درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 17)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
كل أقل متغير، وكل متغير ممكن، فيستدلون بالتغير على الإمكان، كما استدل الآخرون من هؤلاء بالتغير على الحدوث، وكل من هؤلاء يقول: هذه طريقة الخليل.1
Setiap sesuatu yang mengalami perubahan adalah sesuatu yang mungkin, sehingga mereka menjadikan perubahan sebagai dalil atas sifat mungkin. Sebagian lainnya menjadikan perubahan sebagai dalil atas kebaruan. Masing-masing kelompok tersebut kemudian mengatakan: inilah metode Ibrahim al-Khalil.
المقام الثاني
Pembahasan Kedua
أن يقال: نحن نسلم أن الأنبياء لم يدعوا الناس بهذه الطريق ولا بينوا أنه ليس بجسم، وهذا قول محققي طوائف النفاة وأئمتهم، فإنهم يعلمون ويقولون: إن النفي لم يعتمد فيه على طريقة مأخوذة عن الأنبياء، وأن الأنبياء لم يدلوا على ذلك، لا نصاً ولا ظاهراً، ويقولون إن كلام الأنبياء إنما يدل على الإثبات إما نصاً وإما ظاهراً.
Dikatakan: kami menerima bahwa para nabi tidak menyeru manusia dengan metode ini dan tidak menjelaskan kepada mereka bahwa Allah “bukan jisim”. Ini bahkan merupakan pendapat para tokoh dan imam dari berbagai kelompok penafi. Mereka mengetahui dan menyatakan bahwa penafian tersebut tidak didasarkan pada metode yang diambil dari para nabi. Para nabi tidak menunjukkan hal tersebut, baik secara nash maupun secara zahir. Bahkan mereka mengakui bahwa perkataan para nabi justru menunjukkan penetapan, baik secara eksplisit maupun secara zahir.
لكن قالوا: إذا كان العقل قد دل على النفي لم يمكننا إبطال مدلول العقل.
Akan tetapi mereka berkata: apabila akal telah menunjukkan kepada penafian, kita tidak mungkin membatalkan apa yang ditunjukkan oleh akal.
ثم يقول المتكلمون من الجهمية والمعتزلة ومن اتبعهم الذين قالوا: إنما يمكن إثبات الصانع وصدق رسله بهذه الطريق، ويقولون: إنه لا يمكن العلم بحدوث العالم وإثبات الصانع، والعلم بأنه قادر حي عالم، وأنه يجوز أن يرسل الرسل ويصدق الأنبياء بالمعجزات إلا بهذه الطريق.
Kemudian para mutakallim dari kalangan Jahmiyyah, Mu‘tazilah, dan orang-orang yang mengikuti mereka mengatakan bahwa penetapan Sang Pencipta dan kebenaran para rasul hanya dapat diketahui melalui metode ini. Mereka berpendapat bahwa kebaruan alam, keberadaan Sang Pencipta, bahwa Dia Mahakuasa, Hidup, dan Mengetahui, serta kemungkinan Dia mengutus para rasul dan membenarkan para nabi dengan mukjizat, semuanya tidak dapat diketahui kecuali melalui jalan tersebut.
كما يذكر ذلك أئمتهم وحذاقهم، حتى متأخروهم كأبي الحسين البصري، وأبي المعالي الجويني، والقاضي أبي يعلى، وغيرهم.
Demikianlah yang dikemukakan oleh para imam dan tokoh terkemuka mereka, bahkan hingga generasi belakangan seperti Abu al-Husain al-Bashri, Abu al-Ma‘ali al-Juwaini, Qadhi Abu Ya‘la, dan selain mereka.
فإذا علمنا مع ذلك أن الأنبياء لم يدعوا الناس بها، لزم بمقالتهم من أن الرسول أحال الناس في معرفة الله على العقل، وإذا علموا ذلك فحينئذ هم في نصوص الأنبياء إما أن يسلكوا مسلك التأويل، ويكون المقصود بإنزال المتشابه تكليفهم استخراج طريق التأويلات، وإما أن يسلكوا مسلك التفويض، ويكون المقصود إنزال ألفاظ يتعبدون بتلاوتها وإن لم يفهم أحد معانيها.
