درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 19)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
وذلك يستلزم أن يكون كل موجود مماثلاً لكل موجود، وهذا مع أنه في غاية الفساد والتناقض ـ لا يقوله عاقل، فإنه يستلزم التماثل بين جميع الأشياء، فتبقى صفات مختلفة غير متباينة قط، وحينئذ يلزم أن يكون الرب مماثلاً لكل شيء.
Konsekuensi dari pandangan tersebut adalah bahwa setiap yang ada harus serupa dengan setiap yang ada lainnya. Selain sangat rusak dan kontradiktif, hal seperti ini tidak akan dikatakan oleh orang berakal. Sebab ia mengharuskan keserupaan seluruh benda, sehingga berbagai sifat yang berbeda dianggap tidak benar-benar berbeda. Akhirnya, konsekuensinya justru mengharuskan Rabb serupa dengan segala sesuatu.
فلا يجوز نفي مماثلة شيء من الأشياء عنه، وذلك مناقض للسمع والعقل، فصار حقيقة قولهم في نفي تماثل الأجسام مستلزماً لثبوت مماثلة كل شيء له، فهم متناقضون مخالفون للشرع والعقل.
Dengan demikian mereka tidak lagi dapat menafikan keserupaan sesuatu dengan-Nya. Ini bertentangan dengan dalil sam‘i maupun akal. Maka hakikat perkataan mereka dalam menafikan perbedaan antarjisim justru mengharuskan bahwa segala sesuatu serupa dengan-Nya. Dengan demikian mereka terjatuh dalam kontradiksi dan menyelisihi syariat maupun akal.
الجواب الرابع
Jawaban Keempat
أن يقال: فهب أن بعض هذه النصوص قد يفهم منها مقدمة واحدة من مقدمات دليلكم، فهناك ليست كافية بالضرورة عند العقلاء، بل لابد من ضم مقدمة أو مقدمات أخر ليس في القرآن ما يدل عليها ألبتة.
Dapat dikatakan: andaikan sebagian nash tersebut memang dapat dipahami mengandung satu premis dari rangkaian dalil kalian, premis itu sendiri belumlah mencukupi menurut pertimbangan rasional. Ia masih memerlukan satu atau beberapa premis tambahan yang sama sekali tidak terdapat dalilnya dalam Al-Qur’an.
فإذا قدر أن الأولى هو الحركة، فمن أين أن اقترانها بمحلها دليل على أن كل متحرك محدث أو ممكن؟ وأن الحركة لا تقوم إلا بحادث أو ممكن؟ وأن ما قامت به الحوادث لا يخلو منها؟ وأن ما لا يخلو من الحوادث فهو حادث؟ وأن الحادث له محدث؟
Seandainya premis pertama yang dimaksud adalah “gerak”, dari manakah diperoleh bahwa melekatnya gerak pada sesuatu membuktikan bahwa setiap yang bergerak pasti baru atau mungkin? Dari mana pula diketahui bahwa gerak hanya terjadi pada sesuatu yang baru atau mungkin; bahwa sesuatu yang menjadi tempat terjadinya berbagai peristiwa tidak dapat terlepas darinya; bahwa apa yang tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa baru pasti baru; dan bahwa setiap yang baru pasti memiliki pengada?
بل أين في القرآن أن الجسم الاصطلاحي مركب من الجواهر الفردة التي لا تقبل الانقسام، أو من المادة والصورة، وأن كل جسم فهو منقسم ليس بواحد؟
Bahkan, di manakah dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa “jisim” dalam pengertian teknis tersusun dari substansi-substansi tunggal yang tidak dapat dibagi, atau tersusun dari materi dan bentuk, dan bahwa setiap jisim pasti terbagi sehingga tidak dapat disebut satu?
بل أين في القرآن أو لغة العرب، أو أحد من الأمم أن كل ما يشار إليه أو كل ما له مقدار فهو جسم؟ وأن كل ما له مقدار مركب؟
Bahkan, di manakah dalam Al-Qur’an, bahasa Arab, atau bahasa bangsa mana pun terdapat ketentuan bahwa setiap sesuatu yang dapat ditunjuk atau mempunyai ukuran harus disebut jisim, dan bahwa setiap yang mempunyai ukuran pasti merupakan sesuatu yang tersusun?
ولفظ الجسم في القرآن مذكور في قوله تعالى: «وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ»، وفي قوله: «وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ».
Lafaz jism sendiri disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti dalam firman Allah Ta‘ala, “Dan Dia memberinya kelebihan dalam ilmu dan tubuh,” serta firman-Nya, “Apabila engkau melihat mereka, tubuh-tubuh mereka membuatmu kagum.”
وصور المنافقون؟ عرف ذلك أهل اللغة: أن الجسم هو البدن. قال الجوهري في صحاحه: قال أبو زيد: الجسم الجسد، وكذلك الجسمان والجثمان، وقال الأصمعي: الجسم والجثمان: الشخص.
