درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 15)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
هو الذي أراده ـ فيقال له: أتعني بالعقل هذه الغريزة التي فينا، أم العلوم التي استفدناها بتلك الغريزة؟
Jika itulah yang dimaksud, maka kepadanya dikatakan: apakah yang Anda maksud dengan akal adalah potensi akal yang terdapat dalam diri kita, ataukah ilmu-ilmu yang kita peroleh melalui potensi tersebut?
أما الأول: فلم ترده، ويمتنع أن تريده، لأن تلك الغريزة ليست علماً يتصور أن يعارض النقل، وهي شرط في كل علم عقلي أو سمعي كالحياة، وما كان شرطاً في الشيء امتنع أن يكون منافياً له، فالحياة والغريزة شرط في كل العلوم سمعيها وعقليها، فامتنع أن تكون منافية لها، وهي أيضاً شرط في الاعتقاد الحاصل بالاستدلال، وإن لم تكن علماً، فيمتنع أن تكون منافية له ومعارضة له.
Adapun kemungkinan pertama, jelas bukan itu yang Anda maksud, dan memang tidak mungkin dimaksudkan demikian. Sebab potensi akal tersebut bukanlah suatu ilmu yang dapat dibayangkan bertentangan dengan naql. Ia merupakan syarat bagi seluruh pengetahuan, baik yang rasional maupun yang sam‘i, sebagaimana kehidupan merupakan syarat bagi pengetahuan. Sesuatu yang menjadi syarat bagi suatu hal tidak mungkin sekaligus menjadi sesuatu yang menafikannya. Karena itu, kehidupan dan potensi akal merupakan syarat bagi seluruh pengetahuan, baik sam‘i maupun rasional, sehingga mustahil keduanya menjadi sesuatu yang menafikannya. Potensi akal juga merupakan syarat bagi keyakinan yang diperoleh melalui istidlal, meskipun potensi itu sendiri bukanlah ilmu. Karena itu ia tidak mungkin menjadi sesuatu yang menafikan atau menentang keyakinan tersebut.
وإن أردت بالعقل: الذي هو دليل السمع وأصله المعرفة الحاصلة بالعقل، فيقال لك: من المعلوم أنه ليس كل ما يعرف بالعقل يكون أصلاً للسمع ودليلاً على صحته، فإن المعارف العقلية أكثر من أن تحصر، والعلم بصحة السمع غايته أن يتوقف على ما به يعلم صدق الرسول ﷺ.
Jika yang Anda maksud dengan akal adalah pengetahuan rasional yang menjadi dalil bagi kebenaran sam‘i dan menjadi dasarnya, maka dikatakan kepada Anda: telah diketahui bahwa tidak seluruh perkara yang dikenal melalui akal menjadi dasar bagi sam‘i atau menjadi dalil atas kebenarannya. Pengetahuan rasional terlalu banyak untuk dihitung, sedangkan pengetahuan tentang kebenaran sam‘i paling jauh hanya bergantung kepada pengetahuan yang dengannya kebenaran Rasul ﷺ dapat diketahui.
وليس كل العلوم العقلية يعلم بها صدق الرسول ﷺ، بل ذلك يعلم بما يعلم به أن الله تعالى أرسله، مثل إثبات الصانع وتصديقه للرسول بالآيات.
Tidak semua ilmu rasional dapat digunakan untuk mengetahui kebenaran Rasul ﷺ. Kebenaran beliau diketahui melalui sesuatu yang menunjukkan bahwa Allah Ta‘ala benar-benar mengutusnya, seperti penetapan keberadaan Sang Pencipta dan pembenaran Allah terhadap Rasul melalui ayat-ayat dan tanda-tanda kenabian.
