درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 29)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
مجادلة أهل الباطل بالتي هي أحسن
Mendebat Ahli Kebatilan dengan Cara yang Lebih Baik
الوجه العاشر
Sisi Kesepuluh
أن يعارض دليلهم بنظير ما قالوه، فيقال: إذا تعارض العقل والنقل وجب تقديم النقل، لأن الجمع بين المدلولين جمع بين النقيضين، ورفعهما رفع للنقيضين، وتقديم العقل ممتنع، لأن العقل قد دل على صحة السمع ووجوب قبول ما أخبر به الرسول ﷺ، فلو أبطلنا النقل لكنا قد أبطلنا دلالة العقل، وإذا أبطلنا دلالة العقل لم يصلح أن يكون معارضاً للنقل، لأن ما ليس بدليل لا يصلح لمعارضة شيء من الأشياء، فكان تقديم العقل موجباً عدم تقديمه، فلا يجوز تقديمه.
Dalil mereka dapat dilawan dengan argumentasi yang sepadan dengan apa yang mereka sendiri katakan. Dikatakan: apabila akal dan naql tampak bertentangan, maka naql harus didahulukan. Sebab menggabungkan dua makna yang saling bertentangan berarti menggabungkan dua hal yang kontradiktif, sedangkan menolak keduanya berarti meniadakan dua hal yang saling berlawanan. Adapun mendahulukan akal adalah mustahil, karena akal sendiri telah menunjukkan kebenaran dalil sam‘i dan kewajiban menerima apa yang diberitakan Rasul ﷺ. Jika kita membatalkan naql, berarti kita juga telah membatalkan petunjuk akal. Dan apabila petunjuk akal telah dibatalkan, ia tidak lagi layak dijadikan sesuatu yang menentang naql, sebab sesuatu yang bukan dalil tidak dapat digunakan untuk menentang apa pun. Dengan demikian, mendahulukan akal justru mengharuskan tidak didahulukannya akal itu sendiri. Maka tidak boleh mendahulukannya.
وهذا بين واضح، فإن العقل هو الذي دل على صدق السمع وصحته وأن خبره مطابق لخبره، فإن جاز أن تكون هذه الدلالة باطلة لبطلان النقل لم أن يكون العقل دليلاً صحيحاً، وإذا لم يكن دليلاً صحيحاً لم يجز أن يتبع بحال، فضلاً عن أن يقدم، فصار تقديم العقل على النقل قدحاً في العقل بانتفاء لوازمه ومدلوله، وإذا كان تقديمه على النقل يستلزم القدح فيه، والقدح فيه يمنع دلالته، والقدح في دلالته يقدح في معارضته، كان تقديمه عند المعارضة مبطلاً للمعارضة، فامتنع تقديمه على النقل، وهو المطلوب.1
Hal ini sangat jelas. Akallah yang menunjukkan kebenaran dan keabsahan sam‘i serta bahwa berita yang dibawanya sesuai dengan kenyataan. Jika petunjuk akal tersebut boleh dianggap batil karena naql dibatalkan, maka tidak lagi dapat dipastikan bahwa akal merupakan dalil yang sahih. Jika ia bukan dalil yang sahih, tidak dibenarkan mengikutinya sama sekali, apalagi mendahulukannya. Maka mendahulukan akal atas naql justru berarti mencela akal sendiri dengan meniadakan konsekuensi dan petunjuknya. Jika mendahulukannya atas naql mengharuskan rusaknya akal, sedangkan rusaknya akal menggugurkan petunjuknya, dan gugurnya petunjuk tersebut menggugurkan kemampuannya untuk menentang naql, maka mendahulukan akal ketika terjadi pertentangan justru membatalkan pertentangan itu sendiri. Dengan demikian, tidak mungkin akal didahulukan atas naql. Inilah yang hendak dibuktikan.
وأما تقديم النقل عليه فلا يستلزم فساد النقل في نفسه.
Adapun mendahulukan naql atas akal tidak mengharuskan rusaknya naql itu sendiri.
ومما يوضح هذا أن يقال:
Di antara hal yang semakin memperjelas persoalan ini adalah sebagai berikut:
معارضة العقل لما دل العقل على أنه حق دليل على تناقض دلالته، وذلك يوجب فسادها، وأما السمع فلم يعلم فساد دلالته ولا تعارضها في نفسها، وإن لم يعلم صحتها.
