درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 43)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
تقريب الفصل الثالث
Uraian Ringkas Bab Ketiga
قال شيخ الإسلام:
Syaikhul Islam berkata:
والبدع التي يعارض بها الكتاب والسنة التي يسميها أهلها كلاميات وعقليات وفلسفيات أو ذوقيات ووجدانيات وحقائق وغير ذلك، لابد أن تشتمل على لبس حق بباطل، وكتمان حق، وهذا أمر موجود يعرفه من تأمله.
Bid‘ah-bid‘ah yang digunakan untuk menentang Al-Qur’an dan Sunnah—yang oleh para pengusungnya dinamakan sebagai pembahasan kalam, rasionalitas, filsafat, pengalaman rasa, pengalaman batin, hakikat-hakikat, atau nama-nama lainnya—pasti mengandung pencampuradukan kebenaran dengan kebatilan dan penyembunyian sebagian kebenaran. Hal ini benar-benar ada dan dapat diketahui oleh siapa yang menelitinya.
فلا تجد قط مبتدعاً إلا وهو يكتم خلاف النصوص التي تخالفه، وبعضها يضعف أخبارها وروايتها ويتحدث بها، وبعض من يفعل ذلك.
Tidak akan engkau dapati seorang ahli bid‘ah kecuali ia menyembunyikan bagian dari nash-nash yang bertentangan dengan pendapatnya. Sebagian mereka melemahkan berita dan riwayat yang tidak sesuai dengan pendapatnya, sedangkan sebagian lainnya memperlakukannya dengan cara-cara lain yang serupa.
كما قال بعض السلف: ما ابتدع أحد بدعة إلا نزع حلاوة الحديث من قلبه.
Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf: “Tidaklah seseorang mengadakan suatu bid‘ah kecuali kenikmatan hadis akan dicabut dari hatinya.”
ثم إن قول الذي يعارض به النصوص لابد له من أن يلبس فيه حقاً بباطل، بسبب ما يقوله من الألفاظ المجملة المتشابهة.
Kemudian, pendapat yang digunakan untuk menentang nash-nash itu pasti mengandung pencampuradukan antara kebenaran dan kebatilan, disebabkan penggunaan lafaz-lafaz yang bersifat global dan samar.
ولهذا قال الإمام أحمد في أول ما كتب في «الرد على الزنادقة والجهمية فيما شكت فيه من متشابه القرآن وتأولته على غير تأويله»1، وكتب في حبسه عدة كتب، منها كتاب السنة والرد على الجهمية والزنادقة، وكتاب «طاعة الرسول»، وغير واحد من أصحاب أحمد ولم ينفه أحد منهم عنه.
Karena itu Imam Ahmad berkata pada bagian awal karya yang beliau tulis, “Bantahan terhadap Kaum Zanadiqah dan Jahmiyyah mengenai bagian-bagian mutasyabih Al-Qur’an yang mereka ragukan dan mereka takwilkan bukan dengan takwil yang semestinya.” Ketika dalam masa penahanan, beliau juga menulis beberapa karya, di antaranya kitab tentang Sunnah dan bantahan terhadap Jahmiyyah dan Zanadiqah, serta kitab Thā‘at ar-Rasūl. Sejumlah murid Imam Ahmad juga menukil karya-karya tersebut dan tidak seorang pun dari mereka menafikan penisbatannya kepada beliau.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- Risalah yang dimaksud adalah karya Imam Ahmad bin Hanbal mengenai bantahan terhadap kaum Zanadiqah dan Jahmiyyah dalam perkara ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka anggap mutasyabih dan mereka takwilkan tidak sesuai dengan maknanya. Risalah ini dikenal dengan judul ar-Radd ‘ala az-Zanādiqah wa al-Jahmiyyah.
Leave a Reply