وإذا كان كذلك لم تكن جميع المعقولات أصلاً للنقل، لا بمعنى توقف العلم بالسمع عليها، ولا بمعنى الدلالة على صحته، ولا بغير ذلك، لا سيما عند كثير من متكلمة الإثبات أو أكثرهم كالأشعري في أحد قوليه، وكثير من أصحابه أو أكثرهم، كالأستاذ أبي المعالي الجويني ومن بعده ومن وافقهم ـ الذين يقولون: العلم بصدق الرسول عند ظهور المعجزات التي تجري مجرى تصديق الرسول علم ضروري.
Jika demikian, maka tidak seluruh perkara rasional merupakan dasar bagi naql, baik dalam arti bahwa pengetahuan mengenai sam‘i bergantung kepadanya, maupun dalam arti bahwa ia menjadi dalil atas kebenarannya, ataupun dalam pengertian lainnya. Terlebih lagi, banyak dari kalangan mutakallim yang menetapkan sifat, bahkan mungkin mayoritas mereka—seperti al-Asy‘ari dalam salah satu pendapatnya, banyak pengikutnya, al-Ustadz Abu al-Ma‘ali al-Juwaini, serta orang-orang setelahnya yang mengikuti mereka—berpendapat bahwa pengetahuan mengenai kebenaran Rasul ketika tampak mukjizat-mukjizat yang berfungsi sebagai pembenaran terhadap Rasul merupakan pengetahuan yang bersifat niscaya.
فحينئذ ما يتوقف عليه العلم بصدق الرسول من العلم العقلي سهل يسير، مع أن العلم بصدق الرسول له طرق كثيرة متنوعة، كما قد بسط الكلام عليه في غير هذا الموضع.
Dengan demikian, pengetahuan rasional yang diperlukan untuk mengetahui kebenaran Rasul merupakan sesuatu yang mudah dan sederhana. Selain itu, pengetahuan tentang kebenaran Rasul sendiri memiliki banyak jalan yang beragam, sebagaimana telah dijelaskan secara panjang lebar di tempat lain.
وحينئذ فإذا كان المعارض للسمع من المعقولات ما لا يتوقف العلم بصحة السمع عليه، لم يكن القدح فيه قدحاً في أصل السمع، وهذا بين واضح، وليس القدح في بعض العقليات قدحاً في جميعها، كما أنه ليس القدح في بعض السمعيات قدحاً في جميعها.
Karena itu, apabila perkara rasional yang dianggap bertentangan dengan sam‘i bukanlah perkara yang menjadi dasar bagi pengetahuan tentang kebenaran sam‘i, maka mengkritik perkara rasional tersebut tidak berarti mengkritik dasar sam‘i. Hal ini sangat jelas. Mengkritik sebagian dalil rasional tidak berarti mengkritik seluruh dalil rasional, sebagaimana mengkritik sebagian dalil sam‘i tidak berarti mengkritik seluruh dalil sam‘i.
ولا يلزم من صحة بعض العقليات صحة جميعها، كما لا يلزم من صحة بعض السمعيات صحة جميعها.
Kebenaran sebagian perkara rasional tidak mengharuskan kebenaran seluruh perkara rasional, sebagaimana kebenaran sebagian perkara sam‘i tidak mengharuskan kebenaran seluruh perkara sam‘i.
وحينئذ فلا يلزم من صحة المعقولات التي تبنى عليها معرفتنا بالسمع صحة غيرها من المعقولات، ولا من فساد هذه فساد ذلك، فضلاً عن صحة العقليات المناقضة للسمع.
Karena itu, kebenaran perkara-perkara rasional yang menjadi dasar bagi pengetahuan kita tentang sam‘i tidak mengharuskan kebenaran seluruh perkara rasional lainnya. Demikian pula kerusakan sebagian perkara rasional lainnya tidak berarti merusak perkara rasional yang menjadi dasar tersebut, apalagi sampai membenarkan dalil-dalil rasional yang justru bertentangan dengan sam‘i.
