درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 24)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
تناقض القول بتقديم العقل عند التعارض
Kontradiksi Pendapat yang Mendahulukan Akal ketika Terjadi Pertentangan
الوجه السابع
Sisi Ketujuh
أن يقال: تقديم المعقول على الأدلة الشرعية ممتنع متناقض، وأما تقديم الأدلة الشرعية فهو ممكن مؤتلف، فوجب الثاني دون الأول، وذلك لأن كون الشيء معلوماً بالعقل، أو غير معلوم بالعقل، ليس هو صفة لازمة لشيء من الأشياء،
Dapat dikatakan: mendahulukan apa yang dianggap sebagai dalil akal atas dalil-dalil syar‘i merupakan sesuatu yang mustahil dan kontradiktif. Adapun mendahulukan dalil-dalil syar‘i merupakan sesuatu yang mungkin dan selaras. Karena itu, yang kedua harus dipilih, bukan yang pertama. Sebab keadaan suatu perkara sebagai sesuatu yang diketahui oleh akal atau tidak diketahui oleh akal bukanlah sifat yang selalu melekat pada perkara tersebut.
بل هو من الأمور النسبية الإضافية، فإن زيداً قد يعلم بعقله ما لا يعلمه بكر بعقله، وقد يعلم الإنسان في حال بعقله ما يجهله في وقت آخر.
Hal itu termasuk perkara yang bersifat relatif. Zaid mungkin mengetahui dengan akalnya sesuatu yang tidak diketahui Bakr dengan akalnya. Bahkan seseorang dapat mengetahui dengan akalnya pada suatu keadaan sesuatu yang pada waktu lain tidak diketahuinya.
والمسائل التي يقال إنه قد تعارض فيها العقل والشرع جميعها مما اضطرب فيه العقلاء، ولم يتفقوا فيها على أن موجب العقل كذا، بل كل من العقلاء يقول: إن العقل أثبت، أو أوجب، أو سوغ ما يقول الآخر: إن العقل نفاه، أو أحاله، أو منع منه.
Seluruh persoalan yang dikatakan sebagai tempat terjadinya pertentangan antara akal dan syariat justru merupakan persoalan-persoalan yang diperselisihkan oleh orang-orang berakal. Mereka tidak bersepakat bahwa konsekuensi akal dalam persoalan itu adalah demikian. Bahkan seseorang mengatakan bahwa akal menetapkan, mewajibkan, atau membolehkan sesuatu yang oleh orang lain dikatakan telah dinafikan, dianggap mustahil, atau dilarang oleh akal.
بل قد آل الأمر بينهم إلى التنازع فيما يقولون أنه من العلوم الضرورية، فيقول هذا: نحن نعلم بالضرورة العقلية ما يقول الآخر: إنه غير معلوم بالضرورة العقلية.
Bahkan perselisihan mereka sampai kepada perkara-perkara yang mereka sebut sebagai pengetahuan niscaya. Satu pihak berkata, “Kami mengetahui hal ini berdasarkan keniscayaan akal,” sementara pihak lain mengatakan bahwa perkara yang sama tidak diketahui berdasarkan keniscayaan akal.
كما يقول أكثر العقلاء: نحن نعلم بالضرورة العقلية امتناع رؤية مرئي من غير معاينة ومقابلة، ويقول طائفة من العقلاء: إن ذلك ممكن.
Sebagaimana mayoritas orang berakal mengatakan, “Kami mengetahui berdasarkan keniscayaan akal bahwa mustahil melihat sesuatu yang dapat dilihat tanpa adanya keadaan berhadapan dan berlawanan arah dengannya,” sementara sekelompok orang berakal mengatakan bahwa hal tersebut mungkin.
ويقول أكثر العقلاء: إنا نعلم أن حدوث حادث بلا سبب حادث ممتنع، ويقول طائفة من العقلاء: إن ذلك ممكن.
Mayoritas orang berakal juga mengatakan, “Kami mengetahui bahwa terjadinya suatu perkara baru tanpa adanya sebab baru adalah mustahil,” sementara sekelompok orang berakal mengatakan bahwa hal itu mungkin.
