درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 22)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
وإذا كان كذلك فإذا قيل له في مثل هذا: لا نعتقد ثبوت ما علمت أنه أخبر به، لأن هذا الاعتقاد ينافي ما علمت به أنه صادق، كان حقيقة الكلام: لا تصدقه في هذا الخبر، لأن تصديقه يستلزم عدم تصديقه.
Jika demikian, lalu dikatakan kepadanya dalam keadaan seperti ini, “Janganlah engkau meyakini kebenaran sesuatu yang telah engkau ketahui diberitakan olehnya, sebab keyakinan tersebut bertentangan dengan dasar yang dengannya engkau mengetahui bahwa ia benar,” maka hakikat perkataan itu adalah: janganlah membenarkannya dalam berita ini, sebab membenarkannya dianggap akan mengharuskan tidak membenarkannya.
فيقول: وعدم تصديقي له فيه هو عين اللازم المحذور، فإذا قيل: لا تصدقه لئلا يلزم أن لا تصدقه، كان كما لو قيل: كذبه لئلا يلزم أن تكذبه.
Maka dikatakan: justru tidak membenarkannya dalam perkara tersebut adalah konsekuensi yang sejak awal dikhawatirkan. Jika dikatakan, “Jangan membenarkannya agar tidak berakibat engkau tidak membenarkannya,” hal itu sama seperti mengatakan, “Dustakanlah dia agar engkau tidak sampai mendustakannya.”
فيكون المنهي عنه هو الخوف المحذور من فعل المنهي عنه، والمأمور به هو المحذور من ترك المأمور به، فيكون واقعاً في المنهي عنه سواء أطاع أو عصى، ويكون تاركاً للمأمور به سواء أطاع أو عصى.
Dengan demikian, sesuatu yang hendak dihindari justru terjadi karena menjalankan larangan itu sendiri, sedangkan sesuatu yang diperintahkan untuk dihindari justru menjadi akibat dari meninggalkan apa yang diperintahkan. Akhirnya seseorang tetap jatuh pada perkara yang dilarang, baik ia menaati perintah tersebut maupun tidak, dan tetap meninggalkan apa yang diperintahkan, baik ia taat maupun tidak.
ويكون وقوعه في الخوف المحذور على تقدير الطاعة لهذا الأمر الذي أمره بتكذيب ما تيقن أن الرسول أخبر به أعجل وأسبق منه على تقدير المعصية، والمنهي عنه على هذا التقدير هو التصديق، والمأمور به هو التكذيب.
Bahkan jatuhnya seseorang ke dalam akibat yang dikhawatirkan akan lebih cepat terjadi apabila ia menaati perintah yang menyuruhnya mendustakan sesuatu yang telah ia yakini diberitakan oleh Rasul. Dalam keadaan demikian, yang justru dilarang adalah membenarkan Rasul, sedangkan yang diperintahkan adalah mendustakannya.
وحينئذ فلا يجوز النهي عنه، سواء كان محذوراً أو لم يكن، فإنه إن لم يكن محذوراً لم يجز أن ينهى عنه، وإن كان محذوراً فلابد منه على التقديرين، فلا فائدة في النهي عنه.
Dalam keadaan seperti itu, larangan tersebut tidak memiliki dasar. Jika perkara yang dilarang sebenarnya tidak berbahaya, tidak ada alasan untuk melarangnya. Jika memang berbahaya, maka akibat itu tetap terjadi dalam kedua kemungkinan sehingga larangan tersebut tidak memberikan manfaat.
بل إذا كان عدم التصديق هو المحذور كان طلبه ابتداء أقبح من طلب غيره لئلا يفضي إليه، فإن من أمر بالزنا كان أمره به أقبح من أن يأمر بالخلوة المفضية إلى الزنا.
Bahkan jika tidak membenarkan Rasul itulah perkara yang sebenarnya dikhawatirkan, maka memerintahkan ketidakpercayaan itu secara langsung lebih buruk daripada memerintahkan sesuatu yang dikhawatirkan akan mengantarkan kepadanya. Orang yang secara langsung memerintahkan zina tentu lebih buruk daripada orang yang memerintahkan khalwah yang dapat mengantarkan kepada zina.
فهكذا حال من أمر الناس أن لا يصدقوا الرسول فيما علموا أنه أخبر به، بعد علمهم أنه رسول الله، لئلا يفضي تصديقهم له إلى عدم تصديقهم له.