فكيف يقال: إنه يلزم من صحة المعقولات التي هي ملازمة للسمع صحة المعقولات المناقضة للسمع؟ فإن ما به يعلم السمع، ولا يعلم السمع إلا به، لازم للعلم بالسمع، لا يوجد العلم بالسمع بدونه، وهو ملزوم له، والعلم به يستلزم العلم بالسمع، والمعارض للسمع مناقض له مناف له.
Bagaimana mungkin dikatakan bahwa kebenaran perkara-perkara rasional yang menjadi syarat bagi pengetahuan tentang sam‘i mengharuskan kebenaran perkara-perkara rasional yang justru bertentangan dengan sam‘i? Sesuatu yang dengannya kebenaran sam‘i diketahui dan yang tanpa itu sam‘i tidak dapat diketahui merupakan sesuatu yang menyertai pengetahuan tentang sam‘i. Sedangkan perkara yang bertentangan dengan sam‘i justru merupakan sesuatu yang menafikan dan berlawanan dengannya.
فهل يقول عاقل: إنه يلزم من ثبوت ملازم الشيء ثبوت مناقضه ومعارضه؟
Adakah orang berakal yang akan mengatakan bahwa menetapkan sesuatu yang menjadi syarat bagi suatu perkara berarti sekaligus menetapkan sesuatu yang menentang dan membatalkannya?
ولكن صاحب هذا القول جعل العقليات كلها نوعاً واحداً متماثلاً في الصحة أو الفساد، ومعلوم أن السمع إنما يستلزم صحة بعضها الملازم له، لا صحة البعض المناقض له، والناس متفقون على أن ما يسمى عقليات منه حق، ومنه باطل، وما كان شرطاً في العلم بالسمع وموجباً فهو لازم للعلم به، بخلاف المنافي المناقض له.
Akan tetapi, orang yang berpendapat demikian memperlakukan seluruh perkara rasional seolah-olah merupakan satu jenis yang sama dalam kebenaran maupun kebatilannya. Padahal telah diketahui bahwa sam‘i hanya mengharuskan kebenaran sebagian perkara rasional yang memang menjadi syarat dan pendukungnya, bukan kebenaran perkara rasional yang menentangnya. Manusia sepakat bahwa di antara apa yang disebut perkara rasional terdapat yang benar dan terdapat pula yang batil. Sesuatu yang menjadi syarat bagi pengetahuan tentang sam‘i dan yang mengharuskannya memang berkaitan dengannya, berbeda dengan sesuatu yang menafikan dan menentangnya.
فإنه يمتنع أن يكون هو بعينه شرطاً في صحة ملازمه لثبوته، فإن الملازم لا يكون مناقضاً، فثبت أنه لا يلزم من تقديم السمع على ما يقال إنه معقول في الجملة القدح في أصله.
Mustahil sesuatu yang justru menentang sam‘i pada saat yang sama menjadi syarat bagi kebenaran sam‘i. Sesuatu yang menjadi syarat dan menyertai suatu perkara tidak mungkin sekaligus menjadi penentangnya. Dengan demikian terbukti bahwa mendahulukan sam‘i atas sesuatu yang secara umum disebut “rasional” tidak mengharuskan rusaknya dasar sam‘i.
فقد تبين بهذه الوجوه الثلاثة فساد المقدمات الثلاث التي بنوا عليها تقديم آرائهم على كلام الله ورسوله.
Dengan tiga sisi penjelasan ini, telah tampak kerusakan tiga premis yang mereka jadikan dasar untuk mendahulukan pendapat-pendapat mereka atas firman Allah dan sabda Rasul-Nya.
فإن قيل: نحن إنما نقدم على السمع المعقولات التي علمنا بها صحة السمع.
Jika dikatakan, “Kami hanya mendahulukan atas sam‘i perkara-perkara rasional yang dengannya kami mengetahui kebenaran sam‘i.”
قيل: سنبين إن شاء الله أنه ليس فيما يعارض السمع شيء من المعقولات التي يتوقف السمع عليها، فإن كل معارض للسمع ـ مما يسمى معقولاً ـ ليس أصلاً للسمع، يتوقف العلم بصحة السمع عليه، فلا يكون القدح في شيء من المعقولات قدحاً في أصل السمع.