ويقول أكثر العقلاء: إن كون الموصوف عالماً بلا علم قادراً بلا قدرة حياً بلا حياة ممتنع في ضرورة العقل، وآخرون ينازعون في ذلك.
Mayoritas orang berakal mengatakan bahwa adanya sesuatu yang disifati mengetahui tanpa ilmu, berkuasa tanpa kekuasaan, dan hidup tanpa kehidupan merupakan sesuatu yang mustahil menurut keniscayaan akal. Namun kelompok lain memperselisihkan hal tersebut.
ويقول أكثر العقلاء: إن كون العقل والعاقل والمعقول، والعشق والعاشق والمعشوق، والوجود والموجود، والوجوب والعناية أمراً واحداً، هو ممتنع في ضرورة العقل، وآخرون ينازعون في ذلك.
Mayoritas orang berakal mengatakan bahwa akal, pihak yang berakal, dan sesuatu yang dipikirkan; cinta, pihak yang mencintai, dan yang dicintai; demikian pula wujud, yang maujud, keniscayaan, dan inayah, semuanya tidak mungkin merupakan satu perkara yang sama menurut keniscayaan akal. Namun kelompok lain memperselisihkan hal tersebut.
ويقول جمهور العقلاء: إن الوجود ينقسم إلى واجب وممكن وقديم ومحدث، وأن لفظ الوجود يعمها ويتناولها، وأن هذا معلوم بضرورة العقل، ومن الناس من ينازع في ذلك.
Mayoritas orang berakal mengatakan bahwa wujud terbagi menjadi wajib dan mungkin, qadim dan baru; dan bahwa lafaz “wujud” mencakup semuanya. Mereka mengatakan bahwa hal tersebut diketahui berdasarkan keniscayaan akal. Namun sebagian manusia memperselisihkannya.
ويقول جمهور العقلاء: إن حدوث الأصوات المسموعة من العبد (بالقرآن) أمر معلوم بضرورة العقل، ومن الناس من ينازع في ذلك.
Mayoritas orang berakal juga mengatakan bahwa munculnya suara-suara yang terdengar dari seorang hamba ketika membaca Al-Qur’an merupakan perkara yang diketahui berdasarkan keniscayaan akal. Namun sebagian orang memperselisihkan hal tersebut.
وجمهور العقلاء يقولون: إثبات موجودين ليس أحدهما مبايناً للآخر ولا داخلاً فيه، أو إثبات موجود ليس بداخل العالم ولا خارجه معلوم الفساد بضرورة العقل، ومن الناس من ينازع في ذلك.
Mayoritas orang berakal mengatakan bahwa menetapkan adanya dua wujud yang salah satunya tidak terpisah dari yang lain dan juga tidak berada di dalamnya, atau menetapkan adanya suatu wujud yang tidak berada di dalam alam dan tidak pula di luarnya, diketahui kerusakannya berdasarkan keniscayaan akal. Namun sebagian manusia memperselisihkan hal tersebut.
وجمهور العقلاء يعلمون أن كون نفس الإنسان هي العالمة بالأمور العامة الكلية، والأمور الخاصة الجزئية معلوم بضرورة العقل، ومن الناس من ينازع في ذلك، وهذا باب واسع.
Mayoritas orang berakal mengetahui bahwa jiwa manusia itulah yang mengetahui perkara-perkara umum yang bersifat universal dan perkara-perkara khusus yang bersifat partikular. Hal itu menurut mereka diketahui berdasarkan keniscayaan akal. Namun sebagian manusia memperselisihkannya. Dan pembahasan mengenai hal semacam ini sangat luas.
فلو قيل بتقديم العقل على الشرع، وليست العقول شيئاً واحداً بيناً بنفسه، ولا عليه دليل معلوم للناس، بل فيها هذا الاختلاف والاضطراب، لوجب أن يحال الناس على شيء لا سبيل إلى ثبوته ومعرفته، ولا اتفاق للناس عليه.
Jika dikatakan bahwa akal harus didahulukan atas syariat, sementara apa yang disebut sebagai “akal” bukanlah satu perkara yang tunggal dan jelas dengan sendirinya, tidak pula terdapat satu dalil yang disepakati manusia mengenainya, bahkan di dalamnya terdapat perselisihan dan kegoncangan seperti ini, maka konsekuensinya adalah manusia diarahkan kepada sesuatu yang tidak memiliki jalan pasti untuk ditetapkan dan diketahui serta tidak disepakati oleh manusia.
