درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 28)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
ولو جمعت ما بلغني في هذا الباب عن أعيان هؤلاء، كفلان وفلان، لكان شيئاً كثيراً، وما لم يبلغني من حيرتهم وشكهم أكثر وأكثر.
Seandainya aku mengumpulkan seluruh berita yang sampai kepadaku dalam persoalan ini dari tokoh-tokoh mereka—si fulan dan si fulan—niscaya jumlahnya akan sangat banyak. Dan apa yang tidak sampai kepadaku mengenai kebingungan dan keraguan mereka tentu jauh lebih banyak lagi.
وذلك لأن الهدى هو فيما بعث الله به رسله، فمن أعرض عنه لم يكن مهتدياً، فكيف بمن عارضه بما يناقضه وقدم مناقضه عليه؟
Hal itu karena petunjuk terdapat pada apa yang dengannya Allah mengutus para rasul-Nya. Siapa yang berpaling darinya tidak akan memperoleh petunjuk. Lalu bagaimana dengan orang yang menentangnya dengan sesuatu yang berlawanan dengannya dan mendahulukan sesuatu yang berlawanan itu atasnya?
قال الله تعالى لما أهبط آدم: «اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى».
Allah Ta‘ala berfirman ketika menurunkan Adam: “Turunlah kalian berdua dari sana semuanya; sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka apabila datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tidak akan tersesat dan tidak pula celaka. Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata: ‘Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpunkanku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami lalu engkau melupakannya; dan demikian pula pada hari ini engkau dilupakan.’”
قال ابن عباس رضي الله عنهما: «تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا، ولا يشقى في الآخرة» ثم قرأ هذه الآية.1
Ibn ‘Abbas رضي الله عنهما berkata, “Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya bahwa ia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Kemudian beliau membaca ayat tersebut.
وقوله تعالى: «وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي» يتناول الذكر الذي أنزله، وهو الهدى الذي جاءت به الرسل، كما قال تعالى في آخر الكلام: «كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا» أي تركت اتباعها والعمل بما فيها، فمن طلب الهدى بغير القرآن ضل، ومن اعتز بغير الله ذل.
Firman Allah Ta‘ala, “Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku,” mencakup peringatan yang Dia turunkan, yaitu petunjuk yang dibawa para rasul. Sebagaimana Allah berfirman pada akhir ayat, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami lalu engkau melupakannya,” yakni engkau meninggalkan untuk mengikuti dan mengamalkannya. Maka siapa yang mencari petunjuk melalui selain Al-Qur’an akan tersesat, dan siapa yang mencari kemuliaan dengan selain Allah akan menjadi hina.
وقد قال تعالى: «اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ»، وقال تعالى: «وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ».
Allah Ta‘ala juga berfirman, “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah mengikuti para wali selain-Nya.” Dan Allah berfirman, “Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain sehingga jalan-jalan itu memisahkan kalian dari jalan-Nya.”
وفي حديث علي رضي الله عنه الذي رواه الترمذي، ورواه أبو نعيم من عدة طرق، عن علي، عن النبي ﷺ لما قال: «إنها ستكون فتنة»، قلت: فما المخرج منها يا رسول الله؟ قال: «كتاب الله، فيه نبأ ما قبلكم، وخبر ما بعدكم، وحكم ما بينكم، هو الفصل ليس بالهزل، من تركه من جبار قصمه الله، ومن ابتغى الهدى في غيره أضله الله، وهو حبل الله المتين، وهو الذكر الحكيم، وهو الصراط المستقيم، وهو الذي لا تزيغ به الأهواء، ولا تلتبس به الألسن، ولا يخلق عن كثرة الرد، ولا تنقضي عجائبه، ولا تشبع منه العلماء، من قال به صدق، ومن عمل به أجر، ومن حكم به عدل، ومن دعا إليه هدي إلى صراط مستقيم».