Apabila akal menentang sesuatu yang oleh akal itu sendiri telah ditunjukkan sebagai kebenaran, hal tersebut menunjukkan adanya kontradiksi dalam petunjuk akal itu. Kontradiksi tersebut mengharuskan rusaknya petunjuk tersebut. Adapun pada sam‘i, tidak diketahui adanya kerusakan dalam petunjuknya ataupun adanya pertentangan dalam dirinya sendiri, sekalipun seseorang belum mengetahui kebenarannya.
وإذا تعارض دليلان أحدهما علمنا فساده والآخر لم نعلم فساده كان تقديم ما لم نعلم فساده أقرب إلى الصواب من تقديم ما يعلم فساده، كالشاهد الذي علم أنه يصدق ويكذب، والشاهد المجهول الذي لم يعلم كذبه، فإن تقديم قول الفاسق المعلوم كذبه على قول المجهول الذي لم يعلم كذبه لا يجوز، فكيف إذا كان الشاهد هو الذي شهد بأنه قد كذب في بعض شهاداته؟!
Jika terdapat dua dalil yang tampak bertentangan, salah satunya telah diketahui kerusakannya sedangkan yang lain belum diketahui rusak, maka mendahulukan sesuatu yang belum diketahui rusak tentu lebih dekat kepada kebenaran daripada mendahulukan sesuatu yang telah diketahui rusak. Hal itu seperti dua orang saksi: seorang diketahui terkadang berkata benar dan terkadang berdusta, sedangkan yang lainnya belum diketahui berdusta. Tidak dibenarkan mendahulukan perkataan seorang fasik yang telah diketahui kedustaannya atas perkataan orang yang keadaannya belum diketahui. Lalu bagaimana jika saksi itu sendiri telah memberikan kesaksian bahwa sebagian kesaksiannya memang dusta?
والعقل إذا صدق السمع في كل ما يخبر به ثم قال: إنه أخبر بخلاف الحق، كان هو قد شهد للسمع بأنه يجب قبوله، وشهد له بأنه لا يجب قبوله، وشهد بأن الأدلة السمعية حق، وأن ما أخبر به السمع فهو حق، وشهد بأن ما أخبر به السمع ليس بحق، فكان مثله مثل من شهد لرجل بأنه صادق لا يكذب، وشهد له بأنه قد كذب، فكان هذا قدحاً في شهادته مطلقاً وتزكيتها، فلا يجب قبول شهادته الأولى ولا الثانية، فلا يصلح أن يكون معارضاً للسمع بحال.
Apabila akal telah membenarkan sam‘i dalam seluruh berita yang disampaikannya, kemudian akal itu berkata bahwa sam‘i telah memberitakan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, berarti akal telah bersaksi bahwa sam‘i wajib diterima sekaligus bersaksi bahwa sam‘i tidak wajib diterima. Ia bersaksi bahwa dalil-dalil sam‘i benar dan bahwa apa yang diberitakan sam‘i adalah benar, tetapi sekaligus bersaksi bahwa apa yang diberitakan sam‘i tidak benar. Keadaannya seperti seseorang yang bersaksi bahwa seorang lelaki adalah orang jujur yang tidak berdusta, lalu pada saat yang sama bersaksi bahwa orang tersebut telah berdusta. Hal itu merusak kesaksiannya secara keseluruhan beserta penilaiannya terhadap kejujuran orang tersebut. Maka kesaksian pertama maupun kedua tidak lagi dapat begitu saja diterima, sehingga ia sama sekali tidak layak dijadikan lawan bagi sam‘i.
ولهذا تجد هؤلاء الذين تتعارض عندهم دلالة العقل والسمع في حيرة وشك واضطراب، إذ ليس عندهم معقول صريح سالم عن معارض مقاوم، كما أنهم أيضاً في نفس المعقول الذي يعارضون به السمع في اختلاف وريب واضطراب.
Karena itu, kita mendapati orang-orang yang menurut mereka petunjuk akal dan sam‘i saling bertentangan berada dalam kebingungan, keraguan, dan kegoncangan. Mereka tidak memiliki dalil rasional yang benar-benar jernih dan bebas dari lawan yang sebanding. Bahkan mengenai perkara rasional yang mereka gunakan untuk menentang sam‘i itu sendiri, mereka berada dalam perselisihan, keraguan, dan kegoncangan.
