درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 36)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
الدليل اليقيني هو القطعي في دلالته
Dalil yang Yakin adalah Dalil yang Qath‘i dalam Petunjuknya
الوجه الحادي عشر
Sisi Kesebelas
إن ما يسميه الناس دليلاً من العقليات والسمعيات ليس كثير منه دليلاً، وإنما يظنه الظان دليلاً، وهذا متفق عليه بين العقلاء، فإنهم متفقون على أن ما يسمى دليلاً من العقليات والسمعيات قد لا يكون دليلاً في نفس الأمر.
Sesungguhnya banyak dari apa yang disebut manusia sebagai dalil, baik dari perkara-perkara rasional maupun sam‘i, pada hakikatnya bukanlah dalil. Ia hanya disangka sebagai dalil oleh orang yang menyangkanya demikian. Hal ini disepakati oleh orang-orang berakal. Mereka sepakat bahwa sesuatu yang disebut sebagai dalil rasional ataupun sam‘i terkadang sebenarnya bukan dalil pada dirinya sendiri.
فنقول: أما المتبعون للكتاب والسنة ـ من الصحابة والتابعين وتابعيهم ـ فهم متفقون على دلالة ما جاء به الشرع في باب الإيمان بالله تعالى وأسمائه وصفاته واليوم الآخر وما يتبع ذلك، لم يتنازعوا في دلالته على ذلك،
Maka kami katakan: adapun orang-orang yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah—dari kalangan sahabat, tabi‘in, dan orang-orang yang mengikuti mereka—mereka sepakat mengenai petunjuk apa yang dibawa syariat dalam bab iman kepada Allah Ta‘ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, hari akhir, serta perkara-perkara yang berkaitan dengannya. Mereka tidak berselisih bahwa nash-nash tersebut menunjukkan hal-hal itu.
والمتنازعون في ذلك بعدهم لم يتنازعوا في أن السمع يدل على ذلك، وإنما تنازعوا: هل عارضه من العقل ما يدفع موجبه؟
Adapun orang-orang setelah mereka yang berselisih dalam persoalan tersebut, sebenarnya mereka tidak berselisih bahwa dalil sam‘i menunjukkan perkara-perkara itu. Perselisihan mereka hanyalah: apakah terdapat dalil akal yang menentangnya sehingga menggugurkan konsekuensi yang ditunjukkan oleh dalil sam‘i tersebut?
وإلا فكلهم متفقون على أن الكتاب والسنة مثبتان للأسماء والصفات، مثبتان لما جاء به من أحوال الرسالة والمعاد.
Selain persoalan pertentangan yang mereka klaim tersebut, mereka semua sepakat bahwa Al-Qur’an dan Sunnah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah serta menetapkan apa yang diberitakan mengenai risalah dan kehidupan akhirat.
والمتنازعون لأهل الإثبات من نفاة الأفعال والصفات لا ينازعون في أن النصوص السمعية تدل على الإثبات، وأنه ليس في السمع دليل ظاهر على النفي.
Orang-orang yang berselisih dengan Ahlul Itsbat dari kalangan penafi perbuatan dan sifat juga tidak memperselisihkan bahwa nash-nash sam‘i menunjukkan penetapan, dan bahwa dalam dalil sam‘i tidak terdapat dalil yang secara zahir menunjukkan penafian.
فقد اتفق الناس على دلالة السمع على الإثبات، وإن تنازعوا في الدلالة: هل هي قطعية أو ظنية؟
Dengan demikian manusia sepakat bahwa dalil sam‘i menunjukkan penetapan. Perselisihan mereka hanyalah mengenai kekuatan petunjuk tersebut: apakah bersifat qath‘i atau zhanni?
وأما المعارضون لذلك من أهل الكلام والفلسفة فلم يتفقوا على دليل واحد من العقليات، بل كل طائفة تقول في أدلة خصومها: إن العقل يدل على فسادها، لا على صحتها،
Adapun orang-orang dari kalangan ahli kalam dan filsafat yang menentang hal tersebut, mereka sendiri tidak bersepakat mengenai satu pun dalil rasional. Bahkan setiap kelompok mengatakan mengenai dalil kelompok lawannya bahwa akal menunjukkan kerusakannya, bukan kebenarannya.
فالمثبتة للصفات يقولون: إنه يعلم بالعقل فساد قول النفاة، كما يقول النفاة: إنه يعلم بالعقل فساد قول المثبتة.
Kalangan yang menetapkan sifat mengatakan bahwa dengan akal dapat diketahui kerusakan pendapat kaum penafi. Sebaliknya, kaum penafi mengatakan bahwa dengan akal dapat diketahui kerusakan pendapat kalangan yang menetapkan sifat.
ومثبتة الرؤية يقولون: إنه يعلم بالعقل إمكان ذلك، كما تقول النفاة: إنه يعلم بالعقل امتناع ذلك.
Kalangan yang menetapkan ru’yah mengatakan bahwa kemungkinan ru’yah dapat diketahui melalui akal. Sebaliknya, kalangan yang menafikannya mengatakan bahwa kemustahilannya dapat diketahui melalui akal.
والمتنازعون في الأفعال هل تقوم به؟ يقولون: إنه علم بالعقل قيام الأفعال به، وأن الخلق والإبداع والتأثير أمر وجودي قائم بالخالق المبدع الفاعل.
Demikian pula dalam perselisihan mengenai apakah perbuatan-perbuatan itu berdiri pada-Nya, sebagian mengatakan bahwa melalui akal diketahui adanya perbuatan-perbuatan tersebut pada-Nya, dan bahwa penciptaan, pengadaan, dan pemberian pengaruh merupakan perkara yang benar-benar ada dan berdiri pada Sang Pencipta, Yang Mengadakan, dan Yang Berbuat.
ثم كثير من هؤلاء يقولون: أن التسلسل إنما هو ممتنع في العلل، لا في الآثار والشروط،
Kemudian banyak dari mereka mengatakan bahwa rangkaian tanpa awal (tasalsul) hanya mustahil dalam rangkaian sebab-sebab, bukan dalam rangkaian akibat dan syarat.
وخصومهم يقولون: ليس الخلق إلا المخلوق، وليس الفعل إلا المفعول، وليس الإبداع والخلق شيئاً غير نفس الفعل ونفس المفعول المنفصل عنه، وأن ذلك معلوم بالعقل، لئلا يلزم التسلسل.
Sementara pihak yang menyelisihi mereka mengatakan bahwa “penciptaan” tidak lain adalah makhluk itu sendiri, “perbuatan” tidak lain adalah sesuatu yang diperbuat, dan pengadaan serta penciptaan bukanlah sesuatu yang berbeda dari perbuatan itu sendiri dan objek yang dihasilkan yang terpisah dari pelakunya. Menurut mereka, hal tersebut diketahui melalui akal agar tidak mengharuskan adanya rangkaian tanpa akhir.
Leave a Reply