فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (٢٦)
Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ (26)
شهادة أن لا إله إلا الله
Tauhid Uluhiyyah : Apakah Dua Kalimat Syahadat Terdapat Bersamaan dalam Al-Qur’an dan Sunnah?
السؤال الأول من الفتوى رقم ٧٧٠١
Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 7701
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tauhid Uluhiyyah : Apakah Dua Kalimat Syahadat Terdapat Bersamaan dalam Al-Qur’an dan Sunnah? ini masuk dalam Kategori Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia
السؤال:
Pertanyaan:
الكلمة الطيبة كما قال رسول الثقلين صلى الله عليه وسلم الحديث «من قال لا إله إلا الله محمد رسول الله دخل الجنة» هذه الكلمة التامة مع الجزئين أي (لا إله) نفي و(إلا الله) إثبات وذلك دال على وحدانية الله تعالى والجزء الثاني الدال على رسالة محمد صلى الله عليه وسلم في أي كتاب أجدها وإن كانت مع الجزئين في كتاب الله تعالى علمه على حده وأحاديث النبي صلى الله عليه وسلم لكن ما سواهما في أي كتاب ما جمعهما مع الجزئين.
Tentang kalimat yang baik, sebagaimana dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ungkapan: “Barangsiapa mengucapkan La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah, ia masuk surga.” Kalimat yang sempurna ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, yaitu la ilaha, merupakan penafian, sedangkan illallah merupakan penetapan. Hal ini menunjukkan keesaan Allah Ta‘ala.
Adapun bagian kedua, yang menunjukkan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di kitab manakah saya dapat menemukannya? Apakah kedua bagian itu terdapat bersama dalam Kitab Allah? Saya mengetahui masing-masingnya secara tersendiri dalam Kitab Allah Ta‘ala dan dalam hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi di kitab manakah keduanya disebutkan secara bersamaan?
الإجابــة:
Jawaban :
ورد الركن الأول من أركان الإسلام بجزأيه في القرآن الكريم كثيراً.
Rukun pertama dari rukun-rukun Islam dengan kedua bagiannya telah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim.
فالجزء الأول كقوله تعالى:
Adapun bagian pertama, di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”
وقوله:
Dan firman-Nya:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah.”
وقوله:
Dan firman-Nya:
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Itulah Allah, Rabb kalian. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, Pencipta segala sesuatu.”
والجزء الثاني كقوله تعالى:
Adapun bagian kedua, di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan saling berkasih sayang di antara mereka.”
وقوله تعالى:
Dan firman Allah Ta‘ala:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ
“Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya para rasul.”
وأما السنة ففي الصحيحين عن ابن عمر رضي الله عنهما عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال:
Adapun dalam Sunnah, terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
وفي صحيح مسلم عن عمر رضي الله عنه قال: بينما نحن جلوس عند رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب شديد سواد الشعر لا يرى عليه أثر السفر ولا يعرفه منا أحد حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم فأسند ركبتيه إلى ركبتيه ووضع كفيه على فخذيه وقال: يا محمد أخبرني عن الإسلام فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya. Tidak tampak padanya bekas perjalanan dan tidak seorang pun dari kami mengenalnya. Ia kemudian duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menempelkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya. Ia berkata: “Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, engkau mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah apabila engkau mampu menempuh jalan menuju kepadanya.”
قال: صدقت. قال: فعجبنا له يسأله ويصدقه. قال: فأخبرني عن الإيمان؟ قال:
Ia berkata: “Engkau benar.” ‘Umar berkata: Kami pun heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau tetapi sekaligus membenarkannya. Kemudian ia berkata: “Beritahukan kepadaku tentang iman.” Beliau menjawab:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Akhir, serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”
قال: صدقت. قال: فأخبرني عن الإحسان؟ قال:
Ia berkata: “Engkau benar.” Kemudian ia berkata: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan.” Beliau menjawab:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
قال: صدقت. قال فأخبرني عن الساعة؟ قال:
Ia berkata: “Engkau benar.” Kemudian ia berkata: “Beritahukan kepadaku tentang Hari Kiamat.” Beliau menjawab:
مَا الْمَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ
“Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.”
قال: فأخبرني عن أماراتها؟ قال:
Ia berkata: “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Beliau menjawab:
أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ
“Seorang budak perempuan melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang bertelanjang kaki, tidak berpakaian, miskin, para penggembala kambing, berlomba-lomba meninggikan bangunan.”
ثم انطلق فلبث ملياً ثم قال لي: يا عمر أتدري من السائل؟ قلت الله ورسوله أعلم قال:
Kemudian orang itu pergi. Setelah beberapa waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “Wahai ‘Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda:
هَذَا جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ
“Itu adalah Jibril. Ia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”
وفي الصحيحين عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ
“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya serta kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga itu benar serta neraka itu benar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal yang dilakukannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
وفي البخاري عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِذَا قَالُوهَا وَصَلَّوْا صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلُوا قِبْلَتَنَا وَذَبَحُوا ذَبِيحَتَنَا فَقَدْ حَرُمَتْ عَلَيْنَا دِمَاؤُهُمْ وَأَمْوَالُهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan La ilaha illallah. Apabila mereka telah mengucapkannya, mengerjakan sholat seperti sholat kami, menghadap kiblat kami, dan menyembelih sembelihan seperti sembelihan kami, maka darah dan harta mereka menjadi haram bagi kami kecuali dengan haknya, dan perhitungan mereka berada di tangan Allah.” (HR. Al-Bukhari)
وفي الصحيحين من حديث عتبان رضي الله عنه مرفوعاً:
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari hadits ‘Itban radhiyallahu ‘anhu secara marfu‘:
فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan mengharapkan wajah Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
وقد فسر أهل العلم هذه الأحاديث وما جاء في معناها بأن من تلفظ بهاتين الشهادتين والتزم بحقهما من أداء الفرائض وترك المحرم وإخلاص العبادة لله وحده فإن الله يدخله الجنة من أول وهلة.
Para ahli ilmu telah menjelaskan hadits-hadits ini dan yang semakna dengannya bahwa barangsiapa mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut dan melaksanakan konsekuensinya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban, meninggalkan perkara-perkara haram, serta mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sejak awal.
أما من مات على شيء من المعاصي دون الشرك ولم يتب منها فهو تحت مشيئة الله إن شاء سبحانه غفر له وأدخله الجنة على ما كان عليه من عمل وإن شاء عذبه على قدر معصيته ثم يدخله الجنة كما تواترت بذلك الأحاديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولأن القرآن يفسر بعضه بعضاً وهكذا السنة.
Adapun orang yang meninggal dalam keadaan membawa suatu kemaksiatan selain syirik dan belum bertaubat darinya, maka ia berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah Subhanahu wa Ta‘ala menghendaki, Dia mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga sesuai amalnya. Jika Dia menghendaki, Dia mengazabnya sesuai kadar kemaksiatannya, kemudian memasukkannya ke dalam surga. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh banyak hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur’an menafsirkan sebagian bagiannya dengan bagian yang lain, demikian pula Sunnah.
قال تعالى:
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
وهذه الآية في غير التائبين.
Ayat ini berkaitan dengan orang-orang yang belum bertaubat.
وأما قوله سبحانه:
Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa.”
فهي في التائبين بإجماع أهل العلم، وهذا قول أهل السنة والجماعة من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ومن سار على نهجهم من أهل العلم والإيمان كالأئمة الأربعة وأتباعهم.
Ayat tersebut berkaitan dengan orang-orang yang bertaubat berdasarkan ijma‘ para ahli ilmu. Inilah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dari kalangan para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dari kalangan ahli ilmu dan iman, seperti empat imam dan para pengikut mereka.
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabat beliau.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’
عضو: عبد الله بن قعود
عضو: عبد الله بن غديان
نائب رئيس اللجنة: عبد الرزاق عفيفي
الرئيس: عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Qu‘ud
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan
Wakil Ketua Al-Lajnah: Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz
Sumber : Kitab Kompilasi Fatwa Lajnah Daaimah
Leave a Reply