درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 35)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
ومن عارض ما جاءت به الرسل برأيه فله نصيب من قوله تعالى: «كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ» (سورة غافر: ٣٤).
Siapa yang menentang apa yang dibawa para rasul dengan pendapatnya sendiri, maka ia memiliki bagian dari firman Allah Ta‘ala: “Demikianlah Allah menyesatkan orang yang melampaui batas lagi ragu-ragu.” (QS. Ghafir: 34).
وقوله تعالى: «الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ» (سورة غافر: ٣٥).
Dan firman Allah Ta‘ala: “Orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa suatu hujah yang sampai kepada mereka, amat besar kemurkaan terhadap mereka di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci setiap hati orang yang sombong lagi sewenang-wenang.” (QS. Ghafir: 35).
وقوله تعالى: «الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ» (سورة غافر: ٥٦).
Dan firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa suatu hujah yang sampai kepada mereka, tidak ada di dalam dada mereka kecuali kesombongan yang tidak akan pernah mereka capai tujuannya.” (QS. Ghafir: 56).
والسلطان: هو الكتاب المنزل من السماء، فكل من عارض كتاب الله المنزل بغير كتاب الله الذي قد يكون ناسخاً له أو مفسراً له، كان قد جادل في آيات الله بغير سلطان أتاه.
Adapun sulṭān adalah kitab yang diturunkan dari langit. Maka siapa yang menentang Kitab Allah yang diturunkan dengan sesuatu selain kitab dari Allah yang mungkin menjadi nasikh atau penjelas baginya, berarti ia telah memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa hujah yang datang kepadanya.
ومن هذا قوله تعالى: «وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ» (سورة غافر: ٥).
Termasuk dalam hal ini firman Allah Ta‘ala: “Mereka membantah dengan kebatilan untuk melenyapkan kebenaran dengannya, maka Aku menyiksa mereka. Maka betapa dahsyatnya hukuman-Ku.” (QS. Ghafir: 5).
وقوله تعالى: «وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا» (سورة الكهف: ٥٦).
Dan firman Allah Ta‘ala: “Kami tidak mengutus para rasul kecuali sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Orang-orang kafir membantah dengan kebatilan agar dengan itu mereka dapat melenyapkan kebenaran, dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku serta apa yang diperingatkan kepada mereka sebagai bahan olok-olok.” (QS. al-Kahfi: 56).
وأمثال ذلك مما في كتاب الله تعالى مما يذم به الذين عارضوا رسل الله وكتبه بما عندهم من الرأي والكلام.
Dan ayat-ayat semisalnya di dalam Kitab Allah Ta‘ala yang mencela orang-orang yang menentang para rasul Allah dan kitab-kitab-Nya dengan pendapat serta perkataan yang ada pada diri mereka.
والبدع مشتقة من الكفر، فمن عارض الكتاب والسنة بآراء الرجال كان قوله مشتقاً من أقوال هؤلاء الضلال، كما قال مالك: أو كلما جاءنا رجل أجدل من رجل تركنا ما جاء به جبريل إلى محمد ﷺ لجدل هذا؟1
Bid‘ah memiliki cabang yang berakar dari jalan kekufuran. Maka siapa yang menentang Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendapat-pendapat manusia, perkataannya memiliki kemiripan dengan perkataan kelompok-kelompok sesat tersebut. Sebagaimana Imam Malik berkata: “Apakah setiap kali datang kepada kita seseorang yang lebih pandai berdebat daripada orang sebelumnya, kita meninggalkan apa yang dibawa Jibril kepada Muhammad ﷺ hanya karena perdebatan orang itu?”
فإن قيل: هذا الوجه غايته أنه لا تصح معارضة الشرع بالعقل، ولكن إذا طعن في العقل لم يبق لنا دليل على صحة الشرع.
Jika dikatakan: “Kesimpulan argumentasi ini hanyalah bahwa syariat tidak boleh ditentang dengan akal. Namun apabila akal sendiri dicela, tidak akan tersisa bagi kita dalil yang menunjukkan kebenaran syariat.”
قيل: المقصود في هذا المقام أنه يمتنع تقديم العقل على الشرع، وهو المطلوب.
Dijawab: tujuan pembahasan pada bagian ini adalah menunjukkan bahwa tidak mungkin akal didahulukan atas syariat. Dan inilah yang hendak dibuktikan.
