درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 16)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
وأيضاً، فإنه ذكر في إثبات الصانع أربعة طرق: طريق حدوث الأجسام، وطريق إمكانها، وطريق إمكان صفاتها، وطريق حدوث صفاتها، وقال: إن هذه الطرق الأربعة لا تخلو من اعتراضات، فكيف يقال: إن العلم بالصانع لا يحصل إلا بهذه الطرق؟
Selain itu, ia telah menyebutkan empat jalan untuk menetapkan keberadaan Sang Pencipta: jalan melalui kebaruan benda-benda, jalan melalui kemungkinan keberadaannya, jalan melalui kemungkinan sifat-sifatnya, dan jalan melalui kebaruan sifat-sifatnya. Ia sendiri menyatakan bahwa keempat jalan tersebut tidak terlepas dari berbagai keberatan. Lalu bagaimana mungkin dikatakan bahwa pengetahuan mengenai Sang Pencipta hanya dapat diperoleh melalui jalan-jalan tersebut?
وهم إنما ينفون الصفات لظنهم أنها تستلزم التجسيم الذي نفاه العقل الذي هو أصل السمع، فإذا اعترفوا بأنه يمكن العلم بالصانع وصدق الرسول قبل النظر في كونه جسماً أو ليس بجسم، تبين أن صدق الرسول لا يتوقف على العلم بأنه ليس بجسم، واستفيد قبول خبره في ذلك.
Mereka menafikan sifat-sifat Allah karena mengira bahwa penetapan sifat mengharuskan tajsim, sedangkan tajsim menurut mereka ditolak oleh akal yang mereka jadikan dasar bagi sam‘i. Namun apabila mereka mengakui bahwa pengetahuan tentang Sang Pencipta dan kebenaran Rasul dapat diperoleh sebelum membahas apakah Dia jisim atau bukan jisim, maka jelaslah bahwa kebenaran Rasul tidak bergantung kepada pengetahuan bahwa Allah bukan jisim. Dengan demikian, berita Rasul mengenai persoalan tersebut dapat diterima.
الوجه الثالث
Sisi Ketiga
أن يقال لمن ادعى من هؤلاء توقف العلم بالسمع على مثل هذا النفي: كقول من يقول: «إنا لا نعلم صدق الرسول حتى نعلم وجود الصانع، وأنه قادر غني لا يفعل القبيح» ولا نعلم ذلك حتى نعلم أنه ليس بجسم، أو لا نعلم إثبات الصانع حتى نعلم حدوث العالم، ولا نعلم ذلك إلا بحدوث الأجسام، فلا يمكن أن يقبل من السمع ما يستلزم كونه جسماً.
Dikatakan kepada orang yang mengklaim bahwa pengetahuan tentang kebenaran sam‘i bergantung kepada penafian seperti ini: ada yang berkata, “Kami tidak mengetahui kebenaran Rasul hingga kami mengetahui keberadaan Sang Pencipta, bahwa Dia Mahakuasa, Mahakaya, dan tidak melakukan keburukan. Kami tidak mengetahui itu hingga kami mengetahui bahwa Dia bukan jisim.” Atau mereka mengatakan, “Kami tidak dapat menetapkan keberadaan Sang Pencipta hingga mengetahui kebaruan alam, dan kami tidak mengetahui kebaruan alam kecuali melalui kebaruan benda-benda. Karena itu, tidak mungkin menerima dari sam‘i sesuatu yang mengharuskan Allah sebagai jisim.”
الأنبياء لم يسلكوا هذه الطريق في الدعوة إلى الله
Para Nabi Tidak Menempuh Jalan Ini dalam Berdakwah kepada Allah
فيقال لهم: قد علم بالاضطرار من دين الرسول والنقل المتواتر أنه دعا الخلق إلى الإيمان بالله ورسوله، ولم يدع الناس بهذه الطريق التي زعمتم أنهم بها يحدث لهم العلم ونفي كونه جسماً، وأن الرسل أمروا الناس بالتوحيد والإخلاص، ودخل الناس في دين الله أفواجاً، ولم يدع أحداً منهم بهذه الطريق، ولا ذكرها لأحد منهم.
