درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 31)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
طرق العلم ثلاثة
Jalan Memperoleh Ilmu Ada Tiga
وطرق العلم ثلاثة: الحس، والعقل، والمركب منهما كالخبر. فمن الأمور ما لا يمكن علمه إلا بالخبر، كما يعلمه كل شخص بأخبار الصادقين كالخبر المتواتر، وما يعلم بخبر الأنبياء صلوات الله عليهم أجمعين.
Jalan memperoleh ilmu ada tiga: indra, akal, dan sesuatu yang tersusun dari keduanya seperti berita (khabar). Di antara berbagai perkara terdapat sesuatu yang tidak mungkin diketahui kecuali melalui berita, sebagaimana seseorang mengetahui sesuatu melalui berita orang-orang yang benar seperti berita mutawatir, dan sebagaimana berbagai perkara diketahui melalui berita para nabi صلوات الله عليهم أجمعين.
وهذا التقسيم يجب الإقرار به، وقد قامت الأدلة اليقينية على نبوات الأنبياء، وأنهم قد يعلمون بالخبر ما لا يعلم إلا بالخبر، وكذلك يعلمون غيرهم بخبرهم.
Pembagian ini harus diakui. Dalil-dalil yang meyakinkan telah menegakkan kebenaran kenabian para nabi, dan bahwa melalui berita mereka dapat mengetahui sesuatu yang memang hanya dapat diketahui melalui berita. Demikian pula, orang lain dapat mengetahui perkara tersebut melalui berita yang mereka sampaikan.
ونفس النبوة تتضمن الخبر، فإن النبوة مشتقة من (الإنباء) وهو الإخبار بالمغيب. فالنبي مخبر بالمغيب وخبرنا بالغيب، ويمتنع أن يقوم دليل صحيح على أن كل ما أخبر به الأنبياء يمكن معرفته بدون الخبر.
Hakikat kenabian itu sendiri mengandung unsur berita, sebab kata nubuwwah berkaitan dengan inbā’, yaitu pemberitaan mengenai perkara yang gaib. Nabi adalah orang yang memberitakan perkara gaib dan menyampaikan kepada kita berita mengenai yang gaib. Mustahil terdapat dalil sahih yang menunjukkan bahwa seluruh perkara yang diberitakan para nabi dapat diketahui tanpa melalui berita.
فلا يمكن أن يجزم بأن كل ما أخبرت به الأنبياء هو منتف. فإنه يمتنع أن يقوم دليل على هذا النفي العام، ويمتنع أن يقول القائل: كل ما أخبر به الأنبياء يمكن غيرهم أن يعرفه بدون خبرهم.
Karena itu, tidak mungkin dipastikan bahwa seluruh yang diberitakan para nabi dapat dinafikan dengan cara semacam itu. Mustahil terdapat dalil yang membuktikan penafian umum seperti ini. Tidak pula dapat dibenarkan seseorang berkata bahwa seluruh perkara yang diberitakan para nabi dapat diketahui orang lain tanpa berita mereka.
ولهذا كان أكمل الأمم علماً المقرون بالطرق الحسية والعقلية والخبرية، فمن كذب بطريق منها فاته من العلوم بحسب ما كذب به من تلك الطرق.
Karena itu, umat yang paling sempurna ilmunya adalah yang mengakui jalan-jalan pengetahuan melalui indra, akal, dan berita. Siapa yang mendustakan salah satu dari jalan tersebut akan kehilangan bagian ilmu sesuai kadar jalan pengetahuan yang ia dustakan.
والمتفلسفة الذين أثبتوا النبوات على وجه يوافق أصولهم الفاسدة ـ كابن سينا وأمثاله ـ لم يقروا بأن الأنبياء يعلمون ما يعلمونه بخبر يأتيهم عن الله لا بخبر ملك ولا غيره، بل زعموا أنهم يعلمونه بقوة عقلية، لكونهم أكمل من غيرهم في قوة الحدس، ويسمون ذلك القوة القدسية، فحصروا علوم الأنبياء في ذلك.
Adapun para filsuf yang menetapkan kenabian dengan cara yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip mereka yang rusak—seperti Ibn Sina dan orang-orang semisalnya—tidak mengakui bahwa para nabi mengetahui apa yang mereka ketahui melalui berita yang datang kepada mereka dari Allah melalui malaikat atau yang lainnya. Mereka justru menganggap para nabi mengetahui hal itu melalui kekuatan rasional karena kemampuan intuisi mereka lebih sempurna daripada manusia lainnya. Mereka menamainya al-quwwah al-qudsiyyah (kekuatan suci), lalu membatasi ilmu para nabi pada hal tersebut.
