درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 30)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
أما العقل فلا يستلزم فساد النقل في نفسه.
Adapun akal, ia tidak mengharuskan rusaknya naql pada dirinya sendiri.
ومما يوضح هذا أن يقال: معارضة العقل لما دل العقل على أنه حق دليل على تناقض دلالته، وذلك يوجب فسادها، وأما السمع فلم يعلم فساد دلالته ولا تعارضها في نفسها، وإن لم يعلم صحتها.
Di antara hal yang menjelaskan persoalan ini adalah bahwa apabila akal menentang sesuatu yang oleh akal itu sendiri telah ditunjukkan sebagai kebenaran, maka hal itu menunjukkan kontradiksi dalam petunjuk akal tersebut, dan kontradiksi itu mengharuskan rusaknya petunjuk tersebut. Adapun sam‘i, tidak diketahui adanya kerusakan pada petunjuknya ataupun adanya pertentangan dalam dirinya sendiri, sekalipun seseorang belum mengetahui kebenarannya.
وإذا كان كذلك تبين أن الأدلة السمعية المعلومة الصحة بمجرد عقل الواحد، أو بواسطة غيره، أولى بالقبول من أدلة عقلية خالفت الأدلة السمعية بالكلية.
Jika demikian, jelaslah bahwa dalil-dalil sam‘i yang telah diketahui kebenarannya melalui akal seseorang, baik secara langsung maupun melalui perantara lain, lebih layak diterima daripada dalil-dalil rasional yang secara keseluruhan menyelisihi dalil sam‘i.
ويقولون: إنها لا تدل على شيء، وأن أخبار الرسول عما أمر به لا يفيد التصديق بشيء مما أخبر به، ولا يصلح أن تعمل معارضاً.
Namun sebagian mereka mengatakan bahwa dalil-dalil tersebut tidak menunjukkan sesuatu pun, dan bahwa berita Rasul mengenai perkara-perkara yang beliau sampaikan tidak memberikan pengetahuan yang pasti mengenai apa yang beliau beritakan, sehingga tidak dapat dijadikan hujah ketika berhadapan dengan apa yang mereka anggap sebagai dalil lain.
والكلام هنا إنما هو فيمن علم أن الرسول صادق، وأن ما أخبر به ثابت، وأن إخباره لنا بالشيء يفيد تصديقنا بثبوته، فإن كان هذا معلوماً له امتنع أن يعارضه العقل بما يناقضه.
Pembahasan kita di sini sebenarnya mengenai orang yang telah mengetahui bahwa Rasul itu benar, bahwa apa yang beliau beritakan adalah tetap dan benar, serta bahwa berita beliau kepada kita mengenai suatu perkara mengharuskan kita membenarkan keberadaan perkara tersebut. Jika hal ini telah diketahui olehnya, maka mustahil akal kemudian menentangnya dengan sesuatu yang berlawanan dengannya.
وغايته أن أحسن المقال: أن يجعل الرسول مخبراً بالأمور خلاف حقائقها لأجل نفع المخاطبين، ثم إذا قال ذلك امتنع أن يستدل بخبر الرسول على شيء، فعاد الأمر جذعاً، لأنه إذا جاز على خبر الرسول التلبيس كان تجويزه عليه كذباً.
Paling jauh, bentuk pendapat yang dianggap paling baik oleh mereka adalah menjadikan Rasul memberitakan berbagai perkara tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya demi kemaslahatan orang-orang yang diajak bicara. Namun apabila hal itu diterima, tidak mungkin lagi menjadikan berita Rasul sebagai dalil atas apa pun. Persoalan pun kembali ke titik awal, sebab apabila dianggap boleh Rasul menyampaikan sesuatu yang menimbulkan gambaran yang berbeda dari kenyataan, hal itu pada akhirnya membuka kemungkinan dusta dalam berita beliau.
وهذا ـ وإن كان زندقة وكفراً وإلحاداً ـ فهو باطل في نفسه، كما قد بين في غير هذا الموضع.1
Pendapat semacam ini—selain dinilai sebagai zandaqah, kekufuran, dan penyimpangan—juga batil pada dirinya sendiri, sebagaimana telah dijelaskan di tempat lain.