Dalam hadis ‘Ali رضي الله عنه yang diriwayatkan at-Tirmidzi dan juga Abu Nu‘aim melalui beberapa jalur, dari ‘Ali, dari Nabi ﷺ, ketika beliau bersabda, “Sesungguhnya kelak akan terjadi fitnah,” aku bertanya, “Apakah jalan keluar darinya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kitab Allah. Di dalamnya terdapat berita tentang orang-orang sebelum kalian, kabar mengenai apa yang datang setelah kalian, dan keputusan mengenai perkara di antara kalian. Ia adalah pemisah dan bukan senda gurau. Siapa dari penguasa yang meninggalkannya, Allah akan membinasakannya. Siapa yang mencari petunjuk pada selainnya, Allah akan menyesatkannya. Ia adalah tali Allah yang kokoh, peringatan yang penuh hikmah, dan jalan yang lurus. Hawa nafsu tidak dapat menyelewengkannya, lisan-lisan tidak menjadi rancu karenanya, ia tidak menjadi usang karena banyak diulang, keajaiban-keajaibannya tidak habis, dan para ulama tidak pernah kenyang darinya. Siapa yang berkata dengannya, ia benar; siapa yang mengamalkannya, ia diberi pahala; siapa yang berhukum dengannya, ia berlaku adil; dan siapa yang menyeru kepadanya, ia diberi petunjuk menuju jalan yang lurus.”
وهذا مبسوط في غير هذا الموضع.
Pembahasan mengenai hal ini telah dijelaskan secara lebih luas di tempat lain.
والمقصود هنا التنبيه على أنه لو سوغ للناظرين أن يعرضوا عن كتاب الله تعالى ويعارضوه بآرائهم ومعقولاتهم، لم يكن هناك أمر مضبوط يحصل لهم به علم ولا هدى، فإن الذين سلكوا هذه السبيل كلهم يخبر عن نفسه بما يوجب حيرته وشكه.
Maksud pembahasan di sini adalah mengingatkan bahwa apabila para pemikir dibenarkan berpaling dari Kitab Allah Ta‘ala lalu menentangnya dengan pendapat dan apa yang mereka anggap sebagai pemikiran rasional, tidak akan tersisa suatu ukuran yang pasti yang dengannya mereka memperoleh ilmu dan petunjuk. Sebab orang-orang yang menempuh jalan tersebut sendiri memberitakan keadaan mereka yang menunjukkan kebingungan dan keraguan.
والمسلمون يشهدون عليه بذلك، فثبت بشهادته وإقراره على نفسه وشهادة المسلمين، الذين هم شهداء الله في الأرض، أنه لم يظفر من أعرض عن الكتاب وعارضه بما يناقضه بيقين يطمئن إليه، ولا معرفة يسكن بها قلبه.
Kaum Muslimin pun memberikan kesaksian mengenai hal tersebut. Maka berdasarkan kesaksian dan pengakuannya sendiri, serta kesaksian kaum Muslimin—yang merupakan para saksi Allah di bumi—tampak bahwa orang yang berpaling dari Kitab dan menentangnya dengan sesuatu yang berlawanan dengannya tidak memperoleh keyakinan yang menenteramkannya ataupun pengetahuan yang membuat hatinya tenang.
والذين ادعوا في بعض المسائل أن لهم معقولاً صريحاً يناقض الكتاب قابلهم آخرون من ذوي المعقولات، فقالوا: إن قول هؤلاء معلوم بطلانه بصريح المعقول، فصار ما يدعى معارضته للكتاب من المعقول ليس فيه ما يجزم بأنه معقول صحيح.
Orang-orang yang dalam sebagian persoalan mengklaim memiliki dalil rasional yang jelas dan bertentangan dengan Kitab kemudian dihadapi oleh pemikir-pemikir lain yang berkata bahwa pendapat mereka justru diketahui kebatilannya melalui akal yang jernih. Akhirnya, apa yang diklaim sebagai argumentasi rasional yang menentang Kitab itu sendiri tidak dapat dipastikan sebagai argumentasi rasional yang benar.
