درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 21)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
الوجه الثاني
Sisi Kedua
أن يقال لهم: بل وصدق الرسول يعلم بطرق متعددة لا تحتاج إلى هذا النفي، كما أقر بذلك جمهور النظار، حتى أن مسألة حدوث العالم لم اعترف بها أكابر النظار من المسلمين وغير المسلمين، حتى أن موسى بن ميمون صاحب «دلالة الحائرين»1 وهو في اليهود كأبي حامد الغزالي في المسلمين، يمزج الأقوال النبوية بالأقوال الفلسفية ويتأولها عليها، حتى الرازي وغيره من أعيان النظار اعترفوا بأن العلم بحدوث العالم لا يتوقف على الأدلة العقلية.
Dikatakan kepada mereka: bahkan kebenaran Rasul dapat diketahui melalui banyak jalan yang tidak memerlukan penafian semacam ini. Mayoritas para pemikir pun mengakui hal tersebut. Bahkan persoalan kebaruan alam sendiri tidak diterima dengan cara yang sama oleh para tokoh besar pemikir, baik dari kalangan Muslim maupun selain Muslim. Musa bin Maimun, penulis Dalālat al-Hā’irīn—yang kedudukannya di kalangan Yahudi dapat dibandingkan dengan Abu Hamid al-Ghazali di kalangan Muslimin—mencampurkan perkataan para nabi dengan pandangan-pandangan filsafat dan menakwilkannya berdasarkan pandangan tersebut. Bahkan ar-Razi dan tokoh-tokoh besar lainnya dari kalangan ahli nazhar mengakui bahwa pengetahuan tentang kebaruan alam tidak bergantung kepada dalil-dalil rasional tertentu.
بل يمكن معرفة صدق الرسول قبل العلم بهذه المسألة، ثم يعلم حدوث العالم بالسمع، فهؤلاء اعترفوا بإمكان كونها سمعية، فضلاً عن وجوب كونها عقلية، فضلاً عن كونها أصلاً للسمع، فضلاً عن كونها لا أصل للسمع سواها.
Bahkan kebenaran Rasul dapat diketahui sebelum seseorang mengetahui persoalan tersebut. Setelah itu kebaruan alam dapat diketahui melalui sam‘i. Dengan demikian, mereka sendiri mengakui bahwa persoalan tersebut dapat diketahui melalui sam‘i, apalagi untuk mengatakan bahwa ia wajib diketahui melalui akal, terlebih lagi menjadikannya sebagai dasar bagi sam‘i, dan lebih jauh lagi mengklaim bahwa tidak ada dasar bagi sam‘i selain metode itu.
وأيضاً فقد اعترف أئمة النظار بطرق متعددة لا يتوقف شيء منها على نفي الجسم ولا نفي الصفات.
Selain itu, para imam ahli nazhar sendiri telah mengakui adanya banyak jalan pembuktian yang tidak satu pun bergantung pada penafian jisim ataupun penafian sifat-sifat.
الوجه الثالث
Sisi Ketiga
أن يقال: إذا كانت الرسل والأنبياء قد اتبعهم أمم لا يحصي عددهم إلا الله من غير أن يعتمدوا على هذه الطريق، وهم يخبرون أنهم علموا صدق الرسول يقيناً لا ريب فيه، وظهر منهم من أقوالهم وأفعالهم ما يدل على أنهم عالمون بصدق الرسول، متيقنون لذلك، لا يرتابون فيه، وهم عدد كثير أضعاف أضعاف أضعاف أي تواتر قدر، فعلم أنهم لم يجتمعوا ويتواطؤوا على هذا الإخبار الذي يخبرون به عن أنفسهم ـ علم قطعاً أنه حصل لهم علم يقيني بصدق الرسول من غير هذه الطريقة المستلزمة لنفي شيء من الصفات.
Dikatakan pula: para rasul dan nabi telah diikuti oleh umat-umat yang jumlahnya tidak dapat dihitung kecuali oleh Allah, tanpa mereka bergantung kepada metode tersebut. Mereka menyatakan bahwa mereka mengetahui kebenaran Rasul dengan keyakinan yang tidak mengandung keraguan. Dari perkataan dan perbuatan mereka juga tampak sesuatu yang menunjukkan bahwa mereka benar-benar mengetahui dan meyakini kebenaran Rasul serta tidak meragukannya.
وهم عدد كثير أضعاف أضعاف أضعاف أي تواتر قدر، فعلم أنهم لم يجتمعوا ويتواطؤوا على هذا الإخبار الذي يخبرون به عن أنفسهم.
