درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 14)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
شاءه الله جعل العبد شائياً له، وإذا جعل العبد كارهاً له غير مريد له، لم يكن هو في هذه الحال شائياً له.
Apabila Allah menghendaki sesuatu, Dia menjadikan hamba menghendakinya. Apabila Allah menjadikan hamba membencinya dan tidak menghendakinya, maka dalam keadaan tersebut hamba memang tidak menghendaki hal itu.
فهم بنوا الدليل على تقدير مشيئة الله له، وكراهة العبد له، وهذا تقدير ممتنع، وهذا نقلوه من تقدير ربين وإلهين، وهو قياس باطل، لأن العبد مخلوق لله هو وجميع مفعولاته، ليس هو مثلاً لله ولا نداً.
Mereka membangun dalil tersebut dengan mengandaikan Allah menghendaki sesuatu sedangkan hamba membencinya. Pengandaian seperti ini adalah mustahil. Mereka mengambilnya dari asumsi mengenai dua Rabb atau dua ilah. Ini merupakan qiyas yang batil, sebab hamba adalah makhluk Allah, demikian pula seluruh perbuatannya; ia bukan tandingan dan bukan pula sekutu bagi Allah.
وهذا إذا قيل ما قاله أبو إسحاق الإسفراييني: من أن فعل العبد مقدور بين قادرين، لم يرد به بين قادرين مستقلين، بل قدرة العبد مخلوقة لله، وإرادته مخلوقة لله، فالله قادر مستقل، والعبد قادر يجعله الله قادراً، وهو خالقه وخالق قدرته وإرادته وفعله، فلم يكن هذا نظير ذاك.
Demikian pula apabila digunakan perkataan Abu Ishaq al-Isfarayini bahwa perbuatan hamba berada di bawah kemampuan dua pihak yang berkuasa, maksudnya bukanlah dua pihak yang memiliki kekuasaan secara mandiri. Kemampuan hamba diciptakan oleh Allah, dan kehendaknya pun diciptakan oleh Allah. Allah adalah Yang Mahakuasa secara mandiri, sedangkan hamba memiliki kemampuan karena Allah menjadikannya mampu. Allah adalah Pencipta dirinya, kemampuannya, kehendaknya, dan perbuatannya. Karena itu, persoalan ini tidak dapat disamakan dengan keadaan dua pihak yang sama-sama independen.
وكذلك ما يقدره الرازي وغيره في مسألة إمكان دوام الفاعلية، وأن إمكان الحوادث لا بداية له، من أنا إذا قدرنا إمكان حادث معين، وقدرنا أنه لم يزل ممكناً كان هذا لم يزل ممكناً، مع أنه لا بداية لإمكانه، فإن هذا تقدير ممتنع، وهو تقدير ماله بداية مع أنه لا بداية له، وهو جمع بين النقيضين، ولهذا منع الرازي في «محصله» إمكان هذا.1
Demikian pula apa yang diasumsikan ar-Razi dan selainnya dalam persoalan kemungkinan berlangsungnya aktivitas pelaku secara terus-menerus dan bahwa kemungkinan terjadinya berbagai peristiwa tidak memiliki permulaan. Apabila kita mengandaikan kemungkinan suatu peristiwa tertentu dan menganggap bahwa kemungkinan itu senantiasa ada tanpa permulaan, maka pengandaian itu mengandung pertentangan: sesuatu yang memiliki permulaan dianggap sekaligus tidak memiliki permulaan. Ini merupakan penggabungan dua hal yang saling bertentangan. Karena itulah ar-Razi sendiri menolak kemungkinan semacam ini dalam kitab al-Muhashshal.
وهذا الذي ذكرناه بين واضح، متفق عليه بين العقلاء من حيث الجملة، وبه يتبين أن إثبات التعارض بين الدليل العقلي والسمعي، والجزم بتقديم العقل، معلوم الفساد بالضرورة، وهو خلاف ما اتفق عليه العقلاء.
Apa yang telah kami jelaskan ini merupakan perkara yang jelas dan secara umum disepakati oleh orang-orang berakal. Dari sini tampak bahwa menetapkan adanya pertentangan antara dalil rasional dan dalil sam‘i, kemudian secara mutlak memutuskan bahwa akal harus didahulukan, adalah sesuatu yang kerusakannya diketahui secara niscaya dan bertentangan dengan apa yang disepakati oleh orang-orang berakal.
الجواب على اعتراض الرازي والفلاسفة
Jawaban terhadap Keberatan ar-Razi dan Para Filsuf
وحينئذ فنقول: الجواب من وجوه:
Dengan demikian, kami katakan bahwa jawaban terhadap persoalan tersebut dapat dijelaskan dari beberapa sisi:
أحدها: أن قوله: «إذا تعارض النقل والعقل».
Pertama: mengenai perkataannya, “Apabila naql dan akal saling bertentangan.”
إما أن يريد به القطعيين، فلا نسلم إمكان التعارض حينئذ.2
Jika yang dimaksud adalah dua dalil yang sama-sama qath‘i, maka kami tidak menerima kemungkinan adanya pertentangan di antara keduanya.