Dikatakan kepada mereka: telah diketahui secara pasti dari agama Rasul dan melalui riwayat mutawatir bahwa beliau menyeru manusia kepada iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Beliau tidak mengajak manusia melalui jalan yang kalian klaim sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh ilmu, yakni melalui pembahasan tentang penafian jisim. Para rasul memerintahkan manusia kepada tauhid dan keikhlasan, dan manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, tanpa Rasul menyeru seorang pun melalui jalan tersebut atau menjelaskannya kepada mereka.
ولا ذكرها أحد من الصحابة والتابعين، بل كان الصحابة والتابعون لهم بإحسان هم خير هذه الأمة وأفضلها علماً وإيماناً، وإنما اعتمدت هذه الطريقة في الإسلام بعد المائة الأولى، وأقاموا عليها أصل الإيمان بالله، بل وأوساطهم، فكيف يجوز أن يقال: إن تصديق الرسول موقوف عليها، وأعلم الخلق بصدقه وأفضلهم لم يعلموا بها ولا ذكروها ولا دعوا الناس إليها؟
Tidak pula jalan tersebut disebutkan oleh para sahabat dan tabi‘in. Padahal para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik merupakan generasi terbaik umat ini, paling utama dalam ilmu dan iman. Metode ini baru dijadikan landasan dalam Islam setelah abad pertama, lalu dijadikan dasar bagi iman kepada Allah. Bagaimana mungkin kemudian dikatakan bahwa pembenaran terhadap Rasul bergantung kepada metode tersebut, sementara orang-orang yang paling mengetahui kebenaran beliau dan paling utama di antara manusia tidak mengetahuinya, tidak menyebutkannya, dan tidak menyeru manusia kepadanya?
ليس في القرآن ما يدل عليها
Tidak Ada dalam Al-Qur’an Sesuatu yang Menunjukkan Jalan Tersebut
الوجه الرابع: أن يقال: هذا القرآن والسنة المنقولة عن النبي ﷺ متواترها وآحادها، ليس في ذكر ما يدل على هذه الطريق، فضلاً عن أن تكون نفس الطريق فيها، فليس في شيء من ذلك أن الباري لم يزل معطلاً عن الفعل والكلام بمشيئته، ثم حدث ما حدث بلا سبب حادث، وليس فيه ذكر الجسم والتحيز والجهة، لا بنفي ولا إثبات، فكيف يكون الإيمان بالرسول مستقراً لذلك، والرسول لم يخبر به ولا ذكر أصل الإيمان به من ذلك؟
Sisi keempat: dikatakan: inilah Al-Qur’an dan Sunnah yang dinukil dari Nabi ﷺ, baik yang mutawatir maupun ahad. Tidak terdapat di dalamnya penjelasan yang menunjukkan metode tersebut, apalagi metode itu sendiri. Tidak ada di dalamnya pernyataan bahwa Sang Pencipta sejak dahulu tidak berbuat dan tidak berbicara sesuai kehendak-Nya, kemudian terjadilah sesuatu tanpa sebab yang baru. Tidak pula disebutkan istilah jisim, ruang, atau arah, baik dalam bentuk penetapan maupun penafian. Lalu bagaimana mungkin iman kepada Rasul dianggap bergantung kepada hal-hal tersebut, sementara Rasul sendiri tidak memberitakannya dan tidak menjadikannya sebagai dasar keimanan?
الوجه الخامس: أن هذه الطرق الثلاثة ـ طريق حدوث الأجسام، مبنية على امتناع دوام كون الرب فاعلاً، وامتناع كونه لم يزل متكلماً بمشيئته، بل حقيقة طريقتهم على امتناع كونه لم يزل قادراً على هذا وهذا.