Jika bersamaan dengan itu diketahui bahwa para nabi tidak menyeru manusia melalui metode tersebut, maka konsekuensi pandangan mereka adalah bahwa Rasul menyerahkan manusia kepada akal untuk mengenal Allah. Setelah itu, dalam menghadapi nash-nash para nabi mereka hanya memiliki dua jalan: menempuh jalan takwil, sehingga tujuan diturunkannya ayat-ayat mutasyabih dianggap untuk membebani manusia mencari berbagai bentuk takwil; atau menempuh jalan tafwidh, sehingga lafaz-lafaz itu dianggap diturunkan hanya untuk dibaca sebagai ibadah meskipun tidak seorang pun memahami maknanya.
ويقول ملاحدة الفلاسفة والباطنية ونحوهم: المقصود خطاب الجمهور بما يتخيلون به أن الرب جسم عظيم، وأن المعاد فيه لذات جسمانية، وإن كان هذا لا حقيقة له، ثم إما أن يقال إن الأنبياء لم يعلموا ذلك، وإما أن يقال علموه ولم يبينوه بل أظهروا خلاف الحق للمصلحة.
Adapun kelompok filsuf ateistik, Bathiniyyah, dan yang semisal mereka mengatakan bahwa maksudnya adalah berbicara kepada masyarakat awam dengan sesuatu yang membuat mereka membayangkan bahwa Rabb adalah jisim yang agung dan bahwa kehidupan akhirat berisi kenikmatan jasmani, meskipun menurut mereka hakikatnya tidak demikian. Setelah itu mereka memiliki dua kemungkinan: mengatakan bahwa para nabi sendiri tidak mengetahui hakikat tersebut, atau mengatakan bahwa para nabi mengetahuinya tetapi tidak menjelaskannya, bahkan menampakkan sesuatu yang berbeda dari kebenaran demi kemaslahatan.
قيل في الجواب: أما من سلك المسلك الأول فجوابه من وجوه:
Dijawab: adapun orang yang menempuh jalan pertama, maka jawabannya dapat dijelaskan dari beberapa sisi:
أحدها: أن يقال: فإذا كانت الأدلة السمعية المأخوذة عن الأنبياء دلت على صحة هذه الطريق وصحة مدلولها، وعلى نفي ما تنفونه من الصفات، فحينئذ تكون الأدلة السمعية المثبتة لذلك عارضها سمع آخر، وإن كان أحدهما موافقاً لما تذكرونه من العقل.
Pertama: apabila dalil-dalil sam‘i yang diterima dari para nabi benar-benar menunjukkan kebenaran metode tersebut dan kebenaran konsekuensinya, serta menunjukkan penafian sifat-sifat yang kalian nafikan, maka persoalannya berubah menjadi pertentangan antara satu dalil sam‘i dengan dalil sam‘i lainnya, sekalipun salah satu di antaranya sesuai dengan apa yang kalian sebut sebagai dalil akal.
وحينئذ فلا تحتاجون أن تبنوا دفع السمعيات المخالفة لكم على هذا القانون الذي ابتدعتموه، وجعلتم فيه آراء الرجال مقدمة على ما أنزل الله وبعث به رسله، وفتحتم باباً لكل طائفة، بل لكل شخص، أن يقدم ما رآه بعقله على ما ثبت عن الله ورسوله.
Jika demikian, kalian tidak perlu membangun penolakan terhadap dalil-dalil sam‘i yang menyelisihi kalian di atas kaidah yang kalian ciptakan itu, yang menjadikan pendapat manusia didahulukan atas apa yang Allah turunkan dan yang dibawa para rasul-Nya. Sebab dengan kaidah itu kalian telah membuka pintu bagi setiap kelompok, bahkan bagi setiap orang, untuk mendahulukan apa yang ia anggap benar menurut akalnya atas apa yang telah ditetapkan dari Allah dan Rasul-Nya.
