درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 23)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
والعقل يدل على صدق الرسول دلالة عامة مطلقة. وهذا كما أن العامي إذا علم عين المفتي ودل غيره عليه وبين له أنه عالم مفت، ثم اختلف العامي الدال والمفتي، وجب على المستفتي أن يقدم قول المفتي.
Akal menunjukkan kebenaran Rasul dengan petunjuk yang bersifat umum dan mutlak. Hal ini seperti seorang awam yang mengetahui siapa seorang mufti, lalu menunjukkan mufti tersebut kepada orang lain dan menjelaskan bahwa ia adalah seorang alim yang layak memberikan fatwa. Jika kemudian orang awam yang menunjukkan tadi berbeda pendapat dengan sang mufti, maka orang yang meminta fatwa wajib mendahulukan perkataan mufti.
فإذا قال له العامي: أنا الأصل في علمك بأنه مفت، فإذا قدمت قوله على قولي عند التعارض قدحت في الأصل الذي به علمت أنه مفت، كان المستفتي أن يقول له: أنت لما شهدت بأنه مفت ودللت على ذلك، شهدت بوجوب تقليده دون تقليدك.
Jika orang awam itu berkata kepadanya, “Akulah yang menjadi dasar pengetahuanmu bahwa orang itu seorang mufti. Jika ketika terjadi pertentangan engkau mendahulukan perkataannya atas perkataanku, berarti engkau telah merusak dasar yang dengannya engkau mengetahui bahwa ia seorang mufti,” maka orang yang meminta fatwa dapat menjawab: “Ketika engkau bersaksi bahwa ia seorang mufti dan menunjukkan hal itu kepadaku, sesungguhnya engkau sendiri telah bersaksi bahwa aku wajib mengikuti dirinya, bukan mengikuti dirimu.”
ثم شهادتك بذلك، وموافقتي لك في هذا العلم المعين لا يستلزم أن أوافقك في العلم بأعيان المسائل، وخطؤك فيما خالفت المفتي الذي هو أعلم منك لا يستلزم خطأك في علمك بأنه مفت.
Kesaksianmu mengenai hal tersebut dan kesesuaianku denganmu dalam pengetahuan tertentu ini tidak mengharuskan aku mengikuti pengetahuanmu dalam setiap persoalan secara terperinci. Kekeliruanmu ketika menyelisihi mufti yang lebih berilmu darimu juga tidak mengharuskan bahwa engkau keliru ketika mengetahui bahwa ia memang seorang mufti.
وأنت إذا علمت أنه مفت باجتهاد واستدلال، ثم خالفته بلا علم باجتهاد واستدلال كنت مخطئاً في الاجتهاد والاستدلال الذي خالفت به من يجب عليك تقليده واتباع قوله، وإن لم تكن مخطئاً في الاجتهاد والاستدلال الذي به علمت أنه عالم مفت عليك تقليده.
Jika melalui ijtihad dan istidlal engkau mengetahui bahwa ia seorang mufti, lalu setelah itu engkau menyelisihinya dalam suatu persoalan melalui ijtihad dan istidlal yang tidak disertai ilmu, maka engkau keliru dalam ijtihad dan istidlal yang dengannya engkau menyelisihi orang yang wajib engkau ikuti perkataannya. Namun hal itu tidak berarti engkau keliru dalam ijtihad dan istidlal yang dengannya engkau mengetahui bahwa ia seorang alim dan mufti yang layak diikuti.
هذا مع علمه بأن المفتي يجوز عليه الخطأ، والعقل يعلم أن الرسول ﷺ معصوم في خبره عن الله تعالى، لا يجوز عليه الخطأ، فتقديم قول المعصوم على ما يخالفه من استدلال العقل أولى من تقديم قول المفتي على قول الذي يخالفه.
Padahal dalam analogi tersebut diketahui bahwa seorang mufti masih mungkin melakukan kekeliruan. Sedangkan akal mengetahui bahwa Rasul ﷺ terjaga dari kesalahan dalam berita yang beliau sampaikan dari Allah Ta‘ala. Maka mendahulukan perkataan Rasul yang ma‘shum atas istidlal akal yang menyelisihinya tentu lebih layak daripada mendahulukan perkataan mufti atas perkataan orang yang menyelisihinya.
وكذلك أيضاً إذا أخبر الناس وشهدوا بأن فلاناً خبير بطب أو بالقيافة أو الخرص أو تقويم السلع ونحو ذلك، وليس عند المخبر إلا علم ما فلان خبير به، أو أنه أعلم منهم بذلك، وجب تقديم قول أهل العلم بالطب والقيافة والخرص والتقويم على قول المخبرين في الأمور التي هم أعلم بها منهم.
