درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 33)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
أحدها: أن يقال لكم: فإذا علمتم أن الرسول أراد هذا المعنى، إما أن تعلموا مراده بالاضطرار، كما يعلم أنه أتى بالتوحيد والصلوات الخمس والمعاد بالاضطرار، وإما بأدلة أخرى نظرية، وقد قام عندكم القاطع العقلي على خلاف ما علمتم أنه أراده، فكيف تصنعون؟
Pertama: dikatakan kepada kalian: apabila kalian telah mengetahui bahwa Rasul menghendaki makna tertentu ini, pengetahuan kalian terhadap maksud beliau adakalanya diperoleh secara pasti dan niscaya—sebagaimana diketahui secara pasti bahwa beliau membawa ajaran tauhid, shalat lima waktu, dan kehidupan akhirat—atau diketahui melalui dalil-dalil teoritis lainnya. Lalu, apabila menurut kalian terdapat dalil akal qath‘i yang bertentangan dengan apa yang telah kalian ketahui sebagai maksud Rasul, apa yang akan kalian lakukan?
فإن قلتم: نقدم العقل، لزمكم ما ذكر من فساد العقل المصدق للرسول، مع الكفر وتكذيب الرسول.
Jika kalian berkata, “Kami mendahulukan akal,” maka berlaku atas kalian konsekuensi yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu rusaknya akal yang telah membenarkan Rasul, disertai konsekuensi kekufuran dan pendustaan terhadap Rasul.
وإن قلتم: نقدم قول الرسول، أفسدتم قولكم المذكور الذي قلتم فيه العقل أصل النقل، فلا يمكن تقديم الفرع على أصله.
Jika kalian berkata, “Kami mendahulukan perkataan Rasul,” maka kalian sendiri telah membatalkan prinsip yang sebelumnya kalian nyatakan bahwa akal merupakan dasar bagi naql dan bahwa cabang tidak mungkin didahulukan atas dasarnya.
وإن قلتم: يمتنع معارضة العقل الصريح لمثل هذا السمع، لأننا علمنا مراد الرسول قطعاً.
Jika kalian berkata, “Akal yang benar-benar jernih mustahil bertentangan dengan dalil sam‘i seperti ini, karena kami telah mengetahui maksud Rasul secara pasti.”
قيل لكم: وهكذا يقول كل من علم مراد الرسول قطعاً: يمتنع أن يقوم دليل عقلي يناقضه، وحينئذ يبقى الكلام: هل دل سمعي قطعي على مورد النزاع أم لا؟ ويكون دفعكم للأدلة السمعية بهذا القانون باطلاً متناقضاً.
Dikatakan kepada kalian: demikian pula setiap orang yang telah mengetahui maksud Rasul secara pasti akan berkata bahwa mustahil terdapat dalil rasional yang sahih yang bertentangan dengannya. Maka pembahasan yang sebenarnya tinggal satu: apakah dalam perkara yang diperselisihkan terdapat dalil sam‘i qath‘i atau tidak? Dengan demikian, penolakan kalian terhadap dalil-dalil sam‘i melalui kaidah tersebut menjadi batil dan kontradiktif.
الوجه الثاني: أنه إذا كنتم لا تردون من السمع إلا ما لم تعلموا أن الرسول أراده، دون ما علمتم أن الرسول أراده، بقي احتجاجكم بكون العقل معارضاً للسمع احتجاجاً باطلاً لا تأثير له.
Sisi kedua: apabila kalian hanya menolak dari dalil sam‘i perkara yang belum kalian ketahui benar-benar dimaksudkan oleh Rasul, sedangkan apa yang telah diketahui sebagai maksud Rasul tidak kalian tolak, maka argumentasi kalian bahwa “akal bertentangan dengan sam‘i” menjadi argumentasi yang batil dan tidak memiliki pengaruh terhadap pokok persoalan.
الثالث: أنكم تدعون في مواضع كثيرة أن الرسول جاء بهذا، وأنا نعلم ذلك اضطراراً، ومنازعوكم يدعون قيام القاطع العقلي على مناقض ذلك، كما في المعاد وغيره، فكذلك يقول منازعوكم في العلو والصفات: إنا نعلم اضطراراً مجيء الرسول بهذا، بل هذا أقوى، كما بسط في موضع آخر.
