درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 26)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
إلى عقل من نحتكم عند النزاع؟
Kepada Akal Siapakah Kita Berhukum ketika Terjadi Perselisihan?
الوجه التاسع
Sisi Kesembilan
وهو أن يقال: القول بتقديم الإنسان معقوله على النصوص النبوية قول لا ينضبط، وذلك لأن أهل الكلام والفلسفة الخائضين المتنازعين فيما يسمونه عقليات، كل منهم يقول: إنه يعلم بضرورة العقل أو بنظره ما يدعي الآخر أن المعلوم بضرورة العقل أو بنظره نقيضه.
Dapat dikatakan: pendapat yang menyatakan bahwa seseorang harus mendahulukan apa yang dipahami oleh akalnya atas nash-nash kenabian merupakan pendapat yang tidak memiliki ukuran yang dapat dikendalikan. Sebab para ahli kalam dan filsafat yang mendalami persoalan-persoalan yang mereka sebut sebagai perkara rasional saling berselisih. Masing-masing mengklaim mengetahui melalui keniscayaan akal atau melalui penalaran sesuatu yang justru oleh pihak lain dikatakan bahwa kebalikannyalah yang diketahui melalui keniscayaan akal atau penalaran.
وهذا من حيث الجملة معلوم، فالمعتزلة ومن اتبعهم من الشيعة يقولون: إن أصولهم المتضمنة نفي الصفات والتكذيب بالقدر ـ الذي يسمونه التوحيد والعدل ـ معلوم بالأدلة العقلية القطعية، ومخالفوهم من أهل الإثبات يقولون: إن نقيض ذلك معلوم بالأدلة القطعية العقلية.
Secara umum hal ini telah diketahui. Kaum Mu‘tazilah dan orang-orang Syiah yang mengikuti mereka mengatakan bahwa prinsip-prinsip mereka yang mencakup penafian sifat-sifat Allah dan penolakan terhadap qadar—yang mereka namakan sebagai tauhid dan keadilan—diketahui melalui dalil-dalil rasional yang qath‘i. Sementara pihak yang berseberangan dengan mereka dari kalangan yang menetapkan sifat mengatakan bahwa justru kebalikan pendapat tersebutlah yang diketahui melalui dalil-dalil rasional yang qath‘i.
بل المثبتون ومن ضاهاهم يقولون: إن عالم الكلام الحقيقي هو ما أمكن علمه بالعقل المجرد بدون السمع، كمسائل الرؤية والكلام وخلق الأعمال، وهذا هو الذي يجعلونه قطعياً، ويقولون فيما خالف ذلك من كلام خصومهم إنه مخالف لصريح العقل.
Bahkan kalangan yang menetapkan sifat dan orang-orang yang sejalan dengan mereka mengatakan bahwa pembahasan ilmu kalam yang sebenarnya adalah perkara-perkara yang dapat diketahui dengan akal tanpa bergantung kepada sam‘i, seperti persoalan ru’yah, kalam Allah, dan penciptaan perbuatan. Mereka menganggap dalil dalam persoalan-persoalan tersebut bersifat qath‘i dan mengatakan bahwa pendapat lawan yang menyelisihinya bertentangan dengan akal yang jernih.
وكل من طائفتي النفي والإثبات فهم من الذكاء والعقل والمعرفة ما هم مجبورون به على كثير من الناس، وهذا يقول: إن العقل الصريح دل على النفي، والآخر يقول: العقل الصريح دل على الإثبات.
Masing-masing dari dua kelompok—kelompok yang menafikan maupun yang menetapkan—memiliki tokoh-tokoh yang dikenal memiliki kecerdasan, kemampuan berpikir, dan keluasan pengetahuan melebihi banyak manusia. Namun yang satu mengatakan, “Akal yang jernih menunjukkan penafian,” sedangkan yang lain mengatakan, “Akal yang jernih menunjukkan penetapan.”
وهم متنازعون في المسائل التي دلت عليها النصوص، كمسائل الصفات والقدر، وأما المسائل المولدة كمسألة الجوهر الفرد وتماثل الأجسام وبقاء الأعراض وغير ذلك ففيها من النزاع بينهم ما يطول استقصاؤه، وكل منهم يدعي فيها القطع العقلي.