Sisi kelima: ketiga jalan tersebut—di antaranya jalan kebaruan benda-benda—dibangun di atas anggapan mustahilnya Rabb senantiasa berbuat dan mustahilnya Dia senantiasa berbicara sesuai kehendak-Nya. Bahkan hakikat metode mereka mengharuskan anggapan bahwa sejak dahulu Dia tidak senantiasa berkuasa untuk melakukan hal-hal tersebut.
وهذا باطل عند المسلمين وغير المسلمين ممن ينازعون في هذا، ويقولون: هذا قول باطل.
Menurut banyak kaum Muslimin dan juga selain mereka yang membantah persoalan ini, anggapan tersebut adalah batil.
وأما القول بإمكان الأجسام فهو مبني على أن الموجود يمكن، وبناء على المركب ممكن، وعلى نفس الصفات، وهي طريقة أحدثها ابن سينا وأمثاله، وركبها من مذاهب متكلمي المسلمين ومذاهب الفلاسفة من اليونان، وهو قول جمع فيه بين ما افترقه هؤلاء وهؤلاء.
Adapun argumentasi melalui kemungkinan benda-benda dibangun di atas gagasan bahwa sesuatu yang ada bersifat mungkin, demikian pula sesuatu yang tersusun serta sifat-sifatnya. Metode ini dikembangkan oleh Ibn Sina dan orang-orang semisalnya, dengan menyusun unsur-unsur dari mazhab mutakallim kaum Muslimin dan filsafat Yunani. Dengan demikian, ia menggabungkan unsur-unsur yang sebelumnya terpisah pada kedua kelompok tersebut.
وطريقة إمكان صفات الأجسام مبنية على تماثل الأجسام، وأكثر العقلاء يخالفون في ذلك، ومخالفوهم يعترفون بفساد ذلك، كما قد ذكرنا قول الأشعري والرازي والآمدي وغيرهم، واعتراضهم بفساد ذلك، وبينا فساد ذلك بمواضع.
Sementara jalan melalui kemungkinan sifat-sifat benda dibangun di atas anggapan bahwa semua benda serupa. Banyak orang berakal menolak anggapan tersebut. Bahkan para penentangnya sendiri mengakui adanya kerusakan dalam metode ini. Sebelumnya telah disebutkan pendapat al-Asy‘ari, ar-Razi, al-Amidi, dan selain mereka serta berbagai keberatan terhadapnya, dan kerusakan metode tersebut telah dijelaskan di sejumlah tempat.
فإذا كانت هذه الطرق فاسدة عند جمهور العقلاء، بل فاسدة في نفس الأمر، امتنع أن يكون العلم بالصانع موقوفاً على طريق فاسدة، ولو قدر صحيحاً علم أن أكثر العقلاء عرفوا الله وصدقوا رسوله بغير هذه الطريق، فلم يعلق العلم بالسمع على صحة معقول ما قد يكون فاسداً في أصل السمع.
Jika jalan-jalan tersebut dinilai rusak oleh mayoritas orang berakal, bahkan rusak pada dirinya sendiri, maka mustahil pengetahuan mengenai Sang Pencipta bergantung pada metode yang rusak. Bahkan apabila salah satunya dianggap benar, tetap diketahui bahwa mayoritas manusia telah mengenal Allah dan membenarkan Rasul-Nya tanpa menggunakan metode tersebut. Dengan demikian, pengetahuan tentang sam‘i tidak bergantung pada kebenaran suatu konstruksi rasional yang bahkan mungkin bermasalah sejak awal.
الوجه السادس: أن يقال: إذا قدر أن السمع موقوف على العلم بأنه ليس بجسم مثلاً، أو يسلم أن بعض الصفات التي جاء بها القرآن والسنة ظاهرها موجب للعقل، فإنه لو قدم العقل فيما يناقض من الصفات تكون سألت من نفي الجسم ويثبت شيئاً من الصفات.