وأما الشرع فهو في نفسه قول الصادق، وهذه صفة لازمة له، لا تختلف باختلاف أحوال الناس، والعلم بذلك ممكن، ورد الناس إليه ممكن، وهذا جاء التنزيل برد الناس عند التنازع إلى الكتاب والسنة، كما قال تعالى: «يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا».
Adapun syariat, pada dirinya merupakan perkataan pihak yang benar. Sifat ini melekat padanya dan tidak berubah karena perbedaan keadaan manusia. Mengetahui hal tersebut adalah mungkin, dan mengembalikan manusia kepadanya juga mungkin. Karena itulah wahyu memerintahkan manusia agar ketika berselisih kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih dalam suatu perkara, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.”
فأمر الله تعالى المؤمنين عند التنازع بالرد إلى الله والرسول، وهذا يوجب تقديم السمع، وهذا هو الواجب، إذ لو ردوا إلى غير ذلك من عقول الرجال وآرائهم ومقاييسهم وبراهينهم لم يزدهم هذا الرد إلا اختلافاً واضطراباً، وشكاً وارتياباً.
Allah Ta‘ala memerintahkan kaum beriman ketika terjadi perselisihan untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasul. Hal ini mengharuskan didahulukannya dalil sam‘i, dan inilah yang wajib. Sebab seandainya mereka mengembalikannya kepada selain itu—kepada akal manusia, pendapat-pendapat mereka, qiyas-qiyas mereka, dan argumentasi-argumentasi mereka—pengembalian tersebut tidak akan menambah mereka kecuali perselisihan, kegoncangan, keraguan, dan kebimbangan.
ولذلك قال تعالى: «كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ».
Karena itu Allah Ta‘ala berfirman: “Manusia dahulu merupakan satu umat, kemudian Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan bersama mereka Dia menurunkan Kitab dengan kebenaran agar Kitab itu memberikan keputusan di antara manusia mengenai apa yang mereka perselisihkan.”
فأنزل الله الكتاب حاكماً بين الناس فيما اختلفوا فيه، إذ لا يمكن الحكم بين الناس في موارد النزاع والاختلاف على الإطلاق إلا بكتاب منزل من السماء.
Allah menurunkan Kitab sebagai hakim di antara manusia dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan. Sebab tidak mungkin memberikan keputusan secara menyeluruh di antara manusia dalam berbagai titik perselisihan dan perbedaan kecuali dengan kitab yang diturunkan dari langit.
ولا ريب أن بعض الناس قد يعلم بعقله ما لا يعلمه غيره، وإن لم يمكنه بيان ذلك لغيره، ولكن ما علم بصريح العقل لا يتصور أن يعارضه الشرع البتة، بل المنقول الصحيح لا يعارضه معقول صريح قط.
Tidak diragukan bahwa sebagian manusia dapat mengetahui melalui akalnya sesuatu yang tidak diketahui orang lain, meskipun terkadang ia tidak mampu menjelaskan pengetahuan itu kepada orang lain. Akan tetapi, sesuatu yang benar-benar diketahui melalui akal yang jernih tidak mungkin sama sekali bertentangan dengan syariat. Dalil naqli yang sahih tidak pernah bertentangan dengan akal yang jernih dan benar.
وقد تأملت ذلك في عامة ما تنازع الناس فيه، فوجدت ما خالف النصوص الصحيحة الصريحة شبهات فاسدة يعلم بالعقل بطلانها، بل يعلم بالعقل ثبوت نقيضها الموافق للشرع.
Aku telah menelaah hal tersebut dalam berbagai persoalan yang diperselisihkan manusia. Aku mendapati bahwa apa yang bertentangan dengan nash-nash yang sahih dan tegas hanyalah syubhat-syubhat yang rusak, yang kebatilannya dapat diketahui dengan akal. Bahkan dengan akal pula dapat diketahui kebenaran kebalikannya, yang selaras dengan syariat.
Leave a Reply