Demikianlah keadaan orang yang menyuruh manusia untuk tidak membenarkan Rasul dalam sesuatu yang telah mereka ketahui beliau beritakan, setelah mereka mengetahui bahwa beliau adalah Rasul Allah, dengan alasan bahwa membenarkan beliau akan berakibat pada tidak membenarkan beliau.
بل إذا قيل له: لا تصدقه في هذا، كان هذا أمراً له بما يناقض ما علم به صدقه، فكان أمراً له بما يجب أن لا يثق بشيء من خبره، فإنه متى جوز كذبه أو غلطه في خبر جوز ذلك في غيره.
Bahkan apabila dikatakan kepadanya, “Jangan membenarkannya dalam perkara ini,” berarti ia diperintahkan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan dasar yang dengannya ia mengetahui kebenaran Rasul. Pada akhirnya hal itu mengharuskannya untuk tidak lagi mempercayai berita apa pun dari Rasul, sebab apabila kemungkinan dusta atau keliru dibenarkan pada satu berita, kemungkinan yang sama dapat diberlakukan pada berita lainnya.
ولهذا آل الأمر بمن يسلك هذا الطريق إلى أنهم لا يستفيدون من جهة الرسول شيئاً من الأمور الخبرية المتعلقة بصفات الله تعالى وأفعاله، بل وباليوم الآخر عند بعضهم.
Karena itu, orang yang menempuh jalan ini pada akhirnya tidak lagi memperoleh dari Rasul pengetahuan mengenai perkara-perkara khabariyyah yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah Ta‘ala dan perbuatan-perbuatan-Nya. Bahkan pada sebagian mereka, hal yang sama terjadi dalam perkara-perkara tentang hari akhir.
وليس لهم قانون يرجعون إليه في هذا الأمر من جهة الرسالة، بل هذا يقول: ما أثبته عقلك فأثبته وإلا فلا، وهذا يقول: ما أثبته كشفك فأثبته وإلا فلا.
Mereka tidak memiliki kaidah yang dapat dijadikan rujukan dalam perkara ini dari sisi risalah. Sebagian mengatakan, “Apa yang ditetapkan oleh akalmu, tetapkanlah; jika tidak, maka jangan.” Sebagian lainnya mengatakan, “Apa yang ditetapkan oleh kasyafmu, tetapkanlah; jika tidak, maka jangan.”
فصار وجود الرسول ﷺ عندهم كعدمه في المطالب الإلهية وعلم الربوبية، بل وجوده ـ على قولهم ـ أضر من عدمه، لأنهم لم يستفيدوا من جهته شيئاً، واحتاجوا إلى أن يدفعوا ما جاء به: إما بتكذيب، وإما بتفويض، وإما بتأويل، وقد بسط هذا في غير هذا الموضع.
Akibatnya, keberadaan Rasul ﷺ dalam pandangan mereka menjadi seperti tidak adanya beliau dalam persoalan-persoalan ketuhanan dan pengetahuan tentang rububiyah. Bahkan berdasarkan konsekuensi pandangan mereka, keberadaan Rasul seakan lebih menyulitkan daripada ketiadaannya, sebab mereka tidak mengambil sesuatu darinya dalam perkara tersebut, sementara mereka justru harus menghadapi apa yang beliau bawa dengan salah satu dari tiga cara: mendustakannya, melakukan tafwidh, atau menakwilkannya. Pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan lebih luas di tempat lain.
فإن قالوا: لا يتصور أن يعلم أنه أخبر بما ينافي العقل، فإنه منزه عن ذلك، وهو ممتنع عليه.
Jika mereka berkata, “Tidak mungkin diketahui bahwa Rasul memberitakan sesuatu yang bertentangan dengan akal, sebab beliau terbebas dari hal seperti itu dan hal tersebut mustahil terjadi pada dirinya.”
قيل لهم: فهذا إقرار منكم بامتناع معارضة الدليل العقلي للسمعي.
Dikatakan kepada mereka: dengan demikian kalian sendiri telah mengakui bahwa dalil rasional tidak mungkin benar-benar bertentangan dengan dalil sam‘i.
فإن قالوا: إنما أردنا معارضة ما يظن أنه دليل وليس بدليل أصلاً، أو يكون دليلاً ظنياً لتطرق الظن إلى بعض مقدماته: إما في الإسناد، وإما في المتن، كإمكان كذب المخبر أو غلطه، وكإمكان احتمال اللفظ لمعنيين فصاعداً.