وإما أن يريد به الظنيين، فالمقدم هو الراجح مطلقاً.
Jika yang dimaksud adalah dua dalil yang sama-sama zhanni, maka secara mutlak yang didahulukan adalah dalil yang lebih kuat.
وإما أن يريد به أن أحدهما قطعي، فالقطعي هو المقدم مطلقاً، وإذا قدر أن العقلي هو القطعي كان تقديمه لكونه قطعياً، لا لكونه عقلياً.
Jika yang dimaksud adalah bahwa salah satu dari keduanya qath‘i, maka yang qath‘i itulah yang harus didahulukan secara mutlak. Jika kebetulan dalil rasionallah yang bersifat qath‘i, maka ia didahulukan karena sifatnya yang qath‘i, bukan karena ia merupakan dalil rasional.
فعلم أن تقديم العقل مطلقاً خطأ، كما أن جعل جهة الترجيح كونه عقلياً خطأ.
Dengan demikian diketahui bahwa mendahulukan akal secara mutlak adalah keliru. Demikian pula menjadikan sifat “rasional” sebagai alasan untuk mengunggulkan suatu dalil juga merupakan kekeliruan.
الوجه الثاني
Sisi Kedua
أن يقال: لا نسلم انحصار القسمة فيما ذكره من الأقسام الأربعة، إذ من الممكن أن يقال:
Dapat dikatakan: kami tidak menerima bahwa pembagian persoalan ini hanya terbatas pada empat kemungkinan yang ia sebutkan. Sebab masih mungkin dikatakan:
يقدم العقلي تارة والسمعي أخرى، فأيهما كان قطعياً قدم، وإن كانا جميعاً قطعيين، فيمتنع التعارض، وإن كانا ظنيين فالراجح هو المقدم.
Terkadang dalil rasional didahulukan dan pada keadaan lain dalil sam‘i yang didahulukan. Mana pun yang bersifat qath‘i, itulah yang didahulukan. Jika keduanya sama-sama qath‘i, maka pertentangan di antara keduanya mustahil. Jika keduanya sama-sama zhanni, maka yang lebih kuatlah yang didahulukan.
فدعوى المدعي: أنه لابد من تقديم العقلي مطلقاً أو السمعي مطلقاً، أو الجمع بين النقيضين، أو رفع النقيضين ـ دعوى باطلة، بل هنا قسم ليس من هذه الأقسام، كما ذكرناه، بل هو الحق الذي لا ريب فيه.
Karena itu, klaim bahwa seseorang harus selalu mendahulukan dalil rasional secara mutlak atau dalil sam‘i secara mutlak, atau harus menerima berkumpulnya dua hal yang saling bertentangan, atau meniadakan keduanya sekaligus, merupakan klaim yang batil. Ada kemungkinan lain di luar pembagian tersebut, sebagaimana telah dijelaskan, dan inilah yang benar tanpa keraguan.
الوجه الثالث
Sisi Ketiga
هل العقل أصل في إثبات الشرع في نفسه أم أصل في علمنا به؟
Apakah Akal Menjadi Dasar bagi Keberadaan Syariat Itu Sendiri, atau Dasar bagi Pengetahuan Kita tentangnya?
قوله: «إن قدمنا النقل كان ذلك طعناً في أصله الذي هو العقل، فيكون طعناً فيه» غير مسلم.
Pernyataannya, “Jika kita mendahulukan naql, maka hal itu berarti merusak dasarnya, yaitu akal, sehingga pada akhirnya merusak naql itu sendiri,” tidak dapat diterima begitu saja.
وذلك لأن قوله: «إن العقل أصل للنقل» إما أن يريد به:
Sebab perkataannya bahwa “akal adalah dasar bagi naql” dapat dimaksudkan dalam salah satu dari dua pengertian:
أنه أصل في ثبوته في نفس الأمر.
Bahwa akal merupakan dasar bagi keberadaan dan kebenaran naql pada realitasnya sendiri.
أو أصل في علمنا بصحته.
Atau bahwa akal merupakan dasar bagi pengetahuan kita bahwa naql tersebut benar.
والأول لا يقوله عاقل، فإن ما هو ثابت في نفس الأمر بالسمع أو بغيره هو ثابت، سواء علمنا بالعقل أو بغير العقل ثبوته، أو لم نعلم ثبوته لا بعقل ولا بغيره، إذ عدم العلم ليس علماً بالعدم، وعدم علمنا بالحقائق لا ينفي ثبوتها في أنفسها.
Pengertian pertama tidak akan dikatakan oleh orang yang berakal. Sesuatu yang benar-benar ada pada realitasnya, baik diketahui melalui sam‘i maupun melalui cara lain, tetaplah benar adanya, terlepas dari apakah kita mengetahui keberadaannya melalui akal, melalui cara selain akal, ataupun belum mengetahuinya sama sekali. Sebab tidak mengetahui sesuatu bukan berarti mengetahui bahwa sesuatu itu tidak ada, dan ketidaktahuan kita terhadap suatu kenyataan tidak meniadakan keberadaannya pada dirinya sendiri.