Demikian pula apabila sejumlah orang memberitakan dan bersaksi bahwa seseorang adalah ahli dalam kedokteran, qiyafah, penaksiran hasil, penilaian barang, atau bidang-bidang semisalnya. Orang-orang yang memberikan kesaksian itu hanya mengetahui bahwa orang tersebut ahli dalam bidangnya atau lebih mengetahui persoalan tersebut daripada mereka. Karena itu, dalam perkara-perkara yang memang menjadi keahliannya, perkataan ahli kedokteran, qiyafah, penaksiran, dan penilaian harus didahulukan atas perkataan orang-orang yang sekadar memberitakan keahliannya.
وإخباركم بذلك لا ينافي قبول قوله دون أقوالكم في ذلك، إذ يمكن إصابتكم في قولكم: هو أعلم منا، وغلطكم في قولكم: نحن أعلم منه فيما يخبرنا بنزاعه فيه من المسائل التي هو أعلم منا.
Kesaksian kalian bahwa ia seorang ahli tidak bertentangan dengan kewajiban menerima perkataannya, bukan perkataan kalian, dalam persoalan tersebut. Kalian dapat benar ketika mengatakan, “Ia lebih mengetahui daripada kami,” tetapi kemudian keliru apabila mengatakan, “Dalam persoalan yang sedang diperselisihkan ini, kami lebih mengetahui daripada dirinya,” padahal justru dialah yang lebih ahli.
والإنسان قد يعلم أن هذا أعلم منه بالصناعات كالحراثة والنساجة والبناء والخياطة، فإن هذا المستفتي إذا علم أن هذا أعلم منه بالطب، ثم خالفه في موجب علمه وخبره، وجب تقديم قول الأعلم منه في موارد النزاع التي تنازعا فيها، لا أن يكون الأعلم منه في كل شيء.
Seseorang dapat mengetahui bahwa orang lain lebih ahli darinya dalam suatu keterampilan seperti pertanian, pertenunan, bangunan, atau menjahit. Demikian pula, jika seseorang mengetahui bahwa seorang dokter lebih mengetahui ilmu kedokteran daripada dirinya, kemudian ia berbeda pendapat dengannya dalam perkara yang termasuk pengetahuan dan keahlian dokter tersebut, maka perkataan orang yang lebih ahli harus didahulukan dalam titik perselisihan itu. Hal tersebut tidak berarti bahwa dokter itu lebih mengetahui segala sesuatu dalam setiap bidang.
ومن المعلوم أن شهادة الرسول ﷺ لذوي العقول أعظم من شهادة أهل العلم بالصناعات العلمية والعملية والعلوم العقلية الاحتجاجية كالطب والقيافة والخرص والتقويم لسائر الناس.
Telah diketahui bahwa kedudukan Rasul ﷺ di hadapan orang-orang berakal jauh lebih besar daripada kedudukan para ahli berbagai keterampilan ilmiah dan praktis serta ilmu-ilmu rasional seperti kedokteran, qiyafah, penaksiran, dan penilaian terhadap masyarakat umum.
فإن من الناس من تمكن أن يبصر عالم بتلك الصناعات العلمية والعملية كعلم أربابها بها، ولا يمكن أن يجعل الله رسولاً إلى الناس أن يبصر منزلة من جعله الله نبياً رسولاً إلى الناس، فإن النبوة لا تنال بالاجتهاد، كما هو مذهب أهل الملل.
Seseorang dari kalangan manusia mungkin saja melalui usaha dapat menguasai berbagai keterampilan ilmiah dan praktis hingga mencapai tingkat para ahlinya. Namun kedudukan seseorang yang Allah jadikan sebagai nabi dan rasul kepada manusia tidak dapat dicapai dengan cara seperti itu. Sebab kenabian tidak diperoleh melalui ijtihad, sebagaimana yang diyakini para penganut agama-agama.
وعلى قول من يجعلها مكتسبة من أهل الإلحاد من المتفلسفة وغيرهم فإنها عندهم أصعب الأمور، فالرسول إذن أعلم أصعب بكثير من التوصل إلى العلم بالصناعات والعلوم العقلية.
Bahkan menurut sebagian filsuf dan kelompok lain yang menganggap kenabian dapat diperoleh melalui usaha, pencapaiannya tetap mereka gambarkan sebagai sesuatu yang sangat sulit. Karena itu, mengenali kedudukan Rasul dan ilmu yang dibawanya jauh melampaui sekadar mencapai keahlian dalam berbagai keterampilan dan ilmu rasional.