فنحن في هذا المقام إنما نخاطب من يتكلم في تعارض الأدلة السمعية والعقلية ممن يحتج بصدور الكلام عن أهل الكلام، الذين يسلمون علم الأنبياء بالله ورسوله، وأن من أصبح حقيقة قوله وقال: إن كلام الله ورسوله لا يستفاد منه علم بشيء، ولا تصديق حقيقة ما أخبر به، ولا معرفة بالله وأسمائه وصفاته وأفعاله وملائكته وجنته وناره وغير ذلك مما يتعلق بكلامه تعالى وآخره.
Dalam pembahasan ini, yang kita ajak berbicara adalah orang yang membahas pertentangan antara dalil sam‘i dan dalil rasional dari kalangan ahli kalam yang tetap mengakui kenabian dan kerasulan. Adapun orang yang secara terang menyatakan bahwa dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya tidak dapat diperoleh pengetahuan tentang sesuatu pun, tidak pula pembenaran terhadap hakikat berita yang disampaikan, dan tidak pula pengetahuan tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, para malaikat-Nya, surga dan neraka-Nya, serta perkara-perkara lain yang diberitakan, maka kedudukannya berada pada pembahasan lain.
فالناس في هذا الباب أنواع:
Manusia dalam persoalan ini terbagi menjadi beberapa macam:
منهم من يقر بما جاء به السمع في المعاد دون الأفعال والصفات.
Di antara mereka ada yang menerima apa yang dibawa dalil sam‘i mengenai kehidupan akhirat, tetapi tidak menerimanya dengan cara yang sama dalam persoalan perbuatan dan sifat-sifat Allah.
ومنهم من يقر بما جاء به السمع في بعض أمور المعاد دون بعض.
Ada pula yang menerima apa yang dibawa dalil sam‘i dalam sebagian perkara akhirat, tetapi tidak dalam sebagian lainnya.
ومنهم من يقر بذلك في بعض الصفات والمعاد وبعض الأفعال، وينفي بعض الصفات.
Ada pula yang menerima dalil sam‘i dalam sebagian sifat, perkara akhirat, dan sebagian perbuatan Allah, namun menafikan sebagian sifat lainnya.
ومنهم من لا يقر بحقيقة شيء من ذلك لا في الصفات ولا في المعاد والأمر والنهي جميعاً بمعارضة العقل عنده، كما فعلت القرامطة الباطنية، وهؤلاء أعظم الناس كفراً وإلحاداً.
Dan ada pula yang tidak menerima hakikat sedikit pun dari perkara-perkara tersebut, baik mengenai sifat-sifat Allah, kehidupan akhirat, maupun perintah dan larangan, dengan alasan semuanya bertentangan dengan apa yang mereka anggap sebagai akal. Inilah yang dilakukan Qaramithah-Bathiniyyah, dan menurut uraian penulis mereka termasuk kelompok yang paling jauh dalam kekufuran dan penyimpangan.
والمقصود هنا أن بين تصديق السمع وصحة السمع تناسباً، وأنه لا يمكن أن يعارضه بالعقل البتة، لأن العقل عنده هو الشاهد بصحة السمع، فإذا ظهر من العقل عنده شيء آخر يناقض دلالة السمع، فلا بد أن يتهمه بمعارضته.
Maksud pembahasan di sini adalah bahwa terdapat hubungan yang erat antara membenarkan sam‘i dan mengakui keabsahannya. Tidak mungkin sam‘i kemudian ditentang oleh akal secara mutlak, sebab akal itulah yang pada awalnya menjadi saksi atas kebenaran sam‘i. Jika kemudian tampak suatu kesimpulan akal yang bertentangan dengan petunjuk sam‘i, maka kesimpulan yang menentang itulah yang harus diperiksa kembali.
فإن قال: أنا أتهمه بمعارض العقل.
Jika ia berkata, “Aku meragukan sam‘i karena ia bertentangan dengan akal.”
قيل: هذا لا يصح لوجوه:
Dijawab: hal itu tidak benar karena beberapa alasan:
أحدها: أن الدليل العقلي دل على صدق الرسول وثبوت ما أخبر به مطلقاً، فلا يجوز أن يكون صدقه مشروطاً بعدم المعارض.