Mereka juga berselisih dalam persoalan-persoalan yang dibicarakan oleh nash, seperti persoalan sifat-sifat Allah dan qadar. Adapun dalam persoalan-persoalan yang lahir kemudian, seperti persoalan al-jawhar al-fard (substansi tunggal yang tidak terbagi), keserupaan seluruh jisim, kekalnya aksiden, dan selainnya, perselisihan di antara mereka bahkan sangat panjang untuk dijabarkan. Masing-masing mengklaim bahwa pendapatnyalah yang didasarkan pada kepastian akal.
ثم كل من كان من السنة أبعد كان النزاع والاختلاف بينهم في معقولاتهم أعظم، فالمعتزلة أكثر اختلافاً من متكلمة أهل الإثبات، ومن المتفلسفة المنتسبين إليهم من النزاع ما يطول ذكره.
Kemudian, semakin jauh suatu kelompok dari Sunnah, menurut uraian ini semakin besar pula perselisihan dan perbedaan mereka dalam perkara-perkara yang mereka anggap rasional. Perselisihan kaum Mu‘tazilah lebih banyak dibandingkan para mutakallim dari kalangan yang menetapkan sifat, sedangkan di kalangan para filsuf yang menisbatkan diri kepada berbagai aliran tersebut terdapat perselisihan yang sangat panjang untuk disebutkan.
والبصريون أقرب إلى السنة والإثبات من البغداديين، ولهذا كان البصريون أقرب إلى أئمة السنة من البغداديين، ويثبتون الرؤية والإرادة، ولا يوجبون الأصلح في الدنيا، ويثبتون خبر الواحد والقياس، ولا يقولون بتخليد أصحاب الكبائر ونحو ذلك.
Kalangan Bashrah lebih dekat kepada Sunnah dan penetapan dibandingkan kalangan Baghdad. Karena itu, kalangan Bashrah lebih dekat kepada para imam Sunnah daripada kalangan Baghdad. Mereka menetapkan ru’yah dan kehendak Allah, tidak mewajibkan atas Allah untuk selalu melakukan sesuatu yang dianggap paling maslahat di dunia, menerima khabar ahad dan qiyas, serta tidak mengatakan bahwa pelaku dosa besar kekal di dalam neraka, dan beberapa persoalan lainnya.
وأتباع أبي الحسين البصري ـ من النزاع ـ ما هو معروف.
Adapun perselisihan di kalangan para pengikut Abu al-Husain al-Bashri juga telah dikenal luas.
وأما الشيعة فأعظم تفرقاً واختلافاً من المعتزلة، لكونهم أبعد عن السنة منهم، حتى قيل: إنهم سبعون فرقة.
Adapun Syiah, menurut uraian ini, jauh lebih banyak terpecah dan berselisih dibandingkan Mu‘tazilah karena mereka dipandang lebih jauh dari Sunnah. Bahkan disebutkan bahwa mereka terbagi menjadi tujuh puluh kelompok.
وأما الفلاسفة فلا يجمعهم جامع، بل هم أعظم اختلافاً من جميع طوائف المسلمين واليهود والنصارى، والفلاسفة الذين ذهب إليهم الفارابي وابن سينا إنما هم فلاسفة المشائين أتباع أرسطو صاحب التعاليم، وبينه وبين سلفه من النزاع والاختلاف ما يطول وصفه، ثم بين أتباعه من الخلاف ما يطول وصفه.
Adapun para filsuf, tidak ada satu mazhab yang benar-benar menyatukan mereka. Bahkan perselisihan mereka sangat besar. Para filsuf yang menjadi rujukan al-Farabi dan Ibn Sina adalah para filsuf Peripatetik, pengikut Aristoteles. Antara Aristoteles dan para filsuf sebelumnya terdapat perselisihan yang panjang untuk diuraikan, dan di antara para pengikut Aristoteles sendiri pun terdapat perbedaan yang panjang untuk dijelaskan.