وإذا كان الأمر كذلك فإذا علم الإنسان بالعقل أن هذا رسول الله، وعلم أنه أخبر بشيء، ووجد في عقله ما ينازعه في خبره، كان عقله موجب صدقه أن يسلم موارد النزاع إلى من هو أعلم منه، وأن لا يقدم رأيه على قوله.
Jika demikian, apabila seseorang melalui akalnya telah mengetahui bahwa orang tersebut adalah Rasul Allah, kemudian mengetahui bahwa Rasul telah memberitakan suatu perkara, lalu dalam pikirannya muncul sesuatu yang tampak bertentangan dengan berita tersebut, maka akal yang sejak awal menunjukkan kebenaran Rasul justru menuntutnya menyerahkan titik perselisihan itu kepada pihak yang lebih mengetahui daripada dirinya dan tidak mendahulukan pendapatnya sendiri atas perkataan Rasul.
ويعلم أن عقله قاصر بالنسبة إليه، وأنه أعلم بالله تعالى وأسمائه وصفاته واليوم الآخر منه، وأن التفاوت الذي بينهما في العلم بذلك أعظم من التفاوت الذي بين العامة وأهل العلم بالطب.
Ia mengetahui bahwa akalnya terbatas bila dibandingkan dengan Rasul, bahwa Rasul lebih mengetahui Allah Ta‘ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta hari akhir daripada dirinya. Perbedaan tingkat pengetahuan antara keduanya mengenai perkara-perkara tersebut bahkan lebih besar daripada perbedaan antara masyarakat awam dengan para ahli kedokteran.
فإذا كان عقله يوجب أن ينقاد لطبيب يهودي فيما أخبره به من مقدرات من الأغذية والأشربة والأضمدة والشمومات واستعمالها على وجه مخصوص، مع ما في ذلك من الكلفة والألم، لظنه أن هذا أعلم بهذا منه، وأن صدقه في ذلك أقرب إلى حصول الشفاء له، مع علمه بأن الطبيب يخطئ كثيراً.
Jika akalnya sendiri menuntutnya mengikuti seorang dokter Yahudi dalam perkara kadar makanan, minuman, obat-obatan, wewangian medis, serta cara penggunaannya secara tertentu—meskipun hal itu mendatangkan beban dan rasa sakit—karena ia meyakini bahwa dokter tersebut lebih mengetahui persoalan itu dan mengikuti petunjuknya lebih dekat kepada tercapainya kesembuhan, padahal ia juga mengetahui bahwa seorang dokter dapat sering melakukan kesalahan.
وأن كثيراً من الناس لا يشفى بما يصفه الطبيب، بل قد يكون استعماله لما يصفه سبباً في هلاكه، ومع هذا فهو يقبل قوله ويقلده، وإن كان ظنه واجتهاده يخالف وصفه، فكيف حال الخلق مع الرسل عليهم الصلاة والسلام؟!
Dan banyak orang tidak sembuh dengan apa yang diresepkan dokter; bahkan terkadang penggunaan resep tersebut dapat menjadi sebab kebinasaannya. Namun meskipun demikian, seseorang tetap menerima perkataan dokter dan mengikutinya sekalipun dugaan dan ijtihad pribadinya menyelisihi resep tersebut. Maka bagaimana seharusnya sikap manusia terhadap para rasul عليهم الصلاة والسلام?!
والرسل صادقون مصدقون لا يجوز أن يكون خبرهم على خلاف ما أخبروا به قط، وأن الذين يخالفون أقوالهم ليس معهم إلا الجهل والضلال، فكيف يجوز أن يعارض ما لم يخطئ قط بما لم يصب في معارضته قط.
Para rasul adalah orang-orang yang benar dan dibenarkan. Tidak mungkin berita mereka bertentangan dengan kenyataan yang mereka beritakan. Sedangkan orang-orang yang menyelisihi perkataan mereka dalam perkara tersebut tidak memiliki dasar selain kekeliruan dan kesesatan. Maka bagaimana mungkin sesuatu yang tidak pernah keliru dipertentangkan dengan sesuatu yang tidak benar ketika digunakan untuk menentangnya?
فإن قيل: فالمشهود إذا عدلوا شخصاً ثم عاد ذلك العدل فكذبهم كان تصديقه في جرحهم جرحاً في طريق تعديله.