وأما ثبوت الشرع في نفسه وعلمنا به، فليس هذا مقام إثباته، ونحن لم ندع أن أدلة العقل باطلة، ولا أن ما به يعلم صحة السمع باطل، ولكن ذكرنا أنه يمتنع معارضة الشرع بالعقل وتقديمه عليه.
Adapun kebenaran syariat pada dirinya sendiri dan bagaimana kita mengetahuinya, bukanlah tempat pembahasannya di sini. Kami tidak pernah mengklaim bahwa dalil-dalil akal itu batil, dan tidak pula mengatakan bahwa dalil yang dengannya kebenaran sam‘i diketahui adalah batil. Yang kami jelaskan hanyalah bahwa tidak mungkin syariat ditentang dengan akal lalu akal didahulukan atasnya.
وأن من قال ذلك تناقض قوله، ولزمه أن لا يكون العقل دليلاً صحيحاً، إذ كان عنده العقل يستلزم صحة ما هو باطل في نفسه.
Orang yang mengatakan demikian telah membuat perkataannya sendiri kontradiktif. Konsekuensinya adalah akal tidak lagi dapat dianggap sebagai dalil yang sahih, sebab menurut prinsipnya akal justru mengharuskan dianggap benarnya sesuatu yang sebenarnya batil.
فلا بد أن يضطره الأمر إلى أن يقول: ما عارضه الدليل العقلي فليس هو عندي دليلاً في نفس الأمر، بل هو باطل.
Pada akhirnya ia terpaksa mengatakan: “Sesuatu yang ditentang oleh dalil akal, menurutku bukanlah dalil yang sebenarnya, tetapi merupakan sesuatu yang batil.”
فيقال له: وهكذا ما عارضه الدليل السمعي فليس هو دليلاً في نفس الأمر، بل هو باطل.
Maka dikatakan kepadanya: demikian pula sesuatu yang ditentang oleh dalil sam‘i bukanlah dalil yang sebenarnya, tetapi merupakan sesuatu yang batil.
وحينئذ فيرجع الأمر إلى أن ينظر في دلالة الدليل، سواء كان سمعياً أو عقلياً، فإن كان دليلاً قطعياً لم يجز أن يعارضه شيء، وهذا هو الحق.
Dengan demikian persoalannya kembali kepada penelitian terhadap kekuatan petunjuk suatu dalil, baik dalil itu bersifat sam‘i maupun rasional. Apabila ia merupakan dalil yang qath‘i, tidak mungkin terdapat dalil sahih yang menentangnya. Inilah yang benar.
وأيضاً، فقد ذكرنا أن مسمى الدليل العقلي ـ عند من يطلق هذا اللفظ ـ جنس تحته أنواع: فمنها ما هو حق، ومنها ما هو باطل باتفاق العقلاء، فإن الناس متفقون على أن كثيراً من الناس يدخلون في مسمى هذا الاسم ما هو حق وباطل.
Selain itu, telah kami jelaskan bahwa sesuatu yang dinamakan “dalil akal” oleh orang-orang yang menggunakan istilah tersebut merupakan suatu kategori umum yang mencakup berbagai jenis. Di antaranya ada yang benar dan ada yang batil berdasarkan kesepakatan orang-orang berakal. Manusia sepakat bahwa banyak orang memasukkan ke dalam sebutan “dalil akal” sesuatu yang benar sekaligus sesuatu yang batil.
وإذا كان كذلك فالأدلة العقلية الدالة على صدق الرسول إذا عارضها ما يقال أنه دليل عقلي يناقض خبره المعين، ويناقض ما دل على صدقه مطلقاً، لزم أن يكون أحد نوعي ما يسمى دليلاً عقلياً باطلاً.
Jika demikian, ketika dalil-dalil rasional yang menunjukkan kebenaran Rasul berhadapan dengan sesuatu yang juga disebut “dalil rasional” tetapi menentang berita tertentu dari Rasul sekaligus bertentangan dengan dalil yang menunjukkan kebenaran beliau secara mutlak, maka salah satu dari dua jenis yang sama-sama disebut “dalil rasional” itu pasti batil.
وتمام هذا بأن يقال:
Penjelasan ini menjadi sempurna dengan uraian berikutnya:
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Leave a Reply