Dijawab: insya Allah akan dijelaskan bahwa tidak terdapat satu pun perkara rasional yang bertentangan dengan sam‘i yang sekaligus menjadi dasar bagi pengetahuan tentang kebenaran sam‘i. Setiap perkara yang menentang sam‘i—meskipun disebut rasional—bukanlah dasar yang kepadanya kebenaran sam‘i bergantung. Karena itu, mengkritik perkara rasional semacam itu tidak berarti merusak dasar sam‘i.
العلم بالصانع لا يتوقف على العقليات المخالفة للسمع
Pengetahuan tentang Sang Pencipta Tidak Bergantung pada Dalil-Dalil Rasional yang Bertentangan dengan Sam‘i
الوجه الثاني: أن جمهور الخلق يعترفون بأن المعرفة بالصانع وصدق الرسول ليس متوقفاً على ما يدعيه بعضهم من العقليات المخالفة للسمع.
Sisi kedua: mayoritas manusia mengakui bahwa pengetahuan mengenai Sang Pencipta dan kebenaran Rasul tidak bergantung kepada berbagai dalil rasional yang oleh sebagian orang diklaim bertentangan dengan sam‘i.
والواضعون لهذا القانون ـ كأبي حامد والرازي وغيرهما ـ معترفون بأن العلم بصدق الرسول لا يتوقف على العقليات المعارضة له، فنظائر كثيرون ـ كأبي حامد والشهرستاني وأبي القاسم الراغب وغيرهم ـ يقولون: العلم بالصانع فطري ضروري.1
Bahkan para penyusun kaidah tersebut—seperti Abu Hamid al-Ghazali, ar-Razi, dan lainnya—mengakui bahwa pengetahuan mengenai kebenaran Rasul tidak bergantung kepada dalil-dalil rasional yang bertentangan dengannya. Banyak tokoh seperti Abu Hamid, asy-Syahrastani, Abu al-Qasim ar-Raghib, dan lainnya menyatakan bahwa pengetahuan mengenai Sang Pencipta bersifat fitri dan niscaya.
والرازي والآمدي وغيرهما من النظار يسلمون أن العلم بالصانع قد يحصل بالاضطرار، وحينئذ فالعلم بكون الصانع قادراً معلوم بالاضطرار، والعلم بصدق الرسول عند ظهور المعجزات التي تتحدى الخلق بمعارضتها وعجزوا عن ذلك معلوم بالاضطرار.
Ar-Razi, al-Amidi, dan para pemikir lainnya juga mengakui bahwa pengetahuan mengenai Sang Pencipta dapat diperoleh secara niscaya. Dengan demikian, pengetahuan bahwa Sang Pencipta Mahakuasa pun dapat diketahui secara niscaya, dan pengetahuan mengenai kebenaran Rasul ketika muncul mukjizat-mukjizat yang menantang manusia untuk menandinginya sementara mereka tidak mampu melakukannya juga diketahui secara niscaya.
ومعلوم أن السمعيات مملوءة من إثبات الصانع وقدرته وتصديق رسوله، ليس فيها ما يناقض هذه الأصول العقلية التي بها يعلم السمع، بل السمع فيه من بيان الأدلة العقلية على إثبات الصانع، ودلائل ربوبيته وقدرته، وبيان آيات الرسول ودلائل صدقه أضعاف ما يوجد في كلام النظار، فليس فيه ـ ولله الحمد ـ ما يناقض الأدلة العقلية التي بها يعلم صدق الرسول.