Sisi keenam: seandainya diasumsikan bahwa kebenaran sam‘i bergantung kepada pengetahuan bahwa Allah bukan jisim, atau diasumsikan pula bahwa sebagian sifat yang datang dalam Al-Qur’an dan Sunnah secara zahir dianggap bertentangan dengan apa yang mereka sebut sebagai akal, maka mendahulukan konstruksi rasional tersebut dalam persoalan sifat justru membawa kepada penafian sifat atas dasar konsep penafian jisim.
فهذا تناقض أيضاً.
Hal ini pun merupakan suatu kontradiksi.
إذ يمكن الفيلسوف أن يقول: هو موجود وعاقل ومعقول وعقل، وعاشق ومعشوق، ولذيذ وملتذ ونحو ذلك، وإن هذا كله مفهوم واحد، وهذه الصفة هي الموصوف، وإثبات هذه الأمور يستلزم التجسيم.
Sebab seorang filsuf dapat mengatakan: Dia adalah wujud, akal, yang dipahami, yang berpikir, yang mencintai dan dicintai, yang merasakan kenikmatan dan yang dinikmati, dan seterusnya; lalu mengatakan bahwa semua itu pada hakikatnya merupakan satu pengertian dan bahwa sifat itu sendiri adalah zat yang disifati. Berdasarkan logika yang sama, penetapan hal-hal tersebut pun dapat diklaim mengharuskan tajsim.
ويمكن للقرمطي أن يقول: هذا وأمثاله يدل على نفي الأسماء والصفات، فإن إثباتها يستلزم التشبيه والتجسيم.
Seorang Qaramithah pun dapat mengatakan bahwa hal-hal semacam ini menunjukkan perlunya menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah, sebab menurutnya penetapan nama dan sifat mengharuskan tasybih dan tajsim.
وهذه حجة الملاحدة من هؤلاء.
Inilah salah satu hujah yang digunakan kelompok-kelompok penyimpang tersebut.
خطأ الاستدلال بقصة إبراهيم
Kekeliruan Berdalil dengan Kisah Ibrahim
فإن قيل: قول القائلين: «إن الأنبياء لم يدعوا الناس إلى إثبات الصانع بهذه الطريقة، من طريقة الأعراض وحدوثها ولزومها للأجسام، وإنما استدل إبراهيم بحدوث الأفول».
Jika dikatakan: sebagian orang berkata bahwa para nabi memang tidak menyeru manusia kepada penetapan Sang Pencipta melalui metode aksiden, kebaruan aksiden, dan keterikatannya pada benda-benda, tetapi Ibrahim berdalil dengan terjadinya aful atau terbenamnya benda-benda langit.
أحدها: يمنع هذه المقدمة، فإنه من المعروف أن كثيراً من النفاة يقول: إن هذه الطريقة هي طريقة إبراهيم الخليل، وإنه استدل على حدوث الكواكب والشمس والقمر بالأفول، والأفول هو الحركة، والحركة هي التغير، فهذا متغير حادث، لأنه لا يسبق الحوادث، وكل ما قامت به الحوادث فهو متغير حادث، فيثبت إمكاناً من طريق إبراهيم الخليل.
Pertama: premis ini tidak dapat diterima begitu saja. Telah diketahui bahwa banyak kelompok penafi justru mengatakan bahwa metode tersebut adalah metode Ibrahim al-Khalil. Mereka menganggap Ibrahim berdalil atas kebaruan bintang-bintang, matahari, dan bulan melalui peristiwa terbenamnya benda-benda tersebut. Mereka mengatakan bahwa terbenam adalah gerak, gerak berarti perubahan, dan sesuatu yang berubah adalah sesuatu yang baru. Dengan demikian, mereka berusaha menisbatkan metode tersebut kepada Ibrahim al-Khalil.
وممن قال بهذا أبو إسحاق الإسفراييني، وأمثاله، ومثل ابن عقيل وأبي حامد والرازي، وخلق غير هؤلاء.
Di antara orang yang mengatakan demikian adalah Abu Ishaq al-Isfarayini dan orang-orang semisalnya, juga Ibn ‘Aqil, Abu Hamid al-Ghazali, ar-Razi, dan banyak tokoh lainnya.
