درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 37)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
وكذلك القول في العقليات المحضة كمسألة الجوهر الفرد، وتماثل الأجسام، وبقاء الأعراض ودوام الحوادث في الماضي أو المستقبل أو غير ذلك، كل هذه مسائل عقلية قد تنازع فيها العقلاء، وهذا باب واسع، فأهل العقليات من أهل النفي والإثبات كل منهم يدعي أن العقل دل على قوله المناقض لقول الآخر، وأما السمع فدلالته متفق عليها بين العقلاء.
Demikian pula halnya dengan persoalan-persoalan rasional murni, seperti persoalan al-jawhar al-fard—substansi tunggal yang tidak dapat dibagi—keserupaan jisim, kekalnya aksiden, keberlangsungan rangkaian peristiwa pada masa lalu atau masa mendatang, dan berbagai persoalan lainnya. Semua itu merupakan persoalan rasional yang diperselisihkan oleh orang-orang berakal. Pembahasan dalam bidang ini sangat luas. Kalangan ahli rasional, baik yang menafikan maupun yang menetapkan, masing-masing mengklaim bahwa akal menunjukkan kebenaran pendapatnya yang bertentangan dengan pendapat pihak lain. Adapun petunjuk dalil sam‘i sendiri disepakati di antara mereka.
وإذا كان كذلك قيل: السمع دلالته معلومة متفق عليها، وما يقال إنه معارض لها من العقل ليست دلالته معلومة متفقاً عليها، بل فيها نزاع كثير، فلا يجوز أن يعارض ما دلالته معلومة باتفاق العقلاء بما دلالته المعارضة له متنازع فيها بين العقلاء.
Jika demikian, dapat dikatakan: petunjuk dalil sam‘i telah diketahui dan disepakati, sedangkan sesuatu dari akal yang dikatakan menentangnya tidak memiliki petunjuk yang diketahui dan disepakati. Bahkan terdapat banyak perselisihan mengenainya. Karena itu tidak boleh sesuatu yang petunjuknya diketahui berdasarkan kesepakatan orang-orang berakal ditentang dengan sesuatu yang petunjuknya untuk menentang dalil tersebut justru masih diperselisihkan di antara mereka.
وأعلم أن أهل الحق لا يطعنون في جنس الأدلة العقلية، ولا فيما علم العقل صحته، وإنما يطعنون فيما يدعي المعارض أنه يخالف الكتاب والسنة.
Ketahuilah bahwa Ahlul Haq tidak mencela keseluruhan jenis dalil rasional dan tidak pula mencela sesuatu yang kebenarannya benar-benar diketahui melalui akal. Yang mereka kritik hanyalah sesuatu yang oleh pihak penentang diklaim bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
وليس في ذلك ـ ولله الحمد ـ دليل صحيح في نفس الأمر، ولا دليل مقبول عند عامة العقلاء، ولا دليل لم يقدح فيه بالعقل.
Dalam perkara tersebut—segala puji bagi Allah—tidak terdapat dalil yang benar-benar sahih pada dirinya, tidak pula dalil yang diterima secara umum oleh orang-orang berakal, dan tidak ada dalil semacam itu yang tidak mendapatkan kritik berdasarkan akal.
كل ما عارض الشرع علم فساده بالعقل
Setiap yang Menentang Syariat Dapat Diketahui Kerusakannya melalui Akal
الوجه الثاني عشر
Sisi Kedua Belas
إن كل ما عارض الشرع من العقليات فالعقل يعلم فساده، وإن لم يعارض العقل، وما علم فساده بالعقل لا يجوز أن يعارض به لا عقل ولا شرع.
Sesungguhnya setiap argumentasi rasional yang menentang syariat dapat diketahui kerusakannya melalui akal. Bahkan andaikan ia tidak sedang dipertentangkan dengan dalil akal lainnya, sesuatu yang telah diketahui rusak berdasarkan akal tetap tidak boleh digunakan untuk menentang dalil rasional maupun dalil syar‘i.
وهذه الجملة تفصيلها هو الكلام على حجج المخالفين للسنة من أهل البدع: بأن نبين بالعقل فساد تلك الحجج وتناقضها، وهذا ـ ولله الحمد ـ ما زال الناس يوضحونه، ومن تأمل ذلك وجد في المعقول ما يعلم به فساد المعقول المخالف للشرع ما لا يعلمه إلا الله.
Perincian kaidah ini terdapat dalam pembahasan terhadap hujah-hujah kelompok ahli bid‘ah yang menyelisihi Sunnah: yaitu dengan menjelaskan melalui akal kerusakan dan kontradiksi hujah-hujah tersebut. Dan hal ini—segala puji bagi Allah—senantiasa dijelaskan oleh para ulama. Siapa yang menelaahnya akan mendapati dalam dalil-dalil rasional begitu banyak hal yang dengannya dapat diketahui kerusakan argumentasi rasional yang menyelisihi syariat, dalam jumlah yang hanya Allah mengetahuinya.
Leave a Reply