Ahli bahasa memahami bahwa yang dimaksud jism adalah badan. Al-Jauhari dalam ash-Shihah menukil Abu Zaid: “al-jism adalah jasad,” demikian pula al-jusman dan al-jutsman. Al-Ashma‘i berkata bahwa al-jism dan al-jutsman berarti sosok atau tubuh seseorang.
ومعلوم أن أهل الاصطلاح نقلوا لفظ «الجسم» من هذا المعنى الخاص إلى ما هو أعم منه، فسموا الهواء ولهيب النار وغير ذلك جسماً، وهذا لا تسميه العرب جسماً.
Telah diketahui bahwa para pengguna istilah teknis kemudian memindahkan lafaz jism dari makna khusus tersebut kepada makna yang lebih umum. Mereka menyebut udara, nyala api, dan yang semisalnya sebagai jisim, padahal penggunaan seperti itu bukanlah penggunaan bahasa Arab asalnya.
وكذلك أهل العرف الاصطلاحي يريدون بالجسم تارة هذا، وتارة هذا، ويفرقون بين الجسم الطبيعي الذي له صورة من المواد الذي يسمى المادة والهيولى، وبين الجسم التعليمي الموجود المبسوط في موضع آخر.
Demikian pula dalam penggunaan terminologis, kata jisim kadang dimaksudkan dengan satu pengertian dan pada kesempatan lain dengan pengertian berbeda. Mereka membedakan antara “jisim alami”, yang dikaitkan dengan bentuk dan materi—yang disebut materi atau hayula—dan “jisim matematis”, yang dibahas dalam konteks ukuran dan dimensi.
والمقصود هنا أنه لم يرد أن الدليل يفتقر إلى مقدمات، ولم يذكر القرآن إلا واحدة، لم يكن قد ذكر الدليل، بل إن تكون البراهين الواضحات لا تفتقر إلى مقدمات خفية، فإنها إنما يذكر للمخاطب عين المقدمات التي يحتاج إليها.
Pokok persoalannya adalah: jika suatu dalil membutuhkan beberapa premis sedangkan Al-Qur’an hanya menyebut satu di antaranya, maka tidak dapat dikatakan bahwa Al-Qur’an telah mengemukakan dalil tersebut secara utuh. Argumentasi yang benar-benar jelas justru tidak bergantung kepada premis-premis tersembunyi; ia menghadirkan kepada orang yang diajak bicara premis yang memang diperlukan untuk memahami kesimpulannya.
معنى حلول الحوادث وتسلسلها
Makna Terjadinya Perkara-Perkara Baru dan Rangkaian Kejadiannya
فإن قيل: بعد كون الأجسام مستلزمة للحوادث، والحوادث لا بد لها من محدث، وكون الحوادث لا أول لها معلوم بالضرورة، كما ادعى ذلك كثير من نظار المتكلمين، وقالوا: نحن نعلم بالاضطرار أن ما لا يسبق الحوادث أو ما لا يخلو من الحوادث فهو حادث.
Jika dikatakan: setelah diketahui bahwa jisim selalu berkaitan dengan berbagai peristiwa baru, bahwa setiap peristiwa baru pasti memiliki pengada, serta bahwa persoalan rangkaian peristiwa diketahui secara niscaya—sebagaimana diklaim oleh banyak mutakallim—mereka berkata bahwa kita mengetahui secara pasti bahwa sesuatu yang tidak mendahului berbagai peristiwa baru, atau tidak pernah terlepas dari peristiwa-peristiwa baru, pasti merupakan sesuatu yang baru.
أو ما لا يخلو من الحوادث فهو حادث، فإن ما لم يسبقها ولم يخل منها لا يكون قبلها، بل إما معها وإما بعدها، وما لم يكن قبل الحوادث إما معها أو بعدها لم يكن إلا حادثاً، فإنه لو لم يكن حادثاً كان قديماً سابقاً على الحوادث، فكان خالياً منها وسابقاً عليها.
Mereka mengatakan: sesuatu yang tidak mendahului dan tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa baru tidak mungkin berada sebelum peristiwa tersebut; ia hanya mungkin bersamaan dengannya atau sesudahnya. Sedangkan sesuatu yang tidak berada sebelum peristiwa baru, tetapi hanya bersamaan atau sesudahnya, tentu merupakan sesuatu yang baru. Sebab seandainya ia bukan baru, berarti ia qadim dan mendahului peristiwa-peristiwa tersebut, sehingga seharusnya pernah ada dalam keadaan terlepas dan mendahuluinya.
قيل: مثل هذه المقدمة وأمثالها منعها كثير من الناس، فإنها تكون لفظاً مجملاً يتناول حقاً وباطلاً، وأحد نوعيها معلوم صادق، والآخر ليس كذلك.
Dijawab: premis semacam ini dan yang serupa dengannya telah ditolak oleh banyak orang. Lafaz yang digunakan bersifat global dan dapat mencakup makna yang benar maupun yang batil. Salah satu maknanya memang benar dan dapat diketahui, sedangkan makna lainnya tidak demikian.
