درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 32)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
فتبين أن مجموع ما دل على نبوة الأنبياء قدح في الأدلة العقلية، وجرح كونهم يستلزم المناقض لهم مستلزم لبطلان الأدلة العقلية والسمعية، وبطلان النبوات، وهذا من أعظم أنواع السفسطة.
Dengan demikian jelas bahwa apabila seluruh dalil yang menunjukkan kenabian para nabi kemudian dirusak dengan alasan adanya argumentasi rasional yang menentang berita mereka, hal itu pada akhirnya mengharuskan rusaknya dalil rasional sekaligus dalil sam‘i, serta gugurnya kenabian. Dan ini termasuk bentuk sofisme yang paling besar.
فمن أعظم السفسطة أن يقدح في صحة الشيء بما يعلم صحته به، فيبطل الأصل والفرع جميعاً.
Termasuk bentuk sofisme yang paling besar adalah merusak kebenaran sesuatu dengan menggunakan sesuatu yang justru menjadi dasar untuk mengetahui kebenarannya, sehingga pada akhirnya dasar dan cabangnya sama-sama dibatalkan.
وإن قالوا: نحن لا نعلم شيئاً مما جاء به الشرع من الخبريات، أو من الخبريات وغيرها، إلا أن نعلم بالاضطرار أن الرسول أخبر به.
Jika mereka berkata, “Kami tidak mengetahui sedikit pun dari perkara-perkara khabariyyah yang dibawa syariat—atau dari berita dan perkara lainnya—kecuali apabila kami mengetahui secara pasti bahwa Rasul benar-benar telah memberitakannya.”
قيل: فيقال لكم على هذا التقدير: فكل ما لا يعلم شخص بالاضطرار أن الرسول أخبر به، يجوز أن ينفيه إذا قام عنده ما يعتقده دليلاً عليه؟
Dikatakan kepada mereka: berdasarkan asumsi tersebut, apakah setiap perkara yang seseorang tidak mengetahui secara pasti bahwa Rasul telah memberitakannya boleh ia nafikan apabila menurut dirinya terdapat sesuatu yang ia yakini sebagai dalil atas penafian tersebut?
فإن قالوا: نعم، لزم أنه يجوز لكل أحد أن يكذب بما لم يضطر إلى أن الرسول أخبر به، وإن كان غيره يعلم بالاضطرار أن الرسول أخبر به، وحينئذ فيلزم من ذلك تجويز تكذيب الرسول، ونفي الحقائق الثابتة في نفس الأمر، والقول بلا علم، والتكذيب بالحق.
Jika mereka menjawab, “Ya,” maka konsekuensinya adalah setiap orang boleh mendustakan perkara yang ia sendiri belum mengetahui secara pasti bahwa Rasul telah memberitakannya, meskipun orang lain mengetahui secara pasti bahwa Rasul memang telah memberitakannya. Konsekuensi lebih lanjut adalah dibolehkannya pendustaan terhadap Rasul, penafian terhadap hakikat-hakikat yang benar-benar tetap pada kenyataan, berbicara tanpa ilmu, dan mendustakan kebenaran.
وإن قالوا: فإنه إنما يجوز ذلك إذا قام دليل عقل قاطع.
Jika mereka berkata, “Hal itu hanya boleh dilakukan apabila terdapat dalil akal yang qath‘i.”
قيل: هذا باطل لوجهين:
Dikatakan: hal tersebut batil dari dua sisi.
أحدهما: أنه إذا لم يعلم بالاضطرار أنه أخبر به كان على قولكم غير معلوم الثبوت، وحينئذ فإذا قام عنده دلالة ظنية ترجح النفي أم جاز تجويزها، وإن جوز أن يكون غير معلوم الثبوت لم يمنع أن يقوم عنده ما يرجح نفيه.
Pertama: jika seseorang tidak mengetahui secara pasti bahwa Rasul memberitakan suatu perkara, maka menurut prinsip kalian perkara itu belum diketahui secara pasti kebenarannya. Jika demikian, ketika muncul pada dirinya suatu petunjuk zhanni yang menguatkan penafian, mengapa ia tidak boleh mengikuti dugaan tersebut? Jika sejak awal berita itu dianggap belum diketahui kebenarannya, tidak ada alasan dalam prinsip tersebut yang mencegah munculnya sesuatu yang menurutnya lebih menguatkan penafian.
