فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (١٥)
Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ (15)
توحيد الربوبية
Tauhid Rububiyyah : Tentang Tujuh Lapis Bumi, Sijjin, serta Harut dan Marut
التصرف في الكون
Pengaturan Alam Semesta
السؤال الثالث من الفتوى رقم ٧٨٢
Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor 782
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Kategori: Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia
السؤال
نصه: (عندنا أولاد ونريدهم يتفكرون بما خلق الله سبحانه وتعالى هل الأرض التي على سطح الماء ماذا يحملها عن الماء، وقالوا إن الأرض من سبع طبقات وكل طبقة بها سكان ومن عرض ما قالوا لنا إن من طبقات الأرض سجيل أحر من النار يحيط – يقصد – الله بها أرواح المذنبين والكفار وقالوا لنا هاروت وماروت إنهم في الأرض ملائكة معذبين جزاكم الله خيراً ما هو عذابهم).
Pertanyaan
Teks pertanyaannya: Kami memiliki anak-anak dan kami ingin agar mereka memikirkan ciptaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Apakah bumi yang berada di atas permukaan air itu, apa yang menahannya dari air? Mereka mengatakan bahwa bumi terdiri dari tujuh lapisan dan pada setiap lapisan terdapat penghuninya.
Di antara apa yang mereka sampaikan kepada kami, mereka mengatakan bahwa salah satu lapisan bumi adalah “Sijjil” yang lebih panas daripada api neraka, dan bahwa Allah menempatkan di sana ruh orang-orang berdosa dan orang-orang kafir. Mereka juga mengatakan kepada kami bahwa Harut dan Marut berada di bumi sebagai dua malaikat yang sedang diazab. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Apakah azab mereka?
الجواب
ج: أولاً: ليس هناك أرض على سطح الماء، حتى تسأل عما يحملها عن الماء، وإنما فوق الماء الهواء والسماء، وقد تماسك الكونيات كلها ولزم كل منها مكانه بقدرة الله تعالى قال الله تعالى: {إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ}1 وقد يكون هذا التماسك بسر أودعه الله الكائنات يعرفه من هيأ الله له أسباب معرفته من علماء السنن الكونية وغيرهم، وفي صحيح البخاري عن علي رضي الله عنه: «حدثوا الناس بما يعرفون أتريدون أن يكذب الله ورسوله».2
Jawaban
Pertama: Tidak ada bumi yang berada di atas permukaan air sehingga perlu ditanyakan apa yang menahannya dari air. Yang berada di atas air adalah udara dan langit. Seluruh bagian alam ini tetap kokoh dan masing-masing menetap pada tempatnya dengan kekuasaan Allah Ta‘ala.
Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar keduanya tidak lenyap. Dan sungguh, jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain Dia.”3
Boleh jadi keteraturan dan kekokohan tersebut terjadi karena suatu rahasia yang Allah letakkan pada makhluk-makhluk-Nya, yang dapat diketahui oleh orang-orang yang Allah mudahkan baginya sebab-sebab untuk mengetahuinya, seperti para ilmuwan yang mengkaji hukum-hukum alam dan selain mereka.
Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu: “Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka pahami. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”4
ثانياً: أخبر الله بأن الأرض سبع طبقات فقال: {اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ}1 الآية، والعلماء الذين قالوا باجتهادهم إنها طبقات بعضها فوق بعض بينها هواء ويسكن كل طبقة خلق من خلق الله مستدلين بقوله تعالى: {يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}1 الآية، ومنهم من قال إنها سبع طبقات متلاصقة بعضها فوق بعض ويستدلون بحديث: «من اقتطع شبراً من أرض طوقه يوم القيامة من سبع أرضين».2
Kedua: Allah telah mengabarkan bahwa bumi itu terdiri dari tujuh lapisan. Allah berfirman: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan dari bumi semisal dengannya.”5
Sebagian ulama, berdasarkan ijtihad mereka, mengatakan bahwa lapisan-lapisan tersebut berada satu di atas yang lain, terdapat udara di antara lapisan-lapisan itu, dan pada setiap lapisan terdapat makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta‘ala: “Perintah Allah berlaku di antara semuanya agar kalian mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”5
Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa ketujuh lapisan itu saling melekat satu di atas yang lain. Mereka berdalil dengan hadis: “Barang siapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, pada Hari Kiamat ia akan dikalungi dengannya dari tujuh lapis bumi.”6
ثالثاً: سجين من الأمور الغيبية التي يجب علينا أن نمسك عن الخوض فيها إلا بقدر ما بين الله في كتابه أو رسوله صلى الله عليه وسلم، وقد قال تعالى: {كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ * كِتَابٌ مَرْقُومٌ}1 فيجب أن نؤمن بذلك ولا نزيد عليه قولاً من عند أنفسنا، وإلا وقعنا فيما نهى الله عنه بقوله: {وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ}1
Ketiga: Sijjin termasuk perkara gaib yang wajib bagi kita untuk menahan diri dari membicarakannya kecuali sebatas apa yang telah Allah jelaskan dalam Kitab-Nya atau yang dijelaskan oleh Rasul-Nya ﷺ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya catatan orang-orang durhaka benar-benar berada dalam Sijjin. Tahukah kamu apakah Sijjin itu? Yaitu kitab yang tertulis.”7
Maka kita wajib mengimaninya dan tidak menambahkan perkataan dari diri kita sendiri. Jika tidak, kita akan terjatuh ke dalam perkara yang Allah larang dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.”8
رابعاً: هاروت وماروت ملكان من ملائكة الله امتحن الله بهما عباده ولم يفعلا إلا ما أمرهما الله به فكانا بذلك مطيعين لله فيما كلفا وشاء أن يختبر عباده ويمتحنهم بما شاء كيف شاء لا منازع له في قضائه وشرعه. قال الله تعالى: {وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ}1 الآية.
Keempat: Harut dan Marut adalah dua malaikat dari kalangan malaikat Allah. Allah menguji hamba-hamba-Nya melalui keduanya. Keduanya tidak melakukan selain apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Dengan demikian, keduanya taat kepada Allah dalam tugas yang dibebankan kepada mereka.
Allah berkehendak menguji dan memberi cobaan kepada hamba-hamba-Nya dengan apa yang Dia kehendaki dan dengan cara yang Dia kehendaki. Tidak ada seorang pun yang dapat menentang ketetapan dan syariat-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir; mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah ujian, maka janganlah kamu kafir.’”9
وأما أنهما كانا ملكين ومسخا رجلين وأنهما أساءا بارتكاب المعاصي وحجبا عن السماء وأنهما يعذبان في الدنيا أو معلقان من شعورهما فكل هذا وأمثاله من كلام الكذابين من القصاص فيجب على المسلم ألا يقبله منهم وأن يتجنب القراءة في الكتب التي ليست مأمونة مثل كتاب بدائع الزهور في وقائع الدهور فإن مؤلفه وأمثاله هم الذين يذكرون مثل هذه الافتراءات. والله أعلم.
Adapun cerita bahwa keduanya adalah malaikat yang kemudian diubah menjadi dua orang laki-laki, bahwa keduanya berbuat buruk dengan melakukan berbagai kemaksiatan, kemudian dihalangi dari langit, lalu keduanya diazab di dunia atau digantung dengan rambut mereka, maka semua cerita tersebut dan yang semisalnya berasal dari perkataan para pendusta dari kalangan tukang cerita.
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh menerima cerita-cerita tersebut dari mereka dan hendaknya menghindari membaca kitab-kitab yang tidak dapat dipercaya, seperti kitab Bada’i‘ Az-Zuhur fi Waqa’i‘ Ad-Duhur. Penulis kitab tersebut dan orang-orang semisalnya adalah mereka yang menyebutkan berbagai cerita dusta seperti ini. Allahu a‘lam.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’
عضو: عبد الله بن سليمان بن منيع
عضو: عبد الله بن غديان
نائب رئيس اللجنة: عبد الرزاق عفيفي
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Sulaiman bin Mani‘
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan
Wakil Ketua Al-Lajnah: Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
Sumber : Kitab Kompilasi Fatwa Lajnah Daaimah – https://alifta.gov.sa/ar/fatwa-committee
Leave a Reply