بل قررتم بهذا أن أحداً لا يثبت بشيء يخبر به الله ورسوله، إذ جاز أن يكون له معارض عقلي لم يعلمه المخبر، ولهذا كان هذا القانون لا يظهره أحد من الطوائف المشهورين وإنما كان بعضهم يبطنه سراً، وإنما أظهر لما ظهر كلام الملاحدة، أعداء الرسل.
Dengan kaidah tersebut, kalian bahkan telah membuka kemungkinan bahwa tidak ada satu berita pun dari Allah dan Rasul-Nya yang dapat diterima secara pasti, karena selalu mungkin diasumsikan adanya dalil rasional yang menentangnya dan belum diketahui oleh orang yang menyampaikan berita itu. Karena itu, kaidah semacam ini dahulu tidak dinyatakan secara terang oleh kelompok-kelompok yang terkenal; sebagian hanya menyembunyikannya. Ia baru ditampakkan secara terbuka ketika pemikiran kelompok-kelompok yang memusuhi para rasul mulai muncul.
الرسول لم يدع بطريقة الأعراض والجواهر
Rasul Tidak Menyeru dengan Metode Aksiden dan Substansi
الوجه الثاني: أن يقال: كل من له أدنى معرفة بما جاء به النبي ﷺ يعلم بالاضطرار أن النبي ﷺ لم يدع الناس بهذه الطريق، طريقة الأعراض، ولا نفي الصفات أصلاً، لا نصاً ولا ظاهراً، ولا ذكر ما يفهم منه ذلك لا نصاً ولا ظاهراً، ولا ذكر أن الخالق ليس فوق العالم ولا مبايناً له، أو أنه لا داخل العالم ولا خارجه، ولا ذكر ما يفهم منه ذلك لا نصاً ولا ظاهراً، بل ولا نفي الجسم الاصطلاحي، ولا ما يرادفه من الألفاظ.
Kedua: setiap orang yang memiliki sedikit saja pengetahuan mengenai apa yang dibawa Nabi ﷺ mengetahui secara pasti bahwa Nabi ﷺ tidak menyeru manusia melalui metode aksiden, tidak pula melalui penafian sifat. Beliau tidak menyatakannya, baik secara eksplisit maupun secara zahir. Beliau juga tidak menyebut sesuatu yang dapat dipahami sebagai penafian bahwa Sang Pencipta berada di atas alam atau terpisah darinya, atau bahwa Dia tidak berada di dalam maupun di luar alam. Tidak terdapat pula penafian istilah teknis “jisim” maupun istilah yang sepadan dengannya.2
ولا ذكر أن الحوادث يمتنع دوامها في الماضي والمستقبل، أو في الماضي، لا نصاً ولا ظاهراً، ولا أن الرب صار الفعل ممكناً له بعد أن لم يكن ممكناً، ولا أنه صار الكلام ممكناً له بعد أن لم يكن ممكناً، ولا أن كلامه ورضاه وغضبه وحبه وبغضه ونحو ذلك أمور مخلوقة بائنة عنه، وأمثال ذلك مما يقوله هؤلاء، لا نصاً ولا ظاهراً.
Beliau juga tidak menyebut bahwa rangkaian peristiwa mustahil berlangsung terus di masa lalu dan masa depan, ataupun hanya di masa lalu; tidak pula bahwa perbuatan baru menjadi mungkin bagi Rabb setelah sebelumnya tidak mungkin; atau bahwa berbicara baru menjadi mungkin bagi-Nya setelah sebelumnya tidak mungkin; atau bahwa kalam-Nya, keridhaan-Nya, kemurkaan-Nya, cinta-Nya, kebencian-Nya, dan yang semisalnya merupakan perkara-perkara makhluk yang terpisah dari-Nya. Semua gagasan semacam itu yang dikemukakan kelompok-kelompok tersebut tidak pernah dinyatakan oleh Rasul, baik secara nash maupun secara zahir.