الثاني: أن الأدلة العقلية القطعية ليست جنساً معيناً عند العقلاء، ولا شيئاً اتفق العقلاء على انضباطه، بل كل طائفة من النظار قد تدعي في مسائل أن دليلها قاطع، وتقول طائفة أخرى: إن ذلك الدليل باطل، وأن بطلانه معلوم بالعقل.
Kedua: dalil-dalil rasional yang qath‘i bukanlah satu jenis tertentu yang memiliki ukuran seragam di kalangan orang-orang berakal. Tidak terdapat sesuatu yang disepakati seluruh pemikir sebagai batas pasti bagi kategori tersebut. Bahkan setiap kelompok ahli nazhar dapat mengklaim bahwa dalil mereka dalam suatu persoalan bersifat qath‘i, sementara kelompok lain mengatakan bahwa dalil yang sama adalah batil dan kebatilannya diketahui dengan akal.
بل قد تقول: إنه قام عندها دليل قطعي على نقيض قول تلك الطائفة، وإذا كانت القطعيات ليست مشتركة متفقاً عليها، ولا يمكن أصحابها فيما لم يعلم أحدهم بالاضطرار من أخبار الرسول أن يعتبروا الرسول أعلم منهم،
Bahkan kelompok lain dapat mengatakan bahwa pada mereka telah berdiri dalil qath‘i yang justru menunjukkan kebalikan pendapat kelompok pertama. Jika perkara-perkara yang disebut qath‘i ternyata tidak merupakan sesuatu yang bersama-sama disepakati, sementara dalam berita Rasul yang tidak diketahui seseorang secara langsung dan pasti ia tidak menjadikan Rasul sebagai pihak yang lebih mengetahui daripada dirinya,
فلا يعلم بما أخبر به الرسول، ولا يكون عنده شيء يعلم بالسمع وحده، ومنها ما يعلم بالعقل وحده، ومنها ما يعلم بهما.
maka pada akhirnya ia tidak memperoleh pengetahuan dari apa yang diberitakan Rasul. Tidak ada lagi padanya perkara yang diketahui hanya melalui sam‘i, padahal sebelumnya telah diakui bahwa di antara ilmu ada yang diketahui melalui sam‘i saja, ada yang diketahui melalui akal saja, dan ada yang diketahui melalui keduanya.
وأيضاً فقد قامت الأدلة العقلية اليقينية على نبوة الأنبياء، وأنهم قد يعلمون ما يعلمونه بخبر الله وملائكته، تارة بكلام يسمعونه من الله كما سمع موسى بن عمران، وتارة بملائكة تخبرهم عن الله، وتارة بوحي يوحيه الله.
Selain itu, dalil-dalil rasional yang meyakinkan telah menunjukkan kebenaran kenabian para nabi dan bahwa mereka memperoleh sebagian pengetahuan melalui berita dari Allah dan para malaikat-Nya: terkadang melalui kalam yang mereka dengar dari Allah, sebagaimana Musa bin ‘Imran mendengarnya; terkadang melalui malaikat yang memberitakan kepada mereka dari Allah; dan terkadang melalui wahyu yang Allah sampaikan.
كما قال تعالى: «وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ».
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan lalu ia mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki.”
فتبين أن غيرهم من الناس لا يكون في نفسه دليل يناقض السمع، إذ العقل يعلم صحة الأدلة السمعية، فمتى بطلت بمخالفتها للعقل بطل العقل الدال على صحة السمع، والدليل مستلزم للمدلول، ومتى انتفى اللازم الذي هو المدلول انتفى ملزومه الذي هو الدليل، فيبطل العقل وتتناقض حجته، فيمتنع أن يكون أقوى أو أحق بالتقديم مما يوجب بطلانه.