Jumlah mereka sangat besar, berlipat-lipat melampaui jumlah yang diperlukan untuk menghasilkan berita mutawatir. Karena itu diketahui bahwa mereka tidak mungkin semuanya bersepakat dan bersekongkol untuk memberikan kesaksian yang sama mengenai pengetahuan yang ada dalam diri mereka.
فعلم قطعاً أنه حصل لهم علم يقيني بصدق الرسول من غير هذه الطريقة المستلزمة لنفي شيء من الصفات.
Dengan demikian dapat diketahui secara pasti bahwa mereka memperoleh pengetahuan yang yakin mengenai kebenaran Rasul tanpa menggunakan metode yang mengharuskan penafian sebagian sifat Allah.
الوجه الرابع
Sisi Keempat
أن نبين فساد هذه الأقوال المخالفة لنصوص الأنبياء، وفساد طرقها التي جعلها أصحابها براهين عقلية، كما سيأتي إن شاء الله.
Sisi keempat adalah menjelaskan kerusakan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan nash-nash para nabi, sekaligus menjelaskan kerusakan metode-metode yang oleh para pendukungnya dijadikan sebagai argumentasi rasional. Penjelasan mengenai hal itu akan datang, insya Allah.
الوجه الخامس
Sisi Kelima
أن نبين أن الأدلة العقلية الصحيحة البينة التي لا ريب فيها، بل العلوم الفطرية الضرورية، توافق ما أخبرت به الرسل لا تخالفه، وأن الأدلة العقلية الصحيحة جميعها موافقة للسمع، لا تخالف شيئاً من السمع، وهذا ـ ولله الحمد ـ قد اعتبرناه فيما ذكره عامة الطوائف.
Sisi kelima adalah menjelaskan bahwa dalil-dalil rasional yang sahih dan jelas, yang tidak mengandung keraguan—bahkan pengetahuan fitri dan niscaya—selaras dengan apa yang diberitakan para rasul dan tidak bertentangan dengannya. Seluruh dalil rasional yang sahih sesuai dengan sam‘i dan tidak bertentangan dengan sesuatu pun darinya. Dan hal ini—segala puji bagi Allah—telah kami uji pada berbagai pendapat yang dikemukakan oleh kelompok-kelompok yang berbeda.
فوجدت كل طائفة من طوائف النظار أهل العقليات لا يذكر أحد منهم في مسألة ما دليلاً صحيحاً يخالف ما أخبرت به الرسل، بل يوافقه، حتى الفلاسفة القائلين بقدم العالم كأرسطو وأتباعه: ما يذكرونه من دليل صحيح عقلي، فإنه لا يخالف ما أخبرت به الرسل، بل يوافقه، وكذلك سائر طوائف النظار من أهل النفي والإثبات، لا يذكرون دليلاً عقلياً في مسألة إلا والصحيح منه موافق لا مخالف.
Saya mendapati bahwa setiap kelompok dari kalangan ahli nazhar yang mengandalkan argumentasi rasional tidak mampu mengemukakan dalam suatu persoalan satu dalil rasional yang benar-benar sahih dan sekaligus bertentangan dengan apa yang diberitakan para rasul. Justru dalil yang sahih akan sesuai dengannya. Bahkan para filsuf yang mengatakan qadimnya alam, seperti Aristoteles dan para pengikutnya, apabila mengemukakan suatu dalil rasional yang benar, dalil tersebut tidak bertentangan dengan berita para rasul, tetapi selaras dengannya. Demikian pula berbagai kelompok ahli nazhar lainnya, baik yang menafikan maupun yang menetapkan: tidak ada dalil rasional yang benar-benar sahih kecuali bagian yang benar darinya sejalan dengan sam‘i dan tidak menentangnya.
وهذا يعلم به أن المعقول الصريح ليس مخالفاً لأخبار الأنبياء على وجه التفصيل، كما نذكره إن شاء الله في موضعه.
Dari sini dapat diketahui bahwa akal yang jernih dan benar tidak bertentangan dengan berita para nabi secara terperinci, sebagaimana akan dijelaskan insya Allah pada tempatnya.
ونبين أن من خالف الأنبياء فليس لهم عقل ولا سمع، كما أخبر الله عنهم بقوله تعالى: «كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ».