Jika dikatakan: “Apabila sejumlah saksi menilai seseorang sebagai adil, lalu orang yang dinilai adil tersebut kemudian kembali dan mendustakan para saksi itu, maka membenarkannya dalam mencela mereka berarti merusak jalan yang sebelumnya digunakan untuk menetapkan keadilannya.”
قيل: ليس هذا وزان مسألتنا، فإن العدل إما أن يقول: هم فساق لا يجوز قبول شهادتهم، وإما أن يقول: هم في هذه الشهادة المعينة أخطأوا أو كذبوا.
Dijawab: analogi ini tidak sepadan dengan persoalan kita. Sebab orang yang telah dinilai adil itu mungkin berkata, “Mereka adalah orang-orang fasik sehingga kesaksian mereka sama sekali tidak boleh diterima,” atau hanya berkata, “Dalam kesaksian tertentu ini mereka keliru atau berdusta.”
فإن جرحهم مطلقاً كان نظير حال من يكون قد قدح في دلالة العقل مطلقاً، وليس الأمر كذلك، فإن الأدلة الشرعية لا تقدح في جنس الأدلة العقلية.
Jika ia mencela mereka secara mutlak, hal itu baru menyerupai keadaan seseorang yang menolak seluruh petunjuk akal secara mutlak. Namun persoalannya bukan demikian, sebab dalil-dalil syar‘i tidak menolak keseluruhan jenis dalil rasional.
وأما إذا قدح في هذه الشهادة المعينة، وقال: إنهم أخطأوا فيها، فهذا لا يعارض تزكيتهم له باتفاق العقلاء، فإن المزكي للشاهد ليس من شرطه أن يعلم أنه معصوم.
Adapun jika ia hanya mengkritik kesaksian tertentu dan mengatakan bahwa mereka keliru di dalamnya, hal tersebut tidak bertentangan dengan penilaian mereka sebelumnya terhadap keadilannya, menurut kesepakatan orang-orang berakal. Sebab orang yang memberikan rekomendasi keadilan kepada seorang saksi tidak disyaratkan meyakini bahwa saksi tersebut ma‘shum dari setiap kesalahan.
وإذا قال المعدل المزكي في بعض شهادات المعدل ومزكيه: قد أخطأ فيها، أو تعمد هذا، باتفاق العقلاء، بل الشاهد العدل قد ترد شهادته لكونه متهماً بعداوته أو غرضه، وإن لم يقدح ذلك في سائر شهاداته.
Apabila orang yang telah dinilai adil mengatakan bahwa orang-orang yang sebelumnya merekomendasikannya keliru dalam suatu kesaksian tertentu, atau sengaja melakukan kesalahan di dalamnya, hal itu tidak dengan sendirinya membatalkan seluruh kesaksian mereka. Bahkan seorang saksi yang adil dapat ditolak kesaksiannya dalam kasus tertentu karena adanya tuduhan permusuhan atau kepentingan pribadi, tanpa hal itu menggugurkan seluruh kesaksiannya dalam perkara-perkara lain.
فلو تعارضت شهادة المعدل والمعدل ورجحت شهادة المعدل لكونه خصماً أو ظنيناً في ذلك في شهادة الآخر وعدالته، فالشرع إذا خالف العقل في بعض موارد النزاع ونسبه في ذلك إلى الخطأ والغلط، لم يكن ذلك قدحاً في كل ما علمه العقل، ولا في شهادته بأن النبي صادق مصدوق.
Maka apabila terjadi pertentangan dalam suatu kesaksian tertentu, lalu salah satu kesaksian tidak diterima karena terdapat faktor khusus seperti permusuhan atau kepentingan, hal itu tidak berarti seluruh kapasitas saksi tersebut gugur. Demikian pula, apabila syariat menyelisihi suatu kesimpulan akal pada salah satu titik perselisihan dan menyatakan bahwa kesimpulan tersebut keliru, hal itu tidak berarti mencela seluruh yang diketahui oleh akal, dan tidak pula membatalkan kesaksian akal bahwa Nabi adalah seorang yang benar dan dibenarkan.
ولو قال المعدل: إن الذي عدلني كذب في هذه الشهادة المعينة، فهذا أيضاً ليس نظيراً لتعارض العقل والسمع، فإن الأدلة السمعية لا تدل على أن أهل العقول الذين حصلت لهم صحة الشرع قد تعمدوا الكذب في ذلك.