وكان حقيقة قولهم: أن الأنبياء من جنس غيرهم، وأنهم لم يعلموا شيئاً بالخبر، ولهذا صار هؤلاء لا يستفيدون شيئاً بخبر الأنبياء، بل يقولون: إنهم خاطبوا الناس بطريق التخييل لمنفعة الجمهور.
Hakikat pendapat mereka adalah bahwa para nabi berasal dari jenis manusia lainnya dan tidak memperoleh pengetahuan melalui berita. Karena itu, mereka sendiri akhirnya tidak memperoleh pengetahuan apa pun melalui berita para nabi. Bahkan mereka mengatakan bahwa para nabi berbicara kepada manusia melalui metode penggambaran dan imajinasi demi kemaslahatan masyarakat umum.
وحقيقة قولهم: أنهم كذبوا لمصلحة الجمهور. وهؤلاء في الحقيقة يكذبون الرسل، فنتكلم معهم في تحقيق النبوة على الوجه الحق، لا في معارضة العقل والشرع.
Konsekuensi sebenarnya dari pendapat mereka adalah bahwa para nabi menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya demi kemaslahatan masyarakat umum. Dengan demikian, menurut kritik yang dikemukakan di sini, mereka pada hakikatnya mendustakan para rasul. Karena itu pembicaraan dengan mereka harus diarahkan terlebih dahulu kepada penetapan hakikat kenabian secara benar, bukan kepada persoalan pertentangan antara akal dan syariat.
وهذا الذي ذكرناه صرح به فضلاؤهم، فيقولون: إن الرسل إنما ينتفع بخبرهم الجمهور في التخييل، لا ينتفع بخبرهم أحد من العامة والخاصة في معرفة الغيب، بل الخاصة عندهم تعلم ذلك بالعقل المناقض لأخبار الأنبياء، والعامة لا تعلم ذلك لا بعقل ولا خبر، والنبوة إنما فائدتها تخييل ما يخبرون به للجمهور، كما يصرح بذلك الفارابي وابن سينا وأتباعهما.
Apa yang telah disebutkan ini dinyatakan secara terang oleh tokoh-tokoh mereka. Mereka mengatakan bahwa berita para rasul hanya bermanfaat bagi masyarakat umum dalam bentuk penggambaran imajinatif. Menurut mereka, baik masyarakat umum maupun kalangan khusus tidak memperoleh pengetahuan tentang perkara gaib dari berita para rasul. Kalangan khusus mengetahuinya melalui akal yang bahkan dapat bertentangan dengan berita para nabi, sedangkan masyarakat umum tidak mengetahuinya melalui akal maupun berita. Fungsi kenabian, menurut konsepsi tersebut, hanyalah memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai apa yang diberitakan. Hal seperti ini dinyatakan oleh al-Farabi, Ibn Sina, dan para pengikut keduanya.
ثم لا يخلو الشخص إما أن يكون مقراً بخبر نبوة الأنبياء، وإما أن يكون غير مقر، فإن كان غير مقر بذلك لم نتكلم معه في تعارض الدليل العقلي والشرعي، فإن تعارضهما إنما يكون بعد الإقرار بصحة كل منهما لو تجرد عن المعارض.
Selanjutnya, seseorang tidak keluar dari dua keadaan: ia mengakui berita dan kenabian para nabi, atau ia tidak mengakuinya. Jika ia tidak mengakui kenabian, maka kita belum berbicara dengannya mengenai pertentangan antara dalil rasional dan dalil syar‘i. Sebab pembicaraan mengenai pertentangan keduanya baru mungkin setelah terlebih dahulu diakui bahwa masing-masing memiliki keabsahan apabila berdiri tanpa adanya dalil penentang.
فمن لم يقر بصحة دليل عقل البتة لم يخاطب في معارضة الدليل العقلي والشرعي، وكذلك من لم يقر بدليل شرعي لم يخاطب في هذا التعارض.1
Siapa yang sama sekali tidak mengakui validitas suatu dalil rasional tidak dapat diajak membahas pertentangan antara dalil rasional dan syar‘i. Demikian pula orang yang tidak mengakui adanya dalil syar‘i tidak dapat diajak membahas pertentangan tersebut.