Dan dijelaskan pula bahwa orang yang menyelisihi para nabi tidak memiliki sam‘i yang benar maupun akal yang benar, sebagaimana Allah memberitakan tentang mereka: “Setiap kali sekumpulan dilemparkan ke dalamnya, para penjaganya bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kalian seorang pemberi peringatan?’ Mereka menjawab: ‘Benar, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, tetapi kami mendustakannya dan berkata: Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kalian hanyalah berada dalam kesesatan yang besar.’ Dan mereka berkata: ‘Seandainya dahulu kami mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni Neraka Sa‘ir.’ Maka mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi para penghuni Neraka Sa‘ir.”
ثم نذكر وجوهاً أخر لبيان فساد هذا الأصل الذي يتوسل به أهل الإلحاد إلى رد ما قاله الله ورسوله فنقول:
Kemudian kami akan menyebutkan beberapa sisi lainnya untuk menjelaskan kerusakan prinsip yang digunakan oleh kelompok-kelompok penyimpang sebagai jalan untuk menolak apa yang difirmankan Allah dan disampaikan Rasul-Nya.
العقل وتصديق الرسل
Akal dan Pembenaran terhadap Para Rasul
الوجه الرابع
Sisi Keempat
أن يقال: إما أن يكون عالماً بصدق الرسول، وثبوت ما أخبر به في نفس الأمر، وإما أن لا يكون عالماً بذلك.
Dapat dikatakan: seseorang itu adakalanya mengetahui kebenaran Rasul serta mengetahui bahwa apa yang diberitakan beliau benar pada realitasnya, dan adakalanya ia belum mengetahui hal tersebut.
فإن لم يكن عالماً امتنع التعارض عنده إذا كان المعقول معلوماً له، لأن المعلوم لا يعارضه المجهول، وإن لم يكن المعقول معلوماً لم يتعارض مجهولان.
Jika ia belum mengetahui kebenaran Rasul, maka tidak mungkin terjadi pertentangan dalam pengetahuannya apabila perkara rasional telah ia ketahui, sebab sesuatu yang diketahui tidak dapat dipertentangkan dengan sesuatu yang masih tidak diketahui. Jika perkara rasional itu pun belum diketahui, maka dua perkara yang sama-sama belum diketahui tidak dapat dikatakan saling bertentangan.
وإن كان عالماً بصدق الرسول امتنع ـ مع هذا ـ أن لا يعلم ثبوت ما أخبر به في نفس الأمر. فغاية أن يقول: هذا لم يخبر به، والكلام ليس هو فيما لم يخبر به، بل إذا علم أن الرسول أخبر بكذا، فهل يمكنه ـ مع علمه بصدقه فيما أخبر وعلمه أنه أخبر بكذا ـ أن يدفع عن نفسه علمه بثبوت الخبر، أم يكون علمه بثبوت خبره لازماً له لزوماً ضرورياً، كما تلزم سائر العلوم لزوماً ضرورياً لمقدماتها؟
Namun apabila ia telah mengetahui kebenaran Rasul, maka tidak mungkin—bersamaan dengan pengetahuan tersebut—ia tidak mengetahui kebenaran apa yang diberitakan Rasul pada realitasnya. Paling jauh ia dapat mengatakan, “Hal ini tidak pernah diberitakan oleh Rasul.” Tetapi pembahasan kita bukan mengenai sesuatu yang tidak diberitakan. Apabila telah diketahui bahwa Rasul benar-benar memberitakan suatu perkara, sementara ia juga mengetahui bahwa Rasul itu benar, mungkinkah ia menghilangkan dari dirinya pengetahuan bahwa berita tersebut benar? Ataukah pengetahuan tentang kebenaran berita Rasul menjadi konsekuensi niscaya baginya, sebagaimana berbagai pengetahuan lain secara niscaya mengikuti premis-premisnya?
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Musa bin Maimun, Abu ‘Imran al-Qurthubi, adalah seorang dokter dan filsuf Yahudi. Ia lahir dan belajar di Cordoba. Dalam perjalanan hidupnya ia pernah menampakkan keislaman, menghafal Al-Qur’an, dan mempelajari fikih Maliki, kemudian setelah masuk Mesir ia kembali kepada agama Yahudi dan menjadi salah seorang pemimpin rohani kaum Yahudi di sana. Ia lahir tahun 529 H dan wafat tahun 601 H serta dimakamkan di Tiberias, Palestina. Di antara karyanya adalah Dalālat al-Hā’irīn dan al-Fushūl fī ath-Thibb. Lihat pula pengantar Muhammad Zahid al-Kautsari terhadap al-Muqaddimāt al-Khams wa al-‘Isyrūn min Dalālat al-Hā’irīn, Kairo, 1369 H.
Leave a Reply