بل علم الناس خاصتهم وعامتهم بأن النبي ﷺ لم يذكر ذلك أظهر من علمهم بأنه لم يحج بعد الهجرة إلا حجة واحدة، وأن القرآن لم يعارضه أحد، وأنه لم يفرض صلاة إلا الصلوات الخمس، وأنه لم يكن يؤخر صلاة النهار إلى الليل وصلاة الليل إلى النهار، وأنه لم يكن يؤذن له في العيدين والكسوف والاستسقاء.
Bahkan pengetahuan masyarakat, baik kalangan khusus maupun umum, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menyebut perkara-perkara tersebut lebih jelas daripada pengetahuan mereka bahwa beliau hanya menunaikan satu kali haji setelah hijrah, bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menandingi Al-Qur’an, bahwa beliau hanya mewajibkan lima shalat, bahwa beliau tidak menunda shalat siang hingga malam atau shalat malam hingga siang, serta bahwa tidak dikumandangkan azan untuk shalat dua hari raya, shalat gerhana, dan shalat istisqa.
وأنه لم يرض بدين الكفار، لا المشركين ولا أهل الكتاب قط، وأنه لم يسقط الصلوات الخمس عن أحد من العقلاء، وأنه لم يقاتل أحداً من المؤمنين به، لا أهل الصفة ولا غيرهم، وأنه لم يكن يؤذن بمكة ولا كان بمكة أهل صفة، ولا كان بالمدينة أهل صفة قبل أن يهاجر إلى المدينة.
Demikian pula diketahui bahwa beliau sama sekali tidak meridhai agama orang-orang kafir, baik kaum musyrik maupun Ahlul Kitab; bahwa beliau tidak pernah menggugurkan kewajiban lima shalat dari seorang pun yang berakal; bahwa beliau tidak memerangi seorang pun dari orang-orang beriman kepada beliau, baik Ahl ash-Shuffah maupun selain mereka; bahwa tidak ada azan di Makkah pada masa tersebut dan tidak ada Ahl ash-Shuffah di Makkah; serta bahwa di Madinah belum terdapat Ahl ash-Shuffah sebelum beliau berhijrah ke sana.
وأنه لم يجمع أصحابه قط على سماع كف ولا دف، وأنه لم يكن يقصر شعر كل من أسلم أو تاب من ذنب، وأنه لم يكن يقتل كل من سرق أو قذف أو شرب، وأنه لم يكن يصلي الخميس إذا كان صحيحاً إلا بالمسلمين، لم يكن يصلي الفرض وحده، ولإلى الغيب، وأنه لم يحج في الهواء قط.
Diketahui pula bahwa beliau tidak pernah mengumpulkan para sahabatnya untuk mendengarkan tepukan tangan atau tabuhan rebana sebagai ritual; tidak memotong rambut setiap orang yang masuk Islam atau bertobat dari dosa; tidak membunuh setiap orang yang mencuri, menuduh zina, atau meminum khamr; dan tidak melakukan berbagai perkara aneh yang kemudian dinisbatkan kepada agama.
وأنه لم يقل رأيت ربي في اليقظة لا ليلة المعراج ولا غيرها.3Ibn Taimiyyah menjelaskan di tempat lain bahwa Ahlus Sunnah sepakat tidak seorang pun melihat Allah dengan mata kepala di dunia. Riwayat-riwayat mengenai Mi‘raj yang menyebut “melihat” memiliki pembahasan tersendiri, dan tidak dapat dijadikan dasar bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan mata kepala secara langsung di dunia.</efn_note]
Dan beliau tidak pernah mengatakan, “Aku melihat Rabb-ku dalam keadaan terjaga,” baik pada malam Mi‘raj maupun pada kesempatan lainnya.
ولم يقل: إن الله ينزل عشية عرفة إلى الأرض، ولا قال: إن الله ينزل كل ليلة إلى الأرض، وإنما قال: «ينزل إلى سماء الدنيا».
Beliau juga tidak pernah mengatakan bahwa Allah turun pada petang hari Arafah ke bumi, dan tidak pula mengatakan bahwa Allah turun setiap malam ke bumi. Yang beliau sabdakan adalah: “Dia turun ke langit dunia.”