Pertama: dalil rasional telah menunjukkan kebenaran Rasul dan kebenaran apa yang beliau beritakan secara mutlak. Karena itu, kebenaran beliau tidak boleh dijadikan bergantung pada syarat bahwa tidak ada sesuatu yang dianggap menentangnya.
الثاني: أنه إن جوزت عليه أن يعارضه العقل الدال على فساده في شيء منه، لجاز أن يكون في عقل غيرك ما يدل على فساده كله، فلا تكون قد علمت بعقلك صحة شيء، وأنت تقول: إنك علمت صحة بعضه بعقلك.
Kedua: apabila Anda membolehkan adanya argumentasi akal yang menunjukkan rusaknya sebagian berita Rasul, maka mungkin pula terdapat pada akal orang lain argumentasi yang menurutnya menunjukkan rusaknya seluruh berita tersebut. Jika demikian, Anda sebenarnya tidak dapat memastikan dengan akal Anda kebenaran bagian mana pun, padahal Anda sendiri mengatakan bahwa dengan akal Anda mengetahui kebenaran sebagian darinya.
الثالث: أن ما يستخرجه الناس بعقولهم أمر لا نهاية له، سواء كان حقاً أو باطلاً، فإذا جوز أن يكون في المعقولات ما يناقض خبر الرسول، أمكن أن يكون في المعقولات التي لم تظهر له بعد ما يناقض ما أخبر به الرسول.
Ketiga: perkara-perkara yang dihasilkan manusia melalui penalaran mereka tidak memiliki batas, baik yang benar maupun yang batil. Jika dibolehkan bahwa di antara berbagai kesimpulan rasional terdapat sesuatu yang bertentangan dengan berita Rasul, maka selalu mungkin diasumsikan bahwa di antara kesimpulan rasional yang belum muncul terdapat sesuatu yang kelak akan dianggap bertentangan dengan berita Rasul.
ومن قال: أنا أؤمن بالرسول إيماناً مجملاً، لا يكون الرجل مؤمناً حتى يؤمن بالرسول إيماناً جازماً، ليس مشروطاً بعدم معارض، فمتى قال: أؤمن بخبره إلا أن يظهر لي معارض يدفع خبره، لم يكن مؤمناً به.
Orang yang berkata, “Aku beriman kepada Rasul secara global,” belumlah dianggap memiliki pembenaran yang kokoh sampai ia beriman kepada Rasul dengan keyakinan yang tegas, yang tidak digantungkan kepada syarat tidak adanya dalil penentang. Jika ia berkata, “Aku menerima beritanya kecuali apabila muncul bagiku sesuatu yang menentangnya sehingga aku menolak berita tersebut,” maka menurut argumentasi ini pembenarannya kepada Rasul belum bersifat pasti.
ولهذا تجد من عارض الشرع بالرأي لا يستقر في قلبه الإيمان بما قال الله ورسوله.
Karena itu, orang yang menjadikan pendapatnya sebagai lawan bagi syariat tidak akan memperoleh keteguhan hati dalam menerima apa yang difirmankan Allah dan disampaikan Rasul-Nya.
الجواب: إن العلوم ثلاثة أقسام: منها ما لا يعلم إلا بالعقل، ومنها ما لا يعلم إلا بالسمع، ومنها ما يعلم بالسمع والعقل.
Jawabannya adalah bahwa ilmu terbagi menjadi tiga macam: ada yang hanya dapat diketahui melalui akal, ada yang hanya dapat diketahui melalui sam‘i, dan ada yang dapat diketahui melalui sam‘i sekaligus akal.
وهذا التقسيم حق في الجملة، فإن من الأمور الغائبة عن حس الإنسان ما لا يمكن معرفته بالعقل، بل لا يعرف إلا بالخبر.
Pembagian ini benar secara umum. Sebab di antara perkara-perkara yang tidak terjangkau oleh indra manusia terdapat sesuatu yang tidak mungkin diketahui dengan akal semata, tetapi hanya dapat diketahui melalui berita.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Leave a Reply