Telah diketahui pula bahwa dalil-dalil sam‘i penuh dengan penetapan keberadaan Sang Pencipta, kekuasaan-Nya, dan pembenaran terhadap Rasul-Nya. Tidak terdapat di dalamnya sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip rasional yang dengannya kebenaran sam‘i diketahui. Bahkan sam‘i sendiri memuat penjelasan mengenai dalil-dalil rasional untuk menetapkan Sang Pencipta, tanda-tanda rububiyah dan kekuasaan-Nya, serta berbagai ayat dan bukti kebenaran Rasul dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada yang terdapat dalam perkataan para pemikir. Karena itu—segala puji bagi Allah—tidak terdapat di dalamnya sesuatu yang bertentangan dengan dalil rasional yang dengannya kebenaran Rasul diketahui.
ومن جعل العلم بالصانع نظرياً يعترف أكثرهم بأن من الطرق النظرية التي بها يعلم صدق الرسول ما لا يناقض شيئاً من السمعيات.
Bahkan orang-orang yang memandang pengetahuan mengenai Sang Pencipta sebagai pengetahuan teoritis, mayoritas mereka mengakui bahwa terdapat berbagai jalan rasional-teoretis untuk mengetahui kebenaran Rasul yang sama sekali tidak bertentangan dengan dalil-dalil sam‘i.
والرازي ممن يعترف بهذا، فإنه قال في «نهاية العقول» في مسألة التكفير في «المسألة الثالثة»: «في أن مخالف الحق من أهل الصلاة هل يكفر أم لا؟»
Ar-Razi termasuk orang yang mengakui hal tersebut. Dalam kitab Nihāyat al-‘Uqul, pada pembahasan takfir dalam “masalah ketiga”, ia membahas pertanyaan: “Apakah orang dari kalangan ahli shalat yang menyelisihi kebenaran menjadi kafir atau tidak?”
«قال الشيخ أبو الحسن الأشعري في أول كتاب مقالات الإسلاميين»:
Ia menukil perkataan Syaikh Abu al-Hasan al-Asy‘ari pada awal kitab Maqālāt al-Islāmiyyīn:
اختلف المسلمون ـ بعد نبيهم ـ في أشياء ضلل فيها بعضهم بعضاً، وتبرأ بعضهم من بعض، فصاروا فرقاً متباينين، إلا أن الإسلام يجمعهم ويعمهم، فهذا مذهبه، وعليه أكثر الأصحاب، ومن الأصحاب من كفر المخالفين.
“Kaum Muslimin setelah Nabi mereka berselisih dalam berbagai perkara. Sebagian menyesatkan sebagian lainnya dan sebagian berlepas diri dari sebagian yang lain, sehingga mereka menjadi kelompok-kelompok yang berbeda. Namun Islam tetap menghimpun dan mencakup mereka semua.” Inilah mazhabnya, dan mayoritas para pengikutnya berada di atas pendapat tersebut, meskipun di antara mereka ada pula yang mengkafirkan pihak yang berbeda.
وأما الفقهاء: فقد نقل عن الشافعي رضي الله تعالى عنه قال: لا أرد شهادة أهل الأهواء، إلا الخطابية، فإنهم يعتقدون حل الكذب.
Adapun dari kalangan fuqaha, diriwayatkan dari asy-Syafi‘i رضي الله عنه bahwa ia berkata: “Aku tidak menolak kesaksian ahli hawa nafsu, kecuali al-Khaththabiyyah, karena mereka meyakini bolehnya berdusta.”
وأما أبو حنيفة رضي الله تعالى عنه: فقد حكى الحاكم صاحب المختصر في كتاب «المنتقى» عن أبي حنيفة أنه لم يكفر أحداً من أهل القبلة.
Adapun Abu Hanifah رضي الله عنه, al-Hakim, penulis kitab ringkas, meriwayatkan dalam al-Muntaqa bahwa Abu Hanifah tidak mengkafirkan seorang pun dari kalangan Ahlul Qiblah.
وحكى أبو بكر الرازي عن الكرخي وغيره مثل ذلك.
Abu Bakr ar-Razi juga meriwayatkan hal serupa dari al-Karkhi dan selainnya.
وأما المعتزلة: فالذين كانوا قبل أبي الحسين تخالفوا وكفروا أصحابنا في إثبات الصفات وخلق الأعمال.