وأمثال ذلك مما يعلم العلماء بأحواله علماً ضرورياً أنه لم يكن، ومن روى ذلك عنه أو أخذ يستدل على ثبوت ذلك علموا بطلان قوله بالاضطرار، كما يعلمون بطلان قول السوفسطائية، وإن لم يشتغلوا بحل شبههم.
Perkara-perkara semisal itu diketahui secara pasti oleh para ulama yang mengenal keadaan Rasul bahwa hal tersebut tidak pernah terjadi. Siapa yang meriwayatkannya dari beliau atau berusaha menjadikannya sebagai dalil, maka kebatilan perkataannya dapat diketahui secara niscaya, sebagaimana kebatilan pandangan kaum sofis dapat diketahui meskipun seseorang tidak menyibukkan diri membantah seluruh syubhat mereka.
وحينئذ فمن استدل بهذه الطريق، أو أخبر الأئمة بمثل قول نفاة الصفات، كان كذبه معلوماً بالاضطرار أبلغ مما يعلم من له أدنى خبرة بأحوال الرسل، فضلاً عن المتوسطين، فضلاً عن الوارثين له، العالمين بأقواله وأفعاله.
Karena itu, orang yang menisbatkan metode tersebut kepada para nabi, atau menisbatkan kepada para imam ucapan-ucapan seperti perkataan para penafi sifat, dapat diketahui kekeliruannya secara pasti oleh siapa pun yang memiliki sedikit pengetahuan mengenai keadaan para rasul; terlebih lagi oleh orang-orang yang lebih mendalam pengetahuannya dan oleh para pewaris ilmu kenabian yang mengetahui perkataan dan perbuatan Rasul.
الوجه الثالث: أن يقال: جميع ما ذكرتموه من أقوال الأنبياء أنها تدل على مثل قولكم فلا دلالة في شيء منها من وجوه متعددة، وذلك معلوم يقيناً، بل فيها ما يدل على نقيض قولكم، وهو مذهب أهل الإثبات، وهكذا عامة ما يحتج به أهل الباطل من الحجج، لا سيما السمعية، فإنها إنما تدل على نقيض قولهم.
Sisi ketiga: semua perkataan para nabi yang kalian sebutkan dan kalian klaim menunjukkan pendapat kalian sebenarnya tidak menunjukkan hal tersebut dari berbagai sisi. Hal itu dapat diketahui dengan yakin. Bahkan di dalam nash-nash tersebut terdapat sesuatu yang menunjukkan kebalikan dari pendapat kalian, yaitu apa yang menjadi pandangan kalangan yang menetapkan sifat. Demikian pula umumnya dalil yang digunakan para pendukung kebatilan—terutama dalil sam‘i—justru menunjukkan kebalikan dari kesimpulan mereka.
الأفول: هو الغياب وليس الحركة
Aful adalah Menghilang, Bukan Gerakan
وأما قصة إبراهيم الخليل عليه السلام فقد علم باتفاق اللغة والمفسرين أن الأفول ليس هو الحركة، سواء كانت حركة مكانية، وهي الانتقال، أو حركة في الكم كالنمو، أو في الكيف كالسواد والبياض، ولا هو التغير، فلا يسمى في اللغة كل متحرك أو متغير آفلاً، ولا أنه أفل لا يقال للصبي أو الماشي أنه أفل.
Adapun kisah Ibrahim al-Khalil عليه السلام, telah diketahui berdasarkan kesepakatan bahasa dan para mufasir bahwa afūl bukanlah gerak. Baik gerak tempat berupa perpindahan, gerak kuantitas seperti pertumbuhan, maupun gerak kualitas seperti perubahan hitam dan putih, semuanya tidak disebut afūl. Tidak pula setiap sesuatu yang bergerak atau berubah disebut āfil. Seorang anak atau orang yang sedang berjalan tidak dikatakan “telah aful”.
ولا يقال للتغير الذي هو استحالة، كالمرض واصفرار الشمس: إنه أفول، لا يقال للشمس إذا اصفرت: إنها أفلت، وإنما يقال «أفلت» إذا غابت واحتجبت.