Jika mereka berkata, “Yang kami maksud hanyalah pertentangan dengan sesuatu yang disangka sebagai dalil padahal sebenarnya bukan dalil, atau dengan dalil zhanni karena sebagian premisnya masih mengandung kemungkinan, baik pada sanad maupun matan; seperti kemungkinan pembawa berita berdusta atau keliru, ataupun kemungkinan suatu lafaz mengandung dua makna atau lebih.”
قيل: فإذا فسرتم الدليل السمعي بما ليس بدليل في نفس الأمر، بل اعتقاد دلالته جهل، أو بما يظن أنه دليل وليس بدليل، أمكن أن يفسر الدليل العقلي المعارض للشرع بما ليس بدليل في نفس الأمر، بل اعتقاد دلالته جهل، أو بما يظن أنه دليل وليس بدليل.
Dijawab: apabila kalian menafsirkan “dalil sam‘i” sebagai sesuatu yang pada hakikatnya bukan dalil—bahkan menganggapnya sebagai dalil merupakan kekeliruan—atau sesuatu yang hanya disangka sebagai dalil padahal bukan, maka dalil rasional yang dianggap menentang syariat pun dapat diperlakukan dengan cara yang sama: bisa jadi pada hakikatnya ia bukan dalil dan menganggapnya sebagai dalil merupakan kekeliruan, atau hanya disangka sebagai dalil padahal sebenarnya bukan.
وحينئذ فمثل هذا ـ وإن سماه أصحابه براهين عقلية أو قواطع عقلية، وهو ليس بدليل في نفس الأمر، أو دلالته ظنية ـ إذا عارض ما هو دليل سمعي يستحق أن يسمى دليلاً لصحة مقدماته وكونها معلومة، وجب تقديم الدليل السمعي عليه بالضرورة واتفاق العقلاء.
Dalam keadaan demikian, sesuatu yang oleh para pendukungnya disebut “bukti rasional” atau “dalil rasional yang pasti”, padahal pada hakikatnya bukan dalil atau petunjuknya hanya zhanni, apabila bertentangan dengan dalil sam‘i yang benar-benar layak disebut dalil karena premis-premisnya sahih dan diketahui kebenarannya, maka dalil sam‘i wajib didahulukan berdasarkan keniscayaan rasional dan kesepakatan orang-orang berakal.
فقد تبين أنهم بأي شيء فسروا جنس الدليل الذي رجحوه أمكن تفسير الجنس الآخر بنظيره وترجيحه كما رجحوه.
Dengan demikian jelas bahwa apa pun cara mereka mendefinisikan jenis dalil yang mereka unggulkan, jenis dalil lainnya dapat dijelaskan dengan cara yang sepadan dan diunggulkan berdasarkan alasan yang sama.
وهذا لأنهم وضعوا وضعاً فاسداً، حيث قدموا ما لا يستحق التقديم لا عقلاً ولا سمعاً، وتبين بذلك أن تقديم الجنس على الجنس باطل.
Hal itu terjadi karena sejak awal mereka telah meletakkan kaidah yang keliru, yaitu mendahulukan sesuatu yang tidak berhak didahulukan, baik menurut akal maupun sam‘i. Dari sini jelas bahwa mendahulukan satu jenis dalil secara mutlak atas jenis dalil lainnya adalah batil.
بل الواجب أن ينظر في عين الدليلين المتعارضين، فيقدم ما هو القطعي منهما، أو الراجح إن كانا ظنيين، سواء كان هو السمعي أو العقلي، ويبطل هذا الأصل الفاسد الذي هو ذريعة إلى الإلحاد.
Yang wajib adalah meneliti secara langsung kedua dalil yang tampak bertentangan: dalil yang qath‘i didahulukan; apabila keduanya zhanni, maka yang lebih kuat didahulukan, baik ia dalil sam‘i maupun dalil rasional. Dengan demikian gugurlah kaidah rusak yang menurut Ibn Taimiyyah menjadi jalan menuju penyimpangan.
هل أخبرت الرسل بموارد النزاع
Apakah Para Rasul Memberitakan Perkara yang Menjadi Titik Perselisihan?
الوجه الخامس
Sisi Kelima
أنه إذا علم صحة السمع، وأن ما أخبر به الرسول فهو حق، فإما أن يعلم أنه أخبر بمحل النزاع، أو يظن أنه أخبر به، أو لا يعلم ولا يظن.