Dengan demikian jelas bahwa tidak mungkin pada diri manusia terdapat dalil yang sahih yang benar-benar bertentangan dengan sam‘i, sebab akal sendiri mengetahui kebenaran dalil-dalil sam‘i. Jika dalil sam‘i dibatalkan karena dianggap menyelisihi akal, maka akal yang menunjukkan kebenaran sam‘i itu pun ikut dibatalkan. Sebab dalil mengharuskan adanya sesuatu yang ditunjukkannya; apabila konsekuensi yang ditunjukkan itu ditiadakan, maka dasar yang menunjukkannya pun ikut runtuh. Akibatnya akal menjadi batal dan hujahnya kontradiktif. Karena itu mustahil dalil seperti ini lebih kuat atau lebih layak didahulukan daripada sesuatu yang justru pembatalannya akan membatalkan dirinya sendiri.
وأيضاً فالأدلة العقلية توجب الإقرار بنبوة الأنبياء، فالقدح في نبوة الأنبياء قدح في الأدلة العقلية، وجرح كونهم مستلزم لمناقضتهم، فهو مستلزم لبطلان الأدلة العقلية والسمعية، وبطلان النبوات، وهذا من أعظم أنواع السفسطة، فيبين بعض ما في قولهم من أنواع السفسطة الدالة على فسادهم وتناقض مذاهبهم.
Selain itu, dalil-dalil rasional mengharuskan pengakuan terhadap kenabian para nabi. Maka mencela kenabian mereka berarti mencela dalil-dalil rasional yang menegakkannya. Menjadikan berita para nabi sebagai sesuatu yang dapat ditentang oleh dalil yang dianggap lebih kuat pada akhirnya mengharuskan rusaknya dalil rasional dan sam‘i sekaligus serta batalnya kenabian. Ini termasuk bentuk sofisme yang paling besar dan memperlihatkan sebagian kontradiksi yang terdapat dalam prinsip tersebut.
وإن قالوا: نحن لا نعلم شيئاً مما جاء به الشرع من الخبريات، أو من الخبريات وغيرها، إلا أن نعلم بالاضطرار أن الرسول أخبر به.
Jika mereka kembali berkata, “Kami tidak mengetahui sesuatu pun dari perkara-perkara berita yang dibawa syariat, ataupun dari perkara selainnya, kecuali jika kami mengetahui secara pasti bahwa Rasul benar-benar memberitakannya.”
قيل: فيقال لكم على هذا التقدير: فكل ما لا يعلم شخص بالاضطرار أن الرسول أخبر به، يجوز أن ينفيه إذا قام عنده ما يعتقده دليلاً عليه؟
Dikatakan kepada mereka: berdasarkan asumsi itu, apakah setiap perkara yang seseorang tidak mengetahui secara pasti bahwa Rasul telah memberitakannya boleh ia nafikan hanya karena menurut dirinya terdapat suatu dalil yang menunjukkan penafian tersebut?
فإن قالوا: نعم، لزم أنه يجوز لكل أحد أن يكذب بما لم يضطر إلى أن الرسول أخبر به، وإن كان غيره يعلم بالاضطرار أن الرسول أخبر به، وحينئذ فيلزم من ذلك تجويز تكذيب الرسول، ونفي الحقائق الثابتة في نفس الأمر، والقول بلا علم، والتكذيب بالحق.
Jika mereka menjawab, “Ya,” maka konsekuensinya setiap orang diperbolehkan mendustakan sesuatu yang ia sendiri tidak mengetahui secara pasti berasal dari berita Rasul, walaupun orang lain mengetahui secara pasti bahwa Rasul benar-benar telah memberitakannya. Dari sini akan lahir pembolehan untuk mendustakan Rasul, menafikan hakikat yang sebenarnya benar, berbicara tanpa ilmu, dan mendustakan kebenaran.
وإن قالوا: فإنه إنما يجوز ذلك إذا قام دليل عقل قاطع.
Jika mereka berkata, “Tidak; hal itu hanya diperbolehkan apabila terdapat dalil akal yang qath‘i.”
قيل: هذا استدلال باطل في هذا المقام لوجوه:
Dijawab: argumentasi ini batil dalam pembahasan ini dari beberapa sisi.
Leave a Reply