وذلك كله مما يبين أنه ليس في المعقول الصريح ما يمكن أن يكون مقدماً على ما جاءت به الرسل، وذلك لأن الآيات والبراهين دالة على صدق الرسل، وأنهم لا يقولون على الله إلا الحق، وأنهم معصومون فيما يبلغونه عن الله من الخبر والطلب، لا يجوز أن يستقر في خبرهم عن الله شيء من الخطأ، كما اتفق على ذلك جميع المقرين بالرسل من المسلمين واليهود والنصارى وغيرهم.
Semua itu menjelaskan bahwa tidak terdapat dalam akal yang benar-benar jernih sesuatu yang dapat didahulukan atas apa yang dibawa para rasul. Sebab ayat-ayat dan berbagai bukti menunjukkan kebenaran para rasul, bahwa mereka tidak mengatakan tentang Allah kecuali kebenaran, dan bahwa mereka terpelihara dalam apa yang mereka sampaikan dari Allah, baik berupa berita maupun tuntunan. Tidak mungkin kesalahan menetap dalam berita mereka dari Allah. Hal ini diakui oleh seluruh pihak yang mengakui kerasulan, baik kaum Muslimin, Yahudi, Nasrani, maupun selain mereka.
فوجب أن جميع ما يخبر به الرسول عن الله صدق وحق، لا يجوز أن يكون في ذلك شيء مناقض لدليل عقلي ولا سمعي.
Dengan demikian, seluruh yang diberitakan Rasul dari Allah wajib diyakini sebagai benar dan haq. Tidak mungkin terdapat di dalamnya sesuatu yang bertentangan dengan dalil rasional yang sahih ataupun dalil sam‘i yang sahih.
فمتى علم المؤمن بالرسول أنه أخبر بشيء من ذلك حزم جزماً قاطعاً أنه حق، وأنه لا يجوز أن يكون في الباطن بخلاف ما أخبر به، وأنه يمتنع أن يعارضه دليل قطعي، لا عقلي ولا سمعي، وأن كل ما ظن أنه عارضه من ذلك فإنما هو حجج داحضة، وشبه من جنس شبه السوفسطائية.
Maka ketika seorang yang beriman kepada Rasul mengetahui bahwa beliau telah memberitakan sesuatu, ia meyakininya dengan keyakinan yang pasti bahwa berita tersebut benar; bahwa hakikat perkara itu tidak mungkin bertentangan dengan apa yang diberitakan beliau; dan bahwa tidak mungkin ada dalil qath‘i yang menentangnya, baik rasional maupun sam‘i. Setiap sesuatu yang disangka menentangnya hanyalah hujah yang gugur dan syubhat yang sejenis dengan syubhat kaum sofis.
وإذا كان العقل العام بصدق الرسول قد شهد له بذلك، وأنه يمتنع أن يعارض خبره دليل صحيح، كان هذا العقل شاهداً بأن كل ما خالف خبر الرسول فهو باطل، فيكون هذا العقل والسمع جميعاً شهدا ببطلان العقل المخالف للسمع.
Apabila akal yang secara umum menunjukkan kebenaran Rasul telah memberikan kesaksian demikian—yakni bahwa berita Rasul tidak mungkin ditentang oleh dalil yang sahih—maka akal tersebut sekaligus bersaksi bahwa setiap sesuatu yang menyelisihi berita Rasul adalah batil. Dengan demikian, akal dan sam‘i bersama-sama memberikan kesaksian atas kebatilan argumentasi rasional yang bertentangan dengan sam‘i.
فإن قيل: فهذا يوجب القدح في شهادة العقل، حيث شهد بصدق الرسول، وشهد بصدق العقل المناقض لخبره.
Jika dikatakan, “Bukankah hal ini justru merusak kesaksian akal? Sebab akal telah bersaksi mengenai kebenaran Rasul, tetapi juga bersaksi mengenai kebenaran argumentasi rasional yang bertentangan dengan berita beliau.”
قيل له: عن هذا جوابان:
Dijawab: terhadap keberatan ini terdapat dua jawaban.
أحدهما: إنا نحن نمتنع عندنا أن يتعارض العقل والسمع القطعيان،2 فلا تبطل دلالة العقل، وإنما ذكرنا هذا على سبيل المعارضة، فمن قدم دلالة العقل على السمع يلزمه أن يقدم دلالة العقل الشاهد بتصديق السمع، وأنه إذا قدم دلالة العقل لزم تناقضها وفسادها، وإذا قدم دلالة السمع لم يلزم تناقضها في نفسها، وإن لزمه أن لا يعلم صحتها، وما علم فساده أولى بالرد مما لم نعلم صحته ولا فساده.