Perubahan kondisi seperti sakit atau matahari yang menguning juga tidak disebut afūl. Tidak dikatakan bahwa matahari telah “afal” hanya karena warnanya menguning. Kata afalat digunakan ketika matahari menghilang dan tertutup dari pandangan.
وهذا من المتواتر المعلوم بالاضطرار من لغة العرب: أن أفلاً بمعنى غائب، وقد أفلت الشمس: تأفل وتأفل أفولاً، أي غابت.
Makna ini diketahui secara luas dan pasti dalam bahasa Arab: āfil berarti sesuatu yang menghilang. Dikatakan, afalat asy-syams, yakni matahari telah tenggelam dan menghilang dari pandangan.
ومما يبين هذا أن الله ذكر عن الخليل أنه لما «رأى كوكباً قال هذا ربي فلما أفل قال لا أحب الآفلين. فلما رأى القمر بازغاً قال هذا ربي فلما أفل قال لئن لم يهدني ربي لأكونن من القوم الضالين. فلما رأى الشمس بازغة قال هذا ربي هذا أكبر فلما أفلت قال يا قوم إني بريء مما تشركون. إني وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض».
Hal ini semakin jelas dari kisah yang Allah sebutkan tentang Ibrahim. Ketika ia “melihat sebuah bintang, ia berkata: ‘Ini Rabb-ku.’ Ketika bintang itu terbenam, ia berkata: ‘Aku tidak menyukai yang terbenam.’ Ketika ia melihat bulan terbit, ia berkata: ‘Ini Rabb-ku.’ Namun ketika bulan itu terbenam, ia berkata: ‘Jika Rabb-ku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang sesat.’ Ketika ia melihat matahari terbit, ia berkata: ‘Ini Rabb-ku, ini lebih besar.’ Tetapi ketika matahari itu terbenam, ia berkata: ‘Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi.’”
ومعلوم أنه لما بزغ القمر والشمس كان في بزوغه متحركاً، وهو الذي يسمونه تغيراً، فلو كان قد استدل بالحركة المسماة تغيراً لكان قد قال ذلك من حين رآه بازغاً، وليس مراد الخليل بقوله: «هذا ربي» رب العالمين، ولا أن هذا هو القديم الأزلي الواجب الوجود، الذي كل ما سواه حدث ممكن مخلوق له.
Telah diketahui bahwa ketika bulan dan matahari terbit, keduanya berada dalam keadaan bergerak—sesuatu yang oleh mereka disebut sebagai perubahan. Seandainya Ibrahim menjadikan gerak yang disebut perubahan itu sebagai dalil, tentu ia telah menyatakan kesimpulannya sejak pertama kali melihat benda tersebut terbit. Dan maksud Ibrahim dengan perkataan “Ini Rabb-ku” bukanlah bahwa benda itu adalah Rabb seluruh alam atau Zat Yang Qadim dan Azali, Wajib al-Wujud, sementara segala selain-Nya merupakan makhluk yang baru dan mungkin.
ولا كان قومه يعتقدون هذا حتى يدللهم على فساده، ولا اعتقد هذا أحد يعرف في قوله، بل قومه كانوا مشركين يعبدون الكواكب والأصنام، ويقرون بالصانع.
Kaumnya pun tidak memiliki keyakinan seperti itu sehingga Ibrahim perlu membuktikan kerusakannya. Tidak dikenal adanya orang di antara mereka yang memahami perkataan tersebut dengan makna demikian. Kaum Ibrahim adalah kaum musyrik yang menyembah bintang-bintang dan berhala, namun tetap mengakui adanya Sang Pencipta.
ولهذا قال الخليل: «أفرأيتم ما كنتم تعبدون. أنتم وآباؤكم الأقدمون فإنهم عدو لي إلا رب العالمين»، وقال: «إني براء مما تعبدون. إلا الذي فطرني فإنه سيهدين. وجعلها كلمة باقية في عقبه لعلهم يرجعون».