فما أخبر به الصادق المصدوق ﷺ هو ثابت في نفس الأمر، سواء علمنا صدقه أو لم نعلمه.
Apa yang diberitakan oleh Rasul yang benar lagi dibenarkan ﷺ tetaplah benar pada realitasnya, baik kita telah mengetahui kebenaran beliau maupun belum mengetahuinya.
ومن أرسله الله تعالى إلى الناس فهو رسوله، سواء علم الناس أنه رسول أو لم يعلموا، وما أخبر به فهو حق، وإن لم يصدقه الناس، وما أمر به عن الله فالله آمر به وإن لم يطعه الناس.
Siapa yang Allah Ta‘ala utus kepada manusia, maka ia benar-benar Rasul-Nya, baik manusia mengetahui bahwa ia seorang rasul maupun tidak. Apa yang ia beritakan adalah benar meskipun manusia tidak membenarkannya. Apa yang ia perintahkan dari Allah tetap merupakan perintah Allah meskipun manusia tidak menaatinya.
فثبوت الرسالة في نفسها وثبوت صدق الرسول، وثبوت ما أخبر به في نفس الأمر: ليس موقوفاً على وجودنا، فضلاً عن أن يكون موقوفاً على عقولنا أو على الأدلة التي نعلمها بعقولنا.
Dengan demikian, keberadaan risalah itu sendiri, kebenaran Rasul, serta kebenaran berita yang beliau sampaikan pada realitasnya tidak bergantung kepada keberadaan kita, terlebih lagi tidak bergantung kepada akal kita atau kepada dalil-dalil yang kita ketahui melalui akal.
وهذا كما أن وجود الرب تعالى وما يستحقه من الأسماء والصفات ثابت في نفس الأمر، سواء علمناه أو لم نعلمه.
Hal ini sebagaimana keberadaan Rabb Ta‘ala dan apa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama dan sifat-sifat tetap benar pada realitasnya, baik kita mengetahuinya maupun belum mengetahuinya.
فتبين بذلك أن العقل ليس أصلاً لثبوت الشرع في نفسه، ولا معطياً له صفة لم تكن له، ولا مفيداً له صفة كمال، إذ العلم مطابق للمعلوم المستغني عن العلم، تابع له، ليس مؤثراً فيه.
Dengan demikian jelas bahwa akal bukanlah dasar bagi keberadaan syariat pada dirinya sendiri. Akal tidak memberikan kepada syariat suatu sifat yang sebelumnya tidak dimilikinya dan tidak pula memberikan kepadanya sifat kesempurnaan. Sebab ilmu mengikuti objek yang diketahui dan harus sesuai dengannya; objek tersebut tidak bergantung kepada pengetahuan kita dan pengetahuan tidak menciptakan ataupun memengaruhinya.
العلم نوعان
Ilmu Terbagi Menjadi Dua
فإن العلم نوعان: أحدهما العملي، وهو ما كان شرطاً في حصول المعلوم، كتصور أحدنا لما يريد أن يفعله، فالمعلوم هنا متوقف على العلم به محتاج إليه.
Ilmu terbagi menjadi dua. Pertama adalah ilmu praktis, yaitu pengetahuan yang menjadi syarat bagi terwujudnya sesuatu yang diketahui, seperti gambaran seseorang mengenai sesuatu yang hendak ia kerjakan. Dalam keadaan ini, sesuatu yang akan diwujudkan memang bergantung kepada pengetahuan tersebut dan membutuhkannya.
والثاني: العلم الخبري النظري، وهو ما كان المعلوم غير مفتقر في وجوده إلى العلم به، كعلمنا بوحدانية الله تعالى وأسمائه وصفاته وصدق رسله وملائكته وكتبه وغير ذلك.
Kedua adalah ilmu informatif-teoretis, yaitu pengetahuan mengenai sesuatu yang keberadaannya tidak bergantung kepada pengetahuan kita tentangnya, seperti pengetahuan kita mengenai keesaan Allah Ta‘ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, kebenaran para rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan perkara-perkara lainnya.
فإن هذه المعلومات ثابتة سواء علمناها أو لم نعلمها، فهي مستغنية عن علمنا بها.
Semua kenyataan tersebut tetap benar adanya, baik kita mengetahuinya maupun tidak. Ia tidak bergantung kepada pengetahuan kita tentangnya.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Yang dimaksud adalah kitab Muhashshal Afkār al-Mutaqaddimīn wa al-Muta’akhkhirīn karya ar-Razi, yang telah dicetak di Mesir dalam beberapa edisi.
- Yang dimaksud dengan dua dalil qath‘i adalah dua dalil yang masing-masing petunjuknya bersifat pasti dalam menetapkan maknanya, seperti keberadaan gerakan yang secara pasti menunjukkan adanya sesuatu yang bergerak. Adapun dalil yang petunjuknya hanya mengandung kemungkinan tidak disebut qath‘i.
Leave a Reply