إما بشهادة أصحابه عليه وشهادة الأمة، وإما بظهور تناقضهم ظهوراً لا ارتياب فيه، وإما بمعارضة آخرين من أهل المعقولات لهم، بل من تدبر ما يعارضون به الشرع من العقليات وجد ذلك مما يعلم بالعقل الصريح بطلانه.
Hal itu diketahui baik melalui kesaksian para pengusungnya sendiri dan kesaksian umat, melalui tampaknya kontradiksi mereka dengan sangat jelas tanpa keraguan, maupun melalui bantahan pemikir-pemikir lain terhadap mereka. Bahkan siapa yang menelaah dengan saksama argumentasi rasional yang mereka gunakan untuk menentang syariat akan mendapati bahwa kebatilannya sendiri dapat diketahui melalui akal yang jernih.
والناس إذا تنازعوا في المعقول لم يكن قول طائفة لها مذهب حجة على أخرى، بل يرجع في ذلك إلى الفطر السليمة التي لم تتغير باعتقاد يغير فطرتها ولا هوى.
Apabila manusia berselisih mengenai perkara rasional, pendapat suatu kelompok dengan mazhab tertentu tidak dapat menjadi hujah dengan sendirinya atas kelompok yang lain. Persoalan itu harus dikembalikan kepada fitrah yang sehat, yang belum berubah oleh keyakinan yang merusak fitrahnya ataupun oleh hawa nafsu.
فامتنع حينئذ أن يعتمد على ما يعارض الكتاب من الأقوال التي يسمونها معقولات، وإن كان ذلك قد قالته طائفة كبيرة، خالفتها طائفة كبيرة لها.
Karena itu tidak dapat dijadikan sandaran perkataan-perkataan yang menentang Kitab hanya karena disebut sebagai “rasional”, sekalipun pendapat tersebut dianut oleh kelompok yang besar, sebab kelompok besar lainnya juga dapat menyelisihinya.
ولم يبق إلا أن يقال: إن كل إنسان له عقل فيعتمد على عقل نفسه، وما وجده معارضاً لأقوال الرسول ﷺ من رأيه خالفه، وقدم رأيه على نصوص الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم، ومعلوم أن هذا أكثر ضلالاً واضطراباً.
Jika demikian, yang tersisa hanyalah mengatakan bahwa setiap manusia memiliki akal, lalu masing-masing menjadikan akalnya sendiri sebagai sandaran. Apa pun dari pendapatnya yang ia anggap bertentangan dengan perkataan Rasul ﷺ kemudian digunakannya untuk menyelisihi Rasul, dan pendapat pribadinya didahulukan atas nash-nash para nabi صلوات الله وسلامه عليهم. Telah jelas bahwa cara seperti ini justru lebih besar kesesatan dan kegoncangannya.
فإذا كان فحول النظر وأساطين الفلسفة الذين بلغوا في الذكاء والنظر إلى الغاية، وهم ليلهم ونهارهم يكدحون في معرفة هذه العقليات، ثم لم يصلوا فيها إلى معقول صريح يناقض الكتاب، بل إما إلى حيرة وارتياب، وإما إلى اختلاف بين الأحزاب، فكيف غير هؤلاء ممن لم يبلغ مبلغهم في الذهن والذكاء ومعرفة ما سلكوه من العقليات؟
Apabila para tokoh besar ahli penalaran dan pilar-pilar filsafat, yang telah mencapai tingkat sangat tinggi dalam kecerdasan dan penelitian serta menghabiskan siang dan malam mereka untuk mendalami perkara-perkara rasional tersebut, tetap tidak berhasil mencapai suatu dalil rasional yang jelas yang benar-benar bertentangan dengan Kitab—melainkan berakhir pada kebingungan dan keraguan atau perselisihan antarberbagai kelompok—maka bagaimana lagi dengan orang-orang yang tidak mencapai kemampuan mereka dalam kecerdasan, ketajaman pikiran, dan pengetahuan terhadap jalan-jalan rasional yang mereka tempuh?
فهذا وأمثاله مما يبين أن من أعرض عن الكتاب وعارضه بما يناقضه، لم يعارضه إلا بما هو جهل بسيط أو جهل مركب.