Karena itulah Ibrahim al-Khalil berkata, “Apakah kalian memperhatikan apa yang selama ini kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian yang terdahulu? Sesungguhnya semuanya adalah musuh bagiku kecuali Rabb seluruh alam.” Ia juga berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Zat yang telah menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Dan Allah menjadikan kalimat tersebut tetap pada keturunannya agar mereka kembali.
فذكر لهم ما كانوا يفعلون من اتخاذ الكواكب والشمس والقمر أرباباً يعبدونها ويتقربون إليها، كما هو عادة عباد الكواكب ومن يطلب تسخير روحانية الكواكب، وهذا مذهب مشهور، ما زال عليه طوائف من المشركين إلى اليوم، وهو الذي صنف فيه الرازي «السر المكتوم» وغيره من المصنفات.3Penulis mengisyaratkan sejumlah karya ar-Razi yang membahas masalah astrologi dan pemujaan benda-benda langit, di antaranya karya yang dikenal dengan judul as-Sirr al-Maktūm.</efn_note]
Ibrahim menyebutkan kepada mereka apa yang biasa mereka lakukan, yaitu menjadikan bintang-bintang, matahari, dan bulan sebagai sesembahan yang mereka ibadahi dan jadikan sarana mendekatkan diri. Praktik seperti ini dikenal di kalangan para pemuja benda-benda langit dan orang-orang yang berusaha memperoleh pengaruh spiritual dari bintang-bintang. Menurut penulis, keyakinan semacam ini merupakan mazhab yang terkenal dan masih dianut sebagian kelompok musyrik hingga masanya; ar-Razi bahkan menulis as-Sirr al-Maktūm dan karya-karya lain mengenai tema tersebut.
فإن قال المنازعون: بل الخليل إنما أراد أن هذا رب العالمين.
Jika pihak yang membantah berkata: “Tidak, yang dimaksud Ibrahim adalah bahwa benda tersebut merupakan Rabb seluruh alam.”
قيل: فيكون إقرار الخليل حجة على فساد قولكم، لأنه حينئذ يكون مقراً بأن رب العالمين قد يكون متحيزاً منتقلاً من مكان إلى مكان، متغيراً، وإنه لم يجعل هذه الحوادث تنافي وجوده، وإنما جعل المنافي لذلك أفوله، وهو مغيبه، فتبين أن قصة الخليل إن تكن حجة عليهم أقرب من أن تكون حجة لهم، ولا حجة لهم فيها بوجه من الوجوه.
Dijawab: jika demikian, justru pengakuan Ibrahim itu menjadi hujah atas rusaknya pendapat kalian. Sebab menurut asumsi kalian, Ibrahim berarti sempat mengakui sesuatu yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan mengalami perubahan sebagai Rabb seluruh alam, dan ia tidak menjadikan perubahan tersebut sebagai sesuatu yang menafikan ketuhanan. Yang ia jadikan sebagai penafian justru afūl, yaitu menghilang atau terbenam. Dengan demikian, kisah Ibrahim lebih dekat menjadi hujah terhadap mereka daripada menjadi hujah bagi mereka, dan sama sekali tidak menjadi dalil yang mendukung pendapat mereka.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Lihat penjelasan ar-Razi dalam tafsir besarnya Mafātīḥ al-Ghaib, 23/52. Ia menyebutkan bahwa kalangan khusus memahami afūl sebagai menunjukkan kemungkinan, sedangkan kalangan pertengahan memahaminya sebagai gerak; setiap yang bergerak adalah baru, dan setiap yang baru membutuhkan Yang Qadim lagi Mahakuasa.
- Abu al-Hasan al-Asy‘ari juga menegaskan dalam risalahnya kepada Ahl ats-Tsaghr bahwa seandainya metode aksiden dan substansi benar pada dirinya, tentu para rasul lebih dahulu menempuh dan menunjukkannya. Lihat Risālah ilā Ahl ats-Tsaghr, al-Asy‘ari, tahqiq Muhammad as-Sayyid al-Julaynad.
Leave a Reply