فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (١٨)
Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ (18)
توحيد الربوبية
Tauhid Rububiyyah : Meyakini Selain Allah Dapat Memberikan atau Menahan Rezeki
السؤال الرابع من الفتوى رقم ١٨٩
Pertanyaan Keempat dari Fatwa Nomor 189
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tauhid Rububiyyah : Meyakini Selain Allah Dapat Memberikan atau Menahan Rezeki ini masuk dalam Kategori Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia
السؤال:
Pertanyaan:
هذا الولد من عمل: اعتقد بهذا الذي يؤمن في الرزق وينقص ما الحكم في هذا الاعتقاد؟
Bagaimana hukum keyakinan seseorang yang meyakini bahwa anak merupakan hasil perbuatannya, dan bahwa ada pihak selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadanya atau menguranginya?
الإجابــة:
Jawaban :
من اعتقد أن الولد من عمله – غير الله – وأن أحداً سوى الله يزيد به الرزق وينقص منه فهو مشرك شركاً أكبر من شرك العرب وغيرهم في الجاهلية.
Barangsiapa meyakini bahwa anak merupakan hasil perbuatan selain Allah, dan bahwa ada seseorang selain Allah yang dapat menambah atau mengurangi rezekinya, maka ia telah melakukan syirik yang lebih besar daripada syirik bangsa Arab dan selain mereka pada masa Jahiliyyah.
فإن العرب وغيرهم كانوا في جاهليتهم إذا سئلوا عمن يرزقهم من السماء والأرض وعمن يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي قالوا الله، وإنما عبدوا آلهتهم الباطلة لزعمهم أنها تقربهم إلى الله زلفى.
Sesungguhnya bangsa Arab dan selain mereka pada masa Jahiliyyah, apabila ditanya siapa yang memberi mereka rezeki dari langit dan bumi, siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, mereka menjawab: Allah. Mereka hanya menyembah sesembahan-sesembahan batil karena menganggap bahwa sesembahan itu dapat mendekatkan mereka kepada Allah sedekat-dekatnya.
قال الله تعالى:
Allah Ta‘ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ [يونس: ٣١]
“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa?’” [Yunus: 31]
وقال:
Dan Allah berfirman:
أَمَّنْ هَذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ [الملك: ٢١]
“Atau siapakah yang dapat memberi kalian rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya? Bahkan mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri.” [Al-Mulk: 21]
وثبت في السنة أن العطاء والمنع إلى الله وحده. من ذلك ما رواه البخاري في باب الذكر بعد الصلاة من صحيحه أن وراداً كاتب المغيرة بن شعبة قال: أملى علي المغيرة بن شعبة في كتاب إلى معاوية أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقول في دبر كل صلاة مكتوبة:
Telah ditetapkan pula dalam Sunnah bahwa memberi dan menahan adalah milik Allah semata. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Al-Bukhari dalam bab dzikir setelah sholat pada kitab Shahih-nya. Warrad, sekretaris Al-Mughirah bin Syu‘bah, berkata bahwa Al-Mughirah bin Syu‘bah mendiktekan kepadanya sebuah surat untuk Mu‘awiyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan setiap selesai sholat wajib:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan. Kekayaan dan kedudukan seseorang tidak dapat memberinya manfaat di hadapan-Mu.” (HR. Al-Bukhari)
لكن قد يعطي الله عبده ذرية ويوسع له في رزقه بدعائه إياه ولجئه إليه وحده، كما هو واضح في سورة إبراهيم من دعاء إبراهيم الخليل ربه وإجابته إياه دعاءه.
Akan tetapi, Allah dapat memberikan keturunan kepada hamba-Nya dan melapangkan rezekinya karena doa hamba tersebut kepada-Nya dan karena ia berlindung serta memohon hanya kepada-Nya. Hal ini tampak jelas dalam Surah Ibrahim melalui doa Nabi Ibrahim Al-Khalil kepada Rabb-nya dan bagaimana Allah mengabulkan doanya.
وكما ثبت عن أنس رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:
Demikian pula telah diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa senang dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan jejak umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab Shahih mereka.
والله أعلم.
Wallahu a‘lam.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’
عضو: عبد الله بن سليمان بن منيع
عضو: عبد الله بن غديان
نائب رئيس اللجنة: عبد الرزاق عفيفي
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Sulaiman bin Mani‘
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan
Wakil Ketua Al-Lajnah: Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
Sumber : Kitab Kompilasi Fatwa Lajnah Daaimah
Leave a Reply