Adapun kaum Mu‘tazilah, kelompok sebelum Abu al-Husain berselisih dan mengkafirkan pihak yang berbeda dengan mereka dalam persoalan penetapan sifat-sifat Allah dan penciptaan perbuatan manusia.
وأما المشبهة: فقد كفرهم مخالفوهم من أصحابنا ومن المعتزلة.2
Adapun kelompok yang disebut sebagai Musyabbihah, pihak-pihak yang berbeda dengan mereka dari kalangan pengikut kami dan dari kalangan Mu‘tazilah telah mengkafirkan mereka.
وكان الأستاذ أبو إسحاق يقول: أكفر من يكفرني، وكل مخالف يكفرنا فنحن نكفره، وإلا فلا.
Al-Ustadz Abu Ishaq berkata: “Aku mengkafirkan orang yang mengkafirkanku. Setiap pihak yang berbeda dengan kami dan mengkafirkan kami, maka kami mengkafirkannya. Jika tidak, maka tidak.”
لا نكفر أحداً من أهل القبلة
Kami Tidak Mengkafirkan Seorang pun dari Ahlul Qiblah
والذي نختاره أن لا نكفر أحداً من أهل القبلة.3
Pendapat yang kami pilih adalah bahwa kami tidak mengkafirkan seorang pun dari kalangan Ahlul Qiblah.
والدليل عليه أن نقول: المسائل التي اختلف أهل القبلة فيها، مثل أن الله تعالى هل هو عالم بالعلم أو بالذات؟ وأنه تعالى هل هو موجد لأفعال العباد أم لا؟ وأنه هل هو متحيز وهل هو في مكان وجهة؟ وهل هو مرئي أم لا؟ لا يخلو إما أن تتوقف صحة الدين على معرفة الحق فيها أو لا تتوقف.
Dalilnya adalah sebagai berikut: persoalan-persoalan yang diperselisihkan oleh Ahlul Qiblah—seperti apakah Allah Ta‘ala mengetahui dengan sifat ilmu atau dengan Zat-Nya; apakah Allah yang menciptakan perbuatan manusia atau tidak; apakah Dia berada dalam ruang; apakah Dia berada pada tempat dan arah; dan apakah Dia dapat dilihat atau tidak—tidak keluar dari dua kemungkinan: kebenaran agama bergantung pada pengetahuan yang benar mengenai persoalan-persoalan tersebut, atau tidak bergantung padanya.
والأول باطل، إذ لو كانت معرفة هذه الأصول من الدين لكان الواجب على النبي ﷺ أن يطالبهم بهذه المسائل، ويبحث عن كيفية اعتقادهم فيها؛ فلما لم يطالبهم بهذه المسائل، بل ما جرى حديث في هذه المسائل في زمانه عليه السلام، ولا في زمان الصحابة والتابعين رضي الله عنهم، علمنا أنه لا تتوقف صحة الإسلام على معرفة هذه الأصول.
Kemungkinan pertama adalah batil. Seandainya mengetahui rincian persoalan-persoalan tersebut merupakan bagian yang menjadi syarat bagi kebenaran agama, tentu Nabi ﷺ wajib menuntut manusia untuk menjawab persoalan-persoalan itu dan meneliti bagaimana keyakinan mereka mengenainya. Namun beliau tidak menuntut mereka dalam perkara tersebut. Bahkan pembahasan seperti itu tidak dikenal pada zaman beliau ﷺ, tidak pula pada zaman para sahabat dan tabi‘in رضي الله عنهم. Dari sini diketahui bahwa kebenaran Islam tidak bergantung pada pengetahuan mengenai rincian persoalan-persoalan tersebut.
وإذا كان كذلك لم يكن الخطأ في هذه المسائل قادحاً في حقيقة الإسلام، وذلك يقتضي الامتناع من تكفير أهل القبلة.
