درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 18)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
وأقسم من ذلك قول من جعل الأفول بمعنى الإمكان، وجعل كل ما سوى الله تعالى ممكناً لكونه مفتقراً إليها، حتى جعل السماوات والأرض والجبال والشمس والقمر والكواكب لم تزل ولا تزال آفلَة، وأن أفولها وصف لازم لها، إذ هو كونها ممكنة.
Lebih aneh lagi adalah pendapat orang yang menjadikan afūl bermakna “imkān” atau kemungkinan, lalu menganggap segala sesuatu selain Allah Ta‘ala sebagai sesuatu yang mungkin karena bergantung kepada-Nya. Dengan dasar itu mereka menjadikan langit, bumi, gunung-gunung, matahari, bulan, dan bintang-bintang sebagai sesuatu yang senantiasa “āfil”, dan menganggap afūl sebagai sifat yang terus melekat padanya karena semuanya merupakan sesuatu yang mungkin.
والإمكان لازم لها، فهذا مع كونه افتراء على اللغة والقرآن، افتراء ظاهر أيضاً على إبراهيم الخليل، كما افترى عليه ذلك من تسميته الأفول حركة وتسميته مصنوعاً.
Sifat mungkin memang melekat pada makhluk. Namun menjadikan hal itu sebagai makna afūl, selain merupakan pemaksaan terhadap bahasa dan Al-Qur’an, juga merupakan penisbatan yang tidak benar kepada Ibrahim al-Khalil, sebagaimana tidak tepat pula menafsirkan afūl sebagai gerak atau sekadar keadaan sebagai sesuatu yang diciptakan.
فقصة الخليل حجة عليه، فإنه لما رأى القمر بازغاً قال هذا ربي، ولما رأى الشمس بازغة قال هذا ربي، فما دامت بازغة لم يقل: لا أحب الآفلين.
Justru kisah Ibrahim al-Khalil menjadi hujah terhadap pendapat tersebut. Ketika melihat bulan terbit, Ibrahim berkata, “Ini Rabb-ku.” Ketika melihat matahari terbit, ia juga berkata, “Ini Rabb-ku.” Selama keduanya masih tampak dan belum terbenam, ia tidak mengatakan, “Aku tidak menyukai yang aful.”
فتبين أن أفولها بعد أن لم تكن آفلَة، فكون الشمس والقمر والكواكب وكل ما سوى الله ممكناً هو وصف لازم له لا يحدث بعد أن لم يكن.
Dengan demikian jelas bahwa afūl terjadi setelah sebelumnya benda tersebut belum dalam keadaan aful. Adapun keadaan matahari, bulan, bintang-bintang, dan seluruh selain Allah sebagai sesuatu yang mungkin merupakan sifat yang selalu melekat padanya dan bukan sesuatu yang baru muncul setelah sebelumnya tidak ada.
وهم يقولون: إمكانه له من ذاته، ووجوده من غيره، بناء على تفريقهم في الخارج بين وجود الشيء وذاته، فالإمكان عندهم أول بذاته من الوجود.
Mereka mengatakan bahwa sifat mungkin berasal dari dirinya sendiri, sedangkan keberadaannya berasal dari selain dirinya, berdasarkan pembedaan mereka antara wujud sesuatu dan esensinya. Karena itu, menurut mereka, kemungkinan melekat pada zatnya sebelum keberadaannya.
ويقال: فلما وجدت الشمس أو لم تزل موجودة، قال: لا أحب الآفلين، فكان هذا وصفاً فيها متناقضاً، إذ لو لم تزل كذلك، فكيف إذا قال: فلما صارت ممكنة، وهي لم تزل ممكنة.
Maka dikatakan kepada mereka: apabila matahari telah ada, atau menurut asumsi mereka selalu ada, kemudian Ibrahim berkata, “Aku tidak menyukai yang aful,” bagaimana mungkin afūl ditafsirkan sebagai “menjadi mungkin”, sementara menurut mereka matahari sejak awal memang selalu bersifat mungkin? Ini merupakan kontradiksi dalam penafsiran tersebut.
وأيضاً فمتى من حين بزغت وإلى أن أفلت ممكنة بذاتها تقبل الوجود والعدم، مع كونها معدومة عند من يقول إنها محدثة، وحينئذ يكون كونها متحركة ليس بدليل عند إبراهيم على كونها ممكنة تقبل الوجود والعدم.