وأيضاً، فالقرآن قد دل على أنه ليس بجسم، لأنه أحد، والأحد: الذي لا ينقسم، وهو واحد، والواحد: الذي لا ينقسم، ولأنه صمد، والصمد لا جوف له، فلا يتحلل غيره، والجسم يتخلله غيره، ولأنه سبحانه قد قال: «ليس كمثله شيء».
Selain itu, mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa Allah bukan jisim, karena Dia Ahad. Mereka memaknai Ahad sebagai sesuatu yang tidak terbagi. Dia juga Wahid, yang mereka pahami sebagai sesuatu yang tidak terbagi. Allah juga ash-Shamad; dan menurut penafsiran mereka, ash-Shamad adalah sesuatu yang tidak memiliki rongga sehingga sesuatu yang lain tidak dapat masuk ke dalamnya. Sedangkan jisim menurut mereka dapat ditembus oleh sesuatu yang lain. Mereka juga berdalil dengan firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
والأجسام متماثلة، فلو كان جسماً لكان له مثل، وإذا لم يكن جسماً لزم نفي ملزومات الجسم.
Menurut argumentasi mereka, benda-benda bersifat saling serupa. Seandainya Allah adalah jisim, tentu akan ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Jika Dia bukan jisim, maka seluruh konsekuensi yang melekat pada jisim juga harus dinafikan dari-Nya.
وبعضهم يقول: نفي لوازم الجسم، وليس بهذا، فإنه لا يلزم من وجود اللازم وجود الملزوم، ولكن يلزم من نفيه نفي ملزومه، فإذا انتفى التشبيه به فإنه يجب نفي الجسم، فيجب نفي كل ما يستلزم كونه جسماً.
Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah menafikan konsekuensi-konsekuensi jisim. Namun bentuk argumentasi seperti ini pun memiliki persoalan: keberadaan suatu konsekuensi tidak selalu menuntut keberadaan sesuatu yang menjadi sumbernya, meskipun penafian konsekuensi tertentu dapat digunakan untuk menafikan hal yang mengharuskannya. Dari sini mereka menyimpulkan bahwa apabila keserupaan telah dinafikan, maka jisim pun harus dinafikan, lalu seluruh hal yang dianggap mengharuskan tajsim juga harus dinafikan.
ومنهم من ينفي العلو والمباينة بنفي الجسم مستدلاً بكونه جسماً، ويرى نفي الصفات الخبرية يقول: إثباتها يستلزم التجسيم، ومن نفي الصفات مطلقاً قال: ثبوتها يستلزم التجسيم.
Di antara mereka ada yang menafikan ketinggian dan keterpisahan Allah dari makhluk dengan dasar penafian jisim. Ada pula yang menafikan sifat-sifat khabariyyah karena mengatakan bahwa penetapannya mengharuskan tajsim. Bahkan sebagian orang yang menafikan seluruh sifat mengatakan bahwa menetapkan sifat apa pun akan mengharuskan tajsim.
وأيضاً، فالجسم ينفى، لأنه يقتضي القسمة والتركيب، فيجب نفي كل تركيب، فيجب نفي كونه مركباً من الوجود والماهية، ومن الجنس والفصل، ومن المادة والصورة، ومن الأجزاء المقدرة، ومن الذات والصفات، وهذه الخمسة هي التي يسميها نفاة الصفات من متأخري الفلاسفة تركيباً.
Mereka juga mengatakan bahwa jisim harus dinafikan karena jisim mengharuskan pembagian dan susunan. Karena itu seluruh bentuk susunan harus dinafikan: susunan dari wujud dan mahiyah, dari genus dan diferensia, dari materi dan bentuk, dari bagian-bagian yang dapat diperkirakan, serta dari zat dan sifat. Lima bentuk inilah yang oleh sebagian filsuf belakangan yang menafikan sifat disebut sebagai tarkib atau susunan.
Leave a Reply