درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 38)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
الأمور الشرعية فطرية
Perkara-Perkara Syar‘i Bersifat Fitri
الوجه الثالث عشر
Sisi Ketiga Belas
بأن يقال: الأمور السمعية التي يقال: إن العقل عارضها كإثبات الصفات والمعاد ونحو ذلك، هي مما علم بالاضطرار أن الرسول ﷺ جاء بها، وما كان معلوماً بالاضطرار من دين الإسلام امتنع أن يكون باطلاً، مع كون الرسول رسول الله حقاً، فمن قدح في ذلك وادعى أن الرسول لم يجيء به، كان قوله معلوم الفساد بالضرورة من دين المسلمين.
Dapat dikatakan: perkara-perkara sam‘i yang dikatakan bertentangan dengan akal—seperti penetapan sifat-sifat Allah, kehidupan akhirat, dan perkara-perkara semisalnya—termasuk hal yang diketahui secara pasti bahwa Rasul ﷺ membawanya. Sedangkan sesuatu yang diketahui secara pasti sebagai bagian dari agama Islam tidak mungkin merupakan kebatilan, selama telah diakui bahwa Rasul benar-benar utusan Allah. Karena itu, siapa yang mencela perkara tersebut dan mengklaim bahwa Rasul tidak membawanya, maka kerusakan perkataannya diketahui secara pasti dalam agama kaum Muslimin.
علم المحدثين بمقاصد الرسول ﷺ1
Pengetahuan Para Ahli Hadis terhadap Maksud-Maksud Rasul ﷺ
الوجه الرابع عشر
Sisi Keempat Belas
أن يقال: إن أهل العناية بعلم الرسول، العالمين بالقرآن، وتفسير الرسول ﷺ، والصحابة والتابعين لهم بإحسان، والعالمين بأخبار الرسول والصحابة والتابعين لهم بإحسان، عندهم من العلوم الضرورية بمقاصد الرسول ومراده ما لا يمكنهم دفعه عن قلوبهم، ولهذا كانوا كلهم متفقين على ذلك من غير تواطؤ ولا تشاعر، كما اتفق أهل الإسلام على نقل حروف القرآن، ونقل الصلوات الخمس والقبلة، وصيام شهر رمضان.
Dapat dikatakan: orang-orang yang memberikan perhatian besar kepada ilmu Rasul, yang mengetahui Al-Qur’an, penjelasan Rasul ﷺ, keadaan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta mengetahui berbagai riwayat tentang Rasul, para sahabat, dan tabi‘in, memiliki pengetahuan yang bersifat pasti mengenai maksud dan kehendak Rasul, yang tidak mungkin mereka singkirkan begitu saja dari hati mereka. Karena itu mereka bersepakat mengenai perkara tersebut tanpa adanya rekayasa kesepakatan atau saling mengatur sebelumnya, sebagaimana kaum Muslimin bersepakat dalam menukil huruf-huruf Al-Qur’an, shalat lima waktu, kiblat, dan puasa bulan Ramadan.
وإذا كانوا قد نقلوا مقاصده ومراده عنه بالتواتر، كان ذلك كعلمهم حروفه وألفاظه بالتواتر.
Apabila maksud dan kehendak Rasul telah mereka nukil secara mutawatir, maka pengetahuan mengenai maksud tersebut berada pada jenis pengetahuan yang serupa dengan pengetahuan mereka terhadap huruf dan lafaz yang dinukil secara mutawatir.
ومعلوم أن النقل المتواتر يفيد العلم اليقيني، سواء كان التواتر لفظياً أو معنوياً، كتواتر شجاعة خالد، وشعر حسان، وحديث أبي هريرة عن النبي ﷺ، وعلم الأئمة الأربعة، وعدل العمرين، ومغازي النبي ﷺ مع المشركين، وقتاله أهل الكتاب، وعدل كسرى، وطب جالينوس، ونحو سيبويه.
Telah diketahui bahwa riwayat mutawatir menghasilkan pengetahuan yang yakin, baik mutawatir secara lafaz maupun secara makna. Contohnya adalah kemasyhuran keberanian Khalid, syair Hassan, banyaknya riwayat Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, keilmuan empat imam, keadilan dua ‘Umar, peperangan Nabi ﷺ melawan kaum musyrikin dan Ahlul Kitab, keadilan Kisra, keahlian Galen dalam kedokteran, dan kedudukan Sibawaih dalam ilmu bahasa.
يبين هذا أن أهل العلم والإيمان يعلمون من مراد الله ورسوله بكلامه أعظم مما يعلمه الأطباء من كلام جالينوس، والنحاة من كلام سيبويه، فإذا كان من ادعى في كلام سيبويه وجالينوس ونحوهما ما يخالف ما عليه أهل العلم بالطب والنحو والحساب من كلامهم كان قوله معلوم البطلان، فمن ادعى في كلام الله ورسوله خلاف ما عليه أهل الإيمان كان قوله أظهر بطلاناً وفساداً، لأن هذا معصوم محفوظ.
Hal ini menjelaskan bahwa ahli ilmu dan iman mengetahui maksud Allah dan Rasul-Nya dari firman dan sabda tersebut jauh lebih kuat daripada pengetahuan para dokter terhadap perkataan Galen atau pengetahuan ahli nahwu terhadap perkataan Sibawaih. Jika seseorang menisbatkan kepada perkataan Sibawaih, Galen, atau tokoh semisal mereka suatu makna yang bertentangan dengan apa yang dipahami para ahli nahwu, kedokteran, atau ilmu terkait, maka kebatilan perkataannya dapat diketahui. Maka orang yang menisbatkan kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya suatu makna yang bertentangan dengan apa yang diketahui para ahli iman tentu lebih jelas lagi kebatilan dan kerusakannya, karena wahyu tersebut terpelihara.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Penulis menjelaskan bahwa para ahli pada setiap bidang sangat memperhatikan riwayat dan keterangan mengenai tokoh serta disiplin mereka. Para dokter memperhatikan berita tentang Hippocrates yang dikenal sebagai bapak kedokteran; ahli bahasa memperhatikan berita tentang Sibawaih; dan para ahli hadis memperhatikan berita tentang Rasul ﷺ, perbuatan beliau, serta keadaan-keadaan beliau. Suatu pengetahuan dapat mencapai tingkat mutawatir di kalangan ahli suatu bidang meskipun tidak demikian bagi ahli bidang lainnya. Karena itu, ketidaktahuan para filsuf atau mutakallim terhadap perkataan Rasul tidak menafikan keberadaan perkataan tersebut, tetapi hanya menunjukkan ketidaktahuan mereka terhadapnya. Demikian pula ketidaktahuan ahli nahwu terhadap perkataan Hippocrates tidak menafikannya, tetapi hanya menunjukkan bahwa mereka tidak mengetahuinya. Manusia mengetahui sebagian perkara dan tidak mengetahui sebagian lainnya; apabila ingin mengetahuinya, mereka bertanya kepada ahlinya.
Leave a Reply