Apabila kebenaran sam‘i telah diketahui dan telah diketahui pula bahwa apa yang diberitakan Rasul adalah benar, maka ada tiga kemungkinan: diketahui secara pasti bahwa Rasul telah memberitakan perkara yang menjadi titik perselisihan; hanya diduga bahwa beliau memberitakannya; atau tidak diketahui dan tidak pula diduga bahwa beliau memberitakannya.
فإن علم أنه أخبر به امتنع أن يكون في العقل ما ينافي المعلوم بسمع أو غيره، فإن ما علم ثبوته أو انتفاؤه لا يجوز أن يقوم دليل يناقض ذلك.
Jika diketahui secara pasti bahwa Rasul telah memberitakannya, maka mustahil terdapat dalil rasional yang bertentangan dengan sesuatu yang telah diketahui melalui sam‘i atau melalui jalan lainnya. Sesuatu yang telah diketahui secara pasti keberadaan atau ketiadaannya tidak mungkin dibantah oleh dalil lain yang sahih.
وإن كان مظنوناً أمكن أن يكون في العقل علم ينفيه، وحينئذ فيجب تقديم العلم على الظن، لا لكونه معقولاً أو مسموعاً، بل لكونه علماً، كما يجب تقديم ما علم بالسمع على ما ظن بالعقل.
Jika berita tersebut hanya bersifat zhanni, mungkin terdapat pengetahuan rasional yang pasti yang menafikannya. Dalam keadaan demikian, ilmu yang pasti harus didahulukan atas dugaan, bukan karena yang satu bersifat rasional dan yang lain sam‘i, tetapi karena yang satu merupakan ilmu sedangkan yang lain hanya dugaan. Sebagaimana pula sesuatu yang diketahui secara pasti melalui sam‘i harus didahulukan atas sesuatu yang hanya diduga melalui akal.
وإن كان الذي عارضه من العقل ظنياً، فإن تكافآ وقف الأمر، وإلا قدم الراجح.
Jika dalil rasional yang menentangnya juga hanya zhanni, maka apabila kekuatan keduanya seimbang persoalannya ditangguhkan; jika tidak seimbang, dalil yang lebih kuatlah yang didahulukan.
وإن لم يكن في السمع علم ولا ظن فلا معارضة حينئذ، فتبين أن الجزم بتقديم العقل مطلقاً خطأ وضلال.
Jika dalam sam‘i tidak terdapat pengetahuan pasti maupun dugaan mengenai perkara tersebut, maka sejak awal tidak terdapat pertentangan. Dengan demikian jelas bahwa menetapkan secara mutlak bahwa akal harus selalu didahulukan merupakan kekeliruan dan kesesatan.
يجب تقديم الشرع عند مظنة التعارض
Syariat Harus Didahulukan ketika Diduga Terjadi Pertentangan
الوجه السادس
Sisi Keenam
أن يقال: إذا تعارض الشرع والعقل وجب تقديم الشرع، لأن العقل مصدق للشرع في كل ما أخبر به، والشرع لم يصدق العقل في كل ما أخبر به، ولا العلم بصدقه موقوف على كل ما يخبر به العقل.
Dapat dikatakan: apabila syariat dan akal tampak bertentangan, maka syariat harus didahulukan. Sebab akal telah membenarkan syariat dalam seluruh berita yang dibawanya, sedangkan syariat tidak membenarkan setiap kesimpulan yang dinisbatkan kepada akal. Pengetahuan mengenai kebenaran syariat pun tidak bergantung kepada seluruh perkara yang dikemukakan oleh akal.
ومعلوم أن هذا إذا قيل أوجه من قولهم، كما قال بعضهم: يكفيك من العقل أن يعلمك صدق الرسول ومعاني كلامه.
Jelas bahwa argumentasi seperti ini lebih kuat daripada perkataan mereka. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama: “Cukuplah fungsi akal bagimu bahwa ia menunjukkan kepadamu kebenaran Rasul dan makna perkataan beliau.”
وقال بعضهم: العقل متولٍ ولي الرسول ثم عزل نفسه، لأن العقل دل على أن الرسول ﷺ يجب تصديقه فيما أخبر، وطاعته فيما أمر.
Sebagian lainnya mengatakan: “Akal menjadi pihak yang mengantarkan kepada Rasul, kemudian ia melepaskan kewenangannya sendiri,” sebab akal telah menunjukkan bahwa Rasul ﷺ wajib dibenarkan dalam apa yang beliau beritakan dan wajib ditaati dalam apa yang beliau perintahkan.
Leave a Reply