ومن لم يقر بالأنبياء لم يستفد من خبرهم دليلاً شرعياً، فهذا يتكلم معه في تثبيت النبوات، فإذا ثبت فحينئذ يثبت الدليل الشرعي.
Orang yang tidak mengakui para nabi tidak mungkin mengambil berita mereka sebagai dalil syar‘i. Maka pembicaraan dengannya terlebih dahulu diarahkan kepada pembuktian kenabian. Setelah kenabian terbukti, barulah dalil syar‘i dapat ditetapkan.
وحينئذ فيجب الإقرار بأن خبر الأنبياء يوجب العلم بثبوت ما أخبروا به، ومن جوز أن يكون في نفس الأمر معارض ينفي ما دلت عليه أخبارهم امتنع أن يعلم بخبرهم شيئاً.
Setelah itu wajib diakui bahwa berita para nabi memberikan pengetahuan mengenai kebenaran perkara yang mereka beritakan. Adapun orang yang membolehkan kemungkinan adanya suatu dalil dalam kenyataan yang membatalkan apa yang ditunjukkan oleh berita para nabi, maka ia tidak akan dapat memperoleh pengetahuan apa pun melalui berita mereka.
فإنه ما من خبر أخبروا به ولم يعلم هو ثبوته بعقله إلا وهو يجوز أن يكون في نفس الأمر دليل يناقضه، فلا يعلم شيئاً مما أخبروا به بخبرهم، فلا يكون مقراً بنبوتهم، ولا يكون عنده شيء يعلم بالسمع وحده، وهم قد أقروا بأن العلوم ثلاثة: منها ما يعلم بالسمع وحده، ومنها ما يعلم بالعقل وحده، ومنها ما يعلم بهما.
Sebab setiap berita yang mereka sampaikan, apabila ia belum mengetahui kebenarannya melalui akalnya sendiri, selalu dapat ia anggap mungkin memiliki dalil lain yang bertentangan dengannya. Akibatnya ia tidak lagi mengetahui sesuatu dari apa yang diberitakan para nabi melalui berita mereka. Dengan demikian ia tidak benar-benar mengakui kenabian mereka dan tidak memiliki perkara apa pun yang diketahui melalui sam‘i saja. Padahal mereka sendiri telah mengakui bahwa ilmu terbagi menjadi tiga: ada yang diketahui melalui sam‘i saja, ada yang diketahui melalui akal saja, dan ada yang diketahui melalui keduanya.
وأيضاً، فقد قامت الأدلة العقلية اليقينية على نبوة الأنبياء، وأنهم قد يعلمون ما يعلمونه بخبر الله وملائكته، تارة بكلام يسمعونه من الله كما سمع موسى بن عمران، وتارة بملائكة تخبرهم عن الله، وتارة بوحي يوحيه الله، كما قال تعالى: «وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ» (سورة الشورى: ٥١).
Selain itu, dalil-dalil rasional yang meyakinkan telah menegakkan kebenaran kenabian para nabi dan bahwa mereka dapat mengetahui berbagai perkara melalui berita dari Allah dan para malaikat-Nya: terkadang melalui kalam yang mereka dengar dari Allah, sebagaimana Musa bin ‘Imran mendengarnya; terkadang melalui malaikat yang memberitakan kepada mereka dari Allah; dan terkadang melalui wahyu yang Allah wahyukan. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala, “Tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan lalu ia mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki.” (QS. asy-Syura: 51).
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Penulis membagi sikap manusia terhadap kenabian dan para nabi. Di antara para filsuf ada yang mengingkari kenabian sama sekali. Ada pula yang menganggap kenabian dapat diperoleh melalui usaha dan bahwa jiwa manusia, setelah menjalani latihan dan riyadhah tertentu, dapat mengetahui perkara yang tersembunyi dari orang lain. Ibn Sina dan al-Farabi, menurut penulis, memandang bahwa para nabi tidak menyampaikan hakikat perkara akhirat, Zat, dan sifat-sifat Allah secara langsung kepada masyarakat umum, tetapi menggunakan simbol dan penggambaran sesuai kemampuan pemahaman mereka. Penulis merujuk antara lain kepada ar-Risālah al-Adhhawiyyah fī Amr al-Ma‘ād karya Ibn Sina, tahqiq Sulaiman Dunya.
Leave a Reply