‘i.
فتبين أن كل ما قام عليه دليل قطعي سمعي أو عقلي، فإنه لا يعارضه قطعي مثله، فيمتنع التعارض بين القطعيات.
Dengan demikian jelas bahwa setiap perkara yang telah ditegakkan oleh dalil qath‘i, baik sam‘i maupun rasional, tidak mungkin dibantah oleh dalil qath‘i lain yang sebanding. Maka pertentangan hakiki antara dalil-dalil qath‘i adalah mustahil.
ومن هنا كان قول الله تعالى: «لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا» دليلاً على امتناع وجود ربين؛ إذ لو فرض وجودهما للزم من ذلك التناقض والفساد.
Dari prinsip inilah dapat dipahami firman Allah Ta‘ala, “Seandainya pada langit dan bumi terdapat ilah-ilah selain Allah, niscaya keduanya telah rusak.” Ayat ini menunjukkan kemustahilan adanya dua Rabb; sebab seandainya keberadaan keduanya diasumsikan, akan timbul pertentangan dan kerusakan.
ومنها ما يذكره القدرية والجبرية من أن أفعال العباد: هل هي مقدورة للرب والعبد أم لا؟ فقال جمهور المعتزلة: إن الرب لا يقدر على عين مقدور العبد واستحالوا اجتماع قادرين على مقدور واحد.
Termasuk di antara persoalan yang dibahas dalam konteks ini adalah perdebatan Qadariyyah dan Jabariyyah mengenai perbuatan manusia: apakah satu perbuatan dapat berada di bawah kekuasaan Allah sekaligus kemampuan hamba atau tidak? Mayoritas Mu‘tazilah mengatakan bahwa Rabb tidak berkuasa atas perbuatan yang sama yang berada dalam kemampuan hamba, dan mereka menganggap mustahil dua pihak sama-sama memiliki kemampuan terhadap satu objek perbuatan.
فأثبتهم البصريون، كأبي هاشم وأبيه، ونفاه الكعبي وأتباعه البغداديون، وقال معهم متأولوهم من المثبتة: إن الله خالق أفعال العباد.
Sebagian tokoh Bashrah seperti Abu Hasyim dan ayahnya menetapkan bentuk kemampuan tertentu, sementara al-Ka‘bi dan para pengikutnya dari Baghdad menolaknya. Di sisi lain, kelompok yang menetapkan penciptaan perbuatan hamba menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta perbuatan-perbuatan manusia.
وكذلك قال الأشعري وأتباعه: إن المؤثر فيه قدرة الرب دون قدرة العبد.
Demikian pula al-Asy‘ari dan para pengikutnya mengatakan bahwa yang benar-benar berpengaruh dalam terjadinya perbuatan adalah kekuasaan Rabb, bukan kemampuan hamba.
واحتج المعتزلة بأنه لو كان مقدوراً لله لما لزم إذا أراده أحدهما وكرهه الآخر، مثل أن يريد الرب تحريكه ويكره العبد، أن يكون موجوداً ومعدوماً؛ لأن المقدور من شأنه أن يوجد عند قدرة مراده، وأن ينتفي عند وجود صارفه.
Kaum Mu‘tazilah berargumentasi bahwa seandainya satu perbuatan berada dalam kekuasaan Allah dan hamba sekaligus, lalu salah satu menghendakinya sedangkan yang lain tidak menghendakinya—misalnya Rabb menghendaki suatu gerakan sedangkan hamba membencinya—maka perbuatan itu seakan harus ada sekaligus tidak ada. Sebab sesuatu yang berada dalam kemampuan pelaku semestinya terwujud ketika dikehendaki dan tidak terjadi ketika terdapat faktor yang menghalanginya.
وقد أجاب الجبرية عن هذا بما ذكره الرازي، وهو: أن البقاء على العدم عند تحقق الصارف ممنوع مطلقاً، بل يجب إذا لم يقم ضده سبب آخر مستقل.
Kelompok Jabariyyah menjawab argumentasi ini dengan apa yang disebutkan ar-Razi: bahwa tetapnya sesuatu dalam keadaan tidak ada ketika terdapat penghalang tidak selalu bersifat mutlak; hal itu hanya berlaku apabila tidak ada sebab lain yang berdiri sendiri untuk mewujudkannya.
وهذا أول المسألة، وهو جواب صحيح، فإن الكلام في إمكان قيام فاعلين بوجود الفعل معاً، والنزاع في إمكان اجتماعهما على مقدور واحد.
Inilah inti persoalannya. Jawaban tersebut pada sisi tertentu benar, sebab perdebatan sebenarnya terletak pada apakah dua pelaku dapat sama-sama berkaitan dengan terjadinya satu perbuatan dan apakah dua kemampuan dapat berhimpun pada satu objek perbuatan.
والكلام إنما هو في أن الاختلاف في الإرادتين هل يلزم منه امتناع المقدور أم لا.
Pokok pembahasannya adalah apakah perbedaan dua kehendak tersebut benar-benar mengharuskan mustahilnya perbuatan itu terjadi atau tidak.
وهذه الحجة باطلة عند المذهبين.
Menurut pembahasan ini, hujah tersebut tidak dapat dijadikan dasar yang kuat oleh kedua mazhab.
أما أهل السنة فيقولون: إن الله إذا أراد أن يفعل العبد جسماً، وجعل العبد مريداً لذلك، فإنه يجعله ساكناً مع قدرته على ذلك، فإن الإرادة الجازمة مع القدرة تستلزم وجود المقدور.
Adapun Ahlus Sunnah mengatakan bahwa apabila Allah menghendaki suatu perbuatan dari seorang hamba dan menjadikan hamba tersebut menghendaki perbuatan itu, maka kehendak yang kuat bersama kemampuan akan mengharuskan terjadinya perbuatan tersebut.
فإن لم يرد الله وجوده لم يجعل العبد مريداً لوجوده، وإن شاء الله وجوده جعل القادر عليه مريداً لوجوده، فلا تعارض بين الإرادتين.
Apabila Allah tidak menghendaki keberadaan perbuatan tersebut, Dia tidak menjadikan hamba menghendakinya. Apabila Allah menghendaki perbuatan itu terjadi, Dia menjadikan hamba yang mampu atasnya juga menghendakinya. Dengan demikian, tidak terdapat pertentangan antara dua kehendak tersebut.
Leave a Reply