وأما طوائف الفلاسفة فإنهم على حكم اختلافهم في علم الهيئة، وعلم النجوم، واختلاف طوائف أهل القبلة والملة في علم رياضي حسابي هو من أصح علومهم، فإذا كان هذا اختلافهم فيه فكيف باختلافهم في الطبيعيات أو الإلهيات؟
Kelompok-kelompok filsuf juga berselisih dalam ilmu astronomi dan ilmu perbintangan. Bahkan perselisihan dapat terjadi dalam ilmu matematika dan perhitungan yang justru termasuk ilmu mereka yang paling kuat. Jika dalam ilmu seperti itu saja mereka dapat berselisih, bagaimana dengan perselisihan mereka dalam ilmu alam atau persoalan-persoalan ketuhanan?
ومعلوم أن أرسطو وأتباعه عندهم من النزاع والاختلاف مع من قبلهم من الفلاسفة ما هو معروف، ومنه ما ذكره الأشعري عنهم في كتابه في «مقالات غير الإسلاميين»، وما ذكره القاضي أبو بكر وغيره في كتاب «الدقائق»، وغير ذلك مما نقل عن الفلاسفة المتقدمين.
Telah diketahui pula bahwa Aristoteles dan para pengikutnya memiliki banyak perselisihan dengan para filsuf sebelum mereka. Sebagian perselisihan itu dinukil oleh al-Asy‘ari dalam kitabnya mengenai pendapat kelompok-kelompok non-Muslim, dan oleh Qadhi Abu Bakr serta selainnya dalam karya-karya yang membahas rincian pendapat para filsuf terdahulu.
وأرسطو وأتباعه مخالفون لجمهور الفلاسفة المتقدمين عليه في كثير من مسائل الطبيعيات والإلهيات، وقد ذكر ذلك في مواضع كثيرة من كتبه ورد عليهم.
Aristoteles dan para pengikutnya berbeda dengan mayoritas filsuf yang mendahuluinya dalam banyak persoalan ilmu alam maupun ketuhanan. Dalam banyak tempat pada karya-karyanya, Aristoteles sendiri menyebutkan pendapat mereka kemudian membantahnya.
وكان عندهم في الطبيعيات أن الجسم ـ وهو مركب من المادة والصورة ـ أو الأجرام التي لا تنقسم، أو ليس بمركب لا من هذا ولا من هذا؟ وكثير من حقائق النظر حار في هذه المسائل.
Dalam pembahasan ilmu alam saja terdapat perselisihan: apakah jisim tersusun dari materi dan bentuk, atau dari unsur-unsur yang tidak dapat dibagi, ataukah tidak tersusun dari kedua hal tersebut? Banyak ahli penalaran mengalami kebingungan dalam persoalan-persoalan seperti ini.
حتى إن طوائفهم التي تجمع منها ألف مقالة، والتي اتفقت مع أبي الحسين البصري في كثير من المسائل، وألف عبد اللطيف البغدادي وابن سينا في مسائل الهيئة، وغيرها من العلوم، كانوا مختلفين اختلافاً شديداً.
Bahkan berbagai kelompok mereka menghasilkan begitu banyak pendapat. Tokoh-tokoh yang dalam sebagian persoalan berdekatan dengan Abu al-Husain al-Bashri, demikian pula ‘Abd al-Lathif al-Baghdadi, Ibn Sina, dan tokoh lainnya dalam persoalan astronomi dan ilmu-ilmu lain, tetap memiliki perselisihan yang tajam satu sama lain.
وهذا كثير في مسائل الهيئة وغيرها من الرياضيات، ومن أحكام الجسم وغيره من الطبيعيات، فضلاً عن مسائل العلم الإلهي، والمنازعة بينهم في معارفهم لا يصل فيها إلى اليقين، وإنما يختلفون بالأولى والأخرى والأخلق.
Hal seperti ini banyak terjadi dalam persoalan astronomi dan berbagai cabang matematika, juga dalam pembahasan jisim dan persoalan-persoalan ilmu alam. Terlebih lagi dalam persoalan ilmu ketuhanan. Perselisihan mereka dalam berbagai pengetahuan tersebut sering tidak sampai kepada keyakinan yang pasti, melainkan hanya berputar pada mana yang dianggap lebih utama, lebih kuat, atau lebih layak.
Leave a Reply