Pertama: menurut kami, sejak awal mustahil dua dalil qath‘i—akal dan sam‘i—benar-benar saling bertentangan. Karena itu petunjuk akal tidak dibatalkan. Argumentasi sebelumnya hanya dikemukakan sebagai bentuk perlawanan terhadap premis mereka. Orang yang mendahulukan petunjuk akal atas sam‘i harus pula mendahulukan petunjuk akal yang bersaksi tentang kebenaran sam‘i. Jika petunjuk akal yang menentang sam‘i didahulukan, petunjuk akal itu sendiri akan berakhir dalam kontradiksi dan kerusakan. Sedangkan apabila petunjuk sam‘i didahulukan, tidak timbul kontradiksi dalam dirinya sendiri, meskipun seseorang mungkin belum mengetahui kebenarannya. Sesuatu yang telah diketahui rusak lebih layak ditolak daripada sesuatu yang belum diketahui benar ataupun salahnya.
والجواب الثاني: أن نقول: الأدلة العقلية التي تعارض السمع غير الأدلة العقلية التي يعلم بها أن الرسول صادق، وإن كان جنس المعقول يشملها. ونحن إذا أبطلنا ما عارض السمع إنما أبطلنا نوعاً مما يسمى معقولاً، لم نبطل كل معقول، ولا أبطلنا المعقول الذي علم به صحة المنقول، وكان ما ذكرناه موجباً لصحة السمع وما علم به صحته من العقل.
Jawaban kedua: dalil-dalil rasional yang menentang sam‘i bukanlah dalil rasional yang dengannya diketahui bahwa Rasul adalah benar, meskipun semuanya termasuk dalam kategori umum “rasional”. Ketika kita membatalkan sesuatu yang menentang sam‘i, yang kita batalkan hanyalah satu jenis tertentu dari apa yang disebut sebagai argumentasi rasional. Kita tidak membatalkan seluruh yang rasional, dan tidak pula membatalkan dalil rasional yang dengannya diketahui kebenaran naql. Dengan demikian, argumentasi yang telah disebutkan justru menguatkan kebenaran sam‘i sekaligus kebenaran dalil akal yang dengannya sam‘i diketahui benar.
ولا مناقضة في ذلك، ولكن حقيقته أنه قد تعارض العقل الدال على صدق الرسول والعقل المناقض لخبر الرسول، فقدمنا ذلك المعقول على هذا المعقول، كما تقدم الأدلة الدالة على صدق الرسول على الحجج الفاسدة والقادحة في نبوات الأنبياء، وهي حجج عقلية.
Tidak terdapat kontradiksi dalam hal itu. Hakikat persoalannya adalah terdapat pertentangan antara argumentasi akal yang menunjukkan kebenaran Rasul dengan argumentasi akal yang menentang berita Rasul. Maka argumentasi rasional yang pertama didahulukan atas argumentasi rasional yang kedua, sebagaimana dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran Rasul didahulukan atas berbagai hujah rusak yang mencela kenabian para nabi, meskipun hujah-hujah tersebut juga diklaim sebagai hujah rasional.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Penulis mengisyaratkan bahwa perdebatan dengan pihak yang berbeda tidak semestinya sekadar bertujuan mengalahkannya. Maksudnya adalah menunjukkan bahwa dalil yang ia gunakan dapat dilawan dengan dalil sejenis. Jika kebatilan saja tidak dapat berdiri kokoh ketika dilawan dengan sesuatu yang sejenis dengannya, terlebih lagi apabila pihak yang membantah memiliki dalil yang benar pada dirinya. Karena itu, jika seseorang berkata, “Saya menolak dalil syariat karena akal menolaknya,” dapat dijawab dengan bentuk argumentasi yang sama: “Kami menolak dalil akal tersebut karena syariat menolaknya.” Tujuannya bukan memperpanjang perdebatan, melainkan menunjukkan kelemahan hujah lawan dan bahwa suatu dalil harus diterima karena kepastian petunjuknya, bukan semata-mata karena diberi label rasional atau syar‘i.
- Sebab dalil qath‘i menguatkan dalil qath‘i lainnya dan tidak saling bertentangan. Demikianlah kedudukan akal yang jernih terhadap syariat yang sahih.
Leave a Reply