Seandainya orang yang dinilai adil berkata, “Orang yang menilai keadilanku berdusta dalam kesaksian tertentu ini,” keadaan tersebut juga tidak sepadan dengan persoalan pertentangan antara akal dan sam‘i. Sebab dalil-dalil sam‘i tidak menyatakan bahwa orang-orang berakal yang melalui akalnya mengetahui kebenaran syariat dengan sengaja berdusta ketika menetapkan kebenaran tersebut.
ومن أين للمخبر أن الشرع الباطن المعينة قد تعمد الكذب، ولكن جنس الأدلة المعارضة لا يوصف بتعمد الكذب.
Persoalannya bukanlah menuduh akal sengaja berdusta. Kesalahan dapat terjadi pada suatu kesimpulan tertentu, sedangkan jenis dalil rasional itu sendiri tidak disifati sebagai sesuatu yang sengaja berdusta.
وأيضاً فالشاهد إذا جرح بتكذيب معدليه لم يكن لتكذيب المعدل في قضية معينة مستلزماً للقدح في تعديله، لأنه يقول: كان عدلاً حين ذاك، ثم طرأ عليه الفسق، فصار يكذب بعد ذلك.
Demikian pula, apabila seorang saksi kemudian dicela karena mendustakan orang-orang yang dahulu menilainya adil, pendustaan dalam satu perkara tertentu tidak otomatis membatalkan penilaian keadilannya sebelumnya. Sebab mungkin dikatakan bahwa ketika itu ia memang adil, kemudian setelahnya muncul kefasikan sehingga ia berdusta pada masa berikutnya.
ولا يجب أن العدول إذا عدلوا شخصاً، ثم حدث ما أوجب فسقه، لم يكن ذلك قادحاً في تعديلهم الماضي، ولا يكون قادحاً في غير ذلك من شهاداتهم.
Apabila orang-orang yang adil telah memberikan penilaian adil kepada seseorang, kemudian setelah itu muncul sesuatu yang membuat orang tersebut menjadi fasik, keadaan yang baru itu tidak membatalkan penilaian mereka pada masa sebelumnya dan tidak pula merusak seluruh kesaksian mereka yang lain.
فتبين أن تمثيل معارضة الشرع للعقل بهذا ليس فيه حجة على تقديم آراء العقلاء على الشرع بوجه من الوجوه.
Dengan demikian jelas bahwa menganalogikan pertentangan antara syariat dan akal dengan persoalan kesaksian seperti ini sama sekali tidak memberikan hujah untuk mendahulukan pendapat manusia atas syariat.
وأيضاً فإذا سلم أن هذه الشهادة تعارض الشرع والعقل فيقال: معلوم أن الحاكم إذا سمع جرح المعدل وتكذيبه لمن عدله في معين ما أعلم به، لم يكن هذا متضمناً لتقديم قول الذين زكوه.
Bahkan seandainya analogi kesaksian tersebut diterima untuk menggambarkan pertentangan antara syariat dan akal, diketahui bahwa seorang hakim yang mendengar kritik dari orang yang telah dinilai adil terhadap orang-orang yang sebelumnya merekomendasikannya dalam suatu perkara tertentu tidak otomatis harus mendahulukan perkataan pihak yang dahulu memberikan rekomendasi kepadanya.
بل يكون ذلك على وجهين: تارة يذكرون من تزكيتهم شيئاً يمكن أن يكونوا صادقين فيه ويكون عالماً بصدقهم فيه، ولكن ما ذكروه أن يكونوا صادقين فيه لم يضمن أن يكون تعديله حادثاً عن شيء، والمعدل يتكلم فيه من حاله.
Keadaan tersebut dapat memiliki beberapa sisi. Bisa jadi mereka menyebutkan dalam rekomendasi itu sesuatu yang memang benar dan diketahui kebenarannya, tetapi kebenaran rekomendasi pada suatu keadaan tertentu tidak mengharuskan bahwa keadaan orang yang direkomendasikan akan selalu sama pada setiap waktu dan dalam setiap perkara.
ويستفيد الحاكم توقفاً من البين بأن الأمر لا يعدو قول الذين عدلوه بجرح معارضة لهم، فلو كان هذا، وإن تعارض العقل والشرع لكان بموجب ذلك الوقف دون تقديم العقل.
Paling jauh, hakim memperoleh alasan untuk menangguhkan keputusan sampai persoalannya menjadi jelas. Maka seandainya analogi ini benar-benar diterapkan pada dugaan pertentangan antara akal dan syariat, konsekuensinya hanyalah tawaqquf—menangguhkan keputusan—bukan mendahulukan akal atas syariat.
Leave a Reply