Selain itu, sejak matahari terbit hingga tenggelam, menurut konsep mereka ia tetap bersifat mungkin pada zatnya dan dapat menerima keberadaan maupun ketiadaan. Bahkan menurut orang yang mengatakan bahwa ia merupakan sesuatu yang baru, sebelum ada pun ia telah mungkin. Karena itu geraknya tidak dapat dianggap sebagai dalil yang digunakan Ibrahim untuk menetapkan sifat mungkin tersebut.
وأما قول القائل: «كل متحرك محدث، أو كل متحرك ممكن الوجود والعدم»، فهذه المقدمة ليست ضرورية فطرية باتفاق العقلاء، بل من يقول بصحة ذلك يقول: إنها لا تعلم إلا بالنظر الدقيق، ومن ينازع في ذلك يقول: إنها باطلة عقلاً وسمعاً.
Adapun pernyataan, “Setiap yang bergerak adalah sesuatu yang baru,” atau “Setiap yang bergerak adalah sesuatu yang mungkin ada dan tiada,” bukanlah premis yang diketahui secara fitri dan niscaya berdasarkan kesepakatan orang-orang berakal. Orang yang menerimanya mengatakan bahwa premis tersebut hanya dapat diketahui melalui penalaran yang mendalam, sedangkan pihak yang menolaknya mengatakan bahwa premis itu batil baik secara rasional maupun sam‘i.
لفظ الأحد والواحد
Lafaz Al-Ahad dan Al-Wahid
وأما استدلالهم بما في القرآن من تسمية الله أحداً وواحداً على نفي الصفات، الذي بنوه على نفي التجسيم.
Adapun argumentasi mereka dengan penyebutan Allah dalam Al-Qur’an sebagai Ahad dan Wahid untuk menafikan sifat-sifat Allah, yang dibangun di atas penafian tajsim, juga perlu ditinjau.
فيقال لهم: ليس في كلام العرب، بل ولا عامة أهل اللغات، أن الذات الموصوفة بالصفات لا تسمى واحداً ولا تسمى أحداً، بل النفي والإثبات، بل المعقول المتواتر عن العرب تسمية الموصوف بالصفات واحداً وأحداً.
Dikatakan kepada mereka: tidak dikenal dalam bahasa Arab, bahkan tidak pula secara umum dalam bahasa-bahasa manusia, bahwa suatu zat yang memiliki sifat tidak boleh dinamakan “satu” atau “ahad”. Bahkan penggunaan bahasa yang dikenal secara luas justru menyebut sesuatu yang memiliki sifat sebagai satu dan ahad.
قال تعالى: «ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا».
Allah Ta‘ala berfirman, “Biarkanlah Aku dengan orang yang Aku ciptakan seorang diri.”
وقال تعالى: «فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ»، وإن كانت واحدة فلها النصف، و«امرأة واحدة»، و«بشراً واحداً» وأمثال ذلك.
Al-Qur’an juga menggunakan lafaz “satu” untuk berbagai makhluk, seperti ungkapan mengenai satu orang, satu perempuan, dan bentuk-bentuk serupa lainnya. Semua itu menunjukkan bahwa makna “satu” dalam bahasa tidak menuntut penafian seluruh sifat.
وقال تعالى في امرأة لوط: «إِلَّا امْرَأَتَهُ قَدَّرْنَا إِنَّهَا لَمِنَ الْغَابِرِينَ»، وقال تعالى: «أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى».
Allah juga menggunakan kata yang berasal dari makna “satu” ketika berbicara mengenai seorang perempuan dan ketika menyebut salah seorang dari dua perempuan dalam persoalan kesaksian. Penggunaan seperti ini menunjukkan bahwa lafaz tersebut tidak berarti sesuatu yang sama sekali tidak memiliki sifat.
وقال: «مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ»، وقال: «وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ».
Dan Allah berfirman, “dari kalangan jin dan manusia,” serta, “dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”
فإن كان لفظ الأحد لا يقال على ما قامت به الصفات، بل ولا على شيء من الأجسام التي تقوم بها الأعراض لأنها منقسمة، لم يكن في الوجود لله أحد، لأن النصوص جاءت باستعمال هذا اللفظ فيما هو موصوف بصفات.
Jika lafaz ahad tidak boleh digunakan bagi sesuatu yang memiliki sifat, bahkan tidak boleh digunakan bagi benda yang memiliki berbagai karakteristik karena dianggap dapat terbagi, maka penggunaan bahasa dan nash yang nyata akan menjadi tidak dapat dipahami. Sebab teks-teks sendiri menggunakan lafaz tersebut bagi sesuatu yang memiliki sifat.
فإذا قيل: «ولم يكن له كفواً أحد» لم يكن هذا نفياً للكفء إلا عمن لا يوصف بصفة، وهو عكس المراد.
Karena itu, apabila firman “dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya” ditafsirkan dengan pengertian bahwa “ahad” hanya berlaku bagi sesuatu yang sama sekali tanpa sifat, justru makna ayat akan berbalik dari tujuan sebenarnya.
وكذلك قوله: «وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ أَحَدًا»، و«لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ»، فكون التقدير في الأحد أنه ما لم يوجد له نظير ولا شريك هو المعروف في اللغة والشرع.
Demikian pula firman Allah, “Janganlah kalian mempersekutukan seorang pun dengan-Nya,” dan, “Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” Makna yang dikenal dalam bahasa dan syariat adalah bahwa Ahad menunjukkan tidak adanya tandingan atau sekutu, bukan tidak adanya sifat.
وإذا كان المراد النفي العام، وأن كل موجود من الإنس والجن يدخل في مسمى أحد، ويقال: أحد الرجلين، ويقال لأحد المسلمين والكافرين، فكيف يجعل هذا اللفظ دليلاً على نفي الصفات؟
Jika lafaz tersebut digunakan secara umum sehingga setiap manusia dan jin dapat masuk dalam cakupannya, dan dikatakan “salah seorang dari dua orang”, atau “salah seorang Muslim” maupun “salah seorang kafir”, bagaimana mungkin lafaz tersebut dijadikan dalil untuk menafikan sifat-sifat Allah?
معنى الجسم ومناسبته
Makna Istilah Jisim dan Penggunaannya
وأما احتجاجهم بقولهم: «الأجسام متماثلة» فهذا ـ إن كان حقاً ـ فهو تماثل يعلم بالعقل، ليس لأن اللغة التي نزل بها القرآن تطلق لفظ «الجسم» على كل ما يقوم بنفسه.
Adapun argumentasi mereka dengan perkataan, “Semua jisim saling serupa,” maka sekalipun hal itu dianggap benar, keserupaan tersebut harus dibuktikan secara rasional. Hal itu tidak dapat ditetapkan hanya dengan bahasa Al-Qur’an, karena bahasa tempat Al-Qur’an diturunkan tidak menggunakan istilah “jisim” untuk setiap sesuatu yang berdiri sendiri.
ولا لأن اللغة التي نزل بها القرآن تقول: إن الإنسان مثل السماء والشمس والقمر والكواكب مثل الجبال، والجبال مثل البحار، والبحار مثل التراب، والتراب مثل الهواء، والهواء مثل الماء، والماء مثل النار، والنار مثل الشمس، والشمس مثل الإنسان، والإنسان مثل الفرس والحمار.
Bahasa Al-Qur’an juga tidak mengatakan bahwa manusia serupa dengan langit, matahari, dan bulan; bahwa bintang sama dengan gunung; gunung sama dengan laut; laut sama dengan tanah; tanah sama dengan udara; udara sama dengan air; air sama dengan api; api sama dengan matahari; atau bahwa manusia sama dengan kuda dan keledai.
بل القرآن يقول إن كل شيئين اشتركا في قدر مشترك بينهما لا يقتضي أن يكون كل منهما مثل الآخر مطلقاً.
Justru apabila dua hal memiliki suatu kadar makna yang sama, hal itu tidak mengharuskan bahwa keduanya sama dalam segala sisi.
فاللغة التي نزل بها القرآن وسائر لغات بني آدم لا توجب إذا اشترك شيئان في أن كلا منهما حساس نام متحرك بالإرادة ناطق مصوت أن يكونا متماثلين.
Bahasa Al-Qur’an dan bahasa manusia pada umumnya tidak mengharuskan bahwa dua hal menjadi identik hanya karena keduanya sama-sama memiliki beberapa karakteristik umum, seperti merasakan, tumbuh, bergerak dengan kehendak, berbicara, atau mengeluarkan suara.
فقد لا يكون أحدهما مثل الآخر في «ما» هو من خصائصه، فكيف إذا كان أحدهما خالقاً والآخر مخلوقاً؟
Salah satunya tetap dapat berbeda dari yang lain dalam sifat-sifat khususnya. Jika demikian keadaan dua makhluk, maka terlebih lagi apabila salah satunya adalah Sang Pencipta sedangkan yang lainnya adalah makhluk.
Leave a Reply