Jika demikian, kekeliruan dalam persoalan-persoalan tersebut tidak dengan sendirinya merusak hakikat keislaman seseorang. Konsekuensinya adalah tidak boleh tergesa-gesa mengkafirkan Ahlul Qiblah.
ثم قال بعد ذلك: «وأما دلالة الفعل المحكم على العلم فقد عرفت أنها ضرورية، وأما دلالة المعجز على الصدق فقد بينا أنها ضرورية، ومتى عرفت هذه الأصول أمكن العلم بصدق الرسول عليه السلام، فثبت أن العلم بالأصول التي يتوقف على صحتها نبوة محمد عليه السلام علم جلي ظاهر، وإنما طال الكلام في هذه الأصول لرفع هذه الشكوك التي يثيرها المبطلون، إما في مقدمات هذه الأدلة، أو في معارضاتها.
Kemudian ia berkata: “Adapun petunjuk suatu perbuatan yang tersusun dengan sempurna terhadap adanya ilmu, telah diketahui bahwa hal itu bersifat niscaya. Demikian pula petunjuk mukjizat terhadap kebenaran Rasul telah kami jelaskan bersifat niscaya. Apabila prinsip-prinsip ini telah diketahui, maka kebenaran Rasul ﷺ dapat diketahui. Dengan demikian, pengetahuan terhadap prinsip-prinsip yang menjadi dasar bagi penetapan kenabian Muhammad ﷺ merupakan pengetahuan yang jelas dan nyata. Pembicaraan panjang mengenai prinsip-prinsip tersebut hanyalah untuk menghilangkan syubhat-syubhat yang ditimbulkan oleh para pembela kebatilan, baik terhadap premis-premis dalil tersebut maupun terhadap bantahan yang mereka ajukan.”
والاشتغال برفع هذه الشكوك إنما يجب بعد عروضها، فثبت أن أصول الإسلام جلية ظاهرة، ثم إن أدلتها على الاستقصاء مذكورة في كتاب الله تعالى، خالية عما يوهم معارضاً لها».
Kesibukan untuk menjawab syubhat-syubhat tersebut baru diperlukan setelah syubhat itu benar-benar muncul. Dengan demikian terbukti bahwa prinsip-prinsip Islam itu jelas dan nyata. Dalil-dalilnya secara lengkap telah disebutkan dalam Kitab Allah Ta‘ala dan terbebas dari sesuatu yang benar-benar dapat menentangnya.
ثم ذكر بعد ذلك فقال: «قلنا: أنا قد ذكرنا في إثبات العلم بالصانع طرقاً خمسة قاطعة في هذا الكتاب من غير حاجة إلى القياس الذي ذكروه، والله أعلم».
Kemudian ia berkata, “Kami telah menyebutkan dalam kitab ini lima jalan yang qath‘i untuk menetapkan pengetahuan tentang Sang Pencipta tanpa memerlukan qiyas yang mereka sebutkan. Allah lebih mengetahui.”
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Asy-Syahrastani juga menyebutkan bahwa persoalan ini memiliki banyak teori yang berusaha dibuktikan dengan argumentasi, sementara fitrah yang sehat menunjukkan pengetahuan tentang Sang Pencipta secara fitri dan niscaya. Penulis menyebutkan bahwa Ibn Taimiyyah membahas masalah ini secara luas dalam karya-karyanya yang lain.
- Yang dimaksud dengan kelompok yang disebut di sini adalah pihak-pihak yang dinisbatkan kepada penyerupaan sifat-sifat Ilahi dengan sifat makhluk. Penulis merujuk kepada pembahasan para penulis ilmu al-firaq mengenai kelompok tersebut.
- Penulis menjelaskan bahwa inilah mazhab Ahlus Sunnah wal Jama‘ah: seseorang tidak dikafirkan hanya karena kefasikan atau bid‘ah, kecuali apabila ia mengingkari sesuatu dari agama yang diketahui secara pasti dan niscaya.
Leave a Reply