Hal ini dan perkara-perkara semisalnya menunjukkan bahwa orang yang berpaling dari Kitab dan menentangnya dengan sesuatu yang dianggap berlawanan dengannya pada akhirnya hanya menentangnya dengan kebodohan sederhana atau kebodohan majemuk.
فالأول: «كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ».
Yang pertama seperti firman Allah: “Seperti fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang yang kehausan. Ketika ia mendatanginya, ia tidak mendapatkan sesuatu pun; dan ia mendapatkan Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan secara sempurna. Dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya.”
والثاني: «كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ».
Sedangkan yang kedua seperti firman Allah: “Atau seperti kegelapan di lautan yang sangat dalam, yang diliputi gelombang, di atasnya gelombang lagi, dan di atasnya awan; kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Apabila ia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir ia tidak dapat melihatnya. Dan siapa yang tidak Allah berikan cahaya kepadanya, maka ia tidak memiliki cahaya sedikit pun.”
وأصحاب القرآن والإيمان في نور على نور، قال تعالى: «وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ».
Adapun orang-orang yang berpegang kepada Al-Qur’an dan iman berada di atas cahaya yang bertambah dengan cahaya. Allah Ta‘ala berfirman, “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab itu dan tidak pula mengetahui iman, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah, yang milik-Nya segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Ingatlah, kepada Allah seluruh urusan kembali.”
وقال تعالى: «اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ» إلى آخر الآية.
Allah Ta‘ala juga berfirman, “Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya…” hingga akhir ayat.
وقال تعالى: «فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ».
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
فأهل الجهل البسيط منهم أهل الشك والحيرة من هؤلاء المعارضين للكتاب المعرضين عنه، وأهل الجهل المركب أرباب الاعتقادات الباطلة التي يزعمون أنها عقليات، وآخرون ممن يعارضهم يقول: المناقض لتلك الأقوال هو العقليات.
Maka orang-orang yang berada dalam kebodohan sederhana adalah mereka yang hidup dalam keraguan dan kebingungan di antara pihak-pihak yang menentang Kitab dan berpaling darinya. Sedangkan orang-orang yang berada dalam kebodohan majemuk adalah para pemilik keyakinan-keyakinan batil yang mereka sangka sebagai hasil rasionalitas. Sementara kelompok lain yang menentang mereka justru berkata bahwa kebalikan dari pendapat-pendapat itulah yang merupakan tuntutan akal.
ومعلوم أنه حينئذ يجب فساد أحد الاعتقادين أو كليهما، والغالب فساد كلا الاعتقادين، لما فيهما من الإجمال والاشتباه، وأن الحق يكون فيه تفصيل يبين أن مع هؤلاء حقاً وباطلاً، ومع هؤلاء حقاً وباطلاً، والحق الذي مع كل منهما هو الذي جاء به الكتاب الذي يحكم بين الناس فيما اختلفوا فيه، والله أعلم.
Telah diketahui bahwa dalam keadaan demikian salah satu dari kedua keyakinan tersebut pasti rusak, atau bahkan keduanya sekaligus. Dan yang sering terjadi adalah kerusakan terdapat pada keduanya karena keduanya mengandung keumuman dan kesamaran. Kebenaran justru membutuhkan perincian yang menjelaskan bahwa pada kelompok ini terdapat unsur yang benar dan unsur yang batil, dan pada kelompok lain pun terdapat unsur yang benar dan unsur yang batil. Adapun kebenaran yang terdapat pada masing-masing pihak adalah apa yang telah dibawa oleh Kitab yang memberikan keputusan di antara manusia dalam perkara yang mereka perselisihkan. Allah lebih mengetahui.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Dalam Tafsir ath-Thabari, 16/147, cetakan Bulaq, diriwayatkan dari ‘Ikrimah, dari Ibn ‘Abbas bahwa ia berkata: “Allah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengikuti apa yang terdapat di dalamnya bahwa ia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Kemudian ia membaca ayat: “Siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” Lihat pula ad-Durr al-Mantsur, 4/311.
Leave a Reply