فهؤلاء أطلقوا لفظاً عاماً وأرادوا به أحد النوعين، والمذكور والمبتدأ والجسم والجهة والحركة والتركيب، وغير ذلك من الألفاظ المشهورة بين النظار التي كثر فيها النزاع، وغالب ألفاظهم المشتركة بين معان متعددة.
Mereka menggunakan lafaz umum lalu menghendaki salah satu maknanya saja. Demikian pula istilah seperti “yang baru”, “yang memiliki awal”, “jisim”, “arah”, “gerak”, “susunan”, dan berbagai istilah lain yang terkenal di kalangan para ahli kalam. Banyak perselisihan terjadi karena istilah-istilah tersebut mengandung lebih dari satu makna.
فإذا قال القائل: نحن نعلم بالاضطرار أن ما لا يسبق الحوادث أو ما لا يخلو منها فهو حادث، فقد صدق فيما فهم من هذا اللفظ، وليس ذلك من محل النزاع.
Apabila seseorang berkata, “Kita mengetahui secara niscaya bahwa sesuatu yang tidak mendahului peristiwa baru, atau tidak terlepas darinya, adalah sesuatu yang baru,” maka ia dapat benar dalam salah satu makna yang dipahami dari lafaz tersebut. Namun makna itu bukanlah titik perselisihan yang sebenarnya.
فإن معنى قوله: «ما لا يسبق الحوادث فهو حادث» فيه معنيان: أحدهما ألا يكون قبله شيء من الحوادث أصلاً، والآخر ألا يكون قبل كل حادث حادث آخر.
Sebab perkataan, “Sesuatu yang tidak mendahului peristiwa-peristiwa baru adalah baru,” mengandung dua kemungkinan makna. Pertama, bahwa sebelumnya sama sekali tidak terdapat satu peristiwa pun. Kedua, bahwa sebelum setiap peristiwa terdapat peristiwa lain.
وليس هذا مورد النزاع، ولكن مورد النزاع: ما لم يزل الحوادث متعاقبةً أكان أم لم يكن؟ فهل يمكن وجود حوادث متعاقبة فيما بعد شيء لا بداية لها ولا انتهاء لها؟
Yang menjadi pokok perselisihan bukan sekadar itu. Persoalannya adalah apakah rangkaian berbagai peristiwa dapat terus terjadi secara berurutan, dan bagaimana memahami rangkaian kejadian yang satu mendahului yang lain.
وهل يمكن أن يكون الرب متكلماً لم يزل متكلماً إذا شاء، فاعلاً لم يزل فعالاً إذا شاء، أو لا يمكن ذلك؟
Dan apakah mungkin Rabb senantiasa berbicara apabila Dia menghendaki, dan senantiasa berbuat apabila Dia menghendaki, ataukah hal itu dianggap mustahil?
فهذا هو مورد النزاع بين السلف والأئمة الذين قالوا بذلك، وبين من نازعهم في ذلك.
Inilah titik perselisihan antara generasi salaf dan para imam yang menetapkan hal tersebut dengan kelompok yang menentangnya.
والفلاسفة يقولون: إن الفلك نفسه قديم أزلي لم يزل متحركاً، لكن هذا القول باطل من وجوه كثيرة، وصاروا بالاضطرار أن هذا مخالف لكتب الله ورسله.
Para filsuf mengatakan bahwa falak itu sendiri qadim dan azali serta senantiasa bergerak. Namun pendapat ini dinilai batil dari banyak sisi, dan mereka mengetahui bahwa pandangan tersebut bertentangan dengan kitab-kitab Allah dan ajaran para rasul-Nya.
وأما كون السماوات والأرض مخلوقتين محدثتين بعد العدم، فهذا مما نازع فيه طائفة قليلة بين الكتابيين.
Adapun bahwa langit dan bumi diciptakan dan diadakan setelah sebelumnya tidak ada, perkara ini secara umum diterima, dan hanya sedikit kelompok di kalangan Ahlul Kitab yang memperselisihkannya.
وأما جمهور الفلاسفة، مع عامة أصناف المشركين من الهند والعرب وغيرهم، ومع المجوس وغيرهم، ومع أهل الكتاب وغيرهم، فهم متفقون على أن السماوات والأرض مخلوقة محدثة، ولكن تنازعوا في مادة ذلك: هل هي موجودة قبل هذا العالم؟ وهل كان قبله مدة ومادة واحدة، أم لم يبدع ابتداءً من غير تقدم مدة ولا مادة؟
Adapun mayoritas filsuf, bersama berbagai kelompok musyrik dari India, Arab, dan lainnya, juga kaum Majusi dan Ahlul Kitab, pada dasarnya mengakui bahwa langit dan bumi merupakan sesuatu yang diciptakan. Perselisihan mereka berada pada persoalan bahan asalnya: apakah terdapat materi sebelum alam ini; apakah sebelum alam ini terdapat masa dan materi tertentu; ataukah penciptaan bermula tanpa didahului masa dan materi seperti yang mereka pahami.
Leave a Reply