Ketiga: dalam banyak persoalan kalian sendiri menyatakan bahwa Rasul telah membawa ajaran tertentu dan bahwa hal itu diketahui secara pasti. Namun pihak yang menyelisihi kalian mengklaim bahwa terdapat dalil akal qath‘i yang bertentangan dengannya, seperti dalam persoalan kehidupan akhirat dan selainnya. Demikian pula pihak yang menyelisihi kalian dalam persoalan ketinggian Allah dan sifat-sifat-Nya mengatakan, “Kami mengetahui secara pasti bahwa Rasul telah membawa ajaran ini.” Bahkan menurut penulis, pengetahuan mengenai perkara tersebut lebih kuat, sebagaimana telah dijelaskan secara luas di tempat lain.
السادس: أن هذا يعارض بأن يقال: دليل العقل مشروط بعدم معارضة الشرع، لأن العقل ضعيف عاجز، والشبهات تعرض له كثيراً، وهذه المائة والغارات التي اضطرب فيها العقلاء لا أثق فيها بعقل يخالف الشرع.
Sisi keenam: prinsip tersebut dapat dibalik dengan dikatakan bahwa dalil akal justru harus disyaratkan tidak bertentangan dengan syariat. Sebab akal memiliki keterbatasan dan kelemahan, sementara berbagai syubhat sering mendatanginya. Banyaknya persoalan dan serangan keraguan yang membuat orang-orang berakal sendiri berbeda dan kebingungan menyebabkan argumentasi akal yang menyelisihi syariat tidak dapat begitu saja dipercaya.
ومعلوم أن هذا أولى بالقبول من الأول، بأن يقال ما يقال في:
Telah diketahui bahwa prinsip ini lebih layak diterima daripada prinsip sebelumnya. Selanjutnya dapat dikatakan:
السابع: وهو: أن العقل لا يكون دليلاً مستقلاً في تفاصيل الأمور الإلهية واليوم الآخر، فلا أقبل منه ما يدل عليه إن لم يصدقه الشرع ويوافقه، فإن الشرع قول المعصوم الذي لا يخطئ ولا يكذب، وخبر الصادق الذي لا يقول إلا حقاً، وأما آراء الرجال فكثيرة التهافت والتناقض، فأنا لا أثق بآرائي وعقلي في هذه المطالب العالية الإلهية، ولا بخبر هؤلاء المختلفين المتناقضين الذين كل منهم يقول بعقله ما يعلم العقلاء أنه باطل، فما من هؤلاء أحد إلا وقد علمت أنه يقول بعقله ما يعلم أنه باطل، بخلاف الرسل، فإنهم معصومون، فأنا لا أقبل قول هؤلاء إن لم يزك قولهم ذلك المعصوم: خبر الصادق المصدوق.
Sisi ketujuh: akal tidak dapat menjadi dalil yang berdiri sendiri dalam rincian perkara-perkara Ilahiyah dan hari akhir. Karena itu, aku tidak menerima apa yang ditunjukkannya dalam persoalan tersebut apabila tidak dibenarkan dan diselaraskan oleh syariat. Syariat merupakan perkataan pihak yang ma‘shum, yang tidak melakukan kesalahan dan tidak berdusta, serta berita seorang yang benar yang tidak mengatakan kecuali kebenaran.
وأما آراء الرجال فكثيرة التهافت والتناقض، فأنا لا أثق بآرائي وعقلي في هذه المطالب العالية الإلهية، ولا بخبر هؤلاء المختلفين المتناقضين.
Adapun pendapat manusia sangat banyak mengandung kelemahan dan kontradiksi. Karena itu, dalam persoalan-persoalan Ilahiyah yang tinggi ini aku tidak begitu saja mempercayai pendapat dan akalku sendiri, dan tidak pula mempercayai perkataan orang-orang yang saling berbeda dan saling bertentangan tersebut.
الذين كل منهم يقول بعقله ما يعلم العقلاء أنه باطل، فما من هؤلاء أحد إلا وقد علمت أنه يقول بعقله ما يعلم أنه باطل، بخلاف الرسل، فإنهم معصومون.
Masing-masing dari mereka mengatakan berdasarkan akalnya sesuatu yang oleh orang-orang berakal lainnya diketahui sebagai batil. Tidak seorang pun dari mereka kecuali dapat ditemukan padanya kesimpulan rasional yang dinilai batil oleh pihak lain. Berbeda dengan para rasul, yang terpelihara dalam penyampaian risalah.
فأنا لا أقبل قول هؤلاء إن لم يزك قولهم ذلك المعصوم: خبر الصادق المصدوق.
Karena itu, aku tidak menerima perkataan mereka dalam perkara ini kecuali apabila perkataan tersebut dibenarkan oleh pihak yang ma‘shum, yaitu berita dari Rasul yang benar lagi dibenarkan.
Leave a Reply