Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah [27] : Tauhid Uluhiyyah : Hukum Menulis Lafaz “Allah” dan “Muhammad” Secara Bertumpang-Tindih atau Berdampingan



فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (٢٧)

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ (27)

شهادة أن لا إله إلا الله

Tauhid Uluhiyyah : Hukum Menulis Lafaz “Allah” dan “Muhammad” Secara Bertumpang-Tindih atau Berdampingan

الفتوى رقم ٨٣٢٧

Fatwa Nomor 8327

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tauhid Uluhiyyah : Hukum Menulis Lafaz “Allah” dan “Muhammad” Secara Bertumpang-Tindih atau Berdampingan ini masuk dalam Kategori Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia

السؤال:

Pertanyaan:

أود أن أطرح عليكم سؤالاً كان محض خلاف بين عدد من الناس وهو أنه كانت مكتوبة كلمة الله وكلمة محمد بشكل متداخل فيما بينهما في أعلى باب أحد المساجد في محافظة إدلب وهي كما يلي:

Saya ingin mengajukan kepada Anda sebuah pertanyaan yang menjadi perselisihan di antara sejumlah orang. Pada bagian atas pintu salah satu masjid di Provinsi Idlib terdapat tulisan lafaz Allah dan lafaz Muhammad dalam bentuk yang saling bertumpang-tindih satu sama lain.

فمنهم من قال بأنه لا يجوز كتابتها على هذا الشكل وبرهنوا على قولهم بأن محمداً صلى الله عليه وسلم أصبح بذلك في مرتبة الله وهذا غير معقول. ومنهم من قال بأن كتابتها ليس فيها أية حرمانية؛ لأن الله عز وجل جعل اسمه بجانب اسم رسوله محمد صلى الله عليه وسلم فأرجو منكم الإرشاد الصحيح ولكم مني جزيل الشكر.

Sebagian orang mengatakan bahwa tulisan seperti itu tidak diperbolehkan. Mereka beralasan bahwa dengan bentuk tersebut Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seakan-akan ditempatkan pada kedudukan yang sama dengan Allah, dan hal ini tidak dapat diterima.

Sebagian lainnya mengatakan bahwa menuliskannya seperti itu tidak mengandung keharaman, karena Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan nama-Nya berdampingan dengan nama Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka saya memohon kepada Anda bimbingan yang benar. Terima kasih yang sebesar-besarnya.

الإجابــة:

Jawaban :

مما جاء في نصوص الشريعة القرن بين الشهادة لله بالتوحيد والشهادة لنبيه محمد صلى الله عليه وسلم بالرسالة في مواضع، من ذلك القرن بينهما في الأذان للصلاة وفي الإقامة لها وفي حديث «بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله» وغير ذلك، مع بيان ما يجب الإيمان به على المكلفين بالنسبة لكل منهما مما هو أهله، كقول المكلف: لا إله إلا الله محمد رسول الله.

Di antara yang terdapat dalam nash-nash syariat adalah penyebutan secara beriringan antara kesaksian mengenai tauhid kepada Allah dan kesaksian mengenai kerasulan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada beberapa tempat.

Di antaranya adalah penyebutan keduanya secara beriringan dalam adzan untuk sholat, dalam iqamah, serta dalam hadits:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”

Dan terdapat pula dalil-dalil lainnya, dengan tetap menjelaskan apa yang wajib diimani oleh setiap mukallaf berkenaan dengan masing-masing dari keduanya sesuai dengan kedudukannya, seperti ucapan seorang mukallaf: La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.

أما مزجها كتابة فلم يأت في كتاب الله ولا في سنة النبي صلى الله عليه وسلم ومع ذلك ففيه خطر عظيم، إذ فيه مشابهة لعقيدة النصارى الباطلة في التثليث، وأن الأب والابن وروح القدس إله واحد، وفيه أيضاً رمز للعقيدة الباطلة عقيدة وحدة الوجود، وفيه أيضاً ذريعة إلى الغلو في الرسول صلى الله عليه وسلم وعبادته مع الله سبحانه.

Adapun mencampurkan keduanya dalam bentuk tulisan, hal tersebut tidak terdapat dalam Kitab Allah dan tidak pula dalam Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di samping itu, perbuatan tersebut mengandung bahaya besar. Di dalamnya terdapat kemiripan dengan keyakinan batil kaum Nasrani tentang trinitas, bahwa Bapa, Anak, dan Ruhul Qudus merupakan satu tuhan. Di dalamnya juga terdapat simbol yang menyerupai keyakinan batil Wahdatul Wujud. Selain itu, hal tersebut dapat menjadi sarana menuju sikap ghuluw terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peribadatan kepada beliau bersama Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

وعليه يجب أن يمنع كتابة اسم الله تعالى واسم رسوله محمد صلى الله عليه وسلم على هذا الشكل؛ شكل تداخل حروف اسميهما كتابة، وتقطع حروف اسم كل منهما بحروف اسم الآخر، بل لا يجوز كتابة (الله – محمد) على باب المسجد ولا على غيره لما في ذلك من الإيهام والتلبيس لما ذكر من المحاذير وغيرها.

Atas dasar itu, harus dicegah penulisan nama Allah Ta‘ala dan nama Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk seperti ini, yaitu huruf-huruf dari kedua nama tersebut saling bertumpang-tindih dalam tulisan dan huruf-huruf salah satunya memotong atau bersilangan dengan huruf-huruf nama yang lain.

Bahkan tidak diperbolehkan menuliskan “Allah – Muhammad” pada pintu masjid ataupun di tempat lainnya, karena hal tersebut dapat menimbulkan kesan yang keliru dan kerancuan, selain berbagai hal terlarang yang telah disebutkan dan yang lainnya.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabat beliau.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’


عضو: عبد الله بن قعود
عضو: عبد الله بن غديان
نائب رئيس اللجنة: عبد الرزاق عفيفي
الرئيس: عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Qu‘ud
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan
Wakil Ketua Al-Lajnah: Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz

Sumber : Kitab Kompilasi Fatwa Lajnah Daaimah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.