درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 41)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
والشارع حرم الدليل لكونه كذباً في نفسه، مثل أن تكون إحدى مقدماته باطلة، فإن الكذب حرمه الله، وحرم أن يقال عليه ما لا يعلم، كقوله تعالى: «أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ» (سورة الأعراف: ١٦٩).
Pembuat Syariat melarang suatu dalil karena dalil itu mengandung kedustaan pada dirinya sendiri, seperti apabila salah satu premisnya batil. Allah mengharamkan kedustaan dan mengharamkan seseorang mengatakan tentang-Nya sesuatu yang tidak diketahuinya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala: “Bukankah telah diambil dari mereka perjanjian Kitab, bahwa mereka tidak akan mengatakan tentang Allah kecuali yang benar, sedangkan mereka telah mempelajari apa yang terdapat di dalamnya?” (QS. al-A‘raf: 169).
وحرم كونه المتكلم به يتكلم بلا علم، كما قال تعالى: «وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ» (سورة الإسراء: ٣٦)، وقوله تعالى: «وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ» (سورة الأعراف: ٣٣)، وقوله: «هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ» (سورة آل عمران: ٦٦).
Syariat juga mengharamkan seseorang berbicara tanpa ilmu. Allah Ta‘ala berfirman: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui.” (QS. al-Isra’: 36). Allah juga berfirman: “Dan kalian mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. al-A‘raf: 33). Dan firman-Nya: “Beginilah kalian! Kalian telah berbantah-bantahan tentang sesuatu yang kalian memiliki pengetahuan mengenainya; lalu mengapa kalian berbantah-bantahan mengenai sesuatu yang kalian tidak memiliki pengetahuan tentangnya?” (QS. Ali ‘Imran: 66).
وحرم كونه مجادلاً في آياته بغير سلطان، كما تقدم بيانه، وقوله تعالى: «وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ» (سورة الكهف: ٥٦)، وقوله تعالى: «وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ» (سورة غافر: ٥).
Syariat juga mengharamkan perdebatan mengenai ayat-ayat Allah tanpa hujah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Allah Ta‘ala berfirman: “Orang-orang kafir membantah dengan kebatilan agar dengan itu mereka dapat melenyapkan kebenaran.” (QS. al-Kahfi: 56). Dan firman-Nya: “Mereka membantah dengan kebatilan untuk melenyapkan kebenaran dengannya.” (QS. Ghafir: 5).
وحينئذ فالدليل الشرعي لا يجوز أن يعارضه دليل غير شرعي، ويكون مقدماً عليه، بل هذا بمنزلة من يقول: إن البدعة التي لم يشرعها الله تعالى تكون مقدمة على الشريعة التي أمر الله بها، أو يقول: الكتاب يقدم على السنة، أو غير النبي ﷺ يكون مقدماً على خبر النبي، أو يقول: ما نهى الله عنه يكون خيراً مما أمر الله به، ونحو ذلك، وهذا كله ممتنع.
Dengan demikian, dalil syar‘i tidak boleh ditentang oleh dalil yang tidak syar‘i lalu dalil yang tidak syar‘i itu didahulukan atasnya. Hal seperti ini serupa dengan orang yang mengatakan bahwa bid‘ah yang tidak disyariatkan Allah Ta‘ala harus didahulukan atas syariat yang diperintahkan Allah; atau mengatakan bahwa sesuatu yang bukan dari Nabi ﷺ didahulukan atas berita Nabi; atau mengatakan bahwa apa yang dilarang Allah lebih baik daripada apa yang Dia perintahkan; dan ungkapan-ungkapan semisalnya. Semua itu mustahil.
وأما الدليل الذي يكون عقلياً أو سمعياً من غير أن يكون شرعياً، فقد يكون راجحاً تارة ومرجوحاً أخرى، كما أنه قد يكون دليلاً صحيحاً تارة، ويكون شبهة فاسدة أخرى.
Adapun dalil yang bersifat rasional atau sam‘i tanpa dilihat terlebih dahulu dari sisi kesesuaiannya dengan syariat, terkadang ia dapat lebih kuat dan terkadang lebih lemah. Terkadang ia benar-benar merupakan dalil yang sahih, dan pada kesempatan lain hanya merupakan syubhat yang rusak.
فما جاء به الرسول لا يعارضه قط دليل شرعي، بل جميع الأدلة الشرعية تصدقه وتؤيده.
Apa yang dibawa Rasul tidak pernah ditentang oleh dalil syar‘i yang sahih. Bahkan seluruh dalil syar‘i saling membenarkan dan menguatkannya.
وقد يكون الدليل المخالف له عقلياً أو سمعياً، لكنه لا يكون صحيحاً في نفس الأمر، وإنما يكون شبهة فاسدة.
Dalil yang dianggap menyelisihinya mungkin disebut sebagai dalil rasional atau sam‘i, tetapi pada hakikatnya tidak sahih. Ia hanyalah syubhat yang rusak.
فما جاء به الرسول لا يمكن أن يعارضه دليل صحيح، لا عقلي ولا سمعي، بل الأدلة الصحيحة كلها توافقه وتصدقه.
Karena itu, apa yang dibawa Rasul tidak mungkin ditentang oleh dalil yang benar-benar sahih, baik dalil rasional maupun sam‘i. Seluruh dalil yang sahih justru selaras dengannya dan membenarkannya.
وأما ما يقوله الناس فقد يعارض بعضه بعضاً، إذ قد يكون حقاً تارة وباطلاً أخرى.
Adapun perkataan manusia dapat saling bertentangan, sebab perkataan mereka terkadang benar dan terkadang batil.
فإن كان ما يقوله الناس حقاً فإنه لا يعارض ما جاء به الرسول، بل يكون موافقاً له، وإن كان باطلاً فلا يصلح أن يعارض به.
Apabila apa yang dikatakan manusia itu benar, ia tidak akan bertentangan dengan apa yang dibawa Rasul, tetapi justru akan sesuai dengannya. Jika perkataan itu batil, maka sejak awal ia tidak layak digunakan untuk menentangnya.
والكلام إنما هو في أمرين مختلفين: أحدهما ما أخبر به الرسول ﷺ، والآخر ما يقوله غيره مما قد يظن أنه يعارضه.
Pembahasan sebenarnya berada pada dua perkara yang berbeda: pertama, apa yang diberitakan Rasul ﷺ; dan kedua, apa yang dikatakan oleh selain beliau yang kemudian disangka bertentangan dengan berita beliau.
فإن كان الثاني حقاً في نفس الأمر لم يكن مناقضاً للأول، وإن كان مناقضاً له علم أنه باطل، لأن الحق لا يناقض الحق.
Jika perkara kedua itu benar pada kenyataannya, ia tidak mungkin bertentangan dengan perkara pertama. Jika benar-benar bertentangan dengannya, maka diketahui bahwa perkara kedua tersebut batil, sebab kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran.
فإذا كان ما جاء به الرسول حقاً في نفس الأمر، فما عارضه لا يكون حقاً في نفس الأمر، وإن ظنه صاحبه حقاً.
Karena apa yang dibawa Rasul adalah benar pada kenyataannya, maka sesuatu yang benar-benar menentangnya tidak mungkin merupakan kebenaran pada kenyataannya, meskipun orang yang mengemukakannya menyangka bahwa ia benar.
Leave a Reply