درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 42)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
الفصل الثالث
Bab Ketiga
من أصول المبتدعة لبس الحق بالباطل
Di antara Prinsip Ahli Bid‘ah: Mencampuradukkan Kebenaran dengan Kebatilan
تمهيد
Pendahuluan
يشرح المؤلف في هذا الفصل أصلاً من أصول الحوار العلمي بين أهل الرأي، وهو ضرورة الاتفاق على مدلول المصطلح ومعنى اللفظ الذي يستعملونه في النفي أو الإثبات.
Dalam bab ini, penulis menjelaskan salah satu prinsip dasar dialog ilmiah di antara para pemilik pendapat, yaitu perlunya terlebih dahulu bersepakat mengenai pengertian suatu istilah dan makna lafaz yang digunakan dalam penafian maupun penetapan.
ولما كان هذا الأصل الأهم غائباً عن ذهن المتكلمين والفلاسفة في حوارهم، بعضهم مع بعض، أوقعهم في اختلافات كثيرة، أوقعت المسلمين بعدهم في حيرة.
Ketika prinsip yang sangat penting ini tidak hadir dalam pikiran para mutakallim dan filsuf dalam perdebatan mereka satu sama lain, hal itu menjerumuskan mereka ke dalam banyak perselisihan, yang kemudian membuat kaum Muslimin setelah mereka berada dalam kebingungan.
ومن المعلوم أن الحق الواضح لا يرفضه عاقل، وكذلك فإن الباطل الواضح لا يقبله عاقل.
Telah diketahui bahwa kebenaran yang jelas tidak akan ditolak oleh orang yang berakal. Demikian pula kebatilan yang jelas tidak akan diterima oleh orang yang berakal.
ولكن المشكلة الكبرى تمثلت في أن هؤلاء وأولئك قد استعملوا ألفاظاً التبس فيها الحق بالباطل، وجعلوا هذه الألفاظ أصلاً من أصولهم عارضوا بها صريح الكتاب والسنة، ولهذا فإن علماء السلف كانوا يسمونهم المبتدعة، ويحذرون الناس من أقوالهم.
Akan tetapi, persoalan besarnya adalah bahwa kelompok-kelompok tersebut menggunakan lafaz-lafaz yang di dalamnya kebenaran bercampur dengan kebatilan. Mereka kemudian menjadikan lafaz-lafaz tersebut sebagai salah satu dasar pemikiran mereka dan dengannya menentang nash Al-Qur’an dan Sunnah yang tegas. Karena itu, para ulama salaf menyebut mereka sebagai ahli bid‘ah dan memperingatkan manusia terhadap perkataan-perkataan mereka.
ثم أخذ المؤلف يشرح طريقة الإمام أحمد بن حنبل في المناظرة التي جرت بينه وبين خصومه في خلق القرآن، وقال لهم ابن حنبل: لابد أن تشرحوا معنى اللفظ الذي تستعملونه، لأنه مجمل، ومعناه مبهم.
Kemudian penulis mulai menjelaskan metode Imam Ahmad bin Hanbal dalam perdebatan yang berlangsung antara dirinya dan para penentangnya mengenai persoalan penciptaan Al-Qur’an. Ibn Hanbal berkata kepada mereka: kalian harus terlebih dahulu menjelaskan makna lafaz yang kalian gunakan, karena lafaz tersebut bersifat global dan maknanya masih samar.
فإن كان معناه حقاً قبلناه، وإن كان معناه باطلاً رددناه عليكم، ولا يحق لكم أن تلزموا المسلمين بقبوله، لأن في القرآن غناء عنه.
Jika makna yang dimaksud adalah benar, kami menerimanya. Jika maknanya batil, kami menolaknya. Kalian tidak berhak mewajibkan kaum Muslimin menerima istilah tersebut, sebab di dalam Al-Qur’an telah terdapat lafaz-lafaz yang mencukupi sehingga tidak membutuhkan istilah semacam itu.
والمناظرة بهذه الألفاظ المجملة لابد أن تشتمل على خطأ، سواء في النفي أو في الإثبات.
Perdebatan dengan menggunakan lafaz-lafaz yang masih global seperti ini hampir pasti mengandung kekeliruan, baik ketika digunakan untuk menafikan maupun ketika digunakan untuk menetapkan.
وكل من دعا إلى شيء في أمور الدين ـ خاصة الإلهيات ـ بدون أصل من الكتاب والسنة فقد دعا إلى بدعة وضلالة لا يجب الاستمرار معه في مناظرته، بل الأولى قطع الحديث معه.
Siapa pun yang menyeru kepada suatu perkara dalam urusan agama—khususnya perkara-perkara Ilahiyah—tanpa dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia telah menyeru kepada bid‘ah dan kesesatan. Tidak wajib meneruskan perdebatan dengannya; bahkan yang lebih utama adalah menghentikan pembicaraan tersebut.
فإذا أصر على عناده نسأله عن معنى اللفظ فنقبل ما فيه من حق ونرفض ما فيه من باطل، ونبين له أن الأولى هو العدول عن الألفاظ المجملة إلى ألفاظ محكمة في دلالتها، قطعاً للخلاف.
Namun jika ia terus bersikeras, kita tanyakan kepadanya apa makna lafaz yang ia gunakan. Unsur kebenaran yang terkandung di dalamnya kita terima, sedangkan unsur kebatilannya kita tolak. Kemudian dijelaskan kepadanya bahwa yang lebih utama adalah meninggalkan lafaz-lafaz yang global dan beralih kepada lafaz-lafaz yang petunjuk maknanya jelas dan kokoh, sehingga sumber perselisihan dapat dihentikan.
وأحكم الألفاظ ما تحدث الله به عن نفسه في كتابه، أو أخبر به رسوله، ولا يصح ترك هذه الألفاظ المحكمة لأجل ما تحدث به هؤلاء من ألفاظ مجملة التبس فيها الحق بالباطل.
Lafaz yang paling kokoh adalah lafaz yang Allah gunakan ketika berbicara tentang diri-Nya dalam Kitab-Nya, atau yang diberitakan oleh Rasul-Nya. Karena itu tidak benar meninggalkan lafaz-lafaz yang jelas dan kokoh tersebut demi lafaz-lafaz global yang digunakan oleh mereka, yang di dalamnya kebenaran telah bercampur dengan kebatilan.
Leave a Reply