درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 40)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
الدليل إما قطعي وإما غير قطعي
Dalil Adakalanya Qath‘i dan Adakalanya Tidak Qath‘i
الوجه الخامس عشر
Sisi Kelima Belas
أن يقال: كون الدليل عقلياً أو سمعياً ليس هو صفة تقتضي مدحاً ولا ذماً، ولا صحة ولا فساداً، بل ذلك بيان للطريق الذي به علم، وهو السمع أو العقل، وإن كان السمع لابد معه من العقل.
Dapat dikatakan: keadaan suatu dalil sebagai dalil rasional atau sam‘i bukanlah sifat yang dengan sendirinya mengharuskan pujian atau celaan, dan tidak pula dengan sendirinya menentukan benar atau rusaknya dalil tersebut. Sebutan itu hanya menjelaskan jalan yang dengannya sesuatu diketahui, yaitu melalui sam‘i atau akal, meskipun dalam memahami sam‘i tetap diperlukan akal.
وكذلك كونه عقلياً أو نقلياً، وأما كونه شرعياً فلا يقابل بكونه عقلياً، وإنما يقابل بكونه بدعياً، إذ البدعة تقابل الشريعة، وكونه شرعياً صفة مدح، وكونه بدعياً صفة ذم، وما خالف الشريعة فهو باطل.
Demikian pula pembagian antara sesuatu yang bersifat rasional dan naqli. Adapun istilah syar‘i, lawannya bukanlah ‘aqli atau rasional, melainkan bid‘i, karena bid‘ah berlawanan dengan syariat. Keadaan sesuatu sebagai syar‘i merupakan sifat terpuji, sedangkan keadaan sesuatu sebagai bid‘i merupakan sifat tercela. Apa yang bertentangan dengan syariat adalah batil.
ثم الدليل الشرعي قد يكون سمعياً وقد يكون عقلياً، فإن كون الدليل شرعياً يراد به كون الشارع أثبته ودل عليه، ويراد به كون الشرع أباحه وأذن فيه.
Selanjutnya, dalil syar‘i dapat berupa dalil sam‘i dan dapat pula berupa dalil rasional. Sebab yang dimaksud dengan suatu dalil sebagai “syar‘i” dapat berarti bahwa Pembuat Syariat menetapkan dan menunjukkannya, dan dapat pula berarti bahwa syariat membolehkan serta mengizinkan penggunaannya.
فإذا أريد بالشرعي ما أثبته الشرع، فإما أن يكون معلوماً بالعقل أيضاً، ولكن الشرع نبه عليه ودل عليه، فيكون شرعياً عقلياً.
Apabila yang dimaksud dengan “syar‘i” adalah sesuatu yang ditetapkan oleh syariat, maka boleh jadi perkara tersebut juga dapat diketahui melalui akal, tetapi syariat memberikan perhatian kepadanya dan menunjukkan jalannya. Dalam keadaan demikian, dalil itu sekaligus merupakan dalil syar‘i dan rasional.
وهذا كالأدلة التي نبه الله تعالى عليها في كتابه العزيز، من الأمثال المضروبة وغيرها الدالة على توحيده وصدق رسله، وإثبات صفاته وعقيدة المعاد، وهي أدلة عقلية، فإنها تبين صحتها بالعقل، وهي شرعية دل عليها الشرع، وثبتها وأرشد إليها.
Contohnya adalah berbagai dalil yang Allah Ta‘ala tunjukkan dalam Kitab-Nya yang mulia, seperti perumpamaan-perumpamaan dan selainnya yang menunjukkan tauhid kepada-Nya, kebenaran para rasul-Nya, penetapan sifat-sifat-Nya, dan keyakinan tentang kehidupan akhirat. Semua itu merupakan dalil-dalil rasional karena kebenarannya dapat dijelaskan dengan akal; sekaligus merupakan dalil syar‘i karena syariat menunjukkan, menetapkan, dan membimbing manusia kepadanya.
وأما إذا كان الدليل الشرعي لا يعلم إلا بمجرد خبر الصادق، فإنه إذا أخبر بما لا يعلم إلا بخبره كان ذلك شرعياً سمعياً.
Adapun apabila suatu dalil syar‘i hanya dapat diketahui melalui berita dari pihak yang benar, maka ketika ia memberitakan sesuatu yang memang tidak dapat diketahui kecuali melalui beritanya, dalil tersebut merupakan dalil syar‘i sekaligus sam‘i.
وكثير من أهل الكلام يظن أن الأدلة الشرعية منحصرة في خبر الصادق فقط، وأن الكتاب والسنة لا يدلان إلا من هذا الوجه، ولهذا يجعلون أصول الدين نوعين: العقليات والسمعيات، ويجعلون القسم الأول لا يعلم بالكتاب والسنة؛ وهذا غلط منهم.
Banyak ahli kalam menyangka bahwa dalil-dalil syar‘i terbatas hanya pada berita dari pihak yang benar dan bahwa Al-Qur’an serta Sunnah hanya memberikan dalil melalui jalan tersebut. Karena itu mereka membagi pokok-pokok agama menjadi dua: perkara rasional dan perkara sam‘i, lalu menganggap bagian pertama tidak diketahui melalui Al-Qur’an dan Sunnah. Menurut Ibn Taimiyyah, ini merupakan kekeliruan.
بل القرآن دل على الأدلة العقلية وبينها ونبه عليها، وإن كان من الأدلة العقلية ما يعلم بدون خبر الشارع، كما قال تعالى: «سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ».
Justru Al-Qur’an menunjukkan berbagai dalil rasional, menjelaskannya, dan mengarahkan perhatian kepadanya, meskipun memang ada sebagian dalil rasional yang dapat diketahui tanpa berita dari syariat. Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri hingga menjadi jelas bagi mereka bahwa ia adalah kebenaran. Belum cukupkah bahwa Rabb-mu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat: 53).
وأما إذا أريد بالشرعي ما أباحه الشرع وأذن فيه، فيدخل في ذلك ما أخبر به الصادق، وما دل عليه ونبه عليه القرآن، وما دلت عليه وشهدت به الموجودات.
Adapun apabila yang dimaksud dengan “syar‘i” adalah sesuatu yang dibolehkan dan diizinkan oleh syariat, maka termasuk di dalamnya berita yang disampaikan oleh pihak yang benar, apa yang ditunjukkan dan diperhatikan oleh Al-Qur’an, serta apa yang ditunjukkan dan disaksikan oleh